TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ RENDI



Seorang siswa laki-laki berseragam putih abu-abu tengah berlari terburu-buru ke arah taman belakang sekolah setelah mendapat kabar dari temannya bahwa ada seseorang yang tengah dirundung di sana. Setelah sampai, dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman.


Sepi.


Memang begitu keadaan saat ini. Tidak tampak seorang pun apalagi kegiatan semacam perundungan. Dia sebagai ketua OSIS tentu akan bertindak cepat kala mendengar pemberitahuan ini. Ini adalah sebagian kecil dari tanggung jawabnya.


"Awas aja kalau Dafa bohong!" gerutunya menyebut nama seseorang yang memberitahu informasi ini.


Ketika dia melangkah lebih jauh, samar-samar mulai terdengar suara tangisan di balik pohon besar yang dekat dengan pagar belakang sekolah. Sebenarnya agak seram juga, mengingat kondisi sekitar yang sepi tapi malah terdengar tangisan. Di balik pohon lagi. Tapi dia memberanikan diri untuk menghampiri.


Pelan tapi pasti, siswa itu sampai di dekat pohon dan langsung berjalan ke belakangnya. Mencari tahu siapa gerangan yang menangis. Dan dia harap itu manusia, bukan mbak Kunti apalagi mahluk halus lain.


Seketika bola matanya membesar setelah tahu bahwa pemandangan yang didapatinya adalah seorang siswi yang tengah tertunduk sambil menekuk lututnya. Dilihatnya penampilan siswi yang masih belum terlihat jelas mukanya itu. Badannya basah kuyup, seragam atasan yang semula berwarna putih kini berubah warna menjadi cokelat akibat terkena tanah. Dan kondisi kaki yang sebelah memakai sepatu dan sebelahnya lagi bertelanjang kaki.


Tapi sesuatu di tangan siswi itu yang membuat si ketua OSIS tambah melebarkan bola matanya. Gelang yang terbuat dari anyaman benang berwarna merah muda serta terdapat gantungan berbentuk hati dan huruf N yang berwarna senada itu sangat familiar di matanya. Pikirannya tertuju pada satu orang, karena gelang itu adalah buatannya sendiri untuk hadiah ulang tahun sahabat perempuannya.


"Nala?"


Merasa terpanggil, siswi yang meringkuk kedinginan itu mendongakkan kepalanya. "Rendi?"


Si ketua OSIS yang tak lain adalah Rendi itu langsung membawa Nala ke dalam dekapannya setelah memastikan bahwa penglihatannya memang benar.


"Kenapa kamu jadi kaya gini sih? Siapa yang berani ngelakuin ini?" tanya Rendi dengan raut khawatir setelah melepaskan pelukan mereka. Kini mereka sama-sama duduk bersandar di pohon besar dan tangan Rendi yang senantiasa menggenggam jemari Nala, berusaha menularkan kehangatan.


Nala tampak diam sebentar, lalu beberapa detik kemudian dia melepaskan tangannya dari genggaman Rendi. Dari gesturnya tampak Nala sedang menjauh dari Rendi. "Aku mau ke UKS," jawabnya yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaan Rendi.


"Enggak. Bentar lagi udah jam pulang, kita izin pulang aja." Lalu Rendi berdiri, membersihkan seragamnya sebentar sebelum kembali menatap Nala. "Kamu tunggu di sini bentar! Jangan ke mana-mana sebelum aku yang datang. Okey?"


"Hmm." Dan Rendi pun segera berlari menuju kelas mereka. .


"Dasar. Emang mau ke mana lagi dengan penampilan kaya gini?" gerutu Nala sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya yang mulai kedinginan lagi.


Tidak sampai lima belas menit menunggu, Rendi sudah menghampiri Nala dengan tangan yang menenteng tas berwarna merah muda milik Nala. Lalu dikeluarkannya sesuatu dari tas itu, sebuah jaket berwarna dusty. Disampirkannya jaket itu di pundak Nala. "Biar gak dingin," katanya.


Tidak berhenti sampai di situ saja, Rendi juga melepaskan jaketnya lalu mengikatkannya ke pinggang Nala untuk menutupi roknya yang kebasahan. "Yuk pulang!"


