TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ I Miss You



"Yahh, sekarang kita sendiri lagi ya," ujarku pada Palila, Pandanya Alif dan Nala. Boneka yang Alif belikan waktu KKN dulu sekaligus pemberian pertama darinya.


Sudah tiga tahun berlalu tapi boneka panda ini masih tetap setia menemani tidurku. Tidak akan pernah kubiarkan orang lain menyentuhnya. Sekali pun itu mamaku. Pernah satu kali Palila sempat akan ditaruh di gudang karena mama pikir itu boneka lamaku yang sudah usang, langsung saja aku ngambek dan nangis enggak karuan. Membuat mamaku bingung bukan kepalang untuk menenangkanku.


Mungkin jika ada yang melihatku berbicara sendiri dengan boneka seperti ini akan menganggapku gila atau mengejekku seperti anak kecil. Tapi percayalah, itu adalah caraku untuk melampiaskan rinduku. Daripada nangis tidak jelas sampai guling-guling yang pasti melelahkan itu, kan lebih baik seperti ini.


"Mas Alif jahat ya? Masa pesanku dari tadi cuma dibaca tapi enggak dibales." Aku mengecek sekali lagi ponselku. Kalau-kalau dia sudah membalas pesanku. Tapi nihil, masih tertera pesanku dengan tanda dua centang berwarna biru.


"Akhh! Sudahlah!" Aku langsung meletakkan ponselku asal di atas nakas. Mematikan lampu, kamudian memeluk Palila erat dan mulai merapalkan doa untuk segera tidur.


Kurasa aku masih beberapa saat tidur, tapi ada sesuatu yang mengusik tidurku. Pergerakan dari kasur membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku masih merapatkan mataku. Tapi juga takut jika ada penyusup yang masuk ke dalam rumah. Jika dipikir-pikir aku sedang sesndirian saat ini. Dalam hati tidak berhenti-hentinya terus berdoa.


Grep!


"Kyaaa!!!"


Bugh!


Aku langsung berteriak dan menendang seseorang yang kurasa telah memelukku. Langsung aku berdiri dan menghidupkan lampu kamar. Tanpa mengurangi kewaspadaan aku menghampiri seseorang yang sedang mengaduh kesakitan di lantai kamar.


"Siapa kamu?!"


"Ini aku Na."


Deg.


"Loh Mas Alif?" Aku langsung mendekatinya. Memeriksa apakah dia baik-baik saja. Kupikir aku menendang dengan sangat keras tadi. "Kamu enggak apa-apa kan Mas? Maaf! Maaf! Aku enggak tahu tadi itu kamu."


"Iya. Enggak apa-apa, aku yang salah. Pulang tapi enggak bilang-bilang."


"Hiks! Maaf!" Yahh. Jadi menangis begini. Heran deh sama mataku ini, banyak banget stok air matanya. Gampang banget buat nangis.


Mas Alif langsung memelukku erat. "Jangan nangis! Aku enggak apa-apa kok. Enggak terlalu sakit juga."


"Ish! Dasar enggak peka!" Aku memukuli dada bidangnya sepuas hatiku. "Aku nangis gara-gara kangen tahu! Kamu tuh, dari tadi pesanku cuma dibaca. Enggak tahu apa kalau aku jadi cemas sendiri. Hiks!"


"Maaf! Aku niatnya tadi pengen buat surprise. Maaf ya kalau kamu jadinya khawatir," ujarnya sambil menatap tepat di manik mataku.


Aku yang seolah tersihir oleh sorot mata yang menenduhkan miliknya itu mengangguk menginyakan. Dan memilih menenggelamkan lagi kepalaku ke pelukannya. Masih belum puas menuntaskan rindu ini. "I miss you!" kataku.


Kedua telapak tangannya membingkai wajahku. Membuatku mau tidak mau mendongak ke arahnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat kinerja jantungku berdetak dua kali lebih kencang dari sebelumnya. Kepalaku yang ditahan oleh tangannya tidak bisa bergerak kemana-mana. Entah apa yang akan dia lakukan.


"I miss you too!" bisiknya pelan ke samping telingaku. Napas hangatnya yang menyentuh kulitku menimbulkan sengatan-sengatan aneh di tubuhku.


"I miss your eyes," ujarnya sambil mengecup kedua mataku.


