
Langit malam ini begitu kelabu, bintang-bintang tertutup awan. Bulan yang berpendar juga tidak terlihat dari bawah sini. Langit kelam itu menemani percakapan serius sebuah keluarga.
Di ruang tamu sudah tampak seorang ayah yang duduk di sofa single kebesarannya, sedangkan sang ibu duduk di sebelah remaja laki-laki yang fisiknya mewarisi dirinya. Laki-laki yang berumur delapan belas tahun itu tampak serius menatap manik mata ayahnya yang terhalang oleh kacamata.
"Kamu serius Lif nolak tawaran Papa?" tanya si ayah dengan aura kebijaksanaannya
"Serius Pa. Apa bedanya sih kuliah di sini sama di luar negeri? Di sini juga banyak universitas yang tidak kalah berkualitasnya." Argumen sang anak yang bernama lengkap Alif Muhammad itu disambut terbuka oleh orang tuanya.
Sepatutnya dia bangga mempunyai orang tua yang tidak memaksakan kehendak seperti mereka. Sedangkan banyak anak di sana yang merasa tertekan karena harus menuruti kehendak orang tuanya. Orang tua Alif sangat terbuka dengan pendapat anak-anaknya. Ketika dia ditawari untuk berkuliah di negeri kanguru itu, sontak saja dia menolak dan memberi alasan yang pas.
"Maksud Papa enggak lain karena pengen ngenalin kamu sama perusahaan induk milik Papa di sana. Tapi kalau kamu menolak ya enggak apa-apa juga. Toh yang mau belajar kamu sendiri, kalau merasa terpaksa bisa-bisa kuliahmu enggak bener."
"Makasih Pa," ucap Alif tulus karena papanya menerima keputusannya.
"Terus kamu mau ambil jurusan apa?" Mama Alif yang dari tadi diam pun angkat bicara.
"Manajemen Ma. Biar selaras sama Alif ke depannya buat mimpin perusahannya Papa."
Alif memang mengajukan diri sebagai penerus bisnis keluarganya. Dia sadar karena dia adalah harapan satu-satunya keluarga ini. Dia anak pertama, dan laki-laki pula. Tidak mungkin tugas berat itu akan diturunkan ke adiknya yang perempuan. Mana masih kecil juga. Dia tidak perlu dipaksa, kesadaran diri sebagai sikap pendewasaannya sudah menuntunnya untuk memilih keputusan ini.
"Bagus. Itu baru anak Papa!" ujar sang ayah bangga dengan anak laki-lakinya.
*****
Seperti yang sudah disepakati, maka hari ini seorang Alif Muhammad sudah siap dengan penampilan celana bahan hitam dengan kemeja putih untuk mengikuti ospek di tempatnya berkuliah. Tidak lupa juga dengan menenteng tas punggung berwarna cokelat serta sepatu hitam.
Wajah rupawan khas orang Arab yang menurun dari ibunya ini membuat Alif menjadi pusat perhatian ketika baru sampai. Tubuhnya yang tetap serta pembawaannya yang kharismatik membuat siapa pun tidak akan berpikir dua kali untuk menyukainya.
Tapi dia abaikan tatapan-tatapan penuh memuja itu dan memilih untuk segera ke lapangan.
"Mas Alif!" Merasa terpanggil, sontak saja dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
Tampak seorang perempuan sangat cantik dengan rok hitam serta kemeja putih yang melekat di tubuhnya. Oh, jangan lupakan juga dengan jilbab lebar yang selalu dia kenakan.
"Salma? Kamu kuliah di sini?" tanya Alif setelah perempuan yang dia panggil Salma itu mendekat.
"Iya. Mas Alif kuliah di sini juga ternyata. Aku pikir ke Australia." Perempuan dengan pembawaan kalem itu adalah Salma. Tetangga sekaligus sahabat Alif sejak kecil. Rumah mereka saja berdampingan dan hanya berbatas tembok pagar. Jadi pantas kalau dia sangat dekat dengan Alif.
"Enggak Sal. Aku milih kuliah di sini." Dengan isyarat mata Alif mengajak Salma untuk berjalan bersama menuju lapangan tempat acara dimulai.
"Kamu ambil jurusan apa Sal?" lanjut Alif setelah keheningan mulai menyapa mereka.
