
Hari jum'at siang yang cerah. Kontras dengan malam hari yang mendung disertai hujan. Kita yang cewek-cewek sedang duduk-duduk cantik di teras rumah. Bingung mau ngapain, dari tadi cuma HP-an terus. Sementara yang cowok masih jumatan di masjid.
Terus aku lihat si Astri jalan ke ayunan di pohon mangga.
Eh bukan.
Dia enggak naik ayunannya, malah cuma berdiri sambil kepalanya dongak ke atas.
"Lihat apa sih As?"
"Kayaknya seger itu Na!" Aku melihat ke mana arah telunjuknya Astri.
"Wooahh!" Dari dua minggu kita tinggal di sini dan beberapa kali duduk di bawah pohon ini, kok baru nyadar kalau buah mangganya sebanyak ini!!!
Eh.
Tapi kan buah mangganya masih setengah matang, mana ada seger-segernya As!
Asam baru iya.
"Itu masam As!"
"Tapi kan kalau dibuat rujak jadi seger!" Oh iya ya.
"Tika!!! Tik!" Panggilku.
Tika kan anaknya petakilan, kalau dari teoriku sih Tika punya bakat buat manjat pohon.
"Kenapa Na?"
"Bisa manjat pohon gak?"
"Beneran nanya itu? Ya bisa dong! Dulu, aku itu juaranya panjat pinang! Jadi jago dalam urusan panjat memanjat" Iya Tik. Aku percaya.
"Kaya monyet ya Tik?" Duh Astri. Ngomongnya sedikit tapi sekali ngomong langsung nyelekit.
"Tega banget As! Nyari perumpamaan itu yang manis sedikit kek. Koala gitu misalnya. Kan mendingan. Ya enggak Na?" Dih. Nyari pembelaan.
"Enggak ada yang mending sih Tik. Semuanya hewan" wkwkwk.
"Yaudah kalau gitu aku enggak manjatin pohonnya!" Eh dia langsung balik badan buat balik ke rumah.
Dengan cekatan aku mencegahnya.
"Jangan-jangan! Bercanda Tik! Maaf ya Tika yang imut kaya koala dari Australia" biasanya kalau sudah dipuji begini akan berhenti ngambeknya.
"Oke deh!" Tuh kan. Langsung balik ceria lagi.
Pertama naik masih mulus-mulus saja. Sudah kelihatan bagaimana handalnya Tika dalam hal beginian. Tapi kok pas mulai di tengah-tengah gerakannya jadi aneh gitu. Bisa gawat kalau dia sampai jatuh.
"Tik! Hati-hat-..."
Gubrak!!!
"--Ti..." belum juga aku menyelesaikan kata-kataku, dia sudah jatuh duluan.
Aku langsung menghampirinya. Teman-teman yang mulanya duduk anteng di teras juga ikut kemari.
"Kamu enggak apa-apa Tik?"
"Apa-apa ini Sal! Aduuhh!!! Pinggangku!!"
Karena panik kita langsung menggendongnya ke teras rumah. Membenarkan posisi duduknya dengan senderan di tembok. Kalau dilihat dari wajahnya yang payah kayanya sakitnya parah nih.
"Sakit banget ya Tik?" Jangan ditanya lagi Ren, orang mukanya udah enggak terkondisikan gitu.
"Enggak juga sih. Hehehe"
Ha?
Ini kita di-prank sama Tika?!!
"Kurang ajar kamu Tik!! Bikin kita jantungan aja!" Kesalku dengan memukul-mukul kakinya.
Yang lainnya juga ikut-ikutan. Mungkin sudah diambang batas kesabaran menghadapi jahilnya Tika.
"Aw! Aw!!! Ya maaf! Tadi kan aku coba social experiment, kalian peduli enggak sama aku. Khawatir apa enggak gitu!"
"Ya jelas khawatir lah Tikaa!!" Salma yang menurutku paling penyabar di antara kita akhirnya juga jewer telinganya Tika. Saling geregetannya mungkin.
"Aw!! Aduh duh! Iya maaf-maaf!"
"Tadi kok bisa jatuh gimana sih ceritanya? Katanya udah jago" sindirku.
"Tadi batangnya licin Na! Jadi kepleset, terus jatuh deh!" Oh iya. Kan semalam habis hujan deras.
"Ngapain sih pakai acara manjat-manjat pohon? Mau jadi Sun Go Kong?" Terus Tika jadi kera sakti dong Re. Wkwkwk.
"Itu, Astri pengen rujakan pakai mangga muda. Kan enak tuh!" Aku menjawab Rere. Dengar makanan saja langsung matanya berbinar semua.
Malah mereka langsung semangat 45 buat ngambil buah mangganya. Kompak kita memikirkan cara untuk mengambil buah mangga tanpa memanjatnya.
Pakai batu? Terlalu berbahaya.
Pakai galah? Enggak ada juga.
Apa ya?
Sambil berpikir, kita juga loncat-loncat untuk meraih dahan yang pendek. Sayangnya enggak ada yang pendek, panjang-panjang semua.
Aha!