Seketika langkah Rendi berhenti ketika Nala menarik tangannya yang tadinya digandeng. "Sepatuku yang sebelah." Pernyataan itu cukup menyadarkan Rendi bahwa sahabatnya memang tengah bertelanjang kaki sebelah.


"Di mana?" Nala kemudian menunjuk ke atas, tepatnya di salah satu ranting pohon yang menaungi mereka berdua saat ini.


"Buset! Niat banget sih yang ngelakuin ini. Siapa sih Na?" Tentu Rendi begitu, karena melihat sepatu Nala yang bertengger jauh di atas sana. Kalau asal diletakkan tidak mungkin sampai setinggi itu, atau kalau dilempar, tidak sampai posisinya sepas itu di rantingnya.


"Udah, cepet ambilin sana!" Lagi, Nala tidak mau menjawabnya.


"Ya iya bentar." Rendi pun mulai memanjat pohon dengan susah payah. Nala yang melihat itu sebenarnya was-was juga, mengingat memang letak sepatunya yang cukup tinggi. Dia takut kalau Rendi sampai jatuh.


Tapi ketakutannya itu tidak berselang lama setelah Rendi turun dan sebelah tangannya membawa sepatu. "Nih pakai."


Melihat Nala yang sudah selesai menyimpulkan sepatunya, dia berniat untuk menggandeng tangan Nala dan berjalan ke parkiran. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, karena Nala tampak mengundurkan badannya saat akan digandeng oleh Rendi. "Kenapa sih Na?"


"Enggak apa-apa, ayo pulang!"


Rendi menghela napas lelahnya sebentar. "Ayo."


Mereka berdua akhirnya meninggalkan taman belakang sekolah dan menuju parkiran melewati jalan samping sekolah, tidak mungkin dia lewat koridor utama yang nantinya akan menjadikan mereka hiburan gratis untuk murid-murid lainnya. Setelah sampai di parkiran, Rendi segera memakaikan helm ke kepala Nala. Lalu menyalakan mesin motornya sebelum keluar melewati gerbang sekolah yang masih terbuka sedikit itu sambil menyerahkan lembar izin yang sudah ditandatangani dan dicap oleh guru piket sebagai bukti ke pak satpam.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di komplek perumahan mereka. Dan ketika Rendi hendak membelokkan motornya memasuki gerbang rumah Nala, gadis itu memukul pelan bahu Rendi sebagai tanda agar berhenti. "Kenapa lagi?"


"Aku pulangnya di rumah kamu." Bukan tanpa alasan Nala berkata demikian. Mamanya yang memang seorang ibu rumah tangga tentu saat ini di rumah, dan dia tidak ingin membuat mamanya khawatir melihat kondisi putrinya yang mengenaskan ini. Jadi Nala memilih untuk pulang ke rumah Rendi sebentar. Setidaknya sampai penampilannya tidak se-mengerikan ini. Maklum, orang tua Rendi dua-duanya adalah pebisnis. Jadi jam segini sudah pasti rumah Rendi masih kosong. Dan dia tidak membuat orang tua Rendi khawatir juga.


Rendi yang seakan sudah paham dengan apa yang dipikirkan sahabatnya langsung menancap gasnya kembali menuju rumahnya sendiri yang hanya berjarak tiga ratus meter dari rumah Nala. Sesampainya di sana, Nala langsung masuk ke kamar tidur tamu. Saking seringnya berkunjung dan menginap, tempat tidur tamu di rumah Rendi sudah seperti kamar Nala sendiri. Bahkan di dalam lemari sana sudah terdapat beberapa potong pakaiannya. Begitu pun Rendi ketika di rumah Nala. Jangan heran, bersahabat sejak TK tentu tidak perlu diragukan lagi kedekatan mereka.


Brakk!!


Nala langsung menutup pintu tanpa memperdulikan Rendi yang dari tadi kebingungan. Melihat hal itu hanya membuat Rendi kembali menghela napas berat. Lalu berjalan ke arah dapur. Tepatnya ke arah kamar ART di rumahnya. Diketuknya perlahan pintu itu, dan keluarlah seorang perempuan paruh baya dengan rambut yang mulai memutih separuhnya.


