
"Gea, udah lama aku memendam perasaan ini. Dan sekarang aku mau jujur. Aku cinta sama kamu Ge. Sejak hari pertama kita ketemu, aku udah jatuh dalam pesonamu. Dan sejak hari itu, aku selalu ingin melihat senyummu. Dan kali ini, aku ingin menjadi alasan atas senyumanmu. Gea, kamu maukah kamu jadi pacarku?" Di hadapan satu kelas, seorang laki-laki dengan berani mengutarakan perasaannya kepada Gea. Tak lupa juga sebuket bunga mawar merah dan boneka beruang lucu dengan rambut berwarna krem dia berikan untuk Gea.
"Terima! Terima! Terima!" Suasana kelas yang mulanya ramai karena akan jam kuliah sudah selesai menjadi tambah ramai lagi melihat tontonan gratis di depan mereka.
"Maaf Al, aku enggak bisa." Seolah tak termakan dengan sorakan dari teman-temannya, Gea langsung memberikan kembali boneka dan bunga ke tangan Allan. Lalu dia mengajak Sita untuk pergi ke kantin, mengisi perutnya yang kosong.
"Gila kamu Gea! Itu tadi Allan lho! Allan! Si ketua BEM yang kharismanya bukan kaleng-kaleng! Dan kamu tolak gitu aja? Oh my God! Aku enggak habis pikir dan kamu Ge!" Mulai dari keluar kelas sampai mereka tiba di kantin, Sita tidak henti-hentinya berceloteh.
"Ya mau gimana Sit, orang akunya enggak suka sama dia. Ya lucu dong kalau pacaran yang cinta cuma sebelah pihak, sama aja kayak sebuah keterpaksaan." Gea kemudian menuju ke stand bakso langganannya, tak lupa juga memesankan milik Sita.
"Jangan bilang kalau kamu masih mengharapkan si Radit?" tebak Sita ketika Gea sudah kembali mendudukkan bokongnya.
"Hmm, udah cinta mati. Final. Enggak bisa ditawar lagi kalau itu mah!" jawab Gea dengan santainya.
"Ya ampun Gea! Sadar dong! Udah satu tahun lho ini. Kamu enggak nyadar kalau si Radit enggak ngelirik kamu sama sekali? Heran!" Memang, kalau dipikir-pikir hampir semua teman-teman Gea pasti berpikiran sama dengan Sita. Mungkin Gea yang dibutakan cinta, sampai tidak peduli dan menolak banyak cinta tulus kepadanya. Atau mungkin lagi Gea terlalu bodoh karena mengharapkan seseorang yang seperti tak pernah menganggapnya ada.
"Ya mau gimana lagi?" Gea mengangkat kedua bahunya acuh.
"Yeeu! Udah mau kepala dua masih aja jadi budak cinta!" cibir Sita sambil membumbui bakso yang baru saja diantar ke meja mereka.
"Biarin! Penting bikin hidup jadi berwarna. Enggak kaya situ. Udah burem, blur lagi." Gea puas sekali dapat membalas ejekan dari Sita. Terbukti dengan Sita yang mendenguskan napas kesal sambil melirik ke arahnya.
Lam mereka diam menikmati menu makan siang, suara tawa yang nyaring memasuki area kantin menyita perhatian mereka. Sebenarnya bukan hanya mereka, hampir seluruh pengunjung kantin menatap ke arah yang sama. Arah di mana terdapat segerombolan anak laki-laki yang membuat suasana kantin menjadi riuh seketika. Sudah pasti itu gengnya Radit yang berisikan cowok-cowok keren di fakultas kedokteran. Membuat kaum hawa tidak berhenti saling membisikkan kalimat pujian untuk mereka.
"Biasa aja kali Mbak liatnya!" Sita meraup muka Gea yang fokus menatap Radit bahkan sampai tak berkedip. "Mentang-mentang pangerannya udah datang, langsung lupa sama sekitar!" imbuhnya lagi.
"Hehehe, sorry! Ya udah, aku samperin Radit dulu ya!" Tanpa menunggu persetujuan dari Sita, Gea langsung menyampirkan tas selempangnya dan bergegas menuju tempat Radit dan teman-temannya duduk.
Tapi baru beberapa langkah, Gea langsung berhenti dan berbalik arah. Menatap ke arah Sita. "Oh ya Sit, baksoku kamu yang bayar ya! Makasih!"