"Iren! Coba kamu gendong aku! Pasti sampai ke mangganya !" Saranku diangguki oleh semua.
"Lah, enak di kalian capek di aku kalau gitu caranya"
"Kan nanti pas makan semuanya ngerasasain enaknya" ayo Sal, bujuk terus.
Tiba-tiba dia jongkok. Berarti setuju dong buat gendong aku. Berhubung aku memakai celana kulot, jadi enggak ada masalah kalau digendong. Aku nempel di punggungnya Iren. Kemudian dengan perlahan dia mulai berdiri.
"Ayo Na!!! Sedikit lagi!!"
"Geser-geser!!"
Kalian enak ya ngomong. Aku di atas sini sudah senam jantung dari tadi. Mana tanganku kurang panjang cuma beberapa senti lagi.
"Ren, Ren! Turun dulu!" Aku menepuk-nepuk pundaknya sebagai isyarat.
"Masih belum sampai tanganku" keluhku.
"Coba dipanggul aja gimana?"
"Coba kamu aja Sit!" Enak banget kalau usul.
"Aku kan enggak kecil badannya Na. Kasihan Iren dong!" Dia menjawab tatapan malasku ke dia.
"Gimana Ren?" Tanyaku dulu ke dia.
"Aku sih kalau soal makanan iya-iya aja. Let's go lah!" Hmmm... sudah kuduga.
Dalam hati sudah berdoa dari tadi. Semoga enggak jatuh, semoga enggak kenapa-kenapa. Sambil merem melek aku berusaha untuk tidak melihat ke bawah. Fokus saja dengan buah mangga yang sedikit lagi akan kuraih.
Ayoo!.. sedikit lagi...
Yakk!!! Dapat!
Teman-teman yang di bawah girang banget sampai teriak-teriak gitu. Sementara aku berjuang sekuat tenaga bersama Iren, dan teman-teman yang lain sibuk mendukung dan mengumpulkan mangganya.
Eh.
Si Astri dari tadi cuma duduk ayem tentrem di ayunan!!!
Harusnya kan yang punya ide ikut berusaha juga. Lah ini???
Setelah turun dari pundaknya Iren, aku menghampirinya.
"Enak ya mbak?"
Ekhm.. kayanya Astri mending diam saja deh. Kalau cengir mukanya jadi aneh gitu. Kan biasanya datar mulu.
"Ya sudah! Ayo kita buat rujaknya!" Tadi katanya capek. Sekarang malah lari-larian ke teras untuk bergabung dengan yang lain.
Salma sudah cekatan menyiapkan cobek lengkap dengan uleknya serta bumbu-bumbu untuk rujakan. Tapi kalau lihat raut mukanya sekarang yang bingung kayanya ada masalah.
"Kenapa Sal?"
"Ini lho Na. Kita kan enggak pernah masak pakai gula merah, jadi kita enggak punya stok gula merah di dapur" ooohh gitu.
"Ya sudah aku aja yang beli. Sama sekalian beli buah yang lain, kalau cuma mangga muda kurang mantap" Salma mengangguk setuju.
Dia kemudian memanggil bu bendahara, siapa lagi kalau bukan Rere. Untuk meminta dana yang akan diberikan ke aku nantinya. Rere yang tahu aku akan pergi belanja memaksa untuk ikut. Aku sih setuju-setuju saja, toh aku pakai sepeda ontel sekarang. Tentunya dia dong yang bonceng.
Hehehe.
Di menit-menit awal masih terasa seperti bersepeda biasa. Tapi kok sekarang mulai goyang-goyang gini sepedanya?
"Ada apa Re?"
"Enggak tahu Na, jadi enggak enak gini nyetirnya"
"Turun dulu deh Re!" Kita menepi, mengecek keadaan sepeda.
"Ya Allah! Pantesan goyang-goyang gitu, orang bannya kempes banget ini" aku menepuk dahiku pelan. Kenapa tadi sebelum berangkat kok enggak nge cek dulu. Kan bisa dipompa di rumah.
"Kayanya ini enggak kempes deh Na. Lihat tuh! Ada yang nancep di bannya" aku mengikuti arah telunjuk tangannya Rere.
Eh iya.
Ada paku di bannya. Alamat jalan kaki ini mah.
Akhirnya kita memutuskan untuk menuntun sepeda. Enggak mungkin juga mau dinaiki, bisa-bisa malah tambah parah nanti. Beruntung ada bengkel kecil-kecil an di samping warung, jadi kita menambalnya di sana. Aku menyuruh Rere menunggu di bengkel, sedangkan aku yang membeli di warung.
"Bu, beli gula merahnya"
"Maaf mbak e, gulanya sudah habis. Ke pasarnya baru besok pagi"
Apa?!
"Terus warung di sekitar sini mana lagi bu?" Kemudian ibu itu menjelaskan arahnya.
Meskipun aku enggak pernah ke warung yang lain selain warung ini, tapi berbekal arahan dari ibu penjaga warung mungkin aku bisa menemukannya. Aku mengajak Rere untuk pergi, biar sepedanya ditinggal dulu di bengkel. Lagian sepedanya juga belum selesai ditambal.
