
Menjadi anak pertama seolah menjadi beban tersendiri bagi Fahmi. Di mana dia harus menjadi contoh bagi adik-adiknya, menjadi kebanggan bagi orang tuanya, juga menjadi penerus apa yang diinginkan oleh keduanya.
Hidup dalam kehidupan yang mengharuskan untuk sempurna membuat dia kehilangan jati dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk menjadi apa yang dimau orang lain tanpa memperhatikan apa keinginannya sendiri. Segalanya sudah dipersiapkan untuknya, tinggal dia menjadi boneka untuk menjalaninya.
Meski pun begitu, dia sayang orang tuanya. Tidak pernah menyalahkan mereka yang terlalu banyak menuntut kepadanya. Karena ia sendiri juga tidak pernah mengungkapkan apa kemauannya.
Semua didikan keras dari orang tuanya membuahkan hasil. Dirinya kini menjadi seorang dokter spesialis juga direktur di rumah sakit yang didirikan oleh papanya dulu. Usia muda, cerdas dan bertalenta, juga gila kerja. Itu yang menggambarkan seorang Fahmi sekarang. Kini, bekerja sudah seperti urat nadinya. Begitu penting hingga ia tak menghiraukan yang lain.
Bahkan di usianya yang sekarang, ketika teman-temannya sudah banyak yang menikah dia saja belum memiliki niat untuk melirik perempuan. Dan satu hal ini juga yang disesalkan oleh orang tuanya. Mereka mulai menyesali didikannya yang menjadikan Fahmi seperti robot pekerja. Dan mereka terus menyalahkan diri mereka sendiri.
Banyak cara yang mereka lakukan untuk melihat Fahmi bisa bersanding dengan perempuan yang membuatnya bahagia. Mulai dari menjodoh-jodohkan hingga mendaftarkan Fahmi ke situs pencari pasangan pun sudah mereka lakukan. Namun hasilnya nihil. Satu per satu gadis yang bersama Fahmi memilih mengundurkan diri dan kabur dari Fahmi. Alasannya tentu saja karena mereka tidak tahan dengan kekakuan Fahmi juga karena gilanya dia bekerja. Hal itu membuat orang tua Fahmi hanya bisa pasrah. Mereka menyerahkan urusan pendamping hidup ke Fahmi sendiri. Biar dia yang menentukan tambatan hatinya sendiri. Meski mereka tidak tahu kapan waktu itu datang.
"Woy Mblo! Makan yuk!" Indra dengan santainya langsung masuk ke dalam ruang Fahmi, ada acara mengejek pula. Untung sahabat, kalau kata hati Fahmi begitu.
"Nitip."
"Elaahh, tinggal ke kantin doang aja nitip. Sibuk apaan sih?"
Fahmi diam, tidak berniat menjawab sahabatnya. Lalu dia menutup file di komputernya dan berdiri menghampiri Indra. Dilihatnya perlahan km dinding yang berdetak di dinding ruangannya. Pukul tiga sore, dan sebentar lagi akan memasuki jam pulang. Sebenarnya dia bisa saja makan siang nanti di di rumahnya, tapi tidak enak juga menolak ajakan Indra. Makan siang ketika sore, sarapan ketika siang, itu sudah biasa bagi Fahmi juga kebanyakan dokter yang lain. Sibuknya mereka tidak bisa di kompromi lagi.
"Yuk!" ajak Fahmi setelah menyampirkan snelli-nya ke gantungan.
Sampai di kantin rumah sakit mereka segera memesan makanan dan menunggunya di salah satu sudut favorit Indra. Yaitu di pojok paling belakang. Karena spot ini bisa melihat seluruh ruangan. Kalau dulu sebelum menikah, spot ini dia gunakan untuk mengamati juga mengincar para dokter muda alias koass yang bening-bening. Kalau sekarang, jangankan mengamati. Melirik saja maka siap-siaplah dia mendapat ceramah gratis dari istri tercintanya.
"Yahh, alamat nanti malam enggak bisa makan masakan istri tercinta," ujar Indra tiba-tiba.
