
Sore hari sudah tiba. Persis dengan yang dikatakan Mas Alif pagi tadi, sekarang teman-teman mulai berdatangan di kediamanku. Pertama tentu saja ada Salma dan Rendi. Setelah mereka kemudian datang Iren, Rere, dan Puput. Lalu ada Ucup, Bayu, dan Wahyu yang sudah lama aku tidak bertemu mereka. Kemudian disusul pasangan yang baru menikah dua bulan lalu, yaitu Abdul dan Tika.
Kemudian datanglah dokter dan calon dokter muda, ada Fahmi, Indra, dan Sita. Mereka mungkin telah menyelesaikan shift mereka. Berbeda dengan Radit dan Gea, dua sejoli yang belum kuketahui lebih lanjut kisah asmaranya itu kini tidak bisa datang karena bentrok dengan jadwal jaga mereka. Dan terakhir, ada Nopal yang bulan lalu habis main di rumahku. Secara terpaksa lebih tepatnya.
Sudah pasti jika kelompok ini berkumpul, maka akan ada keriuhan dan kehebohan yang terjadi. Personel mereka yang banyak langsung kusuruh ke ruang tengah, tidak enak kalau bercanda di ruang tamu yang juga ada para tetangga yang datang berkunjung. Sesuai adat, ketika bertemu pastilah kita berpelukan seperti teletubbies season dua, lalu bercipika cipiki ria. Setelah itu baru saling menanyakan kabar.
“Gimana kabar kamu di Bank itu Re?” tanya Salma.
“Aku mau ngajuin resign,” jawabnya singkat.
“KENAPA?!” seru kita bersamaan. Hal ini tentu sangat mengejutkan. Mengingat betapa dia dulu sangat mengiginkan untuk menjadi pegawai Bank. Dan sekarang, ketika dia sudah mencapainya dan bekerja kurang lebih setahun, malah mau mengundurkan diri.
“Waahh! Parah sih! Aku udah enggak kuat kerja di sana.”
“Lah kenapa? Bukannya gajinya gede ya?” tanya Puput.
“Iya sih Put, gajinya besar. Tapi kalau tiap hari tekanan batin mulu kan susah jadinya.” Muka Rere jadi berubah sedih gitu, aroma-aromanya akan menceritakan beban hatinya nih.
“tekanan batin yang kurasa waktu kerja di sana bukan gara-gara sering dimarahin sama atasan, malah hampir enggak pernah aku kena semburannya dia. Masalahnya itu aku udah enggak tahan sama genitnya atasanku itu. Awalnya aku pikir cuma goda-goda biasa aja, biar tambah akrab. Eh, pas aku biarin malah makin ngelunjak dong. Gimana enggak kesel coba?” perjelasnya.
“Wah! Parah sih itu.”
“Hmm.. parah.”
“Aku juga bakal resign kalau gitu caranya.”
Begitulah kurang lebih respon yang diberikan teman-teman atas ceritanya Rere. Kebanyakan dari yang cewek sih. Kalau yang cowok cuma geleng-geleng kepala. Mungkin mereka ngutuk bosnya Rere dari dalam hati.
“Tenang aja Rereku tersayang! Selama ada Bang Wahyu di sini, kamu bakal baik-baik aja. Mana tuh bos kampret kamu! Biar aku yang ngadepin!” Seperti biasa, Wahyu mulai mengeluarkan gombalan recehnya. Tiba-tiba berdiri dan berkoar-koar.
Temen-temen yang sudah hapal dan bosan dengan tingkahya hanya bisa menyorakinya sambil melemparkan apa yang ada di hadapan mereka. Kebanyakn sih tisu dan sedotan. “Huuuu!!”
“Woy! Woy! Kalau gregetan jangan nyampah dong!” teriakku. Habisnya ruang keluargaku ini sudah berubah jadi kapal pecah.
“Tenang aja Yang, kan ada Wahyu nanti yang nyapu.” Mas Alif berkata dengan santainya. Sedangkan yang disebut namanya hanya bisa protes sia-sia.
“Eh, btw sekarang udah pindah haluan Yu? Perasaan dulu-dulu demennya ngerecehin Nala deh.” Sita tiba-tiba bicara gitu.
“Udah sekarang kalau enggak ada harapan buat ngerebut hatinya Nala, apalagi sekarang udah mau punya buntut satu.” Bukan Wahyu yang menjawab, melainkan Abdul. Wahyu pun lagi-lagi jadi objek tertawa teman-teman yang lain, aku juga sih.