"Pendidikan bahasa Indonesia Mas. Mau ngejar cita-citaku jadi guru pokoknya," ujar Salma penuh semangat. Mengundang senyum di muka Alif.
"Amiin. Semoga tercapai cita-citanya."
"Aku tebak pasti Mas Alif ambil jurusan di fakultas ekonomi. Benar tidak?" Alif mengangguki tebakan Salma.
"Jurusan Manajemen lebih tepatnya. Biar punya bekal buat ke depannya nanti."
"Baguslah. Berarti mulai sekarang kita harus sungguh-sungguh untuk masa depan. Cita-cita kita harus tercapai!" Nadanya saja yang semangat. Tapi intonasi Salma tetap saja lemah lembut, tidak meninggikan suaranya.
"Iya. Ya sudah, kita pisah sampai di sini ya!" Salma mengiyakan apa kata Alif, dan beranjak pergi ke area yang diisi anak-anak se-fakultas dengannya.
Acara pun dimulai. Tampak beberapa orang tengah mengatur barisan. Dilihat dari pakaian mereka, mengenakan jas almamater serta kalung berisikan ID card panitia, membuat Alif yakin kalau mereka panitia untuk acara ospek ini.
Acara demi acara dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan. Rupanya langit tengah berbaik hati untuk menutupi sinar sang mentari dengan awan-awan putih yang indah. Jadi tidak ada yang namanya kepanasan.
Sampai acara selesai, semua mahasiswa baru diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja tidak semua pulang. Ada yang masih berkeliling untuk melihat-lihat kampusnya, ada yang nongkrong di beberapa sudut kampus, juga ada yang memanjakan perut mereka di kantin.
Tapi seorang Alif memilih untuk pulang saja. Badannya sudah sangat lelah. Acara keliling kampus bisa dia lakukan kapan-kapan dengan temannya. Yang penting sekarang dia harus pulang dan mengistirahatkan diri.
Dia sudah menaiki motornya dan keluar dari parkiran kampus. Tapi ketika akan menyebrang jalan pandangannya jatuh akan sesuatu, tepatnya di depan warung-warung yang berjejeran di seberang kampus. Di melihat seekor kucing kecil tengah kebingungan di jalan. Dia tidak melihat satu orang pun yang akan menolong kucing itu. Jadi dengan inisiatifnya sendiri, dia turun dari motornya untuk menghampiri kucing kecil.
"Allah!" Alif langsung tersentak ke belakang, terkejut karena tiba-tiba ada motor yang melaju cepat dan menabrak kucing itu.
Beruntung kucing itu tidak terlindas, melainkan terpental karena tadi sempat menghindar walaupun agak terlambat. Saat Alif akan mendekat, dia melihat seorang perempuan yang berlari ke arah kucing itu. Membuat Alif menghentikan langkahnya dan memilih mengamati dari kejauhan.
Dilihatnya seorang perempuan dengan rambut panjang terurai, dari kejauhan saja Alif tahu kalau perempuan itu sangat cantik. Dia memakai tas punggung berwarna pink mencolok. Kontras dengan pakaian yang ia pakai. Bertema hitam dan putih, sama dengan Alif dan mahasiswa baru lainnya.
Melihatnya raut khawatirnya menggendong kucing kecil itu, bahkan sampai menangis. Membuat Alif tertegun sesaat. Rupanya masih ada orang dengan empati yang besar di zaman sekarang.
"Mas." Tubuh Alif langsung terlonjak kaget ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Eh, maaf Mas! Aku enggak maksud buat ngagetin kamu kok," tampak Salma dengan raut muka bersalahnya.
"Enggak apa-apa kok Sal. Ada apa memangnya?"
"Aku lihat kamu bengong sendiri di pinggir jalan, jadi ya aku samperin. Ada apa sih Mas?" Karena penasaran, Salma pun mengikuti arah pandang Alif tadi.
Begitu pun Alif, dia juga melihat ke arah kucing yang tertabrak tadi. Tapi dia sudah tidak melihat kucing malang itu lagi, juga perempuan tadi.
"Kenapa Mas?" tanya Salma sekali lagi.
"Enggak ada apa-apa kok. Palingan tadi aku salah liat."
"Oooh..."
"Kamu mau pulang Sal?" Dilihatnya motor Salma yang terparkir di belakang Salma.
"Iya Mas. Kenapa?"
