TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ NALA



Cerahnya mentari di luar sana berbanding terbalik dengan aura Nala yang tampak suram. Beberapa hari setelah Rio mengutarakan ajakan untuk berkencan, sejak hari itu pula Nala mencoba berpikir keras untuk mencari alasan yang pas ketika izin ke orang tuanya. Bahkan sudah semalaman dia bergelung di dalam selimutnya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kalau sampai orang rumahnya tahu bahwa dia tengah berpacaran.


Drrrtt... Drrrtt


Suara getaran ponsel di atas nakas menyadarkannya. Segera dia bangkit dan mencari tahu notifikasi apa yang muncul. Sedetik kemudian matanya membulat sempurna setelah tahu bahwa itu adalah notifikasi pesan dari Rio.


Jangan lupa dandan yang cantik ya! Jam satu nanti aku jemput ke rumah kamu. :)


"Gawat!!!" Nala mencak-mencak sendiri di atas kasurnya. Bisa tambah panjang urusannya kalau sampai Rio datang ke rumah.


Enggak usah Kak! Langsung ketemuan di Mall aja. Begitulah balasan yang Nala kirim untuk Rio.


Matanya kemudian melirik ke arah jam dinding. Sudah jam enam pagi, berarti kurang beberapa jam dia menyiapkan alibi yang tepat untuk keluar siang nanti.


Senyum Nala kemudian merekah. Disaat genting seperti ini selalu bermunculan ide-ide. "Kenapa enggak dari kemarin-kemarin sih nongolnya nih ide," gerutunya.


Kemudian dia turun ke lantai bawah untuk membantu mamanya memasak. Sambil berbasa-basi, dia memulai aksinya.


"Ma."


"Hmmm..." Mata mamanya masih fokus meracik bumbu.


"Nanti siang Nala pamit mau keluar ya!"


"Mau ke mana kamu?" Kini perhatian mamanya sudah sepenuhnya tertuju ke Nala.


Ditatap seperti itu membuat Nala jadi tidak tega untuk membohongi mamanya. Tapi dia sangat menginginkan keluar dengan Rio. Jadi dengan berat hati dia berbohong.


"Mau ke Mall Ma, nyari bahan-bahan buat tugas." Melihat mamanya akan mengeluarkan argumen, Nala segera berkata lagi. "Sama Rendi kok!"


Ini lah ide yang terlintas di benaknya tadi. Mengajak Rendi agar alibinya lebih mudah diterima.


"Oh, ya sudah kalau begitu." Tepat seperti dugaan Nala. Jika Rendi ikut, pasti akan diizinkan. Dan kini dia tinggal membujuk sahabat menyebalkannya itu.


Sambil membawa bolu buatan mamanya tadi pagi, Nala sudah bersiap untuk ke rumah Rendi. Tidak perlu waktu lama, dengan berjalan kaki saja dia sudah sampai di halaman rumah Rendi. Sangat mudah untuk menemukan rumahnya. Lihat saja rumah yang paling besar dan mewah, sudah pasti itu rumah keluarganya Rendi.


"Assalamu'alaikum!" ucap Nala setelah sampai di depan pintu rumah yang kebetulan sudah terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam!" Terdengar suara sahutan dari dalam. Nala sudah hapal betul dengan suara ini, siapa lagi kalau bukan mamanya Rendi yang baik hati.


Seperti sudah menganggap anak sendiri, Nala langsung dipersilakan masuk. Perempuan paruh baya itu sudah menebak kalau kedatangan Nala untuk menemui putra semata wayangnya.


"Dia lagi tidur Na, bangunin aja kalau bisa." Iya, bahkan untuk masuk ke kamar saja Nala diperbolehkan.


"Iya Tan. Oh ya, ini ada kue bolu buatan Mama." Diserahkannya kue itu dan disambut hangat oleh mamanya Rendi.


"Makasih loh Na."


"Iya Tan."


Setelah berbasa-basi sebentar, Nala langsung pamit untuk membangunkan kerbau pemalas itu. Sampai di dalam kamar dia sudah siap dengan aksinya. Mula-mula mengambil guling yang sudah jatuh dari tempatnya, kemudian memukul-mukul jamnya ke tubuh Rendi agar bangun.


