TWENTY

TWENTY
SEASON DUAN ~ One Day With Iren



"Jadi dari materi ini ada yang mau ditanyakan?" tanyaku pada anak-anak murid kelas sembilan yang kuajar.


Kebanyakan dari mereka hanya diam tidak bertanya. Jelas saja, mereka saja mungkin dari tadi tidak mendengarkanku karena asyik dengan kegiatannya sendiri. Maklum, kelas yang kuajar ini kelas sembilan E. Tempat di mana anak-anak yang nakal ditempatkan. Banyak guru yang geleng-geleng kepala jika mengajar di sini. Tidak tahan dengan tingkah mereka.


"Doni!" panggilku pada anak yang duduk di bangku tengah.


Katanya sih ketua geng dari kelas ini. Kalau dilihat memang anaknya agak sedikit urakan, sering membolos. Tapi khusus mata pelajaran kebanyakan anak di sini tidak membolos. Ketika ketika, dengan santainya mereka jawab. "Kalau gurunya cantik, kita pasti semangat di kelas Bu." Dasar anak-anak jaman sekarang.


"Iya Bu!"


"Coba kamu jelaskan, apa yang kamu ketahui tentang simple past tense!"


"Gampang Bu! Simple past tense itu kaya aku sama mantanku. Cuma masa lalu. Tapi kalau sama ibu, nanti jadinya simple future." Lihat kan? Ada saja tingkahnya.


Sedangkan yang lain malah menyuraki dan cie-cie enggak jelas. Keadaan kelas yang ramai membuatku kepalaku semakin pening aja. "Sudah diam! Ayo semuanya diam!"


"Coba sekarang, Kevin." Pandanganku tertuju pada anak pendiam yang selalu menghuni pojokan kelas. "Coba kamu jelaskan tentang simple past tense yang kamu tahu."


"Simple past tense yaitu kalimat yang menunjukkan kondisi di masa lampau. Ciri-cirinya yaitu kata kerja menggunakan verb dua, dan time signal yang menunjukkan masa lampau seperti yesterday, last month, ago, dan yang lain." Kevin menjelaskan tanpa melihat catatannya sama sekali. Sudah jelas di kelas ini bahwa kevin yang paling pandai, tapi entah kenapa dia selalu diam dan jarang terlihat bersosialisasi dengan yang lain.


"Bagus! Nah kurang lebih begitulah penjabaran secara singkat tentang simple past tense." Bersamaan dengan itu suara bel pergantian jam terdengar. Membuatku harus menutup mata pelajaranku siang ini.


"Sekian materi dari Ibu. Jangan lupa dipelajari lagi di rumah ya!. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab mereka semua kompak.


Setelah memasukkan buku-buku ke tas, aku pun berjalan meninggalkan kelas. Namun ketika sudah berada di ambang pintu, langkahku terhenti. Hampir saja terlupa. "Oh iya, jangan lupa belajar. Pertemuan selanjutnya ada ulangan!"


"YAHHHHH!!!!" Tidak kusangka mereka sangat tidak menyukai ulangan hingga berseru keras seperti itu. Tapi apa mau dikata? Ulangan adalah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka. Jika tidak mencontek tentunya.


Aku pun meninggalkan kelas dengan sedikit tertawa, agak terhibur dengan tingkah anak didikku itu. Sampai di kantor aku mengistirahatkan diri dengan minum air mineral yang kubawa dari rumah. Jam pelajaranku sudah selesai, tinggal menunggu waktu pulang saja. Kalau di kantor begini biasanya aku isi dengan mengobrol dengan guru yang lain, atau kalau enggak begitu aku mengajak guru seumuranku untuk jajan di kantin. Guru kan juga manusia, kadang-kadang juga suka ngemil snack sambil duduk-duduk di kantor dan bercerita.


Drrtt! Drrrt!


Aku merasa ponselku bergetar. Tertera di layar pesan dari Tika.


Nanti pulang sekolah aku tunggu di Mall A. Enggak kuat rasanya ngadepin Iren yang kaya orang gila!


Dia kenapa?


Enggak tahu. Tiba-tiba nelpon sambil nangis jejeritan gitu. Minta ditemenin sampe sore di taman.


Oke. Oke. Nanti aku langsung ke sana.


