TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Belajar Mengikhlaskan



Pemandangan di depanku sangat indah sekali. Langit bewarna biru cerah dengan awan putih bersih yang berarak di atas sana. Sinar mentari yang hangat memberikan secercah senyuman pada bunga-bunga yang bermekaran dengan cantiknya. Burung-burung juga bersahut-sahutan untuk saling menyapa. Tempat ini begitu indah, tidak pernah sekali pun aku mendapati ini.


Sepasang anak laki-laki dan perempuan dengan pakaian putih bersih menghampiriku. Mereka cantik dan tampan. Senyum yang mereka berikan begitu menawan. Kikira mereka berusia sekitar lima tahunan. Mereka menuntunku untuk pergi ke taman bunga. Berkali-kali aku bertanya siapa mereka, mereka hanya membalasku dengan senyuman.


Seperti keluarga kecil yang bahagia, kita asyik bermain di taman. Saling berkejaran, menangkap kupu-kupu, dan memetik bunga untuk dijadikan mahkota. Mereka membuatkan mahkota bunga dan meletakkannya bersamaan di kepalaku.


“Untuk Umi,” ujar mereka bersamaan.


“Apa?” Aku sangat kaget saat mereka memanggilku Umi. Belum sempat aku menanyakannya, mereka malah berlari menjauhiku.


“Tunggu!” Dengan sekuat tenaga aku berlari mengejar mereka. Tapi mereka terus berlari tanpa menghiraukan panggilanku. Menoleh ke belakang pun tidak.


Kini hanya tinggal aku sendiri di sini. Entah kenapa hatiku terasa sepi. Kemudian samar-samar aku mendengar suara Mas Alif yang terus memanggil namaku.


Tunggu!


Bukan hanya suara Mas Alif yang dapat kudengar. Ada suara mama dan papa juga. Aku terus mencari dari mana sumber suara itu berasal. Aku berlarian mencari mereka.


“Mas Alif!” teriakku, berharap agar ada yang mendengar suaraku dan dapat menyahutiku.


“Ma! Pa!”


Nihil, tidak ada satu pun sahutan yang terdengar olehku. Kini sudah tidak ada lagi suara-suara keramian orang yang memanggilnya. Membuatku kembli kesepian. Dalam sunyi aku hanya bisa berjalan tanpa alas entah ke mana. Yang sekarang aku tengah berada di padang rumput yang berwarna hijau menyejukkan.


Sampai hampir di ujung keputus asaanku, aku mendengar kembali suara Mas Alif. Kini suaranya terdengar begitu pelan. Seperti orang yang tengah berbisik. Nada yang terdengar begitu pilu. Mengharapkan diriku untuk bangun.


“Mas!” teriakku.


Mataku kemudian terbuka. Pelan-pelan aku menyesuaikan cahaya lampu yang menyilaukan. Kurasakan tubuhku berbaring di atas kasur dengan badan yang rasanya remuk semua. Bau obat-obatan langsung menyengat indra penciumanku. Kilas balik tentang serangkaian kejadian yang menimpaku sebelumnya langsung terputar di otakku. Agak lama baru aku sadar, aku telah mendapat sebuah kecelakaan.


Pikiranku langsung tertuju pada satu hal, anak-anakku. Kupaksakan tanganku yang masih lemas untuk meraba perutku. DATAR!!! Anak-anakku sudah tidak lagi ada di dalam perutku.


“Hiks! Hiks!” tanpa kuminta air mataku turun begitu derasnya. Masih sulit untukku menerima kenyataan ini.


“Sayang?! Kamu sudah bangun! Alhamdulillah!” Baru aku menyadari jika dari tadi Mas Alif tertidur di samping brankarku. Dia langsung memelukku erat dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.


“MAS! ANAK-ANAKKU DI MANA?!!” Aku meronta dalam pelukanya, memaksa meminta penjelasan.


“Kamu tenang dulu ya!” pintanya sembari mencoba menenangkanku.


