
Mas Alif sudah duduk di depanku. Duduk dengan badan yang sempurna menghadapku. Irama detik jarum jam dinding di ruang tamu menjadi lagu latar belakang kami. Tangannya menggenggam jemariku penuh hangat, mata indahnya itu menatapku penuh teduh.
"Mas janji akan cepat pulang Na. Paling lama sepuluh hari. Tapi Mas usahakan satu minggu sudah bisa pulang," ujar Mas Alif.
Aku menghela napas panjang. Kulepaskan genggaman tangannya dan memilih meremas gamisku. "Iya Mas. Aku izinkan kok buat pergi. Toh, kamu pergi juga buat kerja demi aku."
"Tapi raut muka kamu yang kaya enggak ikhlas gini membuat aku jadi berat meninggalkan rumah," katanya sambil kembali meraih jemariku.
Jelas aku enggak ikhlas. Menikah baru dua minggu dia sudah mau pergi. Kalau pergi keluar kota masih mending. Nah ini, dia mau pergi keluar negeri. Luar benua malah. Ya meski pun dia pergi ke Australia untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tersisa di sana. Tapi tetap saja aku sedikit tidak rela. Setelah tiga tahun menanti dan bertemu dua minggu lalu saat akad, sekarang dia sudah akan pergi lagi.
Aku memaksakan senyum agar terpatri di wajahku. "Lihat! Aku ikhlas kok!" Aku segera beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar.
Mengeluarkan koper lalu membuka lemari untuk memasukkan baju-baju Mas Alif. Pintu kamar berderit, mengisyaratkan seseorang masuk. Ditengah-tengah kesibukan tanganku mengemas baju, aku merasakan tangan kekar yang melingkari pinggangku. Membuat aktivitasku mendadak terhenti. Napasku langsung tercekat dan jantungku berdetak tidak karuan. Hatiku masih belum sepenuhnya terbiasa dengan perlakuan Mas Alif. Lihat saja, pipiku pasti sedang memerah.
"Sayang sekali. Padahal aku masih kangen sama kamu, tapi sudah mau pergi." Disandarkannya dagunya ke pundakku.
"Ekhm! Ya... kan emang sudah waktunya buat kerja lagi." Aku melonggarkan pelan tangannya untuk kembali melanjutkan kegiatanku. "Gih tidur! Besok pagi kan mau take off."
"Hmm." Aku merasakan dia mengecup sekilas pundakku sebelum beranjak ke tempat tidur.
Segera aku mengemas baju serta perlengkapan yang Mas Alif butuhkan. Rasa kantuk juga perlahan menyerangku. Setelah selesai aku taruh koper itu di samping lemari dan turut beranjak ke tempat tidur, menyusul Mas Alif. Kubaringkan tubuhku menghadapnya lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh kami.
Tes!
Segera aku menyeka air mataku. Huh! Cenget banget!
Padahal ditinggal tiga tahun saja masih kuat. Masa ini cuma ditinggal satu minggu aja udah nangis duluan. Dasar cengeng kamu Na!
Setelah puas menikmati wajahnya yang tertidur lelap, buru-buru aku membalikkan badan. Tidak mau lama-lama melihat wajahnya lagi, takut jika aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Kurasakan kasur sediki bergoyang, lalun disusul oleh lengan kekarnya yang menarik tubuhku masuk ke dalam dekapannya.
"Jangan menangis! Aku berjanji akan menyelesaikan ini secepat mungkin," katanya sambil mengecup pelan puncak kepalaku.
Aku langsung membalikkan badan dan mendekapnya erat. "Berjanjilah."
"Hmm."
Lantas aku mendongak untuk melihat wajahnya, lalu tersenyum. "Ya sudah. Ayo tidur!" ajakku.
"Enggak mau."
Aku mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Night kiss-nya belum." Hmmm. Kukira apa. Rupanya dia menggodaku.
"Enggak! Ayo cepet tidur!" Tidak dapat kusembunyikan jika aku tengah malu sekarang. Memilih memutus kontak mata di antara kami.
"Ya sudah. Kalau istriku enggak mau kasih night kiss-nya, biar aku sendiri yang kasih."
Cup!
Bibir hangatnya mencium pipiku sekilas. Sontak saja rasa panas langsung menjalar di seluruh wajahku. "Selamat tidur istriku!"
Aku menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Menyesap aroma tubuhnya yang akan kurindukan beberapa hari ini. "Selamat tidur!" lirihku.
*******
"Huaaahh! Bosan!"
Baru dua jam ditinggal, rasa bosan sudah menggerogotiku. Andai saja ini hari-hari biasa, pasti pagi-pagi begini aku sudah sibuk dengan aktivitasku sebagai guru bahasa Inggris di salah satu Sekolah Menengah Pertama di sini. Masalahnya ini adalah akhir pekan, di mana aku diistirahatkan dari pekerjaanku. Dari tadi aku melirik jam dinding yang berdetak seolah-olah sangat lambat, ingin mempermainkanku.
Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi rumah mama dan papaku saja. Sekalian untuk mengambil Jimmy, kucing peliharaanku. Kalau begitu aku bergegas naik ke lantai dua untuk bersiap-bersiap. Tidak sampai setengah jam aku sudah siap dengan gamis bermotif flora dengan pashmina berwarna hijau lengkap dengan sling bag hitamku.
Setelah tiga hari menginap di rumah orang tuaku, Mas Alif langsung memboyongku ke rumah baru. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Cukup nyaman dan sederhana. Dan fakta menarik lainnya, rumah kami berdekatan dengan rumahnya Astri dan Rangga. Hanya berjarak tiga rumah saja. Padahal kata Mas Alif dia merencanakan semua ini, suatu kebetulan yang tidak diduga.
Tapi tidak mungkin juga kalau saat ini aku mau pergi ke rumah mereka. Pasti mereka tengah menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Aku berjalan menuju garasi dan mengeluarkan scoopy kesayanganku, tidak ingin mengendarai mobil. Maklum, jalanan Kota Malang ini sangat tidak bersahabat jika menggunakan mobil.
Sekitar setengah jam kemudian aku telah sampai di rumah yang telah menaungiku selama dua puluh empat tahun. Kedatanganku bukannya disambut gembira oleh mamaku, tapi malah disambut oleh raut bingung di balik wajahnya.
"Ya Allah Nala! Kamu ngapain pulang? Mana Alif? Kamu berantem ya?!" Belum juga aku mengucapkan salam, mama sudah mencercaku dengan berbagai pertanyaan.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Mama menyambut uluran tanganku untuk kucium.
"Alif mana?"
"Kerja Ma. Keluar negeri, lama! Nala bosen di rumah, jadi ke sini."
"Uluh-uluh! Anak mama kasihan banget! Baru nikah udah ditinggal kerja jauh. Enggak bisa kelonan dong nanti malam."
"Ish! Mama ih!" Aku langsung berlari ke rumah, menghindari godaan mama.
"Ma! Ajarin Nala buat kue yuk!" ajakku setelah mama menyusulku ke dalam.
"Enggak ah. Nanti dapur Mama kebakaran lagi."
Huft!
Aku pikir mama sudah melupakan kejadian beberapa tahun lalu, rupanya tidak. Waktu itu aku masih kelas dua SMA. Iseng-iseng aku mencoba membuat kue yang kuperoleh resepnya dari internet. Entah kesalahan apa yang telah kubuat, yang jelas waktu itu oven tiba-tiba berasap. Aku yang berada sendirian di dapur itu tidak bisa berpikir panjang dan langsung menyiram seember air ke oven. Tidak tahunya malah timbul percikan api. Beruntung mama yang saat itu sudah kembali dari pasar langsung mengambil alat pemadam api ringan. Dan semenjak itu mama selalu menjauhkanku dengan oven.
"Itu kan dulu Ma! Sekarang kan Nala udah besar. Udah nikah malahan. Kan sekali-kali juga pengen buatin suami Ma!" rengekku akhirnya berhasil. Mama yang semula duduk di sofa kini beranjak pergi ke dapur.
"Kamu mau buat kue apa?"
"Kue kering aja Ma. Biar bisa buat ngemil."
"Yaudah sini. Bantu Mama!"
Kami berdua pun mulai berkutat di dapur. Tidak perlu berbelanja karena mama sudah punya semua bahan di dapurnya. Karena memang mama hobinya memasak, menular deh ke aku yang akhirnya memiliki hobi makan. Keu kering yang kubuat kali ini adalah kastengel dan nastar. Karena keduanya terbuat dari bahan-bahan yang mirip. Terlebih lagi aku adalah cheeseholic. Beberapa waktu kemudian oven berdenting, menunjukkan bahwa yang ada di dalamnya sudah siap. Ketika oven dibuka, aroma enak khas kue kering pun langsung menguar memenuhi indra penciuman.
"Coba satu ah!" Ku ambil satu buah kastengel dari loyang. "Akh! Ah! Panas! Sst! Panas!" Langsung kupaksakan kue itu untuk kutelan masuk ke tenggorokanku.
"Kamu itu, kebiasaan! Orang kuenya baru keluar dari oven juga sudah mau dimakan!"
Aku hanya bisa menyengir menanggapi omelan mama. "Habisnya baunya menggoda banget sih Ma!"
"Ck.ck.ck. ya sudah kamu ambil toples sana!"
"Oke Ma!"
"Oh iya!" Baru ingat. Sudah lama tidak mengunjungi sahabatku. Mumpung sekarang sedang akhir pekan, pasti dia sedang libur kerja.
"Kenapa Na?"
"Ma. Aku ke Rendi dulu ya! Sama mau ngasih kue ini." Tunjukku pada setoples kastengel hangat yang enak.
"Iya."
Dengan riang hati aku keluar rumah dan berjalan kaki sebentar. Sudah pernah kubilang bukan jika aku dan Rendi sahabat sejak kecil. Bahkan rumah kami saja berdekatan. Hanya berjarak beberapa rumah saja, aku telah sampai di rumah besar dan mewah milik keluarga Rendi. Niat hati selain ingin memberi