"Bangun!! Woyy!! Rendi kebooo!!!" Suara berisik dan hantaman guling rupanya masih kurang cukup untuk membangunkannya.


"Ck.ck.ck. Kebo banget sih nih orang!"


Tidak kehabisan akal, dia langsung menuju toilet dan membawa air di telapak tangannya. Cara ini sangat ampuh untuk membangunkan orang tidur.


Nala mengguyurkan air dari tangannya tepat ke muka Rendi. Membuat si empunya kamar terlonjak kaget dan terbangun juga.


"Haishh!!! Apaan sih kamu Na! Ganggu orang aja hobinya!" ketus Rendi sambil mengelap mukanya yang basah.


"Bangun woy! Udah siang ini! Ayam aja udah dari tadi keluar kandang. Nah situ, masih enak-enakan tidur." Nala tidak kalah ketusnya.


"Ck. Iya-iya. Ada apaan nih? Tumben datang jam segini?" Benar juga sih. Ini baru jam delapan, biasanya Nala datangnya selalu siang.


Muka ketus Nala langsung berubah menjadi muka memelas khas untuk meluluhkan hati orang. Dia pun mengambil duduk di kasur Rendi dengan meletakkan guling di pangkuannya.


"Ren! Bantuin aku dong! Please!!!"


"Bantuin apaan?"


"Temenin aku ke Mall nanti siang, ya? Ya? Ya?"


"Cuman itu doang?" Nala mengangguk cepat. "Kirain minta tolong apaan sampai jam segini datang. Kaya enggak biasanya aja aku nemenin kamu belanja."


"Bukan! Aku bukan mau belanja!"


"Terus?"


Nala diam sesaat, lalu meneguk ludahnya kasar. "Aku mau nonton," lirihnya.


"Oh, nonton? Ayo-ayo aja! Kebetulan ada film bagus Minggu ini."


"Bukan nonton sama kamu Ren!" Nala tidak habis pikir dengan sahabatnya ini yang sangat percaya diri. "Aku mau nonton sama Kak Rio," lanjutnya.


Tatapan Rendi langsung berubah. Entahlah, seperti tidak suka? "Kalau gitu kenapa enggak minta sama si Rio itu buat jemput ke rumah?"


"Ish!!! Kamu kan tahu aku enggak boleh pacaran! Nanti kalau dia datang ke rumah bisa ketahuan lah!"


"Udah tahu dilarang, tapi masih dilakuin juga." Rendi menggerutu sambil beranjak dari tempat tidurnya.


"Enggak usah mulai deh!"


Bukan maksud hati Nala untuk melanggar larangan orang tuanya. Dia memang sudah suka dengan Rio sejak pertama kali masuk SMA dan melihat sosok Rio sebagai ketua OSIS idaman. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata Rio juga menyukainya. Dan di umurnya saat ini dia pasti juga ingin yang namanya pacaran seperti teman-temanya. Saat ini imannya belum terlalu kuat untuk menahan hawa nafsunya.


"Jadi gimana nih? Mau enggak bantuin aku izin ke Mama?" Tatapannya mengikuti gerak Rendi yang tengah merapikan tempat tidurnya.


"Iya." Satu kata itu sudah membuat Nala merasa senang.


"Makasih ya Ren! Kamu memang sahabat terbaik deh!"


"Gitu tuh. Muji kalau ada maunya." Nala hanya membalasnya dengan cengiran semata.


"Ya udah sana keluar! Aku mau mandi."


"Oke. Mandi yang bersih yaa!!" ledek Nala setelah berada di ambang pintu kamar.


*****


Seperti yang sudah direncanakan, Nala saat ini sudah berada di Mall bersama dengan Rendi. Matanya melihat ponsel dan mengecek di mana keberadaan kekasihnya itu.


"Ren, Kak Rio sudah nunggu di depan bioskop. Aku ke sana dulu ya!"


"Lah, terus aku gimana?" Nala mengendikkan bahunya.


"Enggak tahu. Tunggu aja di kafe, atau ke mana gitu. Hehehe."


"Dasar!"


Nala pun segera meninggalkan Rendi yang tengah sibuk merutukinya. Setelah sampai di area gedung bioskop, matanya menyapu setiap sudut untuk mencari keberadaan Rio.


"Nala!" Tampak seseorang tengah melambaikan tangan ke arahnya, Nala pun segera menghampirinya.