“ENGGAK! SEKARANG AKU MAU KAMU JAWAB. DI MANA ANAK-ANAKKU?!!” teriakku histeris. Mas Alif hampir kewalahan menghadapiku.


Suaraku yang berteriak keras rupanya membuat orang tua dan mertuaku dengan langkah tergopoh-gopoh masuk dalam ruangan dan mendekatiku. Sama halnya dengan Mas Alif, mereka sangat bersyukur dengan kesadaranku kemudian mencoba menenangkanku.


“Kamu yang tenang, sabar dulu Nak!” kata papaku.


“Mau tenang bagaimana Pa? Di mana anak aku sekarang?!! DI MANA!!” Tidak seorang pun dari mereka yang menjawab. Kenapa mendadak mereka semua membisu seperti ini?!!!


Tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku. Hanya wajah-wajah sendu yang mereka tunjukkan. Juga mata memerah yang kemudian disusul dengan deraian air mata. Melihat mereka seperti ini, hanya satu yang ada di benakku saat ini. Telah terjadi sesuatu yang sangat buruk.


Akhirnya Mas Alif yang sedari tadi mendekap untuk menenangkanku kini melepaskan rangkulannya. Diraihnya kedua wajahku dengan tangannya. Sama halnya dengan semua orang di sini, hanya kesedihan yang menghiasi wajahnya.


Sambil menggelengkan kepala pelan, Mas Alif membri jawaban kepadaku. “Mereka sudah tenang di surganya Allah, Sayang.”


Deg.


Rasanya duniaku akan runtuh saat ini juga. Napasku langsung tercekat untuk beberapa saat. Tanpa diminta, air mata pun kembali luruh dari mataku. Begitu pun dengan Mas Alif. Kita berdua menyatu dalam deraian air mata kepiluan. Sedangkan orang tua dan mertuaku hanya melihat dari kejauhan dengan raut muka yang tidak kalah sedih denganku.


“Enggak mungkin mereka sudah pergi. Kamu bercanda kan Mas?” Hatiku masih belum bisa menerima semua ini. Aku masih berharap kalau ini hanyalah mimpi buruk. Berharap besok aku akan terbangun dan mendapati anak-anakku masih berlindung di dalam rahimku.


Tapi jawaban dari Mas Alif seolah menamparku untuk kembali pada kenyataan yang pahit ini. “Tidak Sayang, aku tidak bercanda. Mereka telah benar-benar pergi meninggalkan kita.”


“Hiks! Hiks! Aku, aku tidak bisa menerima semua ini. Kenapa ini terjadi padaku Mas? KENAPA?!!!” Seperti orang yang tengah kesetanan aku menarik baju Mas Alif dan berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan amarahku.


Melihatku yang hilang kendali seperti ini membuat mama dan papaku kebingungan sendiri. Dengan muka cemas mereka mendekati dan menenangkanku. Tapi aku tidak butuh itu. Aku tidak butuh kata-kata penenang mereka. Aku hanya ingin melihat anak-anakku.


Sampai akhirnya aku berada di titik terlemahku untuk menerima kenyataan pahit ini. Tubuhku sudah lelah. Pikiranku sudah letih memberontak. Dan hatiku, aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Mungkin sekarang sudah remuk tak berbentuk. Aku memejamkan mata. Berusaha mengistirahatkan segala yang ada. Hingga lama kemudian, kegelapan benar-benar menyapaku. Dalam hati kecil ini aku berharap, semoga di alam bawah sadarku, aku dapat bertemu dengan mereka.


*****


Aroma wangi bunga kenanga mulai memasuki indra penciumanku. Gundukan-gundukan tanah dengan nisan identitas yang bersemayam di dalamnya mulai tampak. Tangan Mas Alif merangkul untuk menuntunku berjalan di mana pusara anak-anakku berada.


