TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Sindrom Couvade



Langit yang indah menyelimuti kota malam ini. Langit hitam membentang tanpa ada awan yang menutupi cantiknya gemerlap bintang-bintang. Bulan purnama juga bertahta begitu gagahnya di atas sana. Menawan siapa saja yang menatapnya.


Malam yang sempurna untuk acara yang berbahagia bagi Radit dan Gea. Akhirnya setelah lika-liku kisah percintaan mereka yang juga diwarnai dengan drama putus nyambung, siang tadi Radit dengan gagah berani mengucapkan akad atas nama Gea di depan orang tua serta para saksi. Dan malam ini adalah malam resepsi yang diadakan di salah satu hotel milik Mas Alif.


Berbalut gaun panjang berwarna merah maroon senada dengan kerudungnya, warna yang menjadi dress code malam ini. Aku sudah siap dan sedang berkaca di depan cermin. Sambil membenarkan sedikit letak kerudungku, aku pun beranjak dan mengambil hand bag-ku. Lalu aku berpitar sedikit, melihat penampilanku sekilah dari atas sampai bawah. Hmm, sudah siap.


“Mas! Ayo berangkat!” ajakku sambil menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan-lahan. Kalau saja geraknya bisa diperlambat, pasti berasa seperti tuan puteri yang sedang menuruni anak tangga dengan anggunnya.


Diam. Mas Alif tidak menanggapiku. Padahal kulihat dia sudah berdiri menatapku di samping sofa ruang keluarga. “Mas!” tegurku.


“Masya Allah! Cantiknya istriku ini! Bagai bidadari surga yang Allah tutunkan untuk menemaniku malam ini.”


Sudah bertahun-tahun menikah, tapi tetap tersipu malu juga kalau dipuji terang-terangan seperti ini. Untuk menutupi salah tingkahku, seperti biasa aku akan memukul lengannya. “Halah! Bisa aja kamu Mas!”


“Iya beneran Sayang. Rasanya aku enggak pengen bawa kamu keluar sekarang, pengen aku kurung aja di kamar.” Haishh!! Mas Alif ini genit banget sih. Mana matanya kedip-kedip sebelah gitu, apa maksudnya coba?


“Ya udah, makasih atas pujiannya! Tapi sekarang enggak usah genit-genit gitu! Ayo cepet berangkat, nanti keburu telat,” kataku sambil menarik Mas Alif menuju keluar rumah.


Perjalanan yang kutempuh sekitar tiga puluh menit. Lalu sampailah kita di lobi hotel berbintang ini. Karena Mas Alif adalah pemilik hotel ini, jadi tidak heran kalau selama berjalan banyak petugas hotel yang membungkukkan badan dan menyapa Mas Alif dan aku ketika berpapasan. Bahkan ketika masuk dalam lift pun, ketika mengetahui ada aku dan Mas Alif tidak ada satu pun yang berani ikut masuk juga. Entahlah, mereka terlalu hormat atau takut. Bedanya sangat tipis.


Tepat ketika pintu lift terbuka, Mas Alif langsung menarik pinggangku dan memeluknya erat. Seperti biasa, posesifnya kambuh kalau seperti ini. Tapi bukannya risih, aku malah senang kalau Mas Alif berbuat demikian. Itu kan artinya dia cinta dan enggak mau kehilangan aku. Ekhm! Manisnyaaa.


Di dalam gedung resepsi sudah ramai tamu undangan yang datang. Dari kehebohan dan kerumunan yang berada agak jauh itu aku sudah tahu kalau mereka adalah teman-temanku. Kan pasti begitu, selalu bergerombol dan ketawa-ketiwi bareng.


“Ke temen-temen yuk Mas!” ajakku dan menunjuk pada sekumpulan manusia yang tengah asyik bercerita itu.


“Iya.”


“Aseekk!! Pengantin lama makin lengket aja nih!” Baru sampai sudah disambut sama Iren.


“Asekk!! Yang baru nikah tapi masih berasa jomblo,” balasku.


“Aish! Jahat banget sih kamu Na!” Lah, cemberut dia.