Gea langsung berlari menghampiri Radit, samar-samar dia mendengar Sita yang berteriak mengumpatinya. Tapi biarlah, toh Sita tergolong anak orang kaya. Orang tuanya tidak akan bangkrut karena anaknya mentraktir dirinya seporsi bakso lengkap dengan es teh manisnya. Oh ya lupa, sama tambah lontong satu dan kerupuknya dua.
"Hai Radit!" Beruntung mereka satu kelas, jadi lah Gea tidak terlalu sungkan untuk terus menempel ke Radit. "Nih, aku bawain kamu makan siang!" Diserahkannya sebuah kotak makanan yang berisi sandwich buatannya sendiri.
Radit yang memang dasarnya baik-baik saja didekati oleh banyak wanita merasa biasa saja dengan sikapnya Gea. Dan dia juga sering menerima pemberiannya Gea. Setidaknya dia menghormati usaha perempuan itu untuk menarik hatinya. Juga prinsipnya yang tidak menolak rezeki. Tapi masalahnya, sikap menerimanya itu dianggap berbeda oleh Gea. Maka dari itu Gea masih terus bertahan bahkan selama satu tahun untuk mengharapkan seorang Radit. Dia percaya kalau suatu saat Radit akan luluh juga dengan segala perhatiannya. Dia juga seakan menutup mata dan telinga kalau Radit berbuat demikian hampir ke semua wanita. Karena cinta keyakinannya yang sudah membutakan hatinya.
*****
"Eh, Sit! Sit! Sit! Liat deh! Aku satu kelompok sama Radit!" Gea dengan heboh menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mata Sita.
"Iya, udah tau!" ketus Sita sambil mengunyah kuaci kesukaannya. Saat ini mereka berada di rumah Gea. Maklum, saat ini orang tua Gea sedang ada tugas di luar kota. Jadilah dia tinggal sendirian dan meminta Sita untuk menginap di rumahnya.
"Kok udah tau?"
"Ya tau lah! Orang kita satu kelompok juga."
"Masa? Kok aku enggak tau sih?" tanya lagi Gea.
"Jelas lah. Orang mata kamu bisanya cuma baca nama si Radit doang! Jahat banget! Nama temannya sendiri sampai enggak diperhatikan." Sita memutar bola matanya jengah.
"Ya maaf! Saking senengnya sih! Hehehe."
"Gea, Gea! Kamu emang enggak tau apa enggak mau tau sih? Radit tuh gak pernah lirik kamu sekali pun! Stop ngarepin Radit! Udah dua tahun loh ini."
"Kenapa sih Sit? Kenapa kayanya dari dulu kamu selalu nyuruh aku buat berhenti ngarepin Radit. Kamu juga suka sama dia? Lantas nyuruh aku buat berhenti?" Sita sontak saja langsung menggeleng menolak opini dari Gea yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Gila kamu! Kalau aku suka sama Radit, udah dari dulu aku ngejar dia." Kemudian Sita menaruh toples berisi kuaci yang sedari tadi dipangkunya, lalu menghadap sempurna ke Gea.
"Aku nyuruh kamu berhenti itu bukan tanpa alasan. Aku udah capek liat kamu terus-terusan ngarepin hal yang jelas enggak pasti. Kamu itu berhak bahagia Gea! Please lah! Sekali-kali liat sekeliling kamu. Banyak kok cowok yang tulus cinta sama kamu, dan mereka pasti bisa bahagiain kamu. Stop buat diri kamu menderita dengan terus ngarepin seorang Radit. Kamu pikir aku enggak tau kalau kamu diam-diam suka nangis sendiri pas liat Radit ketawa haha hihi sama pacar-pacarnya? Udah lah. Stop it!"
Napas Sita tampak terengah-engah. Antara lelah sehabis menceramahi Gea dengan panjang lebar, bercampur dengan emosi yang sudah lama dia pendam. Diraihnya air putih yang sudah ada di meja lalu dia minum sampai tandas. Dan Gea tampak sedikit merenungi apa yang dikatakan Sita.
Sita sudah sedikit berbangga diri karena dia pikir Gea mendengarkan dan akan menuruti perkataannya. Tapi melihat Gea yang kemudian menggeleng lemah membuat Sita mengacak rambutnya frustasi.