Lalu langkahku sampai pada dua gundukan tanah yang masih basah dan bunga-bunga yang bertabur di atasnya. Dengan lunglai tubuhku terduduk di antara dua makam itu. Devano Putra dan Davina Putri, dua nama itu yang tertulis di batu nisan mereka. Kuusap perlahan nisan itu bersamaan dengan air mata yang menetes.


“Assalamu’alaikum anak hiks! Anak Umi? Hiks! Bagaimana kabar hiks! kalian? Umi berharap hiks! Umi harap kalian baik-baiksaja di sana.” Sekuat tenaga aku mencoba menghentikan air mataku.


Tapi tidak bisa. Air mata ini terus keluar tidak mau berhenti.


Mas Alif dengan penuh kasih menarikku dalam dekapannya. Membiarkanku menangis penuh haru biru. Sampai dadaku sesak karena terlalu lama terisak. Kehilangan mereka bahkan ketika aku belum sempat melihat wajah mereka, satu hal yang tidak pernah kubayangkan. Hanya penjelasan dari Mas Alif yang membuatku samar-samar membayangkan wajah mereka.


“Kita kirim doa ya Sayang!” kata Mas Alif ketika tangisku mulai mereda. Aku pun menganggukinya.


Lalu kita berdua mulai membacakan surat Yasin kemudian tahlil. Tidak lupa juga berbagai doa aku panjatkan untuk mereka. Angin sore berhembus kian dingin. Setelah puas mengunjungi makam, Mas Alif segera mengajakku untuk pulang. Sudah sekitar satu minggu aku dirawat secara intensif di rumah sakit. Tadi pagi aku sudah diperbolehkan untuk pulang.


“Hati-hati Sayang!” kata Mas Alif menuntunku berjalan ke dalam kamar.


“Hmm...”


Mas Alif kemudian pamit untuk pergi ke masjid, tanpa menjawab pasti dia tahu apa jawabanku. Setelah kepergiannya, aku berjalan menuju jendela. Lalu menutupnya dengan kasar. Menjadikan ruangan ini gelap dan suram. Dan aku kembali berbaring di atas kasur sembari menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


“Hiks!” Dalam diam aku masih menangis. Tidak berhenti-berhentinya aku menyalahkan kecorobohanku sendiri. Dan segala pengandaian terus berputar-putar di kepalaku.


Sampai aku merasakan selimutku tersibak. Lalu sebuah tangan mengusap rambutku pelan. Perlahan kubuka mata, rupanya itu Mas Alif yang masih mengenakan baju kokonya.


“Jangan menangis lagi!” ucapnya dengan mengecup pelan kedua mataku.


“Mas! Hiks !” lagi-lagi aku hanya bisa menghamburkan diri kepadanya. “Aku masih belum bisa menerima semua ini!” Aku terus memukuli dadanya untuk meluapkan sesakku.


“Sudahlah Sayang! Ini semua sudah kehendak Allah,” ujarnya berusaha menenangkanku.


“Tapi kan ini juga karena kecerobohanku Mas! aku ceroboh! Ceroboh!!!” Teriakku dengan menyalahkan diriku sendiri.


Mas Alif berusaha meraih tanganku yang tidak henti-hentinya memukul.


Setelah kedua tanganku ditangkapnya, napasku tersengal-sengal, air mataku mulai mengering. Rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk menangis.


“Kamu yang tenang! Jangan seperti ini. Mereka di sana juga tidak mau melihat Uminya seperti ini. Mereka akan sedih Sayang!” Dan akhirnya perkataan Mas Alif ini mampu meluluhkanku.


“Maaf!” lirihku.


“Sudah, kamu tidak perlu lagi merasa bersalah! Semua yang ada di dunia ini adalah titipan Allah. Harta, jabatan, keluarga, semuanya hanyalah titipan. Kelak pasti Allah akan mengambilnya, dan kita tidak mempunyai kuasa untuk menghentikannya. Karena Allah lah sang pemilik segalanya. Jadi kamu berhenti untuk menyalahkan diri kamu sendiri. Oke?!”


