TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Mas Alif Cemburu



Pertemuan tidak terduga dengan Kak Rio kemarin membuatku terus memikirkannya. Masa iya sih aku dulu berani banget janji kaya gitu? Tapi kalau pun iya, itu kan udah masa lalu. Kupikir dia sudah lupa. Dan wajahnya itu lho, kaya berharap banget sama jawabanku. Tapi tindakanku kemarin dengan memilih langsung pulang meninggalkannya sudah benar kan ya?


"Haah!!" Aku bingung mikirinnya. 


"Sayang. Kamu kenapa?"


Eh?


Lupa kalau ada Mas Alif yang lagi santai nonton TV di ruang tamu. Dia langsung berlari setelah mendengar aku menjerit barusan.


"Enggak apa-apa kok Mas. Hehehe." Maaf Mas, kali aku bohong. Masih belum ada nyali buat jujur.


"Kamu tuh! Bikin aku jantungan aja!" gemasnya sambil mencubit hidungku. Sontak saja aku memukul tangannya dengan spatula yang kupegang karena reflek.


"Aw! Panas Sayang!"


"Eh, maaf! Maaf Mas! Enggak sengaja! Coba sini aku lihat." Terlihat jelas tanda merah di kulit putih bersihnya. Segera aku menariknya ke wastafel. Langkah pertama untuk menangani luka bakar adalah menyiramnya dengan air yang mengalir.


"Udah mendingan gak Mas?" tanyaku.


"Lumayan sih."


Aku mencari kotak P3K lalu memakaikan plester ke tangannya. Lukanya tidak besar, hanya satu garis bekas capnya gagang spatula.


"Sayang? Kamu kenapa nangis?"


Masa sih? Aku pegang pipiku.


Basah.


Sebelah tangan Mas Alif yang bebas mengusap air mata di pipiku yang terus mengalir. "Udah, jangan menangis! Aku enggak kenapa-napa kok. Cuma luka kecil gini."


Entah aku ini menangis gara-gara apa. Entah karena telah melukai tangannya, atau telah membohonginya. Aku saja bingung dengan hatiku sendiri. "Maaf Mas!" Dan maaf ini untuk semuanya. Luka dan juga kebohonganku.


"Iya."


Beberapa saat diam dan duduk di meja makan, aku seperti mencium bau-bau sesuatu yang tidak sedap. Hidung mancung Mas Alif juga ikut gerak-gerak gitu. Seperti mengendus bau sesuatu juga.


"Sayang, kamu nyium bau-bau aneh enggak?"


"Iya Mas, aku juga gitu," kataku sambil terus mengendus-endus badanku sendiri.


Jangan-jangan ini bau badan sendiri gara-gara belum mandi pagi. Maka dari itu aku mencium ketiak kanan dan kiriku.


"Bukan bau badan Sayang!" Mas Alif memukul pelan tanganku. "Seperti bau gosong ya?"


Apa? Gosong?


"HAH? AYAMNYA GOSONG MAS!!!" Dengan langkah lebar aku kembali ke dapur dan memeriksanya.


Benar saja, ayam yang seharusnya berwarna cokelat keemasan cantik kini beralih jadi hitam gosong. Minyak panas juga bercipratan. Ketika aku cek nyala api kompor, rupanya apinya masih terlalu besar. Belum kukecilkan. Segera aku mematikan kompor dan mengangkat ayam gosong itu lalu menyisihkannya.


"Yahh! Ayamnya gosong deh Mas," ujarku dengan tertunduk lesu. Ini semua gara-gara kecerobohanku.


"Udah enggak apa-apa. Masak aja apa yang ada di kulkas." Aku mengangguki ucapannya Mas Alif.


Ketika kubuka, kulihat masih ada tempe dan tahu di kulkas. Dengan malas aku mengambilnya dan menunjukkannya ke Mas Alif. "Lauknya tempe sama tahu enggak apa-apa ya Mas?"


"Iya. Enggak apa-apa. Mau masak apa pun itu, kalau yang masak istriku pasti rasanya enak." Dia mencoba menghiburku.


"Iya." Jadilah aku mengimprovisasi menu sarapan. Yang semula ingin memasak ayam goreng beralih membuat lalapan dengan tempe dan tahu goreng.


Setelah siap aku langsung menyajikannya di atas meja makan. Mas Alif yang semula sudah duduk menunggu sambil membaca koran sekarang tampak melipat korannya.