“Oh ya Dul, gimana ceritanya sih kok bisa nikahnya sama Tika? Enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba nyebar undangan.” Nah, pertanyaan yang dilontarkan Bayu ini mewakili hampir semua isi kepala di sini.
“Ya enggak tahu juga, ngalir aja gitu hubungannya. Tahu-tahu ngerasa cocok terus nikah.” jawab Abdul.
“Tim gerakan bawah tanah ini. Enggak ada yang nyangka-nyangka, enggak ada gosipnya juga, tahu-tahu langsung nikah aja,” imbuh Sita.
“Rencananya mau punya anak berapa nih kalian?” tanya Iren yang ditujukan ke Abdul dan Tika.
“Berapa ya?” Abdul berlagak sok mikir. “Sebelas mungkin,” ujarnya dengan santai. Padahal kita semua melongo mendengar penuturannya.
“Wahh! Bagus tuh! Bisa dijadiin kesebelasan.” Ini juga Si Tika, klop banget nanggepin suaminya. Mereka berdua malah tos sambil senyum-senyum gak jelas gitu.
Pasangan yang cocok sih mereka.
Dari kita berenam belas yang duduk di sini, hanya Ucup yang kelihatannya tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Kecuali sama wajahnya yang agak dewasa, sedangkan yang lain tetap. Gaya berpakaian, potongan rambut, sampai main game yang sampai sekarang masih jadi hobinya. Atau jangan-jangan sudah jadi kebutuhannya? Entahlah yang mana, pokoknya dari tadi aku lihat dia masih fokus sama layar horizontal ponselnya. Sesekali menanggapi, itu pun cuma pas tertawa.
“Kalau Ucup gimana kabarnya?” tanyaku. Membuat yang lain kini menghadap ke arah yang sama denganku, ke seorang cowok yang duduk di bawah dan senderan ke kakinya Bayu sambil fokus ke layar ponselnya.
“Eh? Aku?” ulanginya.
“Iya.”
“Kabarnya seperti yang kalian bisa lihat sih, masih tetep ganteng,” katanya dengan sangat percaya diri.
“Iyuuhh!!” Alhasil dia bernasib sama dengan Wahyu tadi.
“Woy! Woy! Di rumah orang ini, jangan rusuh!” ucapnya sambil menanggapi satu-satu barang yang dilemparkan ke arahnya.
“Habisnya ke-PD an sih! Kan enggak pantes,” ujar Iren kelewat jujur.
“Iya-iya. Kabarnya baik, sehat wal afiat.” Kali ini jawabannya benar.
“Terus kalau masalah cewek? Kayanya kamu lempeng-lempeng aja deh. Kaya enggak mau ngurusin kaya gituan,” tanya Rere.
“Iya tuh. Apa jangan-jangan kamu enggak suka cewek lagi?” tuduhan yang dilontarkan Puput ini membuat semua dari kita tertawa pecah. Sedangkan Ucup sendiri menatap kesal. Kini sudah tidak lagi memainkan ponselnya.
Tampak dia menghela napas lelah. “Bukannya engggak suka sama cewek, atau bodo amat soal jodoh. Tapi ya gimana ya? Masih belum nemu yang srek aja. Apalgi sekarang lagi males kalau pulang ke rumah, emak selalu jodoh-jodohin sama anak temen-temennya. Kaya aku udah enggak laku aja tiap hari dikasih liat foto-foto cewek buat dideketin.” Ooh jadi begitu.
“Mungkin emak kamu begitu karena kamu kaya bodo amat sama cewek. Kan yang ditakutkan emak-emak kalau anaknya sampai enggak mau nikah. Apalagi kamu yang setiap hari bergaulnya cuma sama gadget dan komputer, kan Emak kamu jadi tambah kepikiran.” Aku mengeluarkan pendapatku.
“Nah! Setuju tuh! Kalau terus-an kaya gitu, bisa-bisa dinikahin sama komputer baru tahu rasa entar,” kelakar Indra yang disambut tawa oleh semua.
“Eh. Bentar-bentar! Kok kaya ada yang kurang ya?” imbuhnya lagi.
“Apaan?” tanyaku.