"Ya udah, bareng kalau gitu." Alif pun kembali ke motornya dan pulang dengan mengikuti Salma dari belakang.
Entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba sekelebat bayangan wajah perempuan misterius tadi memenuhi otaknya. Wajah cantik itu seakan membekas di pikirannya. Dan sialnya, dari perjalanan pulang sampai dari rumah pun dia masih terbayang-bayang.
"Astagfirullah! Apa sih yang kamu pikirin Lif?" Dia segera menyandarkan dirinya sendiri. Lalu kemudian memilih segera ke kamarnya untuk merebahkan diri sebentar sebelum sholat ashar di masjid.
*****
Tidak terasa, tiga tahun telah berlalu. Alif kini sudah tumbuh menjadi pribadi yang selalu bisa diandalkan. Dalam setiap diskusi apa pun, selalu dia yang menjadi ketua. Cerdas, ramah, dan tampan. Siapa yang tidak kenal dengan Alif? Se-fakultas ekonomi pasti kenal dengan ketua BEM ini.
Hingga pada waktunya, sekarang dia mendapat giliran untuk tugas KKN. Tugas di mana dia akan mempraktikkan segala teori yang ia dapat selama tiga tahun belajar. Pengumuman anggota kelompok juga penempatannya akan diberitahukan hari ini. Tidak perlu susah-susah berjalan ke mading dan berdesak-desakan untuk melihat informasi yang ada. Cukup membuka ponsel dan membuka dokumen yang sudah dikirim sebelumnya.
Setelah matanya meneliti dari atas ke bawah, dia melihat bahwa ada nama Salma di bawah. Memang tugas KKN ini lintas fakultas untuk per kelompoknya, jadi pasti nanti dia akan bertemu berbagai orang dengan berbeda keahlian.
Satu jam setelah pengumuman diberikan, grup chat telah dibuat. Terdapat dua puluh satu peserta, dua puluh mahasiswa dan satu dosen pembina. Mereka semua memilih untuk bertemu dan berdiskusi hari ini juga, tepatnya sore nanti.
"Salma!" serunya ketika melihat Salma dari kejauhan, sedang menuju tempat yang mereka sepakati di grup tadi.
"Eh?" Salma pun berhenti dan mencari sumber suara. "Oh, Mas Alif rupanya. Mau ke tempat diskusi?"
"Iya. Kamu juga kan?"
"Hemm. Ya udah, kalau gitu bareng aja Mas."
Alif dan Salma kemudian berjalan beriringan. Mereka berdua tampak serasi. Yang satu cantik, yang satunya lagi tampan. Keduanya sama-sama berkepribadian baik, juga taat agama. Sangat serasi. Ketimbang sahabat, orang lain pasti mengira mereka pasangan. Tapi nyatanya, getar rasa itu tidak terjadi di antara mereka berdua. Hanya murni sebatas tali persahabatan.
Mereka sudah sampai dan bertemu dengan calon rekan setim mereka. Salma langsung bergabung dengan anak perempuan lainnya, sedangkan Alif mulai berkenalan dengan anak yang laki-laki. Hampir setengah jam menunggu, sudah banyak yang berdatangan.
"Satu, dua, tiga, empat..." Abdul, teman sekelasnya Salma mulai menghitung anggota yang datang.
"Delapan belas. Kurang dua nih," ujarnya setelah selesai menghitung.
"Coba absen dulu, biar tahu siapa yang belum datang." Alif mengeluarkan pendapatnya. Dan disetujui oleh semua. Jadi dia membuka kembali nama-nama anggotanya dan memanggil namanya satu per satu.
"Kurang Rangga sama-,"
"Permisi!" Ucapan Alif terpotong dengan kedatangan dua orang. Satu laki-laki dengan raut muka datar, dan satu lagi perempuan dengan senyum manisnya.
Tunggu.
Sepertinya Alif mengenal siapa perempuan itu. Dia mencoba mengingat-ingat lagi. Dia yakin sekali pernah melihat perempuan itu.
Deg.
Jantung Alif langsung berdebar setelah tahu siapa perempuan itu. Dia adalah perempuan yang tiga tahun lalu dia amati tengah menolong kucing yang tertabrak itu. Dia tidak menyangka, akhirnya setelah tiga tahun dia bisa bertatap muka langsung dengan perempuan yang masih sangat dia ingat mukanya meski waktu telah lama berlalu.