"Wahh! Kelihatannya sedap!"


"Makasih!" Aku langsung menyiapkan piring dan nasi untuknya. Setelah itu kembali ke dapur membawa ayam goreng yang gosong tadi.


"Kamu mau kemana Yang?"


"Ngasih makan Jimmy dulu Mas. Kamu sarapan aja dulu." Daripada mubdzir, mending aku kasih ayam ini ke kucing peliharaanku. Pikirku.


Setelah sampai di kandangnya, aku mengelurkan kucing dengan rambut berwarna abu-abu ini. Lalu menyiapkan ayam gorengnya. Kulepas kulitnya yang gosong. Dan tampak daging yang paling dalam masih bisa dimakan. Jadi kukasih itu ke Jimmy.


"Makan yang lahap ya!" Kuelus kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Setelah memberi makan Jimmy, aku beranjak kembali ke ruang makan. Melanjutkan sarapan.


"Mas, nanti sore aku ke pasar ya! Mau belanja kebutuhan dapur."


"Perlu aku antar?" tawarnya.


"Enggak usah. Nanti aku naik angkot aja."


"Ya udah, nanti kalau seumpama aku pulang lebih awal aku bisa jemput kamu."


"Hmm. Iya."


*******


Keadaan pasar ramai seperti biasanya. Interaksi antara penjual dan pembeli, para buruh angkut yang berlalu lalang sambil menggendong karung. Semua adalah pemandangan yang biasa ditemukan di pasar. Langkah pertamaku adalah ke bagian rempah-rempah. Dimana aku akan membeli cabai, bawang merah, bawang putih, gula, dan tanaman rimpang lainnya yang biasa dijadikan bumbu dapur.


Berlanjut dengan mencari sayur mayur kesukaanku. Ada brokoli, wortel, dan juga jagung. Tinggal tambah sosis untuk kujadikan cap cay nanti malam. Setelah membeli semuanya aku mengecek daftar belanjaan yang kutulis dalam ponsel, takut jika ada yang kelupaan. Setelah semuanya sudah terbeli, aku pun melangkah keluar pasar.


Tapi langkahku berhenti pas melewati bagian daging-dagingan. Mungkin aku bisa membeli daging ayam untuk kumasak menjadi opor besok. Hitung-hitung mengganti ayam yang gosong tadi pagi.


"Pak, ayamnya satu kilo ya!"


"Mau dipotong besar atau kecil-kecil?" tanya si bapak penjual.


"Langsung dipotong kecil-kecil aja Pak."


"Siap."


Melihat bapak ini memotong-motong daging ayam, tiba-tiba aku teringat Nopal. Iya, temanku yang salah kuartikan sebagai psikopat gara-gara hobi menonton film-film pembunuhan. Dia sekarang pasti sudah sukses meneruskan usaha ayam potong milik ibunya di kampung halamannya, Kediri. Jadi dari kita berdua puluh hanya dia yang berasal dari luar Malang.


"Ini Neng!" Ucapan si bapak membuyarkan lamunanku tentang Nopal. Segera aku membayarnya dengan menyerahkan selembar uang dua puluh ribu dan selembar uang lima ribu. Itu pun masih ada kembalian dua ribu.


"Makasih Pak!"


"Iya."


Hmm. Kalau dari sini mau keluar lewat pintu masuk depan pasti harus putar balik lagi. Jadi aku memilih untuk lewat di pintu samping pasar aja. Menghemat waktu dan tenaga. Apalagi aku kesusahan menenteng dua kantong besar berisi belanjaan ini.


Semakin aku mendekati jalan keluar, malah semakin sepi. Membuatku buru-buru melangkah cepat. Tidak ingin jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Pikiran macam-macam langsung menghantuiku ketika kulihat di depan ada segerombolan pemuda dengan tampang sangar tengah mengobrol sambil menyesap kopi.


Kenapa harus ketemu sama preman pasar sih?!


Mau putar balik juga tanggung, karena beberapa meter lagi sudah keluar pasar. Masalahnya cuma preman-preman itu yang nongkrong di samping pintu keluar. Kenapa mendadak mereka ada di situ? Mana rame-rame lagi. Kaya habus mengadakan rapat para preman pasar. Padahal biasanya mereka enggak duduk-duduk disitu.


Hah. Ya sudahlah. Asal berjalan cepat, tidak menoleh kanan-kiri, dan menghadap lurus ke depan pasti selamat. Aku mengambil dan mengeluarkan napas secara pelan-pelan untuk menormalkan detak jantungku. Dalam hati aku mulai menghitung mundur sebagai ancang-ancang.