“Iya. Bentar masih mikir ini.” Satu menit dia diam, kemudian senyumnya merekah seperti habis dapat pencerahan. “Oh ya lupa! Kita kan belum foto-foto!”
“Hadeeh!!!” Kukira tadi mau apa. Alhasil, dia kemudian mengeluarkan kamera dari tas kecilnya dan kita mulai berfoto ria.
Ckrek!
Ckrek!
Sampai puluhan potret kita ambil, barulah sesi foto-foto ini selesai. Indra kemudian memasukkan lagi kameranya.
Oh iya, ngomong Indra. Dia ini sama halnya dengan Sita dan Gea, masih calon dokter karena masih nunggu yudisium. Beda sama Radit yang sudah yudisium beberapa bulan lalu. Kalau Fahmi jangan ditanya lagi, dia sekarang malah udah mau menempuh pendidikan dokter spesialis. Jadi residen dia.
Ada lagi nih yang sejenis nih sama Ucup. Cuma bedanya ini versi lebih ganteng dan lebih pintar. Fahmi namanya. Dia ini sama kaya Ucup, masa bodo soal cewek. Kalau Ucup maniaknya di game, kalau Fahmi maniaknya di kerja, kerja, dan kerja. Bisa dibilang workaholic. Dari awal berteman sampai sekarang aku belum pernah mendengar Fahmi menyinggung soal perempuan.
Mungkin karena dia adalah penerus keluarganya, dia bekerja sekeras mungkin agar tidak mengecewakan orang tuanya. Karena sering bekerja, lama kelamaan membuatnya gila kerja. Tapi sedikit kasihan juga sih, hidupnya terlalu serius. Hanya berputar di situ-situ saja. Semoga saja kelak ada perempuan yang bisa meluluhkan hatinya dan membuat hidupnya semakin bewarna.
“Ngomong-ngomong ini Astri sama Rangga ke mana nih? Belum nongol juga batang hidungnya.” Abdul celingak-celinguk mencari keberadaan keluarga kecil itu.
“Mereka tadi pagi udah datang ke sini, jadi ke sininya lagi nanti habis maghrib. Pas acaranya udah mulai,” jawab Mas Alif.
Mengingat mereka membuatku sedikit tertawa mengingat kejadian tadi pagi. Enggak tahu deh bagaimana sikap Rangga nantinya ke aku. Pasti sebel banget deh lihat mukaku. Tapi enggak apa-apa lah ya, yang terpenting keinginan anakku sudah terpenuhi. Lagian tadi Lia juga kelihatan senang banget dandanin papanya gitu.
“Ih! Ih! Kamu kenapa Na? Kok ketawa-ketawa sendiri gitu?” Bayu yang duduk di seberangku rupanya melihat tengah ketawa-ketiwi sendiri.
“Enggak apa-apa kok. Tiba-tiba ingat kejadian lucu aja tadi.” Mas Alif yang sudah paham dengan apa yang kutertawakan hanya bisa mencubit pelan lenganku. Mengingat keterkejutan Mas Alif tadi, pas sadar kalau Rangga jadi korbanku dia langsung meminta maaf berkali-kali.
“Lif, gimana nih ngadepin singa yang lagi bunting? Repot enggak?” Kurang ajar nih Rendi. Enak aja ngatain aku singa. Padahal aku kan manis imut-imut gini.
“Lumayan sih. Sekarang lebih sering manja dia.” Jawaban Mas Alif ini langsung dihadiahi cie-cie, siulan, dan godaan-godaan lainnya yang teman-teman tujukan ke aku dan Mas Alif.
Haduh malunya!!! Mending aku ngumpet di balik lengannya Mas Alif aja deh.
“Terus kalau ngidamnya? Aneh-aneh gak? Nih anak kan enggak hamil aja suka ngerepotin, apalagi kalau hamil.” Uuhh!!! Rendi ini belum pernah dicium sandal ya mulutnya?
“Enggak kok. Aku ngidamnya biasa aja,” jawabku untuk membela diriku sendiri.
“Biasa aja apanya? Lupa nih sama bulan lalu?” Haisshh! Nopal malah ikut-ikutan nyahut lagi. Kan bisa habis terbongkar.
“Emang ada apa?” Tuh kan. Yang lain pada pengen tahu.
“Aku ini pernah jadi korban ngidamnya Nala. Coba kalian bayangin! Jam setengah delapan malem tiba-tiba nelpon. Dan tahu enggak dia minta apa?” tanyanya ke teman-teman yang lain. Jelas lah mereka enggak tahu.