"Halah lebay!" sindir Fahmi. Dia tahu bahwa Indra tengah memanasinya. Entahlah, kenapa semua orang sangat bersemangat sekali menyuruhnya untuk menikah. Padahal dia yang akan menjalani, tapi orang lain yang sibuk memikirkannya.
"Yee enggak lebay ini mah! Rindu mna bisa diajak main-main. Situ enggak tahu sih! Makanya nikah!" Benar kan dugaan Fahmi. Pasti ujung-ujungnya seperti ini.
"Nanti."
"Sampai tuh rambut ubanan? Heran, mau sampai kapan nge-jomblo?" Fahmi mengendikkan bahunya.
Setelah itu pesanan mereka datang. Indra diam dan memilih menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dalam diam suasana makan mereka, samar-samar Fahmi mendengar suara tawa seseorang. Dia langsung membalikan badannya dan melihat seseorang tengah tertawa riang bersama kedua temannya. Tawanya yang renyah seolah menghipnotis Fahmi agar terus memandangnya. Kalau tidak salah dokter muda atau koass itu namanya Laras. Dia pernah menjadi penanggung jawab kelompoknya. Dan harus dia akui kemampuan Laras yang andal ketimbang teman-temannya.
Laras yang tengah beristirahat di kantin bersama dua temannya merasa seperti ada yang memperhatikan. Dan ketika dia melihat ke depan, Fahmi langsung membalikkan kepalanya. Beruntung bahwa Laras tidak memergokinya yang terang-terangan menatap gadis itu. Beruntung juga urat lehernya tidak terpelintir akibat dia terlalu cepat menoleh. Tapi keberuntungannya tidak sampai pada Indra. Temannya itu tampan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sudah pasti dia akan digoda habis-habisan. Dan parahnya lagi, mungkin Indra akan berkoar-koar di grup memberitahu teman-teman yang lain.
"Ekhm! Ada yang kesengsem nih kayanya."
"Apaan? Cepet makan tuh nasgor! Keburu dingin." Haduuuh, Fahmi kalau salah tingkah kok kelihatan banget. Padahal nasi goreng di piring Indra sudah habis, malah nasinya sendiri yang tampak belum tersentuh.
"Ciaah! Pak direktur lagi salting. Imut banget sih!" Indra mengimutkan suaranya seperti perempuan.
"Hih! Jijik Ndra!"
"Uluh-uluh!"
Hah, sudahlah. Fahmi memilih untuk menghabiskan makanannya saja. Semakin dia mengelak maka Indra akan semakin gencar menggodanya. Segera setelah makan siang yang menyebalkan tiba juga waktu untuk pulang. Dia pun berkemas meninggalkan Indra yang masih tinggal di rumah sakit karena masih ada shift jaga.
Ketika mobilnya hampir sampai di gerbang, dia melihat ke arah parkiran sepeda motor. Tampak Laras yang kesusahan menghidupkan mesin motor maticnya. Dia mencoba untuk tidak peduli dan memilih langsung pulang saja. Tapi entah sisi kemanusiaannya atau rasa apa, yang jelas di tidak melanjutkan mobilnya ke gerbang dan memarkirnya sebentar di samping pos satpam. Lalu dia turun dan hendak menghampiri Laras. Tapi baru beberapa langkah dia sudah berhenti dan kembali lagi ke mobilnya.
"Nanti dia mikirnya aku ada apa-apa lagi sama dia," gumamnya. Lalu dia menghidupkan lagi mesin mobilnya. Dan ketika melihat ke arah Laras yang masih juga belum bisa dengan motornya membuat Fahmi mematikan lagi mesin motornya.
Mungkin melihat keanehan pimpinannya itu membuat seorang satpam memberanikan diri menghampiri mobil Fahmi. "Sore Pak!"
"Eh, iya. Sore!" Fahmi yang sibuk menoleh ke samping tidak sadar jika dirinya tengah dihampiri dan berakhir dengan keterkejutannya ketika disapa.
"Maaf Pak. Pak Fahmi sedang apa ya? Saya lihat tadi kok aneh sekali," ujar si satpam.
"Oh, anu pak. Saya boleh minta tolong gak?"
"Boleh Pak. Apa yang bisa saya bantu?"
