
"Ya ampun Na! Itu jidatnya kenapa lagi?" Mulai deh Rendi.
"Enggak kenapa-kenapa kok! Udah cepat makan sana!"
Aku yang masih antri kamar mandi berpapasan dengan Rendi yang dari sumur. Katanya mau cuci tangan. Padahal lewat dari depan kan bisa, tapi dia milih lewat dapur. Tahu lah yang pengen lihat Salma. Pakai alasan mau cuci tangan lagi.
"Serius ini, itu kenapa kok bisa sampai diplester?"
"Kejedot pintu" jawabku singkat.
"Lagi?!" Diamku pasti sudah dianggap sebagai iya oleh Rendi.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Bwahhaahahhaa!!!!" Benar kan.
Ngapain nanya kalau ujung-ujungnya cuma mau ngetawain. Membuat aku memutar bola mata malas sambil mendengus kasar.
"Makanya Na, cepat nikah!. Masa pintu diciumi terus, kan mending cium suami tercinta" habis itu dia mengacak-acak kepalaku yang tertutup jilbab instan. Belum sempat kubalas, dia sudah lari duluan.
"Dasar! Rendi kampret!" Gerutuku sambil membenarkan lagi jilbab yang berantakan.
Waktu pertama masuk rumah tadi anak-anak cowok sempat tanya kenapa lantai rumah kok becek. Terus Salma cerita deh. Dan setelah mendengar kita cerita tentu saja anak-anak cowok kaget terus marah. Marah karena kita enggak minta tolong ke mereka.
Tapi ya sudahlah.
Toh malamnya sudah berlalu. Jadi sekarang kita meminta tolong ke mereka untuk memperbaiki atapnya. Ya walaupun enggak minta tolong juga pasti mereka langsung bantu setelah dengar ceritanya.
Menurut rencana, perbaikan atapnya masih nanti siang setelah mengerjakan proker masing-masing. Jadi aku, Salma, Abdul, dan Rangga langsung berangkat ke sekolah.
Mereka tidak bertanya perihal dahiku. Aku yakin pasti tadi Rendi udah ember ke semua orang waktu sarapan. Jadi temen-temen waktu berpapasan sama aku cuma bisa cengar-cengir nahan ketawa.
"Na, pulang nanti beli pisang sama tape singkong yuk! Lagi pengen buat gorengan" katanya ketika di jalan.
"Yuk lah! Enggak sabar nanti buat nyobain"
"Request dong!" Apalagi Dul?
"Beli ubi juga. Kan enak kalau digoreng"
"Mana uangnya?" Candaku.
Eh. Tapi dia menganggap omonganku serius, sampai ngeluarin dompet dari saku celananya.
"Eh! Nggak usah Dul! Aku cuma bercanda kali!"
"Apaan sih Na? Orang aku mau ambil sisir juga"
Hadehhh!!!
Kupikir dia beneran mau ambil uang. Ternyata malah ambil sisir kecil buat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Dasar Abdul!
Hari sudah beranjak siang, aku dan yang lain sudah pulang dari beraktivitas. Tinggal menunggu sinar matahari tidak terlalu panas, maka perbaikan pun dimulai.
"Habis ini ada yang ke rumah Pak Karto buat minta tolong cari genteng, terus ada yang pinjam tangga, habis ini aku cari peralatan di gudang" oke semuanya berpencar.
Sementara yang cowok sibuk dengan urusan atap, kita yang cewek-cewek lesehan di teras rumah cowok sambil bermain monopoli yang enggak sengaja Alif temukan di gudang. Bukannya enggak mau bantu, kita bagian bersih-bersih sudah pasti menunggu mereka selesai memperbaiki atapnya dulu.
Dari teras sini aku bisa melihat Rendi dan Abdul yang tengah menata tangga. Kelihatannya mereka masih debat untuk memutuskan siapa yang akan naik dan membenarkan gentengnya.
"Kalian cemen banget jadi cowok! Nih liat! Cowok sejati tuh bisa diandalkan" Wahyu entah datang dari mana tiba-tiba mengajukan diri.
Dia terlihat ancang-ancang untuk naik, tapi baru satu pijakan dia berhenti. Kemudin menoleh ke belakang. Sepertinya dia tahu jika aku dari tadi memperhatikan.
"Nala! Doakan abang baik-baik saja!"
Lebay deh Yu. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari mukanya yang cengengesan.
Oke deh. Lanjut main!
Aku, Tika, Puput, dan Sita jadi pemain. Dan Rere jadi bank. Sedangkan Salma dan yang lain masih sibuk berkutat di dapur. Membuat aneka gorengan. Tadi aku niatnya mau bantu, tapi berhubung sudah banyak yang di sana akhirnya aku memilih main monopoli saja. Sambil mengenang bahagianya masa kecil dulu waktu main beginian.
"Hadehh! Dari dulu sampai sekarang, Indonesia tetep paling murah gini" kata Tika sok dramatis sambil geleng-geleng kepala.
"Meskipun berhenti di situ sampai seratus kali juga kayanya enggak mau beli tanah di situ. Incaran utama tetap Afrika" timpal Puput bangga.
Iya lah bangga. Orang dia habis beli tanah di Afrika.
"Sini giliranku main" aku mengambil dadu dari tangan Tika.
Dadu menunjukkan angka enam, ketika pionku mulai kujalankan wajahku mulai tampak senang. Sepertinya pionku akan berhenti di Australia. Harga tanah paling mahal kedua setelah Afrika. Sita dan Tika yang dari tadi belum beli tanah yang harganya mahal sudah mulai ketar-ketir. Dan aku menunjukkan senyum bangga.
