TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Tante Rendi yang Cantik



Tidak terasa satu bulan telah berlalu. Sebentar lagi akan diadakan tasyakuran tujuh bulanan kehamilanku. Segela macam persiapan dikerjakan oleh para tetua, yaitu mama dan papaku juga papa dan mamanya Mas Alif. Sesuai kesepakatan, nantinya acara walimahan akan dilaksanakan di rumahku dan Mas Alif saja.


Jadi meski pun sekelilingku tengah sibuk, aku santai saja di kamar. Rebahan, bermain ponsel, atau kalau enggak begitu ya membaca novel. Bukan maksud hati untuk bermalas-malasan, tapi memang aku yang tidak diperbolehkan untuk turun tangan. Bahkan untuk membantu mama membuat kue-kue saja tanganku sudah dipukul dengan sendok, lalu dimarahi dan disuruh untuk diam saja.


“Sayang!” panggil Mas Alif yang baru masuk dalam kamar sambil membawa segelas susu untuk ibu hamil dan menyerahkannya kepadaku. “Ini minum dulu.”


“Iya Mas.” Kuminum itu sampai habis tak bersisa. Rasanya enak, rasa stroberi lagi.


“Temen-temen sudah aku kasih undangan semua, Insya Allah mereka datangnya nanti sore.”


“Hmm... iya. Oh ya, kamu enggak berangkat kerja?” tanyaku. Pasalnya ini sudah jam tujuh, dan dia masih mengenakan pakaian santai.


“Enggak lah Yang. Aku di sini nanti buat bantu-bantu,” jawabnya.


“Ooh gitu.”


“Ya udah, aku ke bawah dulu ya. Mau angkat-angkat kursi sama meja,” pamitnya dan berlalu dari hadapanku.


Huft!


Aku menghela napas lelah. BOSAN!!!


Mana teman-teman datangnya masih nanti sore lagi. Masih kurang sembilan jam lagi!!!


Lagi-lagi hanya bisa membuka ponsel, lihat-lihat media sosial, buka Youtube, cuma itu. Tiba-tiba sepintas ide langsung menghinggapi pikiranku. Jika teman-teman yang lain datangnya masih nanti sore, kan ada dua teman yang selalu ada. Tetangga pula.


Tepat saat ide bagus itu melintas, suara cempreng Lia sudah terdengar sampai kamarku. Suatu kebetulan sekali ketika aku akan menghubungi Rangga dan Astri, mereka sudah tiba di sini. Dengan hati-hati aku beranjak tempat tidur dan pergi keluar kamar untuk menemui mereka.


“Astri!” panggilku ketika dia tengah asyik bersalam-salaman dengan tetangga yang lain.


Seketika dia menoleh lalu melambaikan tangan kepadaku. Tampak dia juga menuntun Lia untuk berjalan ke arahku. “Apa kabar Na?”


“Alhamdulillah baik,” jawabku sambil memeluknya pelan dan bercipika cipiki. Lia juga tidak lupa kusapa dengan mencubit hidungnya, mau mencium juga susah untukku berjongkok.


“Beruntung kamu datang As!” kataku lalu mengajak Astri dan Lia ke kamar tamu, kamar sementaraku.


“Memangnya kamu kenapa Na?”


“Hadehh! Rasanya itu bisa mati kebosanan di sini. Mau bantu-bantu aja enggak boleh. Cuma disuruh di kamar aja,” perjelasku dengan bersungut-sungut.


“Lebay kamu Na!” Astri memukul pelan lenganku.


Saat kita bertiga duduk di atas kasur, Lia dari tadi melihatku. Ah, tepatnya ke arah perutku. Sampai-sampai boneka beruangnya dibiarkan tergeletak di sampingnya.


“Lia pengen pegang perut Tante Nala ya?” tanyaku sambil mengelus-elus perutku.


“Mang boeh ya ante?” tanyanya dengan suara khas anak kecil yang belum fasih melafalkan kata.


Dengan gemas aku mencubit pipi gembulnya lalu menciumnya. “Ya boleh dong!”


“Yeyy!” seru Lia dengan semangat, membuatku dan Astri geleng-geleng kepala. Lalu dia perlahan mendekat dan mengulurkan tangannya. Wajahnya yang polos itu langsung kaget ketika mendapati sebuah gerakan di perutku.


“Waahh! Peyutnya eyak-eyak!” katanya sangat terkejut dan menolehkan kepala ke mamanya, seakan meminta penjelasan.