Kita berjalan sambil menengok kanan dan kiri untuk menemukan warungnya. Tapi pas menghadap ke depan...
Glek!
Aku meneguk ludah kasar. Tanganku dan Rere sudah bergenggaman erat. Kita sama-sama takut.
PASALNYA DI DEPAN ADA DUA ANJING BESAR-BESAR!!!
Kalau menurut teori harusnya kita enggak boleh panik. Meskipun sudah hapal teorinya sampai di luar kepala, tapi kalau praktek langsung begini langsung buyar segala teori itu.
GUK!!! GUK GUK!!!
Malah anjingnya-anjingnya mulai berjalan ke arah kita. Meski pelan-pelan tapi kan enggak ada yang tahu kalau anjing itu tiba-tiba lari terus gigit kita. Aku dan Rere sudah berancang-ancang. Kita saling mengisyaratkan mata.
Satu.
Dua.
Tiga.
"LARIIII!!!!"
Kita berlari sekencang mungkin. Sekuat tenaga yang kita punya. Tapi waktu menengok ke belakang, anjingnya juga ikut ngejar!!
GUK!!! GUK GUK!!
"Huaaa!!!!" Padahal napas sudah enggak beraturan. Tapi kita tetap paksa buat lari.
Sampai akhirnya kita menemukan pohon yang besar.
"Manjat pohon aja Na!!" Tanpa berpikir panjang kita langsung memanjat pohon itu.
Meski enggak pernah sekali pun manjat pohon, pokoknya asal injak dahan buat naik. Masa bodo dengan baju yang kotor. Sampai aku dan Rere sudah berhasil di atas pohon. Dan duduk di dahan yang lumayan tinggi.
GUK!!! GUK GUK!!
Ya Allah!!!
Ini anjingnya masih ngejar kita sampai di bawah pohon. Enggak capek apa ya anjing-anjing itu? Beruntungnya mereka enggak bisa manjat. Cuma bisa menggonggong di bawah sana.
"Na, gimana dong ini?!! Enggak bisa pulang dong kita!!" Iya Re. Jelas enggak bisa pulang kalau begini.
"Husss! Huss!! Ayo dong pergi sana!!"
Usiranku tetap enggak mempan juga.
Sampai akhirnya pandanganku menemukan segerombolan pemuda yang memakai baju koko dan berkopyah.
Itu anak-anak cowok baru pulang dari masjid!!!!
"Re! Rere!! Lihat! Itu anak-anak cowok!!" Aku dengan tidak sabaran menghadapkan kepala Rere ke arah yang kumaksud.
"Eh iya!. Oyy!!! Guys!!! Tolongin kita!!"
Kita teriak-teriak dengan kencang supaya mereka bisa mendengar.
Ternyata mereka langsung dengar dan berlari menghampiri mereka. Karena anak-anak cowok itu jumlahnya banyak, jadi sekali hentakan juga anjing-anjingnya langsung kabur.
"Jahaaaahaaahhhhaa!" Tahu deh mereka yang ngetawain aku sama Rere. Apalagi Rendi, paling kencang tertawanya.
"Kok bisa? Haaahaaa! Dikejar anjing gitu!! Hahahaahaa!!"
"Diam deh Ren! Bantu kita turun dong!" Kataku.
Iya. Aku dan Rere enggak bisa turun dari pohon. Orang tadi bisa naik gara-gara panik aja. Dan kalau dilihat-lihat,
Ini kita tinggi banget!!!
"Coba pelan-pelan turunnya. Fokus sama dahannya, jangan lihat ke bawah!"
Kita menuruti ucapan Alif. Pertama Rere dulu yang mencoba turun, lalu aku. Ternyata benar kata Tika tadi, batangnya memang licin. Tapi dengan hati-hati akhirnya aku bisa sampai di dahan paling bawah. Enggak ada yang namanya adegan drama-dramaan jatuh dari pohon terus Alif yang nangkep.
Mimpi!.
Kupikir jarak dahan yang kupijak dengan tanah cukup dekat, jadi aku langsung loncat.
Sreettt!
"Huaaa!!" Aku terpeleset! Bukannya mendarat di rerumputan, tapi malah di tanah yang licin.
Eh. Tapi kok aku enggak merasa nyium tanah ya?
Aku coba membuka mataku perlahan.
Loh?
Alif?!!!
Kucabut kata-kataku barusan yang bilang enggak ada adegan drama-dramaan. Nyatanya sekarang malah Alif dengan heroik-nya menangkapku supaya tidak terjatuh.
Setelah sadar aku langsung melepaskan diri. Anak-anak di belakang sudah kasak-kusuk. Pasti mau ciye-ciye deh.
"Ekhm! Ekhm!!"
"Apa? Kalian keselek kodok?" Aku yang salah tingkah jadi sensi gini.
Terus narik tangannya Rere buat balik ke bengkel tadi. Tapi sebelum itu kita menitipkan uang ke Indra buat belanja bahan-bahan yang tadi belum sempat kebeli.
Karena terlanjur malu. Jadi lupa enggak bilang terima kasih ke Alif. Hadeehh..!
Dasar aku!