"Hai Kak! Sudah lama nunggunya?" tanyanya.


"Enggak kok. Ya sudah, ayo kita masuk. Aku sudah beli tiketnya tadi."


"Iya."


Mereka pun berjalan berdampingan menuju ke dalam bioskop. Mata Rio dari tadi menatap tangannya dengan tangan Nala yang masih bebas. Perlahan dia menautkan jemarinya ke ruas jemari Nala. Sedangkan Nala yang fokus memandang sekitar terkejut mendapat perlakuan manis dari Rio. Dia hanya bisa menatap laki-laki itu dan tersenyum manis. Padahal dalam hati dia sudah berteriak-teriak kegirangan.


*****


Sudah berbulan-bulan Nala menjalani hubungan dengan Rio. Dan beruntungnya dia mempunyai sahabat seperti Rendi yang bisa menutupi alibinya ke orang tuanya. Dia sangat bahagia melewati masa SMA nya yang penuh warna.


Sampai pada saat di mana Nala harus rela berpisah dengan Rio karena hari perpisahan kelas dua belas telah tiba. Nala sebagai kekasih tentu saja menemani hari spesial Rio. Jadi dia menunggu sambil mengamati acara dari kejauhan.


Ketika hari sudah beranjak siang dan acara perpisahan pun sudah berkahir, dia mendapat sebuah pesan dari Rio. Dia mengajaknya untuk bertemu di taman belakang sekolah. Nala pun segera bergegas menuju tempat itu.


Suara daun kering yang terinjak oleh sepatu terdengar nyaring karena suasana yang begitu hening. Pohon-pohon besar juga banyak tumbuh rindang di sini. Menambah kesan teduh tapi juga seram dalam bersamaan. Seperti kebanyakan taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi, begitu pun di sini. Membuat Nala sedikit merinding.


"Kamu sudah datang rupanya."


Jantung Nala seakan ingin lompat dari tempatnya. Beruntung saja Rio tiba-tiba muncul di depannya, bukan di belakangnya. Kalau itu terjadi, sudah pasti dia akan menjerit sekencang mungkin karena terkejut.


"Iya Kak. Ada apa ya?" tanya Nala to the point.


Rio kemudian mengajaknya untuk duduk di bangku taman, sambil duduk berhadapan dia menggenggam kedua tangan Nala dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Na, kamu tau kan aku sayang sama kamu? Aku juga sudah bilang tidak akan meninggalkanmu." Raut sedih jelas tampak di muka Rio.


Hal itu jelas saja membuat Nala bingung. "Ada apa Kak? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"


"Iya. Aku akan berkuliah Na, dan kita tampaknya tidak bisa bertemu lagi." Ucapan Rio ini tentu saja menohok hati Nala begitu dalam.


"Tapi kenapa? Bukankah dulu kamu bilang akan kuliah dan tetap bisa menemuiku?" Bulir air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya.


Diusapnya air mata yang membasahi wajah Nala. Hal itu malah membuat Nala semakin histeris. Rio yang juga sedih lalu menarik tubuh Nala dalam pelukannya. Beruntung taman belakang sangat sepi, jadi tidak akan ada yang menganggu mereka.


"Kamu jangan menangis! Aku minta maaf!" Kata maaf terus saja terucap dari mulut Rio.


"Na." Kamudian dia melepaskan pelukannya dan membuat Nala agar berhenti menangis dan menatap matanya. "Memang kita akan berpisah, tapi perasaanku ke kamu tetap sama. Tidak ada yang akan menggantikan nama kamu di hati aku. Setelah menyelesaikan kuliahku, aku janji akan menemui kamu lagi."


"Benarkah?"


"Iya. Aku janji. Jadi, tinggal kamu mau berjanji untuk menungguku atau tidak?"


"Iya. Aku mau," ucap Nala dengan percaya dirinya. Tidak tahu kalau hal ini akan mempengaruhi kehidupannya di masa depan.


*****


Kring! Kring! Kring!


Suara jam weker yang terus berbunyi dan bergetar di atas nakas tidak membuat sang empunya kamar terbangun dari mimpi indahnya. Bahkan cahaya mentari yang mengintip dibalik celah gorden itu pun tidak dapat membuat seseorang yang bergulung di bawah selimut merasakan hawa pagi.