"Yakkk!!!!!" Ternyata aku salah perhitungan. Bukannya berhenti di Australia, malah berhenti di kotak pajak yang berada di sebelahnya pas.
"Hahahaaahahaa.. banyak gaya kamu Na! Ngeluarin duit kan!" Mereka puas menertawai.
Tapi enggak apa-apa lah. Seenggaknya habis ini kan dapat uang lagi kalau sudah melewati start.
Aku mengocok dadunya lagi karena tadi aku mendapatkan angka enam. Jadi bisa bermain dua kali.
Tak!
What?!!!!
Masing-masing dadu menunjukkan angka dua. Alamat berhenti di kotak start ini mah. Enggak melewati.
"Bwahaahahahaahhh! Udah bayar pajak, habis itu berhenti di start lagi!" Dan lagi-lagi mereka menertawaiku.
"Main monopoli" jawabku.
"Tapi kena sial terus. Hahahaaahaa" aku menatap sinis mereka.
Menyebalkan!
Berhubung makanannya sudah datang dan aku malas melanjutkan monopolinya, jadi aku keluar permainan. Terserahlah mereka mau ngatain aku cemen atau apalah. Yang penting urusan perut nomer satu.
Ting! Ting! Ting!
"Es cendol seger!!!" Suara abang-abang penjual es cendol yang begitu nyaring mengalihkan perhatian kita.
"Kayanya seger nih siang-siang minum es cendol!"
"Udah! Enggak usah banyak ngomong, cepet beli!" Tanpa aba-aba, Sita langsung menarikku untuk menghampiri abang-abang itu.
"Eh! Tunggu! Nih sekalian beli buat semua!" Bu bendahara dengan cekatan mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan.
"Oke!" Aku dan Sita segera berlari, berharap abangnya tadi belum jauh.
"Bang! Beli!" Kita berteriak dengan kekuatan maksimal. Beruntung abangnya dengar dan memutar balikkan gerobaknya.
"Beli dua puluh bang!"
"Siap!"
"Mbak-mbaknya ini baru ya? Kok saya baru lihat" tanyanya sambil meracik es.
"Iya bang. Lagi ada tugas kuliah di desa ini" jawabku sopan. Dan abangnya mengangguk anggukkan kepala.
"Mbak cantik ini siapa namanya?"
Dih.
Mata abangnga genit banget. Kedip-kedip gitu ke Sita.
"Sita" jawabnya singkat.
"Cantik namanya, kaya orangnya" cieeee... Sita digombalin abang tukang es cendol.
"Mbak-mbaknya ini mau saya kasih diskon enggak?"
Hmm.. seperti aku mencium bau-bau mencurigakan.
Melihat muka Sita yang seperti memberi isyarat padaku untuk menolak penawaran abangnya. Tapi karena pada dasarnya aku paling senang dengan kata-kata diskon, jadi aku mengangguk saja. Menyetujui penawaran abangnya.
"Tapi ada syaratnya" nah kan.
"Apa syaratnya bang? Jangan sulit-sulit!" Aku mulai bernego.
"Gampang! Syaratnya cuma saya foto bareng sama Mbak Sita"
Apa?!
Bwhaahahahhahaahha.
Dalam hati aku ketawa puas. Apalagi melihat muka Sita yang kaya terpaksa banget gitu waktu berjejer sama abangnya.
"Aku foto pakai HPku bang, nanti dikirim lewat bluetooth" kataku.
Maklum, ternyata HP abangnya itu masih HP zaman dulu. Kamera belakangnya juga buram katanya.
Ckrek!
"Terima kasih mbak!" Muka abangnya kaya habis dapat arisan. Girang banget gitu.
Es cendolnya sudah ada di tangan, lalu aku membayar sejumlah harga yang sudah didiskon. Ketika kita sudah berbalik hendak pergi, abangnya memanggil Sita. Membuat kita berhenti dan menoleh ke belakang.
"Mbak Sita mau jadi istri ketiga saya enggak? Saya janji bakal bahagiain deh!" Penawaran dari abang ini membuat Sita bergidik ngeri.
"Enggak bang! Makasih!" Dengan buru-buru Sita menarik tanganku untuk segera pergi.
"Wahh!! Gila!!!" Sejak dari depan sampai di teras dia tetap heboh dengan kejadian barusan.
"Ada apa sih Sit?" Gea penasaran dengan kehebohannya Sita.
"Gila! Aku tadi digombalin sama abang es cendolnya!!" Kehisterisan Sita ini mengundang tawa dari kita semua.
Eh?
Baru sadar kalau semua sudah kumpul di sini. Aku segera membagikan es cendolnya ke mereka semua.
"Bocornya gara-gara apa Lif?" Tanyaku setelah memberikan es cendol jatahnya.
"Gara-gara kejatuhan buah kelapa yang tertiup angin"
"Oohh!" Aku manggut-manggut.
Loh. Ini kok es nya sisa satu?
Perasaan tadi pesannya pas dua puluh deh.
"Ada yang belum dapat enggak? Sisa satu nih?!" Mereka menggeleng tanda tidak tahu.
Tiba-tiba satu suara menyadarkan kita semua. Yaitu jawaban dari sisanya es cendol ini.
"Temen-temen! Oy!! Tangganya mana nih? Enggak bisa turun!!"
"WAHYU!!!"