"Enggak bisa Sit! Semakin aku nyoba buat ngelupain Radit, malah semakin kepikiran!" cicitnya.
"Bukannya enggak bisa, kamunya yang enggak mau!" Tangan Sita kemudian menuangkan sekali lagi air putih ke gelas dan meminumnya. Berbicara dengan Gea hanya membuatnya emosi dan lelah saja.
"Udahlah, ngomongin yang lain aja. Kamu jangan nangis! Maaf aku udah bentak kamu, aku enggak bermaksud tadi..." Melihat bahu Gea yang sedikit bergetar membuat Sita langsung menarik temannya itu ke dalam pelukannya.
*****
Gea tetaplah Gea yang teguh pendiriannya untuk mendapatkan cinta seorang Radit. Sampai sebuah kenyataan pahit menamparnya. Selama ini Radit tidak pernah menolaknya dengan terang-terangan. Tidak pernah sekali pun kalimat penolakan keluar dari mulut Radit. Tapi ketika seorang Nala masuk dalam kehidupannya, Radit nya berubah. Ia tahu bahwa berubahnya Radit menuju pribadi yang lebih baik, tapi itu juga berarti buruk untuknya. Dia tahu bahwa hati Radit akan semakin sulit dia dapatkan.
Hingga di suatu hari Radit mengatakan isi hatinya. Menyadarkan Gea bahwa posisinya bukan siapa-siapa di hidup Radit. Kalimat penolakan yang begitu menyakitkan ditujukan kepadanya. Tahu begitu dia tidak akan membuat Radit marah dengan mengganggu Nala. Tapi, bolehkan dia bersyukur? Dengan kehadiran Nala membuatnya teringat kembali nasehat apa Sita berikan padanya.
Dan Gea mulai belajar mengikhlaskan. Dia sadar, bahwa tidak akan pernah ada namanya di hati Radit. Hanya ada nama Nala. Tapi tak apa. Perlahan tapi pasti dia akan bersahabat kenyataan. Menganggap Radit hanyalah seorang teman, tidak lebih.
Rupanya, keinginannya tidak semulus yang dia pikirkan. Beberapa bulan setelah penolakan Radit berikan dan ia belajar mengikhlaskan, tapi Radit tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang menggoyahkan pendiriannya. Di saat ia ingin bangkit, Radit datang dengan segala perhatian yang diatasnamakan hubungan pertemanan. Tapi Gea tak suka itu, dia lebih suka Radit yang ketus padanya. Dengan begitu akan lebih mudah untuk melupakannya.
Beruntung ketika dia mulai terlena dengan perhatian Radit, dia segera tersadar. Kembali meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ia terus mengingatkan hatinya bahwa segala perhatian yang Radit tujukan hanyalah sebatas perhatian untuk teman. Tidak akan lagi dia berharap lebih kepada seorang Radit. Cukuplah kebodohan itu terjadi padanya selama dua tahun lalu. Kini Gea sering-sering mengingat bahwa dia dan Radit hanya seorang teman. Teman, tidak lebih.
*****
Dua tahun kemudian....
"Huft! Akhirnya istirahat juga!" Dengan semangat Radit merangkul pundak Gea dan menuju ke ruangan khusus di mana koass seperti mereka biasa berkumpul.
"He'em. Mau makan siang di mana nih?" tanya Gea setelah menanggalkan jas snelli nya.
"Keluar yuk! Bosen makan di kafetaria mulu!"
"Ya udah. Yuk berangkat!" ajak Gea.
Entah ini kebetulan apa bukan, yang jelas setelah wisuda mereka mendapatkan tempat koass di rumah sakit yang sama. Mengharuskan mereka setiap hari untuk bertatap muka. Hubungan mereka pun kian dekat. Bahkan jika orang lain melihat interaksi keduanya pasti banyak yang mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih, padahal kenyataannya mereka hanyalah sebatas teman. Meski Radit bolak-balik mengajak Gea untuk menjadi kekasihnya, tapi Gea selalu menolaknya. Entah apa alasannya, Radit tidak tahu. Dan dia tidak terlalu mempermasalahkan itu, dia sudah nyaman dengan hubungan mereka yang seperti ini.
"Ke restoran baru depan rumah sakit yuk! Lumayan mumpung masih harga promo," ujar Radit ketika mereka sudah berada di lobi rumah sakit.