Apalagi yang terjadi sama Iren?


Hmm. Ya sudahlah, nanti juga bakal tahu sendiri.


Sesuai kesepakatan, setelah pulang sekolah aku segera meluncur ke lokasi yang dimaksud Tika. Setelah memeriksa pesan lagi, mereka rupanya sudah sampai di area taman. Setelah mencari beberapa saat, aku sudah melihat keberadaan mereka. Tengah duduk di bawah pohon rindang.


"Tika!"


"Eh." Tika menoleh ke belakang, mengahadapku. "Ya ampun Nala! Untung kamu dateng! Aku udah enggak bisa nanganin orang satu ini!" tunjuknya pada Iren yang nangis sambil klesotan.


"Iren? Kamu kenapa nangis?" tanyaku sambil mengguncangkan tubuhnya.


"Huaaa!!! Dia jahat, hiks! Jahat banget!" jawab Iren tidak jelas.


"Percuma mau nanya dia kenapa juga. Udah ratusan kali aku nanya gitu, jawabannya tetep gitu. Jahat lah, brengsek lah, gitu terus sambil nangis histeris," perjelas Tika.


"Iren!" Sekali lagi aku mengguncangkan tubuhnya agar diam.


"Iren! Kenapa sih? Cerita kalau ada masalah!" bujukku agar dia mau diam. Sebenarnya dari tadi kita sudah menjadi tontonan beberapa orang yang lalu lalang, jadi ya agak malu. Kalau Tika sama Iren enak pakai pakaian bebas. Nah aku? Masih pakai seragam warna khaki khas punyanya guru-guru.


"Pokoknya dia, hiks! Jahattt! Aku benci, hiks! Sama dia!" Bukannya cerita, dia masih tetap begitu. Bicara tidak jelas sambil nangis.


Ya sudah. Akhirnya aku mengeluarkan jurus terakhirku. Tiba-tiba berdiri dan menggenggam tangan Tika. "Kalau kamu enggak mau cerita, kita pulang sekarang! Biar kamu sendiri di sini!" Iya, jurus gertakan.


Benar saja, ketika aku dan Tika sudah berbalik badan, Iren tiba-tiba memeluk kita dari belakang. Kalau saja Iren berat badannya masih seperti yang dulu, pasti kita sekarang sudah terjungkal di belakang dan menjadi bahan tertawaan.


"Iya. Ini aku mau cerita." Akhirnya Iren dapat menghentikan tangisnya, meski agak sesenggukan. Dengan masih mengelap air matanya, dia mengajakku dan Tika untuk duduk kembali.


"Jadi ceritanya gini, aku sama manajer yang kuincar dulu itu sudah jadian dua minggu lalu,-"


"Bagus dong kalau gitu!" Aku segera memelototi Tika dan mengisyaratkan agar dia diam mendengarkan ceritanya Iren.


"Tapi, tapi tadi pas di kantor. Aku lihat dia pelukan sama cewek lain di toilet. Aku diselingkuhin! Diselingkuhin!" Dan kembali lagi air matanya membanjiri pelupuk matanya.


Aku dan Tika memeluk Iren dan mencoba menguatkan hatinya. "Yang sabar ya Ren! Berarti dengan begitu kamu sudah diberi petunjuk kalau mantan pacar kamu itu bukan yang terbaik untuk kamu. Baguslah kalau kamu tahunya sekarang, coba kalau ketahuannya pas hubungan kalian sudah dalam tahap serius? Sakit hatinya malah berkali-kali lipat." Aku mengangguki ucapan Tika.


Tumben dia bisa sebijak ini. Mungkin seiring bejalannya waktu, dan bertambahnya usia membuat pikiran kita menjadi lebih dewasa. Tika juga, meski dalam keadaan normal sering beradu mulut dengan Iren. Tapi dalam keadaan begini dia adalah orang pertama yang menjadi sandaran untuk Iren.


"Ya sudah, jangan terlalu diambil hati. Ambil hikmahnya aja seperti yang dikatakan Tika," imbuhku.


Perlahan-lahan tangis Iren mereda. Lalu dia mengusap lagi bekas air matanya di pipi. "Berarti dietku selama ini sia-sia dong? Kasihan perutku yang malang," katanya sok dramatis sambil mengusap-usap perutnya. Membuat aku dan Tika sama-sama memukul lengannya.