"Eh, Den Rendi sudah pulang toh? Maaf bibi ketiduran," ucap si bibi dengan sopan.


"Enggak apa-apa kok Bi. Sekarang aku mau minta tolong boleh?"


"Lha ya tentu boleh lah Den. Mau ditolongin apa memangnya?"


"Itu, tolong buatin jamu biar gak masuk angin ya Bi. Sama makanan. Nanti langsung dianter ke kamar tamu aja."


"Loh, memangnya Neng Nala lagi sakit Den?" Benar kan, bahkan seorang ART saja sudah hapal siapa penghuni kamar tamu rumah ini.


"Enggak tahu sih Bi. Buat jaga-jaga aja. Soalnya tadi habis main air," perjelas Rendi.


"Oke Den. Kalau gitu Bibi mau langsung buatin dulu," pamit si bibi sambil berlalu di hadapan Rendi.


Rendi kemudian berbalik arah untuk melangkah menuju kamarnya. Ganti baju sebentar lalu merebahkan diri di atas kasurnya. Tangannya sudah memegang ponsel, tengah mencari nomor seseorang lalu segera menelponnya.


"Oy, ada apa nih?" tanya suara dari seberang sana.


"Cuman mau tanya. Tadi pas bilang kalau lihat ada anak yang dibully kamu lihat gak?"


"Enggak sih Ren. Tadi tahunya pas mau ambil kertas kosong di gudang belakang, eh malah lihat gerombolan yang emang kalau dilihat dari jauh sih kaya lagi bully orang."


Rendi mengusap punggung wajahnya kasar. Masa dari tadi dia harus menebak sendiri siapa pelakunya? Apalagi si Nala diam membisu. Antara tidak mau bicara atau memang dipaksa tidak boleh bicara itu hanya dia yang tahu. Dan itu pasti membuat Rendi uring-uringan sendiri. Karena dia tidak akan membiarkan pelaku berkeliaran bebas di antara siswa yang lain. Takutnya mereka akan melakukan hal yang sama lagi. Dan lagi pun, ini Nala. Sahabatnya. Dia pasti tidak rela jika tidak membalas siapa yang telah menyakiti sahabatnya.


"Kalau tadi liat kenapa enggak langsung dibubarin sih?!" Karena tidak tahu harus melupakan ke mana, jadinya Rendi mengarahkan kekesalannya ke Dafa.


"Weits! Sabar bro! Bukannya tadi aku enggak mau ngelerai ya. Masalahnya tadi Pak Kumis nyuruh cepet-cepet ambil kertasnya. Gak mau lah kalau sampai kena semprot dia. Jadi tadi langsung nelpon kamu lah."


"Hmm. Ya udah kalau gitu. Aku tutup telponnya. Makasih tadi udah infoin." Jadi Rendi memilih untuk mengakhiri sesi tanya jawab ini. Tidak ada gunanya kesal sama Dafa, besok dia akan mencari tahu sendiri. Tekadnya bulat, dia tidak mau melepaskan siapa pelaku di balik semua ini. 


"Yo'i. Eh, emangnya siapa sih yang dibully? Jadi penasaran."


"Bukan siapa-siapa. Udah. Assalamualaikum!"


"Yeeu, cuman mau tanya doang. Wa'alaikumsalam!"


Setelah memastikan sambungan benar-benar terputus, barulah dia beranjak dari kamarnya. Dilihatnya bibi tengah membawa nampan dan hendak masuk ke kamar tamu, dengan secepat kilat Rendi mengambil alih nampan yang berisi makanan dan minuman hangat itu.


"Biar Rendi yang bawain, Bibi bisa istirahat lagi."


"Oh iya Den. Makasih kalau gitu. Bibi ke belakang dulu ya!" pamit si bibi kemudian berlalu dari hadapan tuan mudanya.


"Iya."


Cklek!


Ketika pintu dibuka, tampaklah Nala yang terlelap di balik selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Tidak seperti biasanya kala membangunkan Nala dengan cara yang teriak-teriak, saat ini Rendi membangunkannya dengan lembut. Memperlakukan Nala seolah dia adalah benda rapuh yang apabila tersenggol sedikit dikhawatirkan akan pecah. Agak berlebihan memang. Namun begitulah Rendi memperlakukan Nala ketika sahabatnya itu tengah sakit.