“Di dalam sana ada adek-adeknya Sayang, jadi perutnya Tante Nala gerak-gerak,” perjelas Astri dengan telaten agar Lia memahami.


“Ada adeknya?” Mata Lia membelalak tidak percaya, lalu menempelkan telinganya ke perutku. Reaksi yang sama dia keluarkan ketika lagi-lagi mendapati gerakan di perutku. Wajahnya jadi kesenangan begitu.


Membiarkan Lia yang sibuk mengamati perutku, aku kembali berbincang-bincang dengan Astri. “Oh ya As, Rangga mana? Kok tadi enggak kelihatan?”


“Ikut lah. Ya kali ada tetangga punya acara tapi dia enggak datang,” jawabnya.


“Hehehehe.. iya juga ya.”


“Hmm.. tadi dia di depan sudah dihadang sama Alif buat bantu ngangkatin meja sama kursi, jadi aku tinggal masuk duluan deh.” Aku mengangguk-angguk mendengar penuturan Asatri.


“Ini Lia udah mau masuk PAUD ya As?” tebakku yang ternyata diangguki oleh Astri.


“Iya, habis lebaran nanti dia mau aku masukin ke PAUD. Udah tiga tahun juga kan dia.”


“Enggak kerasa ya? Tiba-tiba aja kita udah punya suami dan anak, apalagi kamu udah mau mikirin pendidikannya Lia,” ucapku sambil menerawang beberapa kenangan masa lalu.


“Padahal dulu kita rasanya masih mikirin buat hangout sama temen, shopping-shopping di Mall padahal baju udah banyak. Nah sekarang, jangankan mau hangout. Orang telponan sama temen aja tiba-tiba anak nangis,” imbuhnya lagi.


“Bwahahhaaa! Masa sih Lia gitu?” tanyaku di sela-sela tawa.


“Iya. Dia kaya cemburu gitu kalau lihat mamanya sibuk sama yang lain,” kata Astri sambil mengacak-acak rambut Lia gemas. Membuat Lia yang semula diam asyik mengusap-usap perutku jadi merajuk.


“Iiihh! Mama!!!”


Alarm peringatan mulai berbunyi nih. Mukanya Lia mulai masam dan matanya kaya mau nangis gitu. Tapi seakan sudah pengalaman, Astri dengan mudahnya menangani ini. Membuatku sedikit bertanya dalam hati, apakah nanti ketika menjadi ibu akan dengan mudahnya menenangkan anakku?


“Kamu sabar banget kayanya menghadapi Lia,” pujiku.


“Semua butuh proses Na. Dulu mah waktu awal-awal jadi ibu, aku juga bingung sendiri gimana mau menghadapi Lia. Cengengnya, marahnya, manjanya. Tapi dari waktu ke waktu akhirnya aku bisa menanganinya.”


“Hebat kamu As. Tapi kalau dipikir-pikir, aku hanya senang mendengar bahwa aku akan menjadi ibu. Tapi belum pernah terlintas di benakku apakah kelak aku bisa menjadi ibu yang baik? Apakah aku bisa menjadi contoh untuk anak-anakku kelak?” Tiba-tiba jadi ingat hal ini, membuatku agak takut.


“Kamu tenang aja. Maklum jika kamu berpikir begitu karena ini baru pertama buat kamu. Tapi yakinlah, tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini. Tapi di balik ibu yang tidak sempurna itu, selalu ada usaha-usaha untuk selalu mendidik dan membahagiakan anaknya. Jadi kamu bisa berusaha dan berdoa untuk yang terbaik buat anak kamu. Lama kelamaan, pengalaman dan waktu yang akan mengajarimu menjadi orang tua yang baik.”


Setiap kata dari Astri kuresapi baik-baik. Benar juga apa kata dia, tidak perlu takut. Apalagi aku tidak sendirian. Ada Mas Alif di sisiku, ada mama dan papaku, juga ada papa dan mama mertuaku. Ditambah dengan teman-teman yang selalu mendukungku, tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan. Jika ada di luar sana ibu yang seorang diri merawat anaknya hingga sukses, maka aku dengan keberuntungan memiliki banyak orang di sekelilingku juga harus bisa mendidik anakku kelak.


Di tengah-tengah perbincanganku dengan Astri, kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kalau dari suaranya, sepertinya itu Rangga. Sudah hapal dengan suara papanya, Lia langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan untuk membukakan pintu.