Membuat teman-teman yang tertawa. Tertawa mengejek Iren lebih tepatnya. Pasalnya suaminya itu berprofesi sebagai pilot. Jadi ya mau tidak mau harus siap sering ditinggal terbang. Berasa LDR deh itu. Mereka menikah sekitar lima bulan lalu, kata Iren mereka kenal lewat Instagram. Habis itu sering DM-an, dan jadi serius lah hubungan mereka.


Semua teman perempuanku sudah menikah. Iren yang nikah sama pilot. Rere yang berpasangan dengan pengusaha muda yang ternyata teman Mas Alif ketika di Australia. Sita yang baru nikah sama sesama dokter. Dan terakhir Puput yang awalnya menolak perjohannya dengan seorang ustadz tapi akhirnya setelah setengah tahun menikah, lengket juga akhirnya. Malah sekarang dia sudah hamil dua bulan. Sedangkan Tika dan Rere sama-sama sudah memiliki bayi tapi ditinggal di rumah mereka.


Itu untuk yang perempuan. Kalau yang laki-laki, aku enggak terlalu tahu sih bagaimana perjalanan cinta mereka. Yang jelas Ucup masih dengan status lajangnya. Nopal masih OTW menuju hari pernikahannya, alias sudah lamaran. Kalau Indra baru nikah sama salah satu subcriber-nya sendiri. Bayu katanya masih mau fokus sama buku kelimanya, masih belum mau mikirin pernikahan. Mungkin tahun depan.


Kemudian Fahmi si gila kerja itu masih sama macam Ucup, setia pada status single-nya. Tapi kalau dilihat dari aura-auranya, dia seperti tengah dilanda asmara. Kalau kata Sita sih, Fahmi kayanya cinlok sama anak koas yang dibimbingnya. Lalu untuk Wahyu, nasibnya sekarang tidak bisa menggombali cewek lain lagi karena dia mendapatkan istri yang kata dia sih galak. Padahal menurutku setelah kita bertemu istrinya Wahyu baik kok. Emang dia aja yang suami takut istri.


“Oh ya, kalian sudah salaman belum?” tanyaku.


“Belum lah. Kan nunggu formasinya lengkap,” jawab Abdul.


“Ya udah, sekarang kita cabut! Sama sekalian nanti foto-foto bareng!” seperti biasa, Indra dengan semangatnya mengacungkan kamera beserta tripod kesayangannya.


Tanpa banyak basa-basi lagi, kita segera mengantri untuk bersalaman dengan pengantinnya. Jumlah kita yang banyak tentu saja akan menimbulkan antrian yang panjang. Apalagi ditambah personel baru, siapa pagi kalau bukan pasangan masing-masing. Aku dan Mas Alif berada di barisan paling belakang, jadilah menunggu dengan waktu yang sangat lama.


“Selamat ya Dit! Ge! Akhirnya setelah drama panjang nan melelahkan, kalian nikah juga!” ucapku sambil bercipika-cipiki ke Gea dan bersalaman dengan Radit.


“Iya dong Na. Kalau sampai tahun ini aku belum juga dihalalin, siap-siap cari pengganti nih!” kelakar Gea yang kusambut dengan tawa.


“Selamat buat kalian! Semoga menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.”


“Amiiin!” Kita semua mengamini apa yang dikatakan Mas Alif.


“Oke! Semuanya ayo naik ke panggung!” seru Indra tiba-tiba. Mengarahkan kita semua agar pas termuat dalam cakupan lensa kameranya.


Berhubung memang panggung yang digunakan adalah permanen, alias bagian dari desain gedungnya. Jadi tidak khawatir mau sebanyak apa pun yang naik ke sini. Dengan aku yang berada di samping Gea, kemudian Mas Alif di samping Radit, kemudian disusul oleh teman-teman yang lain, maka sesi foto siap dilakukan.


“OKE! Aku kasih jeda waktu sepuluh detik!” kata Indra setelah menyetel kameranya, kemudian berlari menuju tempatnya agar ikut terpotret juga.