"Na. Bangun."


"Emm," bukannya bangun, Nala malah semakin merapatkan diri ke guling.


Rendi pun menggoyang-goyangkan bahu Nala dengan pelan. "Bangun dulu, makan gih!"


"Nanti deh Ren! Masih capek!" Suara serak khas orang bangun tidur terdengar dari mulut Nala. Tapi ketika dia hendak memejamkan matanya lagi, Rendi bergerak cepat dengan mendudukkan Nala.


"Ish Ren! Capek tau!"


"Makan sekarang apa aku antar pulang?"


"Ohh, ngusir nih ceritanya? Oke. Aku pulang aja!"


Baru saja Nala menyibakkan selimutnya dan hendak berdiri, tapi Rendi sudah berkata lagi dan itu berhasil membuat Nala diam di tempat. "Kalau kamu pulang silakan, entar aku bakalan ngomong jujur ke mama kamu."


"Haish!" Nala dengan kasar mendudukkan kembali bokongnya ke atas kasur. Kemudian melipat kedua kakinya menjadi bersila dan mengambil nampan di atas nakas lalu memakan makanan buatan bibi.


"Nah, gitu kan pinter!" Rendi berusaha menahan tawanya. Muka cemberut Nala tapi dengan makan lahap seperti itu sangat lucu di wajahnya.


Sekitar sepuluh menit menunggu, Nala sudah menghabiskan makanan juga jamu yang dibuat oleh bibi. Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Rendi. Dia yang semula fokus melihat Nala makan kini mulai buka suara.


"Na."


"Hmm..."


"Siapa sih yang ngelakuin ini?" Tampak Nala mengalihkan pandangannya ke Rendi. Tidak mau menatap mata laki-laki itu. Karena jika dia menatapnya, maka sulit bagi Nala untuk berbohong.


"Eh, udah jam dua aja nih. Pulang yuk!" Nala mengalihkan pembicaraan dengan membereskan kasur yang berantakan sehabis dia tiduri lalu mengambil seragamnya yang basah dan dimasukkan ke dalam kantong, tidak lupa juga mengenakan tas punggungnya.


Rendi kemudian mencekal tangan Nala. Tatapan memohon jelas terpancar darinya. "Kenapa sih enggak mau jujur?"


"Ngomong apa sih kamu Ren?! Udah ah aku mau pulang. Kamu kalau enggak mau nganterin ya udah, aku bisa pulang sendiri." Tanpa menunggu jawaban dari Rendi, Nala kemudian keluar dari kamar.


"Eh! Tunggu Na! Aku anter!"


*****


Keesokan harinya Rendi langsung berangkat ke sekolah tanpa menjemput Nala. Karena pagi tadi Nala memberitahunya bahwa dia sedang sakit. Dan untuk menjenguknya sekarang Rendi rasa waktunya tidak cukup. Jadi dia pikir untuk berkunjung nanti sepulang sekolah. Dan hari ini pula dia bertekad untuk mencari tahu kejadian sebenarnya. Jika memang Nala tidak mau memberitahu, maka dia akan mencari tahu sendiri.


Dan semua itu akan dimulai dari rekaman CCTV. Beruntung dia adalah ketua OSIS, jadi banyak staf yang mengenalinya. Kalaupun dia ingin memeriksa CCTV, pasti memang karena ada hal yang penting. Saat ini dihadapannya sudah terpampang layar monitor yang berisi gambar hitam putih. Matanya fokus pada area lorong yang akan menuju belakang sekolah. Dan dilihatnya seorang murid perempuan tengah berbincang santai dengan Nala sambil berjalan menuju belakang sekolah. Kalau dilihat dari rekaman itu jelas tidak ada yang aneh. Seperti dua teman yang sedang mengobrol.


"Itu bukannya Shila ya? Anak kelas dua B kan?" Dafa yang memang diajak Rendi sebagai partner mengeluarkan suaranya.


"Kamu kenal?"


"Ho'oh. Temen waktu SD dulu."


"Oke. Pak, boleh saya minta rekaman yang ini?" pinta Rendi ke staf yang bertugas di ruang CCTV.