“Papaaa!!!” Teriaknya sambil merentangkan tangan ke arah Rangga, meminta untuk digendong.


“Kenapa Mas?” tanya Astri setelah ada di depan Rangga.


“Enggak ada apa-apa. Dari tadi nyariin kamu sama Lia tapi enggak ketemu-ketemu, kata Alif mungkin lagi sama Nala,” ucap Rangga setelah menciumi muka Lia.


“Hmm. Aku dari tadi di sini kok, sama Nala.” Astri menoleh ke arahku.


Melihat interaksi manis keluarga kecil itu membuatku terharu sampai senyum-senyum sendiri. Sebentar lagi aku jug akan mengalami itu.


Eh?


Melihat muka Rangga kok membuatku menginginkan sesuatu? Dari tadi kedatangannya tidak terlalu kuperhatikan wajahnya. Tapi kini ketika dia menghadap sempurna kepadaku, dan aku dapat melihat wajahnya dengan sempurna, membuat diriku ingin melakukan satu hal kepadanya. Ini aku lagi ngidam kah? Tapi kok aneh.


“Na!”


“Eh?!” aku tersentak kaget ketika Astri tiba-tiba memegang pundakku. “Kenapa As?”


“Kamu ngelamun ya? Mas Rangga dari tadi nanyain kabar kamu tuh. Tapi kamu malah diam aja,” jawab Astri.


“Baik kok Ngga. Alhamdulillah.”


“Ohh.. baguslah kalau git,” timpal Rangga. Dia kemudian menurunkan Lia dari gendongannya. “Ya udah, aku ke depan lagi ya. Mau bantu-bantu,” pamitnya ke Astri.


“Eh! Tunggu-tunggu!!” tanpa kuminta, tiba-tiba aku berteriak menghentikan langkah Rangga yang akan meninggalkan kamar.


“Kenapa Na?” tanya sepasang suami istri itu bersamaan.


“Emmm.” Lidahku rasanya kelu untuk menjawab.


Nak, nak! Kamu itu kalau pengen mbok ya jangan aneh-aneh. Batinku sambil mengelus perut buncitku, berharap agar ngidamnya ini bisa teratasi.


“Na?” Astri kembali menegurku.


“Jadi gini As. Aku mau...” Aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kata-kataku.


“Kenapa sih Na? Ngomong aja!” ucap Astri yang mulai gemas sendiri.


“Habis lihat Rangga, aku jadi pengen dandanin dia,” cicitku yang kutahu pasti Rangga dan Astri dapat mendengarnya.


“APA??!!” Benar kan. Mereka berdua kaget begitu. Apalagi Rangga yang sudah melotot gitu. Udah datar, ditambah matanya yang membola gitu kan jadi serem.


“Kamu serius Na?” tanya Rangga.


“Iya Ngga. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba pengen aja gitu. Kayanya ini ngidam deh.” Mukaku langsung tertunduk lesu gitu, takut-takut kalau Rangga enggak mau nurutin permintaanku.


Tapi memang kalau dipikir-pikir secara nalar juga pasti dia bakal nolak. Mana mau muka datarnya itu aku kasih bedak, lipstik, dan kawan-kawannya. Jangankan untuk make up yang ribet seperti itu, bedakan aja mungkin dia enggak pernah.


“ENGGAK.” Benar kan apa yang kuduga.


“Iya, kalau enggak mau enggak apa-apa kok.” Tiba-tiba aja air mataku netes. Enggak tahu kenapa rasanya sedih banget gitu pas dengar langung penolakannya Rangga. Padahal kan wajar, dia laki-laki jadi mana mau didandanin kaya cewe.


Melihatku yang mulai nangis seperti ini mungkin membuat Astri mengiba. Ditambah Lia yang tiba-tiba datang memeluk lututku dan berkata agar aku tidak menangis yang nantinya akan membuat adik-adiknya sedih juga. Adegan yang sangat dramatis.


“Udahlah Mas, turutin aja! Ini kan ngidam. Bukan kemauannya dia juga kan?” Aku dapat mendengar dengan samar jika Astri kini tengah membujuk Rangga.


“Tapi kan malu-mauin Yang. Aku enggak mau.” Rangga yang tetap bersikukuh dengan penolakannya ini membuat tangisku semakin menjadi. Kalau saja pintu kamar tidak ditutup, pasti banyak orang yang datang karena mendengar suara tangisku.