Setelah sesi foto selesai, kita semua turun untuk makan-makan. Bagian yang ditunggu-tunggu ketika menghadiri pesta pernikahan. Kita dibagi masing-masing dua kubu, laki-laki dan perempuan. Jadi untuk sementara waktu aku terpisah dengan Mas Alif.


“Ayo Put! Makan yang banyak!” kataku sambil menambahkan beberapa menu di piringnya. Mengingat bahwa ibu hamil itu butuh asupan gizi yang banyak.


“Tapi ya jangan banyak-banyak juga kali Na! Dikira Puput itu buto ijo apa?” kata Salma.


“Hehehe...”


“Oh ya Put, udah ada ngidamnya apa belum?” tanya Iren.


Tampak Puput mengelus perut datar yang tertutup jilbab lebarnya. “Belum sih Ren. Cuma morning sickness kaya ibu hamil biasanya.”


Nah, setelah menikah dengan seorang ustadz, perlahan-lahan Puput mulai merubah penampilannya. Mulai dari yang pakaian tertutup terlebih dahulu, kemudian memakai kerudung ya walaupun belum yang syar’i, dan sekarang sudah mau pakai gamis dan kerudung lebar. Ya mirip lah sama bu ustadzah. Alhamdulillah, dia mendapat jodoh yang baik dan menjadikannya pribadi yang baik pula.


“Iren pengen tuh cepet-cepet hamidun, biar bisankaya yang lain.” Iren hanya bisa menanggapi omongan Rere dengan cengiran semata.


“Makanya Ren, suaminya tuh dibilangin jangan sibuk kerja mulu. Sekali-kali ajak liburan ke mana kek buat honeymoon,” saranku.


“Bukannya aku enggak enggak mau ngomongin Na, tapi kan emang jadwalnya dia padat merayap. Ya entar lah kalau dia cuti kita bisa liburan.”


“Rencana mau liburan ke mana?” tanya Astri.


“Ke Jepang aja Ren! Kaya aku kemarin, tempatnya bagus banget! Entar kalau pulang jangan lupa oleh-olehnya”


“Yeeeu!” kita semua langsung menatap malas ke arah Rere.


“Enggak ada rencana mau keluar negeri sih. Mau ke dalam negeri aja, eksplor keindahan negeri sendiri,” jawaban dari Puput langsung membungkam Rere. Membuat kita yang ada di meja melingkar ini tertawa puas.


“Sip Put! Tos dulu dong!” kataku sambil mengacungkan telapak tangan ke Puput untuk bertos ria.


Nah, di meja ini ada dua personel baru. Yaitu Sela, istrinya Wahyu yang katanya galak. Sama Anggi, istrinya Indra. Mereka berdua sudah tidak canggung lagi dengan kita-kita karena sudah sering kumpul bareng. Semacam arisan contohnya.


“Indra di rumah gimana sih Nggi? Narsis enggak orangnya?” tanyaku untuk memecah keheningan.


“Malah lebih parah sih Mbak. Kan tiap hari buat daily vlog gitu Mbak, jadi ya gitu. Tiap gerak harus kerekam kamera.” Dipanggil Mbak karena memang istrinya Indra ini berbeda dua tahun lebih muda dari aku dan teman-teman yang lain.


“Tapi kan gaya tuh! Aku lihat udah ada yang endors di youtube sama ig-nya,” imbuh Tika.


“Lumayan sih Mbak kalau itu, hehehe,”


“Eh, eh! Dengerin tuh MC-nya!” kata Sita menunjuk pada panggung tempat Radit dan Gea jadi raja dan ratu sehari.


Kita yang sudah selesai makan ikut berdiri mendekati pentas. Ikut meramaikan suasana lebih tepatnya. Kemudian kulihat di belakang, lebih tepatnya dari meja para laki-laki, mereka sibuk menarik lengan Ucup dan Fahmi untuk ikut bergabung dengan acaranya. Dan akhirnya mereka berdua berhasil ditarik ke sini, menyisakan Mas Alif sendiri yang duduk di meja itu.


“Oke, semuanya sudah siap yang di buat dapat bunganya?!!” Si pembawa acara bertanya, dan dibalas oleh seruan antusias para tamu.