"Boleh, bentar ya!"


Berkat bantuan Dafa yang menghubungi Shila, mereka bertiga akhirnya memilih bertemu di ruang OSIS. Shila yang tidak merasa curiga apa pun langsung mengiyakan. Dari pengakuan Shila inilah mulai terkuak siapa pelaku aslinya. Seseorang yang sangat Rendi kenal. Bagaimana tidak kenal kalau pelaku itu adalah wakilnya sendiri? Fani namanya. Dan sekarang, di dalam kelas yang sepi karena semua pergi beristirahat di kantin, Rendi menemui Fani.


"Ada apa Ren? Masalah OSIS?" Rendi menggeleng. Dia tidak habis pikir dengan sikap Fani yang seperti habis tidak melakukan apa-apa.


"Bukan. Ini masalah Nala." Sedetik kemudian wajah Fani berubah masam seiring disebutnya nama Nala dari mulut Rendi.


"Oh, jadi anak itu berani ngadu rupanya."


"Enggak ngadu. Aku tau sendiri dari Shila. Dan jangan coba-coba buat nyakitin Shila! Semua perbuatan kamu sudah jelas. Tinggal aku kasih bukti ke guru BK."


"Apa?! Kamu tega mau laporin aku Ren?!"


"Kenapa enggak? Yang kamu lakuin itu salah. Kalau enggak dikasih efek jera malah bisa buat kamu jadi berulah lagi." Mesti penuh intimidasi, tapi nada yang dilontarkan Rendi tidak naik satu oktaf pun.


"Enggak bisa gitu dong Ren! Aku temen kamu! Tega banget sih!"


"Kebenaran itu enggak mandang siapa yang ngelakuin. Lagian kenapa sih sampai kamu kepikiran buat bertindak bodoh kaya gitu?"


"ITU KARENA KAMU! AKU CINTA SAMA KAMU REN!! KAMU PASTI JUGA SADAR KALAU AKU ADA RASA SAMA KAMU!" Tampak urat di leher Fani menegang, menandakan bahwa ia sangat emosi kali ini. "Dan aku enggak suka liat kamu dekat sama Nala. Hiks!" lirihnya sambil menyeka air mata yang mulai berjatuhan.


"KENAPA?! Apa gara-gara kamu cintanya ke Nala?"


"Apa benar aku mencintai Nala?" batin Rendi. Dan dengan secepat kilat dia menepis pertanyaan konyol itu dan melanjutkan langkahnya meninggalkan kelas Fani.


*****


"Assalamualaikum!" ucap Rendi sambil memencet tombol bel rumah Nala. Tangan kanannya penuh membawa parsel berisi buah-buahan segar.


"Wa'alaikumsalam!" Suara sahutan dari dalam sudah terdengar, disusul dengan terbukanya pintu utama rumah. Dan tampaklah wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dengan setelan gamis dan jilbabnya, dia adalah mamanya Nala.


"Eh, Rendi. Masuk nak! Kamu langsung ke kamar aja kalau mau nengokin Nala."


"Oke Tan!" Saat langkah Rendi sampai di tangga, mama Nala memanggilnya. Membuatnya mau tidak mau harus berhenti dan membalikkan badan.


"Kenapa Tan?"


"Tolong periksa Nala udah minum obatnya apa belum. Tau sendiri kan dia enggak suka minum obat."


"Oke Tan!"


*****


"Ngapain ke sini?" Bukan sapaan, malah pertanyaan seperti ini yang dilontarkan Nala ketika melihat Rendi memasuki kamarnya.


"Mau jengukin orang sakit lah. Ya kali mau salto di sini."


"Kirain."


"Nih, aku bawain buah-buahan yang seger bugar."


"Mauuu!!!" Telapak tangan Rendi langsung menahan dahi Nala yang hendak beranjak untuk merebut buah dari tangannya.


"Eits! Minum obat dulu baru nanti buahnya aku kasih."


"Haishh!" Nala memberengut kesal.