Sampai suara langkah kaki mendekat dan langsung membuka seluruh gorden hingga cahaya mentari sepenuhnya memasuki ruang kamar dengan nuansa pink ini. Diraihnya jam weker yang terabaikan lalu mematikannya.


"Woy! Bangun! Bangun!!!!!" Teriakan Rendi yang kencang sontak saja mengagetkan Nala dari tidurnya. Bahkan muka terkejutnya itu masih setia meski dia sudah membuka mata.


"Rendi! Rese banget sih!"


"Kalau aku enggak rese kamu enggak bakal bangun. Enggak lihat apa sudah jam berapa sekarang?"


Bola mata Nala langsung memutar dan melihat ke arah jam berada. Sudah jam setengah tujuh pagi. Tapi dia masih belum sepenuhnya sadar dengan maksud kedatangan Rendi di kamarnya. Kemudian dia melihat penampilan Rendi yang tidak seperti biasanya.


"Kamu mau ngelamar kerjaan Ren? Tumben rapi amat." Rapi yang yang dimaksud Nala adalah tampilan Rendi yang mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam, dan juga sudah berkaus kaki. Seperti orang mau melamar pekerjaan pikir Nala.


"Dasar pikun! Enggak inget apa kalau hari ini masuk awal kuliah?"


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Dan di detik berikutnya Nala langsung berteriak dan otomatis keluar dari selimutnya untuk segera bersiap-siap. Cepat-cepat dia memasukkan barang-barang yang sudah dia persiapkan tadi malam untuk dimasukkan dalam tas merah muda kesayangannya. Rendi yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan mencibirnya.


"Makanya, jadi cewek itu bangunnya subuh. Beres-beres kamar, bantu-bantu mama, bukannya asyik ngebo!"


"Diem deh Ren! Tadi pas habis sholat ketiduran ini!"


"Alasan."


"Ya udah kalau enggak percaya. Sana keluar! Aku mau mandi!" usir Nala setelah menyiapkan keperluannya dan mengambil setelan baju yang mirip dengan Rendi.


"Mau dibantuin gak?" Sebelah mata Rendi mengerling nakal.


"Bantu palamu peyang! Udah sana keluar!" Tidak sabaran, Nala langsung mendorong tubuh Rendi agar keluar dari kamarnya lalu menguncinya.


Sudah hampir setengah jam Rendi menunggu di ruang tamu. Beruntung ada camilan dan kue yang disediakan mamanya Nala, jadi dia tidak mati kebosanan. Berulang kali mengecek jam yang melingkari di tangannya, harap-harap kalau perempuan yang ditunggu sudah selesai dari acara dandannya.


   


Derap kaki dari lantai atas membuat Rendi mau tidak mau mendongakkan kepalanya, helaan napas lega langsung terdengar seiring turunnya langkah Nala ke ruang makan. Dia mengambil roti bakar yang sudah mamanya persiapkan, memakannya sebentar dan meminum segelas susu putih untuk mengisi tenaganya hari ini. Tidak lupa juga dia berpamitan dengan mamanya yang sedang menyapu lantai dapur.


"Yuk Ren berangkat!" Dengan semangat empat lima Nala menggandeng tangan Rendi keluar rumah.


"Bentar." Langkah mereka berdua berhenti saat Rendi mengatakan itu. "Kamu yakin mau pakai tas itu? Kontras banget Na sama warna pakaian kita."


Tentu saja Rendi menanyakan itu. Warna pakaian dengan tema monokrom itu Nala tambah dengan tas punggung berwarna merah mudanya. Jelas akan sangat menarik perhatian Maba yang lain kalau seperti itu caranya.


"Yakin! Lagian tasku yang lain warnanya juga pink semua. Enggak ada yang gelap."


"Tapi kan-,"


"Udah, ayo buruan berangkat! Entar keburu telat!" Dengan pasrah, Rendi mengikuti tarikan lengan Nala yang mengarahkan mereka ke halaman depan, tempat motor Rendi berada.


Hari itu adalah hari pertama Nala merasakan dunia baru perkuliahan. Waktu terus beberapa tahun kemudian. Pengalaman baru, teman baru, lika-liku kehidupan kampus sudah dia lalui semua. Semua itu membuat pribadi Nala lambat laun mulai berubah. Tidak terlalu kekanakan, mau mengalah, dan mulai menimbang mana yang penting dan tidak terlalu penting.