Ayo semangat Nala!


Oke. Lambat laun langkahku mulai mendekati mereka. Kulihat mereka masih belum menyadari keberadaanku. Tinggal sedikit lagi pintu keluar. Ayo tinggal sedikit lagi.


"Eh ada Eneng cantik! Baru habis belanja ya?"


Deg.


Ada satu preman yang menghadangku, menghalangi pintu keluar.


"Iya nih. Sendirian aja?" Tiba-tiba ada temennya lagi yang ikut-ikutan berdiri di depanku.


"Abang temenin gimana?" Dan jadilah semua perhatian para preman ini ke arahku.


Dalam hati aku tidak henti-hentinya berdoa. Memohon perlindungan kepada Sang Pencipta. Keringatku yang seukuran bulir jagung bercucuran dari pelipisku ketika mendapati preman-preman itu mulai mendekat.


Bruak!


Preman yang jatuh itu tubuhnya menghantam tempat duduk yang terbuat dari tumpukan kayu-kayu.


Ups! Sepertinya aku dalam masalah besar. Muka preman-preman itu tampak masam.


Ya Allah bantu Nala!


Mas Alif, aku takut!


"Maaf Bang! Aku tadi enggak sengaja!" kataku kemudian mencoba untuk lari. Tapi naas, tanganku sudah keburu dicekal oleh seorang diantara mereka.


"Enak aja habis dorong orang main kabur gitu aja!" Si preman yang jatuh tadi kini sudah bangkit berdiri di hadapanku.


Kedua tanganku juga sudah dicekal oleh mereka. Belanjaanku sudah jatuh di lantai. Ekor mataku melirik ke mana saja untuk meminta bantuan. Tapi kenapa di sini mendadak sepi sekali? Ke mana orang-orang? Ini pasar apa kuburan sih???


"Enaknya kita apain nih temen-temen?" Preman yang berdiri di di depanku ini mencoba meraih pipiku, sontak saja aku langsung melengos. Menoleh ke samping. Bersamaan dengan itu air mataku turun.


"Lepasin!" Aku memberontak. Tapi percuma saja, tenaga preman yang mencekalku jauh lebih kuat. "TOLONG!!! TOLONG!!"  Aku berteriak sekuat yang kubisa.


"Mmmph!" Kurang ajar! Preman ini berani-beraninya membekapku.


"Sudah, kamu mau berteriak juga tidak ada yang menolong. Sini, temenin Abang dulu." Ketika salah satu preman datang menghampiriku, aku melihat seseorang dari kejauhan berlari ke arahku.


"Lepasin dia!"


"Kalau enggak mau apa? Ha!" Preman yang tadi tepat di hadapanku kini berbalik badan menatap penolongku.


"Kalian bakal ngerasain gimana sakitnya nyium lantai ini."


"Oh! Berani kau ya!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Dan perkelahian pun tidak bisa terelakkan. Mereka saling menyerang tanpa ampun. Tapi hebatnya dia bisa melawan semua preman itu dengan tangannya sendiri. Hingga preman yang mencekalku turut andil untuk membantu rekan-rekannya yang sudah berjatuhan. Tidak butuh waktu lama, semua preman itu sudah tumbang.


"Kamu enggak apa-apa Na?"


"Iya Kak. Makasih!" Saking terharunya sampai-sampai aku tidak bisa menahan air mataku untuk turun. Beruntung Kak Rio menyelamatku.


"Iya. Ayo sekarang kita keluar."


"Hmm." Dia membawakan semua belanjaanku dan menemaniku sampai di tepi jalan raya depan pasar.


"Terima kasih ya Kak! Aku enggak bisa bayangin gimana tadi kalau Kakak enggak nolong aku."


"Ssst! Udah. Yang penting kamu enggak kenapa-napa aku udah bersyukur. Jadi jangan mikir yang macam-macam lagi ya?" Aku mengangguk.


Kemudian dia mengajakku untuk duduk di depan sebuah ruko dan membelikanku air mineral dingin. "Ini, minum dulu!" suruhnya sambil menyerahkan padaku minuman yang sudah ia buka tutupnya itu.


"Makasih."


"Kamu tadi kok bisa dihadang preman begitu sih?"


"Niatnya tadi mau ambil jalan pintas, enggak tahunya malah ketemu preman." Lalu kuminum lagi air itu sampai tandas.