Rendi kemudian mengambil duduk di atas kasur, tepatnya di samping nakas untuk menyiapkan obat Nala. Dia sudah paham betul kalau Nala sangat tidak bisa untuk minum obat berbentuk tablet. Nala hanya mau minum yang berbentuk sirup. Kekanakan memang. Tapi itulah kenyataannya. Jadi Rendi menghaluskan terlebih dahulu tablet itu sebelum ditelan oleh Nala. Tidak lupa juga ditambahkan air sedikit agar menjadi cair dan mudah diminum.


"Nih minum!" Rendi menyuapkan sendok yang sudah berisi obat cair.


"Enggak ah! Pahit!"


"Lihat mukaku aja, nanti juga manis."


"Ih, ogah! Malah tambah pahit entar!"


"Ya udah cepetan minum! Kalau enggak aku paksa nih?"


"Iya-iya! Dasar pemaksa!"


"Biarin! Kalau sembuh juga siapa yang untung?"


"Hmm." Begitulah mereka, mau keadaan sehat atau pun sakit akan tetap seperti kucing dan tikus.


"Pelakunya udah aku laporin ke BK."


Hampir saja Nala menyemburkan kembali air putih yang hendak melewati kerongkongannya. Dia langsung menatap Rendi tidak percaya. "Kamu yakin?"


"Iya lah. Fani kan? Kenapa nggk bilang kalau dia pelakunya?"


"Ya dianya udah ngancem gitu mau buat yang lebih kejam lagi kalau aku ngadu."


"Pantes." Rendi manggut-manggut paham.


"Eh, bentar! Kalau kamu laporin entar mereka balas dendam ke aku lagi?! Aduh! Gimana nih? Aish!"


"Tenang! Mereka udah diskors tiga bulan kok."


"Terus habis tiga bulan itu? Kalau mereka masih dendam gimana?!!" Rendi langsung mencubit hidung Nala agar bisa diam dari hebohnya sedari tadi.


"Gak bakal. Sahabat kamu yang ganteng, baik hati, dan tidak sombong ini kan ada. Ketua OSIS lagi, jadi gak usah khawatir!" Dengan bangga Rendi menepuk-nepuk dadanya.


"Cih. Baru dilantik dua Minggu aja udah belagu!" ketus Nala sambil mengusap hidungnya yang kemerahan.


"Biarin!"


Mereka kemudian hening sesaat. Sibuk memikirkan apa yang terlintas di otak masing-masing. Hingga Nala memecah keheningan di antara mereka. "Ren."


"Hmm?"


"Apa sebaiknya kalau di sekolah kita jaga jarak aja ya? Jangan terlalu dekat gitu." Sontak saja Rendi langsung memelototkan matanya. "Cuma di sekolahan doang kok! Kalau di luar ya kita kaya biasa gini. Aku takut Ren kalau ada Fani lain di luar sana."


Rendi kemudian meraih kedua pipi Nala. Dan dalam hitungan detik kemudian dia mencubit kedua pipi tembem itu dengan gemas. "Namaku, sahabatku, dengerin ya! Ini hubungan persahabatan kita. Kita yang menjalani, bukan mereka. Dan mereka tidak berhak merubah apa yang seharusnya tidak berubah. Paham?"


"Tapi Ren-,"


"Apa kita pacaran aja?"


"HAH?! SERIUS KAMU REN?!"


"Bercanda kali! Udah. Aku mau pulang dulu. Bye-bye! GWS ya!!!" Setelah berkata yang membuat Nala sangat terkejut, kini dengan santainya Rendi pamit pulang.


Di luar kamar Rendi langsung memukul sendiri mulutnya yang telah lancang berkata demikian. "**** banget sih Ren?!" lirihnya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Nala.


*****


"Daf!"


"Oy!"


"Menurutmu gimana kalau suka sama sahabat sendiri?"


"Ya gapapa juga sih. Enggak haram juga. Lagian cinta enggak bisa dilarang mau nemplok ke siapa."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Dafa. Setelah pulang dari rumah Nala tadi, Rendi langsung menelpon Dafa untuk teman curhatnya.


"Tapi takutnya kalau dia nolak terus persahabatan kita jadi renggang dan aneh gitu rasanya."


"Hmmm, kalau begitu susah juga sih. Tapi dengan jujur, setidaknya kamu udah ngeringanin beban di hati plus ngurangi rasa penasaran. Kalau diterima ya bagus, kalau ditolak ya resiko. Gimana baiknya kamu aja sih Ren."