Dari pandangan mataku yang agak buram karena linangan air mata ini, aku melihat Rangga tertunduk. Lalu mengusap wajahnya kasar. Pasti ini pilihan yang berat untuknya. Akhirnya beberapa saat Astri membujuknya, ditambah dengan tangisku yang tak kunjung reda membuat Rangga mulai luluh. Dengan terpaksa dia mengangguk mengiyakan.


“Yeaayyyy! Makasih Rangga!” Wajahku kini berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum lebar kemudian terpatri di wajahku. Dengan mengusap bekas air mataku, aku berjalan mendekati Rangga dan menariknya untuk duduk di atas tempat tidur.


Lia yang melihatku menarik papanya ke tempat tidur, dan mamanya yang mulai mengambil alat-alat make up di meja riasku membuat dia bertanya-tanya. “Ante mau apa?”


“Tante mau dandanin papanya Lia!” seruku.


Wajahya Lia juga tampak gembira begitu. Semangatnya malah melebihi punyaku. Mungkin ini saatnya untuk mendandani orang beneran dari biasanya boneka mainan. Kan dia anak perempuan, jadi ya enggak heran kalau semangat dalam urusan beginian.


Tanganku sudah memegang bedak, dan dengan dibantu Lia aku mulai merombak muka Rangga. Pertama aku pasangkan dulu bandana agar rambut yang menutupi wajahnya bisa tersingkap.


“Harus pakai ginian ya?” protes Rangga berusaha menyingkirkan bandana merah muda dengan gambar kelinci.


“Iya harus,” jawabku.


“Papa diam!” imbuh Lia yang tidak kalah galaknya.


Sedangkan aku dan Lia sibuk mendandani, dan Rangga yang sibuk memprotes, Astri dengan santainya merekam kesengsaraan suaminya ini.


“Mas, senyum dong!” pinta Astri.


Melihat ada kamera yang merekam, membuat Rangga menatap Astri dengan datar. “Matiin gak kameranya?” ketusnya.


“Enggak mau!” kata Astri yang membuatku dan Lia tertawa. Rangga yang hendak meraih ponsel Astri langsung kutarik tangannya, Lia juga ikut-ikutan.


“Diam!” ucapku dan Lia bersamaan.


“Iya-iya,” katanya dengan pasrah.


Lima belas menit berlalu...


“Haish! Pelan-pelan Na! Kecolok nih mataku,” protes Rangga ketika aku tidak sengaja mencolok matanya dengan eyeliner yang kucoba kupasang di bagian bawah matanya.


“Papa kok nais?” tanya Lia ketika mendapati mata Rangga yang memerah da hendak mengeluarkan air mata.


“Tante Nala tuh Sayang! Habis nyolok mata Papa.” Rangga mengadu ke Lia.


Tapi jadinya bukan seperti yang dia harapkan. Lia tidak memarahiku, malah memukul lengan papanya. “Papa si eyak mulu!” Memang benar apa yang dikata Lia, Rangga kebanyakan gerak. Jadi bukan sepenuhnya salahku dong kalau matanya sampai mencolok.


“Oh ya, Lia mau enggak yang kasih lipstik-nya?” tanyaku sambil mengacungkan lipstik-ku yang berwarna nude.


“Mau!” Lia langsung beraksi dengan memakaikan lipstik di bibir Rangga.


“SELESAI!!” teriakku dan Lia yang telah selesai mendandani Rangga. Aku pun ber-tos ria dengan Lia dan Astri. Sedangkan Rangga hanya bisa menunjukkan wajah datar andalannya.


Bedak yang terpadu sempurna di wajahnya, alis yang panjang sebelah karya tangan Lia, mata lentik dan kelopak mata indah hasil riasanku, dan juga lipstik yang mewarnai seluruh bibir Rangga sampai ke pipinya. Begitulah gambaran muka Rangga saat ini. Tidak lupa juga kita mengambil foto bersama.


Lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka, otomatis membuat kita semua menolehkan kepala untuk mencari tahu siapa yang masuk kamar. “Sayang! Mama ta-, ASTAGHFIRULLOH!!!”


Ternyata itu Mas Alif. Tubuhnya langsung berjengkit kaget sampai menabrak pintu di belakanya. Mungkin dia kaget dengan rupa temannya yang sudah kubuat sedemikian rupa. Aku dan Astri hanya bisa tertawa, sedangkan Rangga langsung memalingkan wajahnya dan mendengus kesal.