Meski waktu telah banyak mengubah, masih ada satu yang tetap dan tambah erat. Yaitu persahabatannya dengan Rendi. Biarpun mereka berbeda fakultas, tetap beradu argumen ketika bertemu, masih sering berantem layaknya anak kecil, tapi itu semua tidak merenggangkan ikatan keduanya.


Seperti saat ini, Nala sedang sibuk merecoki Rendi yang tengah sibuk makan rujak lontong di warung depan kampus. Sedari tadi dia terus berceloteh tanpa henti, menceritakan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini.


"Jadi gimana menurutmu? Kita cocok gak?" Rendi masih belum menanggapi, tetap setia dengan rujak lontong yang tersisa sedikit itu.


"Ish Ren!"


"Bentar!" Rendi pun segera menghabiskan menu makan siangnya, keburu kucing disampingnya berubah jadi singa betina.


"Enggak. Alif tuh terlalu alim buat kamu yang bar-bar!" Rendi berkata demikian dengan santainya sambil menyeruput jus mangga pesanannya. Iya, Nala bercerita tentang kedekatannya dengan Alif. Padahal mungkin itu menurutnya saja yang hubungan mereka dekat, entah bagaimana Alif menganggapnya.


"Kok gitu sih? Jahat banget kamu jadi sahabat!" Muka Nala langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dia menenggelamkan mukanya diantara dua tangan yang dia silangkan di atas meja.


Melihat itu membuat Rendi jadi gemas sendiri. Dia malah mengacak poni Nala yang disambut tatapan sinis dari sahabatnya. "Bercanda kali! Kalian cocok kok. Saling melengkapi. Yang satunya kalem, yang satunya lagi pecicilan. Perpaduan yang pas."


"Ish! Nyebelin deh! Habis muji langsung dijatuhin ke palung paling dalam!" ketus Nala.


"Hiperbola!"


"Biarin!"


"Emangnya, atas dasar apa kamu yakin banget kalau Alif juga suka sama kamu?" Pertanyaan Rendi ini malah membuat Nala kesal setengah mati. Berarti dari tadi dia cerita tidak didengarkan oleh manusia yang duduk di sampingnya ini.


"Haish! Dari tadi aku cerita kamu kemana aja sih? Sebel deh!"


"Ya maaf! Tadi kan fokusnya sama makanan, jadi enggak terlalu dengerin ceritanya," jujur Rendi.


"Hmm. Ya atas dasar kemarin dia maksa buat nolongin motorku yang mogok." Nala mengulangi ceritanya dengan versi kalimat yang singkat, padat, dan jelas.


"Bisa jadi kan kalau dia cuma melaksanakan tugasnya sebagai mahluk sosial. Membantu sesama. Jadi jangan terlalu PD dulu."


"Tapi aku ngerasanya beda Ren."


"Ya gapapa kalau kamu nganggapnya gitu. Tapi yang jelas, di sini aku mau ngingetin. Cinta boleh, tapi jangan berlebihan. Begitupun sama berharap. Entar kalau udah tahu si Alif udah ada yang punya, kamu entar bisa gila gara-gara menaruh harapan terlalu tinggi."


"Hmm, iya. Makasih petuahnya."


Percakapan itu membuat Nala sedikit berpikir tentang Alif. Benar juga apa kata Rendi, jangan terlalu berharap dengan dia yang belum pasti. Jadi Nala akan mencoba menjalani harinya sebagai mana mestinya. Tapi kegiatan KKN yang mereka lakukan bersama sangat bertentangan dengan kemauan Nala.


Nala pikir, dia jangan terlalu jatuh pada Alif. Tapi kenyataannya, perasaannya seperti ditarik ulur oleh seseorang yang bernama lengkap Alif Muhammad itu. Alif terus perhatian kepada dirinya, tapi dia juga tampak dekat dengan Salma, sahabat barunya. Ingin Nala tidak berharap, tapi perhatian kecil yang Alif berikan seolah memberikan harapan untuknya. Intinya Nala bingung.