"Kalian pasti Rangga sama Nala ya?" terka Salma yang diangguki oleh Rangga, begitu pun Nala.
"Maaf telat ya! Tadi ada urusan bentar." Nala memberikan alibinya.
"Ekhm!" Suara batuk dari Alif ini tidak lain untuk meminta perhatian semua anggota yang ada. "Ya sudah, berhubung semua anggota sudah lengkap jadi kita bisa mulai diskusinya."
"Pertama kita harus buat susuan pengurus dulu. Mulai dari ketua, sampai kepala per seksi. Jadi, siapa yang ingin mengajukan diri sebagai ketua?" Setelah Alif diam, tidak ada sahutan lagi. Mereka semua hanya saling menoleh untuk menilai satu sama lain.
"Gimana kalau kamu aja Lif, kamu kan udah pernah jadi ketua BEM tuh. Pasti lebih berpengalaman dalam memimpin kan?" Saran dari Rere, teman se-fakultas Alif diterima oleh semua.
"Iya tuh. Setuju." Berbagai kalimat persetujuan langsung terdengar.
"Kalau begitu, sekarang tinggal buat rencana kegiatan. Jadi buat yang se-fakultas bisa langsung kumpul dan buat bareng-bareng." Setelah Alif berkata demikian, satu per satu mulai mencari teman se-fakultasnya masing-masing.
Sekitar satu jam kemudian mereka semua telah selesai dengan rencana kegiatannya. Tinggal mengajukannya ke dosen pembina untuk diperiksa kembali. Alif pun menutup pertemuan, dan mereka semua saling berpamitan lalu pulang.
Mulai dari awal pertemuan sampai sekarang sudah membubarkan diri, Alif dari tadi tidak bisa fokus. Diam-diam dia mencuri pandang ke arah Nala dan kemudian beristighfar dalam hati. Gelagat aneh dari Alif ini tidak luput dari perhatian Salma.
"Ekhm, ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih." Ucapan dari Salma ini disambut oleh senyuman samar dari Alif.
"Kelihatan banget ya?" tanya Alif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya kalau buat aku tadi sih kelihatan. Enggak tahu sama yang lain."
"Baguslah kalau begitu." Mereka berdua kemudian berjalan bersama untuk pulang.
"Jadi gimana Mas?"
"Apanya yang gimana?" Alif mengernyitkan dahinya.
"Ya sama Nalanya. Mau diseriusin apa enggak? Mumpung belum ada yang gandeng."
"Baru juga dua kali ketemu Sal. Dijalani dulu lah," ujar Alif.
Sampai di parkiran mereka berdua berpisah jalan. Karena Salma hari ini tidak membawa motornya, melainkan diantar oleh papanya. Berhubung jemputan ya sudah datang, jadi Salma langsung pamit ke Alif untuk langsung pulang.
"Hati-hati di jalan!"
"Iya Mas."
Sepeninggal Salma, Alif langsung menuju ke motornya. Tapi pandangannya menangkap suatu hal. Dilihatnya Nala tengah kesusahan dengan motornya. Dia pun segera menghampiri Nala.
"Kenapa motornya?" tanya Alif setelah sampai di samping motor Nala.
"Eh, Alif. Ini lho, motorku enggak bisa distarter. Kayanya mogok deh."
"Sini, biar aku yang nyoba." Alif dengan sekuat tenaga mencoba menghidupkan mesin motor milik Nala. Tapi sudah beberapa menit berlalu, tidak ada hasil yang diberikan.
"Udahlah Lif. Emang mogok nih motor. Maklumlah motor tua." Nala mencoba mengambil alih motornya, bersiap untuk menuntunnya ke bengkel terdekat.
Tapi Alif dengan cekatan mengambil alih lagi motor Nala. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Nala mendorong motornya sendirian.
"Biar aku yang dorong."
"Enggak usah Lif! Enggak perlu. Aku bisa sendiri kok."
"Udah. Enggak apa-apa." Nala pun menyerah dan membiarkan Alif membantunya.
"Ini kunci motorku. Kamu yang pakai dan tunggu aku di bengkel. Oke?" Tanpa menunggu persetujuan dari Nala, Alif menyerahkan kunci sepeda motornya ke Nala. Beruntung saja hari ini dia membawa motor matic, bukannya motor ninja yang biasa dia pakai.