"Itu." Fahmi menunjuk tepat ke arah Laras. "Bapak tolongin perempuan itu, tapi jangan bilang-bilang kalau saya yang nyuruh."
"Oke Pak. Kalau begitu saya ke sana dulu."
"Iya, makasih Pak!"
Dari dalam mobil dia melihat pak satpam yang membantu Laras. Sepertinya pak satpamnya juga tidak bisa menghidupkan motor Laras. Lalu mereka tampak membawa motor itu keluar area rumah sakit. Mungkin akan dibawa ke bengkel.
Karena merasa tugasnya sudah selesai, maka dia langsung menancap gas menuju rumahnya. Wajahnya tampak tenang, tapi hati dan pikirannya dari tadi sibuk memikirkan bagaimana keadaan Laras. Apakah dia sudah pulang apa belum. Sepintas pertanyaan horor hinggap di otaknya. Apakah dia ada rasa dengan dokter muda itu?
"Tidak." Fahmi mencoba menutupi perasaannya sendiri. Berulang kali berkata tidak, tapi sayangnya hatinya tidak mau menuruti dan sibuk memikirkan Laras kembali.
*****
Seminggu sejak mendengar tawa dari Laras, dia jadi sering terngiang-ngiang suara indahnya. Setelah tidak sengaja bertemu di kantin tempo hari, dia tidak lagi bertemu dengan Laras. Mungkin karena jadwalnya yang sibuk dan tidak menemui waktu kebetulan bertemu lagi.
"Huaaa!!!"
"Kakak nakal ih!"
"Enggak! Kamu tuh yang cengeng."
"Mamaaaaa!!!"
Fahmi langsung menutup telinganya mendengar suara keributan dari bawah. Malam ini adik keduanya datang ke rumah dan membawa serta anak-anaknya. Sudah pasti akan sangat ramai. Apalagi keponakannya yang masih kecil suka sekali menangis. Dan adiknya yang bungsu selalu saja mencari cara untuk menggodanya.
Karena tidak tahan dengan kebisingan itu, dia memilih keluar ruang kerjanya dan mengambil jaket kulit. Mungkin dia akan keluar mencari udara segar. Mau lanjut kerja pun susah gara-gara tidak bisa konsentrasi.
"Ma, Pa. Aku mau keluar bentar."
"Mau ke mana?" tanya mamanya yang membawa pisang goreng dari dapur dan meletakkannya di meja rumah keluarga.
"Jalan-jalan, nyari angin."
"Baguslah. Sekalian nyari cewek sana biar enggak jomblo!" Fahmi menatap sinis ke adik perempuan yang terpaut empat tahun darinya.
"Berisik!"
"Yee, dikasih tau juga."
"Udah. Kalian tuh, udah besar juga masih hobi banget berantem." Sang papa yang sibuk menenangkan cucunya juga menenangkan Fahmi dan adiknya.
"Ya sudah, hati-hati kalau gitu."
"Iya Ma. Aku pergi dulu, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam"
Di tengah jalanan yang dingin disertai musik yang mengalun dalam mobil, Fahmi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati temaram lampu kota yang beradu dengan lampu kendaraan yang lalu lalang. Kota Malang ketika malam memang tidak ada duanya.
Di saat asyik-asyiknya menikmati jalanan kota, dia melihat seorang perempuan tengah menuntun motornya di tepi jalan. Ketika mobil miliknya mendekat, barulah dia tahu bahwa perempuan itu adalah Laras. Dia sampai geleng-geleng kepala sendiri. Tiap berpapasan selalu melihatnya dengan motor yang mogok. Melihat tidak ada lagi satpam yang akan membantunya, maka dia sendiri yang turun dari mobil menghampiri Laras. Mengalahkan egonya sendiri.
"Pak Fahmi?" Laras tak percaya kalau mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya adalah milik dokter mantan penanggung jawabnya.
"Iya. Sini, biar saya yang gantiin dorong motornya."
"Enggak usah pak! Biar saya saja." Laras melarang tangan Fahmi yang hendak mengambil alih motornya.
"Saya tidak menerima penolakan."
"I-iya sudah kalau begitu. Terima kasih!"