Sampai dia berada pada titik dimana kegiatan KKN mereka akan usai. Dia takut jika hubungannya dengan Alif turut usai juga. Mengingat mereka dipertemukan dalam kegiatan ini. Semakin hari bersama, semakin banyak kisah yang terajut, semakin susah pula untuk melupakan.


Hingga Alif tiba-tiba mendatanginya. Mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah Nala sangka. Dengan berani Alif mengutarakan perasaannya dan memberikan janji kepada Nala. Membuat gadis itu bingung sendiri dibuatnya. Mengapa Alif menawarkan janji untuk bersama ketika dia tengah dekat dengan perempuan lain? Iya, Salma. Siapa lagi memangnya?


Tapi memang dasarnya Nala yang suka menyimpulkan sendiri prasangkanya, tidak mau bertanya untuk mengklarifikasi kenyataannya. Terlalu takut akan jawaban yang kemungkinan akan memberi rasa sakit yang lebih untuknya. Disaat bersamaan, perasaan bahagia juga malu bercampur menjadi satu. Selain bahagia karena Alif rupanya juga memendam perasaan yang sama, dia juga malu karena telah berasumsi sendiri tentang hubungan Alif dan Salma yang rupanya hanya sebatas sahabat. Sama seperti dirinya dengan Rendi.


Jawaban "iya" dari mulutnya membuat secercah harapan untuk hubungan keduanya. Sampai tiba waktu yang ditentukan, dua tahun mereka menunggu hingga berakhir bersanding di atas pelaminan. Jemari tangan saling bertautan, senyum manis selalu ditampakkan, menyalurkan rasa rindu yang yang selama ini terpendam.


"Sayang!"


"Eh?" Panggilan dari seseorang disampingnya membuat Nala sadar akan memorinya yang berkelana jauh beberapa tahun silam. Seiring tangannya yang memegang album berisikan foto dirinya dari kecil hingga sekarang, memotret berbagai kebersamaan yang akan selalu dia kenang.


"Kamu ngelamunun apa sih? Dari tadi aku panggil enggak nyahut-nyahut." Alif yang merasa terabaikan menunjukkan ekspresi pura-pura merajuk.


"Maaf! Memangnya ada apa?"


"Itu Zafran udah berhasil aku buat tidur."


"Terus?" Kedua alis Nala berkerut, menunjukkan bahwa dia memang tidak paham dengan maksud Alif.


"Jadi, enggak ada hadiah nih?"


Cup!


Nala mencium sekilas bibir suaminya. Sebuah rutinitas kecil yang dia lakukan baik sebelum maupun sesudah tidur. Meski sederhana, nyatanya hal kecil seperti ini yang semakin merekatkan hubungan keduanya.


"Kok cuma itu sih?"


"Ya kan biasanya juga gitu Mas."


Kini Alif merapatkan posisinya ke Nala, turut duduk sepenuhnya di atas tempat tidur. Album foto yang sebelumnya dia pegang kini telah berada di atas nakas. Dia memperhatikan suaminya lamat-lamat. Berlagak sok tidak tahu apa yang diinginkan Alif saat ini.


"Emm, gini. Zafran kan sekarang udah besar, jadi menurutku udah pantas lah buat punya adik. Jadi... Gimana? Mau ya Sayang?"


Raut muka memelas Alif membuat Nala mati-matian menahan tawanya. Meski sudah beberapa tahun menikah, untuk berhubungan intim seperti ini Alif masih sangat berhati-hati dan meminta baik-baik kepadanya. Tidak pernah memaksa.


"Tapi, hari ini aku lagi dapet Mas," bisik Nala tepat di sebelah telinga Alif. Membuatnya raut muka suaminya berubah menjadi pias dalam beberapa detik.


"Tapi bohong!" Sedetik kemudian tawa Nala pecah seketika. Membuat Alif yang semula sudah lesu menjadi bersemangat. Tanpa ba-bi-bu dia langsung memeluk tubuh Nala dan menggelitikinya sampai puas. Salah siapa berani jahil dengan dirinya.


Mereka berdua larut dalam tawa yang memecah keheningan malam. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti mengira bahwa keduanya adalah pasangan yang bahagia. Memang benar, Nala sangat bahagia. Menjadi istri sekaligus seorang ibu adalah impian Nala ketika pertama kali menatap mata seorang Alif Muhammad. Dan kini impiannya telah terpenuhi setelah penantian panjang yang berharga.