Sampai beberapa menit kemudian dia sudah sampai di bengkel. Di sana juga ada Nala yang sudah duduk menunggu sambil menggenggam sebotol air mineral dingin.
"Ini diminum dulu!" Nala menyerahkan air mineral itu ke Alif.
"Makasih!"
"Harusnya aku yang bilang gitu. Makasih ya udah bantuin," ujar Nala dengan tulus.
"Iya."
*****
Berawal dari interaksi itu, membuat Alif semakin jatuh hati dengan sosok Nala. Diam-diam dalam sujud ya dia menyebut nama itu untuk dipersandingkan dengannya. Dalam diamnya dia memperhatikan Nala. Senyumnya, tawanya, kebaikan hatinya. Semua membuat Alif semakin jatuh hati dengan Nala.
Hingga puncaknya ketika mereka sudah bersama menjalani sebuah KKN. Dengan berbagai kejadian yang terjadi di antara mereka membuat Alif semakin yakin menambatkan hatinya ke Nala dan mengutarakan perasaannya.
Hanya perihal waktu. Dua tahun lagi setelah dia menyelesaikan tugasnya di Australia, maka dia akan kembali dan mempersunting Nala. Berat memang, tapi itu sudah kesepakatan yang ia buat dengan ayahnya. Membuktikan diri dengan memimpin perusahaan pusat, lalu setelah itu dia boleh memimpin perusahaan cabang dulu.
Hingga hari untuk berpisah pun tiba. Nala yang ditemani Salma turut hadir untuk mengantar kepergian Alif. Hal itu malah membuat Alif semakin berat hati untuk meninggalkan tanah air. Tapi tidak ada waktu untuk kembali. Sebentar lagi pesawat yang ditumpanginya akan take off.
"Fii amanillah Mas," kata Salma mendoakan agar Alif selamat sampai tujuan.
"Amiin. Makasih Sal." Pandangan Alif kemudian tertuju pada perempuan yang berdiri di samping Salma. Siapa lagi kalau bukan Nala yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Kamu enggak mau ngucapin apa gitu Na?" tanya Alif karena Nala tidak kunjung berkata.
"Semoga selamat sampai tujuan, semoga-," Nala tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat. Hingga sedetik kemudian air matanya luruh.
"Loh, kamu jangan nangis dong Na! Kan aku pengennya diantar dengan senyuman." Alif jadi bingung sendiri karena Nala tiba-tiba menangis.
"Aku-, hiks! Enggak nangis kok! Hiks!" Mulutnya berkata demikian, tapi tidak dengan air mata yang terus keluar.
Alif tidak bisa berbuat banyak, jadi Salma yang menenangkan Nala. Sampai pengumuman pesawat yang akan lepas landas terdengar. Nala segera mengusap air matanya dengan kasar.
"Semoga sehat selalu, dimudahkan segala urusannya, dan jangan genit-genit sama bule di sana! Udah. Kamu cepat masuk sana!" Dengan sekali tarikan napas Nala berkata demikian. Membuat Salma dan Alif menahan tawa mereka.
"Iya. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat ya! Assalamu'alaikum!" Dengan berat hati Alif melangkah meninggalkan dua perempuan yang menempati ruang tersendiri di hatinya.
"Kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar!" teriak Nala saat Alif mulai jauh. Dan ditanggapi dengan acungan jempol ke atas oleh Alif tanda setuju.
*****
Tidak terasa, sudah satu tahun Alif menetap di negeri kanguru itu. Kurang setengah perjalanan lagi untuknya agar bisa pulang ke Indonesia dan menemui pujaan hatinya. Dan dalam setahun itu pula mati-matian dia menahan rindu kepada Nala. Rasa rindu itu hanya bisa tersalurkan melalui panggilan video. Seperti saat ini, dia sedang senyum-senyum sendiri menghadapi cerewetnya Nala ketika mengingatkan dirinya agar senantiasa menjaga kesehatan.
"Pokoknya aku enggak mau tau ya. Besok-besok lagi jangan begadang! Kalau di rumah itu istirahat. Kerjanya cukup di kantor. Kalau kamu memforsir diri terlalu keras nanti malah bisa sakit," ucap seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Nala.