"Ya udah lah kalau gitu. Dipikir besok-besok aja."


"Kalau itu sih terserahmu. Tapi jangan nyesel kalau sampai keduluan orang lain!"


"Iyaa. Kalau gitu aku tutup telponnya. Thanks buat pendapatnya!"


"Oke!"


*****


Satu Minggu kemudian...


Di hari Minggu yang cerah ini Rendi sudah membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaannya ke Nala. Dan dia sudah menyiapkan hati untuk apa yang akan terjadi nanti. Rencananya dia akan mengajak Nala jalan-jalan di mall, sekedar nonton bioskop atau sekedar makan berdua di food court.


"Rendi! Ren!!!" Suara melengking milik Nala langsung memudarkan Rendi untuk segera turun dari kamarnya.


"Buset! Enggak usah teriak aku bisa denger kali!"


"Ya lagian kamu lama banget sih! Kaya anak perawan aja lama banget dandannya."


"Haishh! Sehari enggak nyolot bisa gak sih?!" Dengan gemas Rendi mencubit pipi Nala. Tapi percayalah! Itu hanyalah cara untuk menutupi kegugupannya.


"Okey! Berhubung hari ini kamu mau traktir aku di mall, jadi aku mau baik hati. Cuss berangkat!"


Selang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menonton film animasi yang tengah tayang di bioskop. Kemudian berbelanja snack, cokelat, dan es krim untuk Nala. Setelah itu mereka berhenti di food court untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


"Ren!"


Rendi yang merasa terpanggil langsung menoleh ke Nala. Berbeda dengan dirinya yang masih makan setengah dari menunya, Nala sudah menghabiskan semua pesanannya. "Apa?"


"Kamu kenapa sih?"


"Kenapa gimana?"


"Ya dari tadi banyak diamnya. Terus muka kamu itu lho, emang lagi pengen pup ya?" Dengan polosnya Nala menganggap kegugupan Rendi seperti orang yang menahan buang hajat.


"Ya enggak lah! Aku cuma mau ngomong sesuatu."


"Lah. Mau ngomong ya tinggal ngomong aja kali Ren! Enggak usah ditahan-tahan gitu, kaya mau ngomong sama presiden aja." Kelakar dari Nala hanya ditanggapi senyuman oleh Rendi.


"Gini Na."


"Iya?"


"Aku mau ngomong kalau-," Rendi berhenti sebentar. Rasanya jantungnya akan melompat keluar sekarang juga. Perasaan waktu kampanye ketua OSIS kemarin tidak se-grogi ini.


"Kalau sebenarnya aku-,"


"Hai!" Baru saja Rendi ingin menyelesaikan kalimatnya. Tapi sapaan dari seorang cowok membuatnya terhenti.


"Kak Rio?" Nala yang melihat sosok bernama Rio itu langsung memeluknya kegirangan.


"Habis ngapain kak?"


"Ini, beli buku buat persiapan Ujian Nasional," tunjuk Rio pada sekantong kresek berisi buku dengan jumlah halaman ratusan itu.


"Siapa Na?" Saking senangnya, Nala hampir lupa kalau di depannya masih ada Rendi. Jadi dia langsung mengenalkan keduanya.


"Kak, ini Rendi sahabatku. Pasti tahu dia kan? Ketua OSIS baru itu."


"Iya aku tahu," sahut Rio.


"Dan Ren, ini kak Rio. Dia adalah pacarku."


"Hah? Pacar? Sejak kapan?"


"Iya. Kak Rio nembak aku kemarin Sabtu."


Jederrr!!!


Bagai tersambar petir di siang bolong, Rendi tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya hancur dalam sekejap. Niat hati ingin mengungkapkan perasaan, malah jadinya begini. Tanpa diungkapkan pun Rendi sudah tahu jawaban apa yang akan diberi Nala. Tapi di sisi lain dia bersyukur, setidaknya hubungan persahabatannya akan baik-baik saja. Biar saja rasa yang ia miliki cukup ia saja yang tahu. Ia mencoba mengikhlaskan. Cukup melihat Nala tersenyum senang saja dia sudah turut bahagia.