“Nah, kedua mempelai apakah sudah siap memegang buket mawar merahnya?” Tampak Radit dan Gea yang membelakangi kita mengacungkan bunganya. Menandakan bahwa mereka sudah siap untuk melempar itu.


“Bunga akan dilempar dalam satu, dua, tiga!!!”


Tepat saat hitungan terakhir dari si pembawa acara membuat riuh gedung. Mereka yang berniat mendapatkan bungan tampak berusaha meraihnya. Sedangkan aku dan teman-teman yang lain hanya bisa tertawa melihat perebutan itu. Sampai akhirnya ada yang mengangkat buket bunga itu tinggi-tinggi di balik kerumunan. Aku penasaran siapa yang mendapatkan bunganya.


“Ha?!!!” keterkejutanku berbanding terbalik dengan Tika yang sudah siap dengan muka masamnya. Pasalnya yang mendapat buket bunga itu tidak lain adalah Abdul! Yah, seperti yang sudah kuduga. Tika langsung menghampiri Abdul dan menjewer telinganya. Pertengkaran Tom dan Jerry sudah siap dimulai rupanya.


*****


Acara berjalan lancar dan menyenangkan. Sampai tidak terasa acara demi acara selesai terlewati. Para tamu undagan pun banyak yang mulai pulang. Tidak terkecuali denganku dan Mas Alif. Sampai di rumah aku langsung berganti baju dan membaringkan diri, Mas Alif juga begitu. Hari yang melelahkan.


Samar-samar aku mendengar suara air yang menyala dari arah toilet. Aku segera membuka kelopak mataku yang masih terasa berat untuk bangun. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Pasti itu Mas Alif lagi wudhu mau sholat tahajud.


“Mas! Kamu baik-baik aja? Kok pucat gitu wajahnya?” tanyaku setelah mendapati Mas Alif keluar toilet dengan muka yang pucat pasi.


“Enggak tahu, tiba-tiba mual banget,” perjelasnya.


“Kayanya kamu masuk angin.”


“Hmm.”


Segera aku membantunya untuk berbaring lagi di atas kasur. “Mas, kamu tunggu bentar ya! Aku buatin minuman herbal dulu.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Mas Alif, aku segera turun ke dapur dan membuatkan minuman herbal untuknya. Sepertinya dia masuk angin. Sekalian aku buatkan bubur biar tambah enakan badannya.


Tidak sampai setengah jam aku sudah selesai dan siap membawakannya ke kamar. Sampai di kamar aku tidak mendapati keberadaannya lagi di atas kasur. “Mas! Kamu di mana?”


Tidak ada sahutan, tapi aku mendengar suara dari dalam toilet. Jadi aku segera meletakkan nampan yang kubawa di atas nakas dan segera menuju toilet. Kulihat Mas Alif muntah-muntah lagi di depan closet, aku pun segera menghampirinya dan memijat-mijat tengkuknya.


Setelah membantu Mas Alif di toilet, kubaringkan lagi tubuh Mas Alif. Lalu membantunya untuk minum minuman herbal yang telah kubuat. Tapi belum juga diminum sampai tandas, tapi dia sudah berlari lagi ke toilet dan muntah-muntah kagi.


“Ya Allah! Kamu kenapa sih Mas?” gumamku.


Tidak kehabisan akal, aku segera menelpon mama mertuaku untuk menanyakan kondisi Mas Alif ini.


“Assalamu’alaikum Ma!”


“Wa’alaikumsalam, Mama kamu masih tidur ini Nak. Ada apa memangnya? Kok tumben jam segini nelpon?” ternyata papa mertuaku yang mengangkat telponnya.


“Ini Pa, Mas Alif kok tiba-tiba muntah banyak ya? Padahal kemarin malam dia baik-baik aja Pa.”


“Hmm, kenapa ya? Dia enggak pernah kaya gitu sebelumnya. Apa muntahnya berkali-kali?”


“Iya Pa, ini sudah ketiga kalinya malahan.”


“Kalau begitu bukan masuk angin kayanya.”


“Nah itu Pa, aku jadi bingung sendiri.”


Di tengah-tengah kegiatan menelponku dengan papa, tampak Mas Alif sudah keluar dari toilet dan siap berbaring lagi ke kasur.