"Hemm. Kamu bisa bawa mobil?"
"Bisa Pak."
"Ya sudah, kamu pakai mobil saya ke bengkel dulu."
"Memangnya enggak apa-apa pak?"
"Iya, gak papa."
"Bapak enggak takut kalau mobilnya saya bawa kabur?"
"Enggak. Memangnya kamu bisa buat tindak kejahatan kaya gitu?"
"Iya enggak juga sih Pak. Kan tadi misalnya."
"Oke, misalnya kamu bawa kabur mobil saya itu perkara gampang. Saya liat muka kamu, saya punya data kamu, jadi tinggal bawa ke polisi dan palingan tidak sampai seminggu mobil saya sudah kembali."
Laras takjub mendengar penuturan Fahmi. Memang ya, seseorang yang cerdas semacam Fahmi bisa langsung memecahkan masalah dalam sekejap.
"Ya sudah, kalau gitu saya tinggal ke bengkel dulu. Terima kasih Pak!"
"Iya." Sudut bibir Fahmi sedikit terangkat melihat Laras yang senang membawa mobilnya.
*****
"Motor kamu sudah saya suruh buat di full service."
"Loh, kok enggak bilang ke saya dulu pak! Nanti habisnya kan banyak Pak!" Laras memegang keningnya, pusing sendiri membayangkan berapa uang yang akan dia keluarkan.
"Sudah saya bayar lunas."
"Ha? Bapak serius?"
"Iya."
"Yahh, saya jadi utang deh ke Bapak."
"Tentu. Dan kamu harus membayarnya."
"Ha?" Laras tidak habis pikir dengan Fahmi. Pikirnya bahwa Fahmi tidak akan tega menagih utang padanya seperti sosok laki-laki idaman yang sering muncul di novel atau pun film. Padahal dia yakin kalau nominal sebesar itu tidak ada apa-apanya bagi seorang direktur seperti Fahmi. Tapi salah dia juga sih yang terlalu berharap, namanya utang ya tetap utang. Dan itu wajib dibayar.
"Bayarnya dengan menemani saya jalan-jalan malam ini." Fahmi terdiam sesaat. Tidak terpikir olehnya kalau akan bicara begitu.
"Oke kalau begitu. Mau jalan-jalan ke mana nih pak?" Karena tadi spontan bicara, jadi Fahmi tidak tahu akan keluar ke mana.
"Gimana kalau ke pasar malam saja pak?"
"Boleh. Kalau gitu sekarang kita berangkat."
Tidak menyangka kalau mendekati perempuan bisa segugup ini. Tapi beruntung orang yang didekati semacam Laras yang pandai mencari topik pembicaraan. Jadi Fahmi mati gaya.
"Pak! Main wahana itu yuk!" tunjuk Laras pada salah satu stand yang menyediakan permainan.
"Saya gak tau gimana caranya."
"Hah? Masa?"
"Iya. Say tidak punya waktu untuk hal beginian." Karena waktu Fahmi digunakan untuk belajar dan belajar.
"Berarti hidup bapak kurang berwarna. Sini, biar saya yang kasih contoh." Tak sadar, Laras menarik lengan Fahmi untuk mendekat ke stand. Dan Fahmi hanya bisa terdiam sambil terus melihat lengannya yang digandeng.
Laras mencontohkan cara bermainnya kepada Fahmi. Hanya melempar bola ke botol yang disusun dengan jarak tertentu. Yang berhasil mengenai sasaran maka akan dapat hadiah. Laras berulang kali mencoba tapi gagal. Fahmi pun tertarik untuk mencoba. Awalnya dia juga tidak kena, tapi setelah lemparan kelima barulah tepat mengenai sasaran.
"Kamu pilih mau hadiah yang mana," ucap Fahmi ke Laras.
"Waah! Beneran nih Pak?" Fahmi mengangguk. Dengan antusias Laras menunjuk sebuah boneka unicorn yang lucu.