"Haus apa doyan Mbak?" kelakar Kak Rio.


"Haus campur deg-degan nih Kak," kataku sambil memberengut kesal. "Oh iya, tadi kok Kak Rio bisa kebetulan ada disitu sih?"


Nah ini yang membuatku agak sedikit bingung. Kok bisa sangat kebetulan ada dia di sana. Huft! Hidupku macam dalam drama ftv aja.


"Tadi habis jalan-jalan buat survey pemasok bahan di restoranku," jawabnya.


"Dari Yogya ambik bahannya dari sini?!" Tidak habis pikir aku. Bukannya sayurnya bisa busuk di tengah jalan?


Kak Rio kemudian menyentil dahiku keras. "Apa sih?!"


"Kamu itu ngawur aja! Ya enggak lah. Rencananya aku mau buka cabang di sini. Jadi sekalian nyari tempat sama pemasoknya."


"Ooh." Aku mengangguk paham.


"Kamu tuh!"


"Aah! Aw!!!" Kak Rio tanpa aba-aba mencubit kedua pipiku macam anak kecil. Iya tahu aku itu tembem dan menggemaskan, tapi ya jangan dicubit juga. Sakit tahu!


"Habisnya kamu nggemesin sih!"


"Ish! Sakit tahu Kak!" Aku langsung menepis tangannya dan membalas dengan mencubit perutnya.


"Ekhm! Mbaknya sama Masnya kalau pacaran lihat tempat dulu. Kasihan yang jomblo nanti iri lihatnya." Ha? Barusan Mas-mas penjual asongan dengan santainya bilang begitu pas lewat di depan ku dan Kak Rio. Ini Mas nya kok sok tahu banget sih?


"Eh enggak Mas!" Tapi percuma juga mau membantah. Toh Mas nya udah jalan seakan enggak peduli dengan barusan yang dia ucap.


"Diaminin aja kali Na." Ini lagi Mas Rio.


"Enggak ya!"


"Kenapa?"


"Ya karena,-"


Drrtt! Drrtt!


Getaran dari ponselku membuatku berhenti mengucapkan kalimatku. Kulihat itu pesan dari Mas Alif.


Sudah puas romantis-romantisannya?


Deg.


Mas Alif ada di sini? Di mana?


Mataku langsung celingukan sana sini untuk mencari keberadaannya. Lalu ponselku kembali bergetar.


Mobil hitam seberang jalan.


Pulang!


Benar. Tepat di seberang jalan itu mobil milik Mas Alif. Buru-buru aku mengambil belanjaanku dan bergegas pergi. "Kak, aku pulang dulu ya!"


"Kok tiba-tiba? Kamu naik apa? Perlu kuantar tidak?" Eh, ini Kak Rio kenapa pakai menahanku segala sih?!


"Enggak perlu. Aku udah dijemput. Makasih ya Kak atas bantuannya." Segera aku berlari ke tepi jalan. Menoleh kanan kiri sebelum menyebrang, setelah sepi aku langsung mengambil langkah seribu menghampiri mobil Mas Alif.


Bodoh kamu Na!


Barusan habis ngadepin preman-preman, nah habis ini harus ngadepin amukannya Mas Alif. Keluar dari kandang buaya masuk ke kandang harimau ini mah ceritanya.


Masuk dalam mobil aku sudah dihadapkan dengan aura suram dari Mas Alif. Dia tidak marah padaku, hanya saja dia diam seribu bahasa. Tapi diamnya itu tidak lebih baik. Mending dia marah-marah daripada diam begini. Mau aku memberi penjelasan panjang lebar juga percuma. Karena Mas Alif tipikal pengendara yang sangat fokus ketika menyetir. Jadi aku hanya bisa merutuki diri sendiri dalam hati.


Sepanjang perjalanan yang sunyi ini membuatku sangat gugup. Sekadar untuk menghela napas saja takut-takut. Apalagi untuk menyalakan radio. Alhasil aku hanya bisa duduk diam mematung sampai mobil berada dalam pekarangan rumah.


"Mas, aku minta maaf!"


"Sebelum itu aku mau tanya. Apakah dia saudaramu?" Aku menggeleng.


"Apakah dia seorang muhrimmu?" Aku kembali menggeleng.


"Baik. Dalam hal ini berarti aku berhak cemburu," katanya lalu melepas seatbelt dan keluar dari mobil tanpa menungguku.