“Tunggu bentar! Jangan-jangan Alif sama kaya Papa dulu?”


“Maksudnya Pa?” Bukan hanya aku yang bingung, tampak dahi Mas Alif juga berkerut kebingungan. Maklum, panggilan ini aku loud speaker jadi pantas kalau Mas Alif bisa mendengar suara papa.


“Gini Nak, dulu Papa juga pernah ngalami kaya gitu. Tiba-tiba muntah enggak ada alasan. Dan ternyata saat itu Mama kamu lagi hamil. Ya mengandung si Alif itu.”


Sontak saja pernyataan dari papa ini membuatku dan Mas Alif terkejut. “Kok bisa gitu Pa? Bukannya kalau Mama hamil yang muntah-muntah itu harusnya Mama?” tanya Mas Alif setelah mengambil alih ponselku.


“Papa juga enggak tahu juga Lif. Tapi memang kenyataannya gitu.”


Setelah itu Mas Alif mengucap salam dan menutup telponnya. Kemudian aku kembali menyodorkan minuman herbal itu untuk dia habiskan. Bersamaan dengan itu, aku membuka internet untuk mencari artikel tentang keadaan Mas Alif ini.


“Mas,” panggilku.


“Hmm,” jawabnya sambil makan bubur buatanku.


“Ternyata yang diomongin Papa tadi ada benarnya. Dan itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi jika suami lah yang mengalami morning sickness.”


“Hah? Masa?” Tidak percaya, Mas Alif segera merebut ponselku dan membacanya sendiri.


“Sindrom couvade,” gumamnya setelah membaca artikel yang menjelaskan tentang kondisi yang dialaminya saat ini.


“Sayang!” Mas Alif kemudian memegang kedua bahuku kencang. Binar bahagia jelas terlihat dari sorot matanya. “Kalau benar begini, berarti kamu sedang hamil dong?”


“Ah, masa sih Mas?” Aku sendiri saja masih setengah percaya.


“Coba kamu ingat terakhir kali datang bulan kapan?”


“Harusnya pas setelah kita pulang dari Bali bulan kemarin sih Mas,” kataku sambil mencoba mengingat kembali.


“Nah kan! Kamu sudah telat satu bulan!”


Mas Alif kemudian beranjak dari kasurnya dan mengambil sesuati di laci meja. Aku sudah hapal itu, sebuah alat tes kehamilan. Aku menyimpan beberapa untuk mengecek kondisiku. Tapi selama dua tahun ini, Allah masih belum menitipkan anak di rahimku. Apakah mungkin sekarang ini waktunya?


Melihat Mas Alif sudah sangat bersemangat seperti itu, aku jadi tidak tega kalau nanti harus berakhir dengan kekecewaan untuk ke sekian kalinya.


“Sudahlah! Jangan khawatir! Jikalau hasilnya negatif berarti memang belum rejeki kita,” kata Mas Alif sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Dengan langkah penuh harap aku masuk ke dalam toilet dan mencoba mengetes apakah memang benar aku sedang hamil. Dan dalam sekejap mata, alat itu menunjukkan dua garis merah. DUA GARIS MERAH!!!


Dengan hati yang sangat bahagia aku segera membersihkan alat itu dan keluar toilet.


“Mas!!! lihat ini!” Aku menunjukkan alat itu ke Mas Alif.


Dan sedetik kemudian, tangis Mas Alif pecah. Dia langsung memelukku erat bahkan sampai menggendong tubuhku tinggi-tinggi. “Alhamdulillah! Alhamdulillah! Sayang!!! Kamu benar-benar hamil!” sorak Mas Alif di tengah-tengah tangis keharuannya.


Aku pun juga begitu, sama terharunya dengan Mas Alif. Tidak berhenti-berhentinya aku mengucap syukur ke Ilahi Robbi yang telah menurunkan berkah kepadaku dan Mas Alif. “Ya Allah! Terima kasih Engkau telah mempercayai kami kembali untuk mendapat rizki seorang anak. Insya Allah, akan kujaga dia dengan sepenuh hati,” gumamku dalam hati.