Tidak berhenti pada satu permainan, mereka mencoba hampir seluruh stand. Tetap sama, awalnya Laras yang mencontohkan tapi selalu gagal. Dan Fahmi yang baru belajar dapat menyelesaikan permainannya. Alhasil kedua tangan mereka sudah penuh dengan boneka. Fahmi tidak menyangka kalau dengan permainan sederhana ini rupanya sangat menyenangkan. Barulah dia sadar kalau banyak hal yang telah ia lewatkan semasa kecil.
"Pak! Bianglala mau?"
"Apa? Enggak usah. Sudah cukup mainnya hari ini.
"Yahh!" Muka Laras mendadak lesu. Membuat Fahmi menjadi tidak tega.
Jadilah mereka berdua saat ini sedang menaiki bianglala seperti yang Laras inginkan. Jika ada satu hal yang paling Fahmi takuti, maka itu adalah ketinggian. Tidak ada yang tahu itu kecuali keluarganya. Makanya ketika semasa SMA ada teman-temannya yang mengajak mendaki gunung, pastilah dia menolak.
Dalam bianglala itu terdapat dua orang dengan dua perasaan, jika Laras merasa sangat senang lain halnya dengan Fahmi yang ketakutan setengah mati. Beruntunglah dia dapat menyembunyikan ketakutannya itu. Mau ditaruh mana muka dia kalau sampai Laras tau.
"Pak!"
"I-iya?"
"Bentar lagi kita di puncak paling tinggi nih Pak, habis ini lihat deh ke bawah. Pasti indaaaah banget." Fahmi menelan ludahnya kasar mendengar penuturan Laras. Melihat ke depan saja membutuhkan perjuangan besar malah disuruh lihat ke bawah.
"Iya. Saya enggak sabar nunggunya."
Dalam hitungan detik bianglala mereka sudah mencapai posisi tertinggi. Laras dengan antusias mengajak Fahmi melihat pemandangan di bawah. Jika yang dilihat Laras adalah lampu-lampu pasar malam yang kelap-kelip juga pemandangan jalanan besar dengan banyak lampu yang indah juga, berbeda dengan Fahmi yang melihat pemandangan di bawah seperti sebuah gambar yang kabur. Matanya langsung berkunang-kunang dan pusing juga menghampirinya.
Turun dari bianglala seperti membawa angin surga bagi Fahmi. Jantungnya perlahan mulai berdetak sewajarnya. Tapi kemudian dia merasa perutnya seperti dikocok-kocok. Alhasil dia segera berlari meninggalkan Laras. Laras yang kebingungan memilih mengikuti Fahmi saja yang ternyata masuk ke toilet. Dan dia tidak tuli untuk mendengar kalau Fahmi muntah-muntah di dalam sana. Sejenak rasa bersalah langsung bersarang di hatinya.
"Pak! Pak Fahmi enggak kenapa-napa?" Laras langsung mendekati tubuh Fahmi yang tampak lemas dan berjongkok di tanah.
"Iya. Saya enggak apa-apa."
Bugh! Bugh!
Fahmi terkejut karena Laras tiba-tiba memukuli lengannya. Baru pertama kali ini ada perempuan yang berani berbuat seperti itu. Tapi anehnya, dia tidak menegur atau pun marah.
"Haish! Pak Fahmi gimana sih? Kalau punya acrophobia kenapa enggak bilang-bilang tadi? Kan jadinya pak Fahmi kenapa-napa gini." Fahmi diam, dia juga tidak tau kenapa mau saja diajak Laras. Alasan kasihan? Mungkin kurang tepat. Ajakan teman bahkan keluarganya saja kalau berkaitan dengan hal ketinggian dia langsung menolak.
Seperti sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Laras langsung menatap horor ke arah Fahmi. Takut-takut kalau atasannya ini akan marah. Jadilah dia mengusap-usap lengan Fahmi yang sempat dia pukuli tadi.
"Ya ampun Pak! Maaf! Saya nggak sengaja tadi! Maaf ya Pak! Tolong jangan sampai saya enggak dilulusin! Saya khilaf tadi Pak! Suwer deh!" Bukannya marah, Fahmi malah tertawa melihat muka lucu Laras ketika memelas.