“Dia minta aku masakin ayam panggang! Kurang gila gimana tuh? Dari Kediri suruh datang jauh-jauh ke Malang buat masakin dia ayam panggang. Dan itu nyampenya di sini tengah malem! Bayangin! Tengah malem!” Haish! Lebay banget deh Nopal kalau cerita. Hiperbola tuh.
Ini juga, teman-teman yang lain malah tepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. Maksudnya apa coba? Heran sama tingkahku gitu? Tapi bisa aja sih. Ini belum lagi ada Rangga yang habis jadi korbanku juga tadi pagi. Bisa-bisa pas udah lahiran aku buat daftar korban ngidamku kali ya? Buat kenang-kenangan gitu.
“Wahh! Parah sih! Parah parah parah!” Tika dengan lebaynya bilang begitu sambil geleng-geleng kepala.
“Masa sampai segitunya Na?” Salma yang dari tadi cuma diam aja di samping Rendi sekarang bertanya.
“Ya mau gimana lagi Sal, ini kan ngidam. Bukan maunya aku juga kan?” kataku.
“Iya juga sih.” Salma mengangguk mengiyakanku.
Seterusnya kita berbincang-bincang ringan. Sampai mamaku datang bersama tetanggaku yang lain membawakan beberapa piring kue basah untuk dihidangkan di meja kita. Muka temen-temenku yang lihat makanan datang langsung berbinar-binar gitu.
“Terima kasih ya Tante!” Lihat! Muka mereka langsung sok manis gitu ke mamaku.
“Loh Tante ini mamanya Nala?” Ini lagi si Wahyu, mau ngapain juga?
“Iya lah,” jawab mamaku.
“Wahh! Enggak nyangka. Saya pikir tadi kakaknya. Habisnya tante kelihatan awet muda sih, cantik lagi.” WHAT???
“Huuuu!” sontak saja teman-teman langsung menyoraki Wahyu. Sampai aku enggak habis pikir dengan jalan pikirannya. Ini mamaku yang udah mau jadi nenek aja masih sempet-sempetnya dia goda?!!
“Iya. Cantik kan istri saya? Saya enggak salah pilih memang,” ucap seseorang dari belakang, tepatnya dari arah ruang tamu.
Tanpa kusangka papa tiba-tiba datang dan menyahuti gombalan Wahyu. Jadilah dia sekarang menjadi bulan-bulanan teman-teman yang lain karena kepergok papaku habis godain mama. Salah sendiri sih! Membuat kita jadi tidak bisa berhenti tertawa.
Sampai setengah jam kemudian suara adzan maghrib terdengar. Bersama Mas Alif, teman laki-lakiku yang lain pergi ke masjid. Dan seperti biasa, untuk yang perempuan sholat bersama di ruang sholat rumahku. Selagi mereka antri berwudhu, aku memilih untuk duduk-duduk di sofa. Memilih antrian akhir saja.
Tampak Sita datang ke arahku. Muka dam paras cantik yang selalu menawan bahkan semakin itu kini berkali lipat menawan sehabis terkena air wudhu. “Na,” panggilnya.
“Kenapa Sit?”
“Aku lupa bawa mukena nih, pinjam punya kamu ya!”
“Ooh oke. Bentar ya aku ambilin dulu.”
Berhubung tidak semua barang-barangku dipindahkan di kamar tamu, sekarang aku menuju lantai atas untuk mengambil mukena cadanganku yang memang masih kutinggal di sana. Setelah sampai di kamar, aku segera mengambil mukena untuk Sita.
“Ambil dua sajalah, jaga-jaga kalau nanti ada yang enggak bawa lagi,” gumamku.
Setelah itu aku keluar kamar. Melangkah kembali menuruni tangga. Tapi entah karena aku kurang hati-hati atau bagaimana, aku merasakan kakiku tergelincir.
“ALLAH!!!” teriakku.
Tubuhku terus berguling-guling ke bawah sampai akhirnya jatuh menabrak lantai bawah. Aku merasakan tubuh bagian bawahku seperti basah. Samar-samar aku mendengar banyak teriakan. Dari pandangaku yang buram juga tampak orang-orang datang menghampiriku.
“Mas... A-Lif...” Sampai pada akhirnya pandanganku pun menghitam.