"Yeee! Pola hidup sehat mah enggak ada yang sia-sia! Lihat, selain kamu kurusan, kamu juga jarang terkena penyakit," kataku menyadarkan Iren.


"Hmm."


"Tapi ngomong-ngomong soal perut, aku kok tiba-tiba lapar gini ya?" ucap Tika.


"Iya. Dari tadi nangis ternyata nguras banyak tenaga. Perut juga udah mulai keroncongan."


"Ya sudah, kita cari makan yuk!"


"Kuy lah!" Tika dan Iren berujar semangat. Sudah tidak ada lagi raut kesedihan yang ditampakkan Iren. Memang benar adanya, bahwa sahabat adalah obat sakit hati yang paling mujarab.


Setelah berkeliling taman agak lama, kita menemukan angkringan yang menjual bakso dan mie ayam. Sore-sore dingin begini pasti enak kalau makan yang hangat-hangat dan mengenyangkan perut. Seolah sejalan dengan apa yang kupikirkan, Tika dan Iren juga mengajak untuk makan bakso saja.


"Bang! Baksonya tiga ya!" kata Tika memesankan untuk kita bertiga.


"Eh bentar! Tapi kayanya aku pengen mie ayam deh," kataku.


"Oke Neng!" Abangnya sudah siap untuk meracik. Tapi rasanya aku juga pengen bakso.


"Kayanya bakso enak juga."


"Yang jelas dong Na! Jangan buat Abangnya bingung kenapa?" Kali ini Iren yang angkat suara.


"Ya udah, ya udah! Bang, aku baksonya satu sama mie ayamnya satu." Keputusanku final.


"Ha? Kamu yakin Na?" Iren dan Tika kompak bertanya.


"Yakin lah," kataku percaya diri. "Bang! Buatin yang enak ya!"


"Siap Neng! Abang buatin yang rasa spesial buat Neng-Neng cantik ini!" Abangnya tampak senang sekali. Bahkan sesekali bersenandung sambil meracik baksonya.


"Na!" panggil Iren.


"Apa?"


"Emm..." dia tampak ragu untuk melanjutkan lagi kata-katanya. Sampai abangnya sudah selesai meracik tiga mangkuk bakso dan menghidangkannya di atas meja.


"Ini Neng! Bakso spesialnya!"


"Makasih Bang!" ujarku dan Tika bersamaan.


"Buat mie ayamnya nunggu dulu ya, mienya masih direbus." Aku mengacungkan jempol, lalu abangnya dan kembali lagi di gerobaknya.


"Na, kamu bisa enggak minta ke Alif buat mutasi si manajer kampret itu?"


"Uhuk!" Permintaan Iren ini membuatku tersedak kuah bakso yang pedas dan panas. Buru-buru aku mengambil es jeruk yang sudag kupesan tadi dan meminumnya.


Setelah itu tanganku mendekati muka Iren lalu menyentil dahinya dengan gemas. Seenak hati nyuruh buat memecat orang.


"Aww! Sakit Na!"


"Salah siapa ngomong sembarangan gitu? Aku enggak bisa buat Mas Alif mencampuradukkan urusan kerja dengan masalah pribadi. Lagian kalau aku minta juga pasti ditolak sama dia. Mas Alif kan menjunjung tinggi integritas dan professionalitas kerja."


Mendengar penuturanku itu membuat Iren tertunduk lemas. "Aku tahu Ren kalau kamu benci sama dia. Tapi ya enggak begini caranya. Siapa yang tahu coba jika dia bekerja untuk menafkahi keluarganya? Bayangkan kalau dia dipecat! Mau dikasih makan apa keluarganya? Kamu mau lihat orang dalam kesusahan kaya gitu?" tuturku dengan memberondong banyak pertanyaan ke Iren. Membuatnya hanya bisa menggeleng lemah.


"Kalau emang kamu udah enggak mau ketemu sama dia, caranya itu gampang!" Tika berujar di sela-sela kegiatan makannya.


"Gimana caranya?" Membuat Iren penasaran.