"Saya enggak marah kok. Kamu tenang saja." Tiba-tiba jemari Fahmi mengusap puncak kepala Laras dengan lembut. Dan Laras langsung merona dengan sendirinya. Ayolah! Siapapun perempuan pasti akan meleleh diperlakukan seperti itu. Apalagi pelakunya adalah direktur tampan nan pintar semacam Fahmi.
"Ekhm! Maaf!" Fahmi langsung menarik lagi tangannya dan ia masukkan ke saku celananya. Dia kemudian berdiri dan diikuti oleh Laras. "Sudah malam, sebaiknya saya antar kamu pulang."
"I-iya Pak." Dengan malu-malu Laras mengikuti langkah Fahmi menuju mobil mereka yang terparkir.
*****
Hati memang tidak pernah ditebak. Ketika pikirannya menolak, mulutnya berkata tidak, tapi rasa itu tidak pernah bohong. Fahmi kini mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada sosok Laras. Awalnya cukup sulit untuk mengakui cinta itu, tapi hanya melihat melihat senyum Laras saja sudah membuat dia turut bahagia. Rasa ingin selalu membahagiakan juga tak ingin melihat dia menangis sudah cukup untuk Fahmi mendefinisikan cinta.
"Pak Fahmi memangnya sekarang tidak sibuk mau gabung saya makan siang sekarang?" Dan sedihnya lagi dia masih belum mengungkapkan perasaannya ke Laras.
"Iya tidak apa-apa." Fahmi pun mengambil duduk di depan Laras yang duduk sendiri di kantin.
"Teman-teman kamu ke mana?"
"Ohh, mereka lagi makan di luar. Saya enggak ikut."
"Kenapa?"
"Karena ini." Laras mengeluarkan sebuah kotak besar dari paper bag yang tadi ia bawa.
"Tiap hari kamu bawa bekal sendiri?"
"Ya enggak tiap hari juga Pak. Kalau sempat aja sih. Bapak mau coba?"
"Boleh." Hitung-hitung untuk mencoba masakan calon istrinya. Eh, percaya diri sekali Fahmi berpikir begitu. Padahal dia saja masih takut mengungkapkan perasaannya.
Kemudian dari paper bag yang sama Laras mengeluarkan piring plastik juga sendok lagi. Kalau dia bawa bekal selalu membawa cadangan alat makan, siapa lagi kalau untuk berbagi dengan temannya. Berhubung sekarang teman-temannya sedang makan di luar, jadilah sekarang dia membaginya dengan Fahmi.
"Gimana Pak rasanya?"
"Enak," ujar Fahmi tulus sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Oh ya Ras, setelah lulus ujian kamu mau ke mana? Langsung kerja atau nerusin residen?"
"Langsung kerja aja Pak. Enggak kuat saya kalau mau ambil spesialis. Dokter umum aja udah cukup, hehehe."
"Ohh gitu. Di rumah sakit mana?" Memang benar, cinta itu bisa merubah seseorang. Fahmi yang notabenenya tidak pernah banyak tanya dengan urusan pribadi seseorang mendadak menjadi penasaran, terlebih lagi dengan Laras.
"Yang dekat-dekat rumah saya aja Pak. Di Semarang sana."
"Uhukk!" Hampir saja Fahmi menyemburkan nasi yang sudah di dalam mulutnya. Segera dia menelannya dan bertanya. "Semarang Jawa Tengah?"
Pertanyaan yang meluncur dari mulut Fahmi langsung ditanggapi tawa oleh Laras. Lucu sekali pertanyaan Fahmi ini. "Iya lah Pak. Sejak kapan Semarang pindah ke Jawa Timur."
Dan makanan yang terasa sangat enak di lidah Fahmi mendadak menjadi hambar. Ditambah lagi masa koass Laras yang kurang dua minggu lagi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya tanpa melihat Laras. Karena merasa sudah kenyang, Fahmi langsung berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada Laras. Mood-nya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Untuk saat ini dia hanya ingin sendiri di ruangannya. Dan dia juga berharap tidak ada pasien yang membutuhkan penanganannya langsung hari ini.
*****
"Hadehh! Kamu tuh ya Mi, udah tiga tahun loh ini. Enggak ada niatan buat nikah gitu? Umur udah genep tiga puluh bulat juga."