"I Miss your blush." Kali ini dia mengecup kedua pipiku yang sudah bersemu merah.


"And..." dia menggantungkan kalimatnya. Membuat otakku jadi menerka-nerka sendiri apa yang ada di pikirannya. "I Miss your smile," katanya sambil mengecup bibirku.


Yakin sudah. Hatiku pasti sudah meleleh layaknya es krim diterpa sinar mentari. Sosok Mas Alif yang hangat dan romantis seperti ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Jika diingat pertemuanku dulu dengannya sewaktu Kuliah Kerja Nyata, pribadinya sangat disiplin, tegas, dan bertanggung jawab. Jauh dari kata romantis. Atau mungkin perhatian-perhatian kecil yang dia tujukan padaki dulu adalah bentuk kehangatannya padaku? Hanya saja aku yang tidak menyadarinya. Malah sibuk berprasangkan antara dia dengan Salma.


"Na!"


"Eh? Iya?" Aduh. Ketahuan kalau melamun.


"Pelukannya sudah dulu ya? Aku mau mandi dulu."


"Ha? Mau mandi?" Kulihat sekali lagi penampilannya. Benar. Rupanya masih mengenakan kemeja kantornya.


"Iya. Kenapa? Mau mandiin?" Dia menaik-naikkan alisnya sebelah. Ya ampun! Sejak kapan Mas Alif jadi mesum gini?!


"Apaan sih! Sudah sana mandi!" Segera aku mendorong tubuhnya sampai menghilang di balik pintu toilet. Lalu aku segera naik ke kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


"Palila! Bapak kamu udah balik tuh! Malam ini kita tidurnya enggak sendirian lagi. Yey!" Aku memeluk boneka pandaku itu dan menciumnya berkali-kali. Malam ini kupastikan akan bermimpi indah lagi.


*******


"Mmm.." aku merasa ada yang mengusik tidurku. Memainkan rambutku dengab jahil. Segera kutepis tangan milik Mas Alif itu dan membalikkan tubuh. Tapi Mas Alif tetap saja menggangguku. Kini tangan jahilnya beralih ke hidungku. Dengan memencetnya berulang kali membuatku kesulitan bernapas.


"Ish! Mas!"


"Bangun dong Na."


"Nanti." Aku memilih menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut.


Tapi Mas Alif menyibaknya lagi. "Bangun dong Sayang! Ayo sholat shubuh!"


"Iya." Badannya yang kali ini terasa sangat pegal membuatku agak enggan untuk bangun. Mungkin efek dari kecapekan selama satu minggu ini melakukan banyak aktivitas.


"Iya tapi kok masih merem. Dalam hitungan ketiga kalau enggak bangun nanti aku cium nih. Satu..."


"Iya bangun!" Aku langsung beranjak dari tidurku dan berlari ke kamar mandi. Meski agak sempoyongan karena pusing akibat berdiri tiba-tiba, aku pun sudah sampai di dalam kamar mandi. Lah aku ini kenapa coba? Masa mau dicium suami sendiri masih malu-malu kaya gini.


Pertama aku sikat gigi, lalu mencuci muka. Keran pun sudah kunyalakan. Tapi rasanya ada yang aneh. Semacam rasa tidak nyaman yang berasal dari bagian bawah tubuhku.


Tunggu!


"Jangan-jangan?" Aku langsung masuk ke toilet untuk memastikannya. Dan benar saja, bercak merah di celanaku menjelaskan rasa tidak nyaman ini.


Dengan malas aku segera berganti celana lalu kembali lagi ke kamar tidur. Kulihat sudah tidak ada lagi sosok Mas Alif. Mungkin dia sudah berangkat ke masjid. Ya sudah kalau begitu. Masih ada waktu untukku tidur lagi. Mumpung Mas Alif belum pulang.


"Loh? Kok tidur lagi? Katanya tadi mau sholat subuh?" Mas Alif yang baru pulang dari masjid dan masih mengenakan sarung serta peci itu membangunkanku.


"Aku ada tamu Mas?" jawabku masih setengah sadar.


"Tamu? Siapa? Kok subuh-subuh gini datangnya?"


"Haish." Aku tidak habis pikir dengan kepolosan Mas Alif ini. "Bukan tamu orang Mas, tapi tamu bulanan," perjelasku.