Mas Alif dengan begitu sabarnya memberikan pengertian kepadaku. Aku pun mengangguk mengiyakannya. Setelah itu, dengan dibantu Mas Alif aku berjalan ke kamar mandi untuk berwuhu lalu menunaikan shalat Ashar.


Hari sudah beranjak malam. Aku telah selesai mengerjakan sholat isya’.


Dengan perlahan aku melangkah keluar kamar. Luka bekas operasi di perutku ini lumayan sakit jika terus-terusan berjalan. Tapi aku tidak sampai hati untuk memanggil Mas Alif yang tengah berkutat dengan dokumen-dokumen di ruang kerjanya.


Setelah lama menangis membuat tenggorokanku rasanya sangat kering. Diam-diam aku menangis ketika sujud tadi. Segera setelah sampai dapur aku langsung menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya. Kuletakkan gelas yang kosong itu,bersamaan dengan mataku yang menatap yakin ke depan. Setelah menguatkan hatiku beberapa saat, kini aku yakin. Aku sudah membuat sebuah keputusan.


Melewati pantry, aku melihat dapur cantik yang sudah lama tidak kusentuh. Biasanya Mas Alif memilih memesan makanan secara online daripada menyuruhku memasak. Mataku kemudian melihat pada sebilah pisau yang tersusun rapi dengan pisau berbagai jenis lainnya. Kuambil itu dan memandangnya sesaat. Pandanganku fokus pada pisau itu yang terlihat mengkilap tajam diterpa sinar lampu dapur.


“Pasti ini sangat tajam,” gumamku pelan. Benda ini sangat cocok dengan apa yang kuperlukan saat ini.


“SAYANG!” Baru aku akan bergerak, teriakan Mas Alif yang kencang mengagetkanku. Tiba-tiba dia mengambil alih pisau itu dari tanganku.


Dengan mata yang sangat serius, dia menatapku.


“Apa yang kamu pikirkan? Apakah seperti ini akan menyelesaikan masalah?!” Aku semakin menundukkan kepalaku ketika Mas Alif sibuk mengguncangkan tubuhku.


“Sadar Sayang! Apa yang terlintas di kepala kamu sampai akan menyakiti diri sendiri seperti ini?”


He?!


Seketika aku langsung mendongakkan kepala dan menatap ke arahnya. Sambil mengerutkan dahi aku bertanya kembali apa maksudnya. “Maksud kamu apa sih Mas?”


“Ya ini!” Mas Alif mengacungkan pisau itu kembali dari meja. “Bukannya kamu mau melukai diri kamu sendiri?”


Sontak saja aku langsung tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. “Ya Allah Mas! Siapa juga yang mau melukai diri sendiri? Orang aku mau mengupas apel doang,” perjelasku.


“Ya habisnya gelagat kamu aneh itu, apalagi dengan kejadian yang terjadi pada kita. Aku takut kalau kamu akan bertindak yang aneh-aneh.”


“Enggak lah Mas! seterpuruknya aku, aku tidak akan berpikir sampai di situ. Aku masih menyayangi nyawa yang Allah beri kepadaku.”


Kemudian aku menghela napas panjang. “Lagian aku juga sudah memutuskan untuk mengikhlaskan mereka. Aku sadar, aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Kehidupan juga masih terus berlanjut. Dan benar apa kata kamu, semua ini hanyalah titipan. Jadi sudah sewajarnya jika Sang Pemilik akan mengambilnya.”


“Alhamdulillah!” serunya senang sambil mengusap puncak kepalaku. "Dan lagi, mereka dipanggil dalam keadaan yang suci belum berdosa. Insya Allah, Allah akan membalas kita dengan surga selama kita masih tetap berada di jalan-Nya.”


“Amiin,” balasku.


“Ya sudah, kamu duduk dulu. Biar aku yang mengupaskan apel untuk kamu.” Mas Alif mendudukkan tubuhku di ruang makan kemudian mengambilkan apel dari dalam kulkas untuk disajikan kepadaku.