"Belum mikirin kaya gituan. Ndra."
"Kenapa? Masih belum move on dari Laras?" Pertanyaan tepat meluncur dari mulut Indra.
"Bisa dibilang begitu," jawab Fahmi jujur.
"Ya salah sendiri kaya banci. Cuma ngomong cinta doang takut ditolak. Sekarang si Laras udah balik kampung rasain! Makan tuh rindu!"
"Iya, ngaku kalau cemen. Terus sekarang gimana?"
"Ya samperin lah, terus ngomong kalau cinta. Jangan lupa diajak nikah. Orang kaya Laras itu maunya sama yang serius."
"Berarti harus ke Semarang dong? Terus rumah sakit siapa yang ngurus?"
"Elah, ribet amat. Tinggal ngomong ke sekretaris suruh nge-handle atau langsung bilang aja ke papa kamu mau nyari mantu buat dia. Pasti diizinin. Lagian siapa yang bilang kalau harus ke Semarang?" Ucapan Indra yang panjang macam kereta dan diakhiri dengan teka-teki itu membuat Fahmi bingung.
"Nih liat!" Indra menyodorkan ponselnya yang sudah membuka Instagram. Di layar itu terdapat akun Laras yang berisi fotonya tengah berlibur di Malang.
"Oke, jadi sekarang tinggal ngatur rencana lamarannya?
"Bener! Kalau menurutku sih buat seromantis mungkin. Kaya di pantai malam-malam terus candle dinner di tepi pantai. Pasti klepek-klepek deh si Laras." Karena Fahmi minim pengetahuan tentang romansa seperti ini, jadilah dia menurut saja.
"Ya udah, kalau gitu temenin beli apa aja buat nanti."
"Siiip!"
Mereka berdua kini tengah berada di toko bunga. Masih sibuk memperebutkan bunga mawar mana yang akan diberikan untuk Laras. Si Indra yang ngeyel dengan warna pink, dan Fahmi yang keukeh dengan warna putih. Keduanya memilih warna itu pun karena kesukaan masing-masing.
"Udahlah, terserah mau bunga apa aja, asal bukan bunga bangkai." Indra memilih mengalah dan memainkan ponselnya. Menunggu Fahmi yang masih sibuk memilih. Dan ketika ia membuka kembali instagramnya, suatu hal mengejutkan langsung menyapa matanya.
"Mi! Fahmi!" Dengan heboh Indra menghampiri Fahmi. "Nih liat! Enggak ada waktu lagi buat nyiapin rencana tadi."
"Arghss! Kok bisa gini sih?" Fahmi mengacak rambutnya frustasi.
"Ya enggak tau. Cepet samperin ke bandara sana! Keburu terbang nanti!"
"Oke-oke!" Akhirnya Fahmi asal memilih bunga dan segera membayarnya. Bersama Indra, dia menancap gas menuju bandara.
Dua orang itu kaang kabut akibat postingan Laras yang sudah berada di bandara. Fahmi yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya memilih untuk langsung bergegas.
Sampai di bandara Fahmi langsung berlari ke ruang keberangkatan. Mencari keberadaan pujaan hatinya. Keadaannya begitu dramatis bak film romantis. Dan hampir sama pula, akhirnya dia menemukan Laras tengah duduk di kursi tunggu. Perlahan Fahmi berjalan mendekatinya. Fahmi pun kini sudah berada di hadapan Laras.
Perempuan yang tengah sibuk bermain ponselnya juga menyumpal telinganya dengan ear phone itu mendongakkan kepalanya ketika mendapati seseorang tengah berdiri di depannya. Dan muka terkejutnya tidak dapat dihindarkan. Melihat seseorang yang diam-diam telah mencuri hatinya sejak ia pertama kali bertemu.
"P-pak Fahmi?"
"Laras. Saya cinta sama kamu. Menikahlah denganku!" Segera Fahmi berlutut menyerahkan sebuket mawar merah serta mengungkapkan perasaannya begitu jelas dan padat, tanpa pembukaan apa pun.
"P-pak Fahmi serius?" Fahmi mengangguk mantap.
"Iya. Saya mau Pak!"