"Kan kamu masih punya dua tangan buat nutupin mata kamu." Perkataan Tika ada benarnya juga. "Lagian ya Ren, semakin kamu menghindar malah buat dia besar kepala. Merasa kalau kamu itu masih bergantung sama dia."


"Jadi kamu tunjukin aja kalau kamu udah bisa move on. Bertingkah biasa aja kalau ketemu sama dia, biar dia tahu kalau kamu bisa baik-baik saja tanpa dia," imbuhku.


"Oke kalau gitu. Makasih ya! Kalian berdua emang the best!" seru Iren sambil memeluk kita berdua.


Bersamaan dengan itu mie ayam pesananku datang. Tepat setelah baksoku habis. Dengan lahap aku menyanyap mie ayam itu. "Emmm! Enaknya!"


Melihatku makan dengan lahap seperti ini mungkin menimbulkan tanda tanya di benak Tika dan Iren. Tapi biar saja, orang aku benar-benar lapar kok. Lagian mie ayam dan bakso di sini enak banget!


"Na. Aku yang lagi patah hati kok kamu sih yang kalap begitu?"


Aku hanya bisa mengendikkan bahu menjawab pertanyaan Iren. Setelah beberapa kali suapan, mie ayamku sudah habis. "Bang, tambah bakso lagi satu!" seruku. Membuat dua temanku itu melongo.


"Kalian kenapa sih? Enggak pernah lihat orang makan ya?" tanyaku.


"Busett Na! Kamu mau jadi Iren yang dulu? Banyak amat makannya! Perasaan kamu dulu sedikit deh makannya," ujar Tika.


"Enak tahu! Kalian sendiri kenapa enggak nambah? Katanya tadi lapar."


"Lihat kamu makan lahap gitu aja udah bikin aku kenyang Na." Iren berkata begitu.


"Oh iya, hubungan kamu sama Abdul gimana Tik?"


"Uhuk, uhuk!!" Kali ini yang membuat Tika tersedak. "Apaan sih Na! Enggak usah ngawur deh!" kilahnya.


"Ngawur apanya? Orang kemarin aku sama Mas Alif di Mall lihat kamu sama Abdul masuk ke bioskop kok." Skak mat! Tika sudah tidak bisa mengelak lagi.


"Yang bener Tik?! Kamu sama Abdul? Really?" Iren masih belum bisa percaya dengan perkataanku.


Sama halnya dengan aku dan Mas Alif kemarin. Jadi waktu beli kado buat Lia, aku sama Mas Alif sempat lihat Abdul dan Tika. Waktu itu kita tentu saja enggak percaya. Kita kira kalau mata kita salah lihat. Akhirnya untuk memastikan, diam-diam kita mengikuti mereka. Dan rupanya benar! Itu Tika  dan Abdul! Mereka menonton film romantis di bioskop. Membuat aku dan Mas Alif geleng-geleng kepala saking tidak menyangkanya. Iya, kita tidak menyangka kalau menjodoh-jodohkan mereka berdua saat pernikahan Alif dan Salma dulu bisa berujung beneran kaya gini.


"Kalian jangan bilang sama siapa-siapa dulu!"


"Kenapa?" tanyaku dan Iren kompak.


"Kalian mau backstreet?" imbuhku.


"Ya enggaklah! Jadian aja belum, mau backstreet gimananya? Kita tuh lagi mencocokkan diri satu sama lain."


"Kalian cocok kok!" Lagi-lagi aku dan Iren kompak ngomong bareng-bareng.


"Oh ya?"


"Iya. Sama-sama tengil dan jahil!" kataku lalu tertawa dan disusul oleh Iren kemudian.


"Rese kalian berdua!"


"Abdul itu orangnya baik kok Tik. Dia kalau udah serius sama satu cewek, pasti bakal diperjuangin. Kaya Salma dulu, dia aja berani banget buat ngelamar Salma. Itu sudah membuktikan kalau dia itu mau sebuah hubungan yang seirus."


"Iya, semoga aja kita berdua cocok satu sama lain."


"Amiin." Aku dan Iren mengamini apa yang dikatakan Tika.


"Siap-siap habis ini nerima undangan lagi," kataku.


"Iya. Ujung-ujungnya duit lagi, duit lagi." Iren berkata sok dramatis sambil membuat muka memelas. Membuat aku dan Tika tidak bisa untuk menahan tawa.