"Iya, nanti enggak ngulangi lagi deh."
"Ya harus. Nanti kalau sakit yang repot siapa coba?"
"Dokternya lah, bener kan?" Tampak muka Nala di seberang sana berubah masam.
"Ish. Aku di sini kan juga repot. Repot khawatirkan kamu, repot mikirin kamu. Kalau udah gitu, nanti malah tugasku sendiri ikut enggak bener."
"Iya cantik, aku ngerti."
Blush.
Bahkan dari layar Alif sudah tahu kalau pipi Nala sedang merona. Membuatnya semakin gemas saja. Hah! Tidak sabar untuk satu tahun lagi.
Mereka berdua larut dalam pembicaraan dengan berbagai topik yang ada. Sampai suara ketukan dari pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Maklum saja, ketika Nala memanggil Alif tengah berada di jam kerjanya. Seolah memahami, Nala pun segera mengakhiri panggilan dan mempersilakan Alif untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Masuk!" titah Alif.
Seketika pintu ruang kerja Alif terbuka dan masuklah seorang wanita dengan pakaian yang sedikit ketat dan terbuka di bagian atasnya. Wanita itu cukup cantik, tapi make up yang berlebihan itu agak membuat kecantikannya sedikit menurun di mata Alif. Dia adalah Ashley, sekretaris yang sudah mendampingi Alif empat bulan terakhir ini.
"Siang Pak, ini saya menyerahkan laporan akhir tahun dari divisi pemasaran," katanya yang sudah pasti dengan bahasa Inggris.
"Oke. Taruh saja di meja!" jawab Alif dingin.
"Okey... Emm, pak. Gimana kalau nanti istirahat-,"
"Saya makan sendiri." Bukannya terlalu PD atau gimana, tapi Alif sudah paham betul kalau sekretaris barunya itu pasti mengajaknya untuk makan siang berdua.
"Oh iya satu lagi. Jangan berpakaian terlalu terbuka. Saya tidak suka. Ini peringatan terakhir dari saya sebelum kamu mengeluarkan kaki dari perusahaan ini." Jangan salahkan Alif jika terlalu ketus seperti ini. Dia sudah bosan dengan perilaku Ashley yang kerap menggodanya. Dia ingin sebuah hubungan kerja yang profesional, tidak melibatkan urusan pribadi di dalamnya.
"Iya pak, maaf! Besok saya akan berpakaian lebih sopan lagi. Sekali lagi saya minta maaf." Tampak sekali raut pucat di muka Ashley mendengar peringatan tak main-main dari Alif itu. Segera dia pamit mengundurkan diri sebelum keberadaannya di perusahaan ini terancam.
Beruntung Alif memegang teguh janjinya untuk selalu setia kepada Nala. Jadi seribu macam orang seperti Ashley tidak akan berpengaruh padanya. Dia tidak mau mengkhianati kepercayaan Nala yang telah diberikan kepadanya.
Sampai waktu yang dinanti-nanti telah tiba. Seminggu sejak kepulangannya dari Australia maka segera dilangsungkan hari pernikahannya. Dia juga tidak keberatan. Toh ini semua sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, semakin cepat semakin baik bukan?
Jadi di sini sekarang Alif berada. Duduk di atas kursi berhadapan langsung dengan ayah Nala yang menjadi penghulunya. Tangan yang menggenggam erat itu seolah meyakinkan bahwa dia tidak akan melepaskan Nala setelah janji suci ini terucap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nala Ayu Kinanti dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 150 gram dibayar tunai!" Dalam sekali tarikan napas Alif dapat mengucapkan Qabul dengan lancar.
Setelah itu dilihatnya Nala dengan gaun pengantin yang melekat sangat cantik ditubuhnya sedang berjalan ke arahnya. Wajah cantik berseri nan malu-malu ditunjukkan Nala ketika mereka berdua telah berhadapan. Tangan kiri Alif kini berada di atas kepala Nala, sedangkan tangan kanannya menengadah membacakan doa.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Artinya: Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.
Cup!
Dikecupnya perlahan kening Nala dengan penuh kelembutan. Kini, mereka telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Penantian mereka telah semourna. Tinggal bagaimana selanjutnya mereka menjalani setelah ini. Harapan demi harapan agar dapat mengarungi lautan dalam bahtera rumah tangga terus terucap dalam hati mereka.