"Ooh gitu." Syukurlah dia paham.


Kuamati Mas Alif sudah meletakkan pecinya, lalu menyusulnya berbaring di atas kasur. "Tahu enggak sayang? Aku ada berita bagus loh."


"Loh emangnya kenapa? Kamu kan istriku, wajar kan kalau aku panggil kamu sayang? Kalau nanti aku panggil orang lain sayang, bisa-bisa kamu cemburu."


"Jelas lah!" Istri mana coba yang enggak cemburu?


"Memangnya kamu enggak suka dipanggil sayang?"


"Bukannya gitu. Tapi malu tahu." Jujur sih. Kalau dipanggil gitu bawaannya malu-malu sendiri.


"Terus kamu maunya dipanggil apa? Beb? Honey? Sweety?"


"Ih! Enggak! Enggak! Alay tahu Mas." Kaya anak SMP yang baru pacaran aja.


"Nah itu tahu. Makanya kamu aku panggil sayang, kan aku sayangnya sama kamu. Dan panggilan itu adalah wujud dari perasaanku ke kamu."


Ini kipas mana kipas?!


AC-nya kok tiba-tiba jadi enggak berfungsi begini sih? Wajahku masih aja terasa panas. Sejak kapan Mas Alifku ini tiba-tiba pandai merayu kaya gini?


"Mas, kamu belajar sama siapa sih? Kok tiba-tiba jadi pinter ngegombal gini?" tanyaku.


"Ini bukan gombal. Aku tulus tahu bilang seperti ini."


"Masa?"


"Kalau enggak percaya, sini!" Mas Alif tiba-tiba meraih kepalaku untuk bersandar di dadanya. Kudengar irama jantungnya sangat cepat, sama sepertiku. "Gimana? Percaya?"


"Hmm." Aku mengangguk sekilas. Tidak menyangka jika Mas Alif juga berdebar-debar seperti ini ketika bersamaku. Aku pikir hanya aku saja yang merasakan senam jantung, rupanya dia juga begitu.


"Oh iya Mas. Tadi katanya mau ngasih tahu sesuatu," ujarku sambil mencari posisi yang pas di atas dada Mas Alif. Sandaran paling nyaman setelah papa.


"Iya. Jadi ngelantur gini gara-gara kamu!" Mas Alif dengan gemas mencubit hidungku.


"Cepat kasih tahu! Sudah penasaran ini!" Aku yang tidak terima dicubit hidungnya membalas dengan mencubit lengannya.


"Iya, iya. Aku kasih tahu ya..." aku menantinya dengan antusias. Ibarat kata di fim, pasti sekarang adegan dengan latar bekakang musik yang menegangkan.


"Sekarang aku kerja di sini, sudah tidak lagi mengurusi perusahaan induk di Australia!"


"Beneran?" tanyaku untuk memastikan jika pendengaranku tidak salah kali ini.


"Iya. Papa sudah mempercayaiku untuk mengurus perusahaan cabang di sini. Selain itu juga karena ada kamu di sini, tanggung jawabku."


"Wahh! Aku seneng dengernya Mas!" Kupeluk tubuhnya erat. Rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata. Membuatku hampir menitikkan air mata karena terharu.


Bye-bye LDR!


Dalam hati aku sudah jingkrak-jingkrak tidak karuan. Sangat senang menerima berita menggembirakan seperti ini.


"Jadi hari ini ada rapat untuk pengangkatanku sebagai CEO, dan malam nanti adalah pesta pengankatanku."


"Oh. Ya sudah kalau gitu!" Dengan semangat aku beranjak dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke dapur. Mau memasak sarapan spesial untuk hari spesial suamiku ini," kataku sambil mengerlingkan sebelah mataku ke arahnya. Lalu berjalan keluar kamar menuju dapur dengan hati riang gembira.


Hari ini Mas Alif terlihat sangat tampan dengan setelan kerjanya. Jas berwarna navy berpadu dengan kemeja berwarna putih serta dasi hitam. Dan juga celana bahan yang senada dengan warna jasnya, juga pantofel hitam mengkilatnya.


"Iya aku tahu kalau suami kamu ini tampan." Mas Alif meraup mukaku agat aku berkedip. Aish! Jadi malu gini ketahuan mengamati terang-terangan.