"Boleh tuh. Udah tanggal tua juga nih, pengiritan mode on," kelakar Gea yang disambut tawa oleh Radit.
Hanya tinggal menyeberang jalan dan berjalan beberapa puluh meter saja mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Ternyata sebuah restoran dengan tema Korea yang diusung. Masuk ke dalam mereka telah disambut dengan aroma harum makanan, semakin menambah rasa lapar di perut mereka. Akhirnya mereka berdua memilih menu yang akan dipesan, mereka kompak memesan menu hotplate di restoran ini. Kapan lagi bisa makan daging dengan harga yang terjangkau seperti ini? Pikir mereka.
"Ge, foto dulu yuk!"
"Kuy lah! Bagus juga view nya." Pandangan Gea mengitari seluruh ruangan yang memang didekorasi cantik agar pengunjung dapat berfoto-foto.
"Liat ke kamera dong!" Dengan gemas Radit menarik pipi Gea agar berhenti dari kegiatan pengamatannya dan menghadap ke kamera ponsel Radit.
"Ish! Iya-iya!"
"Satu, dua..."
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Sudah banyak foto mereka ambil dengan berbagai pose dan angle yang berbeda. Mulai dari muka normal, muka imut, bahkan sampai muka konyol mereka lakukan. Mereka menghentikan aksi narsisnya setelah pesanan mereka datang.
Di meja sudah terhidang rapi aneka daging juga seafood, lengkap juga dengan sayurnya. Hotplate dengan kuah berbagai rasa tampak mengepul dan menguarkan aroma menggugah selera. Tanpa menunggu lama, Gea langsung meraih sumpit dan mulai memasukkan dagingnya ke kuah panas. Sambil membolak-balik daging agar cepat matang merata, dia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Setelah dia lihat, rupanya sebuah notifikasi dari akun instagramnya.
raditputra.snjy menandai anda dalam sebuah kiriman.
Gea kemudian menoleh sebentar ke arah Radit yang tampaknya baru meletakkan ponselnya ke meja. Buru-buru Gea membuka instagramnya dan melihat apa yang dilakukan oleh pria di sampingnya ini. Matanya langsung membulat sempurna setelah melihat unggahan Radit.
"Oh my God! Radit! Apa-apaan sih kamu?!" Sontak Gea memelototi Radit. Sedangkan Radit yang ditatap seperti itu malah bertanya layaknya tak merasa bersalah.
"Kenapa sih?"
"Kenapa-kenapa, maksudnya apa ini?!" Gea langsung menunjukkan postingan Radit sendiri di hadapannya. "Hapus gak?!"
"Gak," jawab Radit dengan santainya.
"Hapus Dit!"
"Enggak mauuu!"
"Radit!"
"Iya sayang?"
"Tapi ngangenin."
Jelas saja Gea merasa sebal. Radit tanpa meminta persetujuannya tiba-tiba memposting foto mereka berdua di akun instagramnya. Apalagi foto yang diupload adalah muka konyol mereka. Yang mana muka Gea sangat tidak cantik menurutnya. Mata juling, bibir mengerucut persis ikan cucut, dan hidungnya yang dibuat besar. Sangat jauh dari kesan cantik yang melekat pada dirinya. Parahnya lagi adalah caption yang ditulis Radit.
Lunch with this crazy girl.
Benar saja, dalam hitungan menit postingan Radit langsung dibanjiri komentar. Baik itu dari teman-temannya yang menggoda mereka, yang mendoakan, bahkan fans Radit yang tidak terima juga ada. Pasti mereka semua berpikir tidak-tidak dengan hubungan mereka berdua.
"Radiiitt! Hapus ih!" pinta Gea untuk terakhir kalinya.
"Iya. Tapi nanti setelah makan," ujar Radit sambil mengusap puncak kepala Gea agar tenang.
Blush!
Gea jadi salah tingkah sendiri dan mengalihkan pandangannya. Kembali mengaduk daging yang sempat dia abaikan tadi. Mungkin karena gugup atau bagaimana, tangan Gea tidak sengaja menyentuh wadah hotplate nya. Membuatnya meringis kesakitan.
"Aw!"
Radit yang mendengar rintihan Gea sontak saja langsung menghadap sempurna ke arahnya. "Kenapa Ge?"
"Enggak sengaja nyenggol hotplate nya." Radit yang melihat luka bakar kemerahan di tangan Gea otomatis langsung menariknya dan meniupnya perlahan.
"Masih perih gak?" tanya Radit tanpa menghilangkan rasa khawatirnya sedikit pun.
Mendapat perhatian manis seperti ini malah membuat Gea semakin gugup. Ditariknya tangan yang semula digenggam oleh Radit kemudian beranjak berdiri.
"Loh, mau kemana kamu Ge?"
"Kamu tuh Dit! Kuliah kedokteran empat tahun, udah koass juga. Masa luka bakar bisa sembuh kalau ditiup? Ya aku mau ke toilet lah. Mau aku kasih air terus salep," jawab Gea kemudian berlalu dari hadapan Radit. Sedangkan Radit sendiri hanya bisa menepuk dahinya perlahan, merutuki kebodohannya sendiri.
Sekitar setengah jam menghabiskan waktu di restoran, akhirnya mereka menyudahi acara makan siangnya. Dan sesuai janji maka Radit menghapus postingannya tadi meski masih sedikit diwarnai perdebatan. Dan Gea, dia harus menyiapkan diri untuk nanti sepulang dari rumah sakit akan menjawab berbagai pertanyaan dari teman-temannya.
"Besok malam datang gak?" tanya Radit ketika mereka sudah keluar dari restoran.
"Datang dong. Kan tadi udah dikasih tau. Lagian anak-anak yang lain pasti juga datang, enggak enak kan kalau gak hadir sendiri."
Acara yang mereka maksud adalah pesta penyambutan direktur rumah sakit yang baru. Dokter-dokter juga koass seperti mereka turut diundang untuk memeriahkan acara.
"Ya udah. Kalau gitu besok aku jemput. Jangan berangkat dulu sebelum aku datang, oke?"
"Iyaa."
"Jangan lupa juga besok dandan yang cantik!"
"Iyaa." Mereka berdua pun larut dalam perbincangan yang membahas rencana ketika di pesta besok malam. Sampai mereka tak menyadari bahwa langkah mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka pun mengakhiri sesi bincang-bincang dan segera menuju ke ruangan mereka untuk bersiap diri karena jam istirahat akan usai.
*****
Sesuai janji kemarin siang, maka sekarang Radit sudah berdiri di depan pintu rumah Gea. Ketika mengetuk pintu, dia langsung disambut ramah oleh ART di rumah Gea dan mempersilakannya duduk di dalam. Sekitar sepuluh menit menunggu, suara hak sepatu yang beradu dengan tangga langsung menyita perhatiannya.
"Wow!" Satu kata itu reflek keluar dari mulut Radit ketika mendapati penampilan Gea dari atas ke bawah.
Gea sangat cantik malam ini mengenakan gaun panjang berwarna marun dengan belahan belakang sampai lutut. Rambutnya dia tata sedemikian rupa hingga menunjukkan leher jenjangnya. Dan tanpa direncanakan, rupanya Radit juga mengenakan dalaman kemeja berwarna marun. Dan kalau disandingkan, mereka berdua sudah cocok menjadi pasangan yang romantis.
"Hey dude! Close your mouth!" kelakar Gea setelah turun dari tangga dan menggandeng tangan Radit yang masih terpaku melihatnya.
"Wow! You're so gorgeous tonight!"
"I'm glad to hear that!" balas Gea sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Setalah puas saling memandang dan memuji satu sama lain, mereka pun memutuskan untuk segera berangkat. Mengingat sebentar lagi pesta akan di mulai. Sekitar setengah jam kemudian mereka sudah sampai di hotel tempat pesta diadakan. Mulai dari turun dari mobil hingga ke dalam gedung, sampai jalannya acara pun Radit tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Gea. Dia takut kalau sampai ada pria lain yang berusaha mendekati Gea.
"Apa kamu enggak bakal ngelepasin tanganku Dit?"
"Enggak."
"Tapi aku haus Radit!"
"Ya udah, ayo ke stand minuman." Bersamaan dengan itu Indra datang menghampiri mereka.
"Yo guys! Kalian datang rupanya. Ke mana aja kok enggak keliatan?" sapa Indra.
"Kita dari tadi di sini aja kok," jawab Radit.
Memanfaatkan kelengahan Radit, Gea segera menarik tangannya. "Ya udah, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu. Aku mau ambil minum bentar." Dia pun segera berlalu dari hadapan Radit dan Indra.
Dari sekian banyaknya jenis minuman, mata Gea langsung tertuju pada jus jeruk yang tampak sangat menggoda. Pasti akan terasa segar ketika jus itu melewati tenggorokannya. Tapi ketika tangannya hendak meraih jus itu, tidak sengaja menyentuh tangan lain yang akan mengambil di gelas yang sama. Mata mereka bertemu, dan beberapa detik barulah mereka sadar.
"Gea?"
"Hai! Enggak nyangka kita ketemu di sini ya Al." Masih ingat Allan? Si ketua BEM yang pernah Gea tolak cintanya dulu. Rupanya setelah sekian lamanya mereka bertemu kembali malam ini.
"Waah, aku enggak nyangka bakal ketemu lagi sama kamu. Makin cantik aja sekarang kamu Ge!"
"Makasih pujiannya! Oh ya, ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa? Kamu tamu undangan juga?"
"Kalau ini acara papaku, apa bisa dibilang kalau aku tamu undangan?"
"Ya ampun! Kamu anaknya pak direktur yang baru itu?" Allan pun mengangguk.
"Kamu ke sini sendiri Ge?"
"Kenapa memangnya?"
"Ya aku berharapnya begitu sih. Karena, meski waktu terus berlalu tapi perasaanku ke kamu tetap sama. Aku masih cinta sama kamu Gea."
"O-oh gitu." Mendengar pernyataan yang mendadak seperti ini membuat Gea tidak banyak berkata-kata.
Kemudian lampu gedung berubah temaram. Musik pun terdengar mengalun merdu. Rupanya sedang memasuki acara dansa. Dan tanpa Gea duga, Allan mengulurkan tangannya ke arah Gea.
"Mau jadi pasanganku malam ini?" tanyanya.
"Tapi sayang sekali, Gea sudah ada pasangannya." Mereka berdua kompak menoleh ke sumber suara yang menyahut dari belakang. Rupanya itu Radit. Dan dengan secepat kilat Radit menarik tubuh Gea hingga tangannya dapat merengkuh sempurna pinggang ramping Gea.
"Kalau begitu kita pamit dulu untuk berdansa." Radit pun menuntun Gea menuju lantai dansa.
"Oh iya satu lagi, mulai sekarang jangan lagi mengharapkan cinta kekasihku," ujar Radit ketika mereka masih belum melangkah jauh. Nadanya rendah, tapi penuh penekanan. Terdengar seperti peringatan yang tak main-main.
Di lantai dansa, mereka berdua berbaur dengan pasangan yang lain. Mereka sama-sama belum pernah berdansa. Tapi mengikuti gerakan yang lain, juga mengikuti alunan musik membuat mereka lama-lama terbiasa.
"Hmm, kekasihku? Sejak kapan kamu buat kepemilikanmu atas diriku?" tanya Gea di sela-sela dansa mereka.
"Sejak hari ini, menit ini, dan detik ini."
"Wow, sangat percaya diri sekali anda! Apakah aku menerimanya?"
"Itu harus."
"Apakah ini sebuah paksaan tuan?"
"Seperti itu. Memangnya kau bisa menolakku?"
"Jelas lah." Mendengar itu membuat gerakan Radit berhenti. "Jelas aku tidak akan menolak." Dan lanjutan jawaban dari Gea langsung menerbitkan senyuman di wajah Radit. Tidak menyangka kalau tembakan yang tidak direncanakan seperti ini membuahkan hasil.
"Lantas, kenapa dulu-dulu kamu menolakku?" tanya Radit yang masih sangat penasaran dengan alasan Gea.
"Karena saat itu aku masih ragu. Aku masih butuh meyakinkan diriku sendiri kalau memang kamu sungguh-sungguh."
"Apakah sekarang kamu masih meragukanku?" tanya lagi Radit.
"Tidak. Aku sudah percaya kalau kamu memang sudah benar-benar mencintaiku."
Mereka pun melanjutkan gerakan dansa yang sempat terhenti. Tangan Radit semakin merapatkan pegangannya di pinggang Gea. Membuatnya perempuannya tersipu malu dan memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Radit.
"I love you!" bisik Radit pelan tepat di samping telinga Gea.
"I love you too!"