Setelah sarapan bersama, aku mengantarnya sampai ke depan pintu sambil membawakan tas kerjanya. Mas Alif tampak mengulurkan tangannya, dan kusambut dengan senang hati. Kucium punggung telapak tangannya dengan penuh cinta, begitupun dengan dia yang mencium keningku. Aktivitas yang saat ini akan kulakukan setiap kali dia akan berangkat kerja. Jika dulu aku mengamati mama dan papaku seperti ini, maka sekarang aku yang merasakannya sendiri.


"Aku berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum!" pamitnya.


"Wa'alaikumsalam!"


Aku masih berdiri di pintu saat Mas Alif masuk ke dalam mobil. Jendela yang setengah diturunkan itu berguna untuk tangannya yang melambai ke arahku. "Hati-hati di jalan!"


Kini saatnya aku yang bersiap-siap untuk memulai aktivitasku sebagai guru. Setelah dirasa sudah siap, aku berjalan keluar dan mengunci pintu rumah. Mengeluarkan sepeda motor dari garasi lalu berangkat ke sekolah. Memang aku dan Mas Alif tidak berangkat kerja bersama-sama. Itu karena permintaanku sendiri. Maklum saja, letak kantor dengan sekolah tempatku mengajar sangatlah berbeda haluan. Daripada menguras waktu dan tenaga, aku bersikeras untuk tetap berangkat bersama scoopy kesayanganku.


Sekitar jam dua siang aku sudah selesai dengan kegitan mengajarku. Setelah berpamitan dengan guru-guru yang lain di kantor, aku pun pulang. Tidak kusangka di tengah perjalanan langit tiba-tiba gelap dan awan mendung kemudian memuntahkan isinya. Membuatku mau tidak mau menepi di depan sebuah toko untuk berteduh.


"Lah, aku enggak bawa mantel!" gerutuku setelah membuka jok sepeda yang kosong melompong tidak ada apa-apa.


Ya sudah. Akhirnya aku memilih untuk menerobos hujan agar segera sampai di rumah. Toh juga ini sudah hampir dekat dengan rumah. Kalau basah kuyup bisa langsung segera mandi nanti.


Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai. Buru-buru aku mandi agar tidak sakit. Setelah itu aku memilih mengisi waktu untuk memberi makan siang Jimmy dan bermain dengannya. Kucing dengan ras Persia itu makan dengan lahap. Bermain dengannya bisa menghibur dan juga memperbaiki mood-ku. Tapi saat hendak menggendongnya, tiba-tiba pusing menyerang kepalaku. Hampir saja tubuhku jatuh karena hilang keseimbangan. Bersamaan dengan itu suara bel rumah terdengar. Segera aku mengambil jilbab instanku dan mengenakannya.


"Ada yang bisa dibantu Pak?" tanyaku pada seorang pria paruh baya yang kalau dilihat dari seragamnya adalah seorang kurir.


"Benar rumah ini adalah rumah dari ibu Nala Ayu Kinanti?"


"Oh, dengan saya sendiri Pak," jawabku.


"Ini ada kiriman paket buat Mbak nya. Bisa tanda tangan di sini mbak sebagai tanda serag terima?"


"Oh iya Pak." Setelah menandatanganinya, bapak itu pamit berlalu untuk melanjutkan tugasnya.


"Siapa yang mengirimiku paket?" tanyaku pada diri sendiri. Pasalnya dalam paket itu tidak dituliskan nama pengirimnya.


Untuk menuntaskan rasa penasaranku, kubuka paket itu. Rupanya sebuah gaun yang sangat indah berwarna merah hati. Ketika kuangkat gaun itu, sebuah kertas jatuh ke lantai. Sebuah surat sepertinya.


Untuk istriku tersayang...


Ini adalah hadiah kecil dariku. Pakai gaun ini untuk nanti malam. Tidak sabar melihat cantiknya istriku memakai gaun ini.


Dari suamimu tercinta.


A. M❤


Rupanya hadiah dari Mas Alif. Bisa-bisa diabetes ini akibat terus-menerus mendapatkan perlakuan manisnya. Kulihat sekilas jam dinding, masih jam empat sore. Berarti ada waktu untukku beristirahat sebentar. Pusing ini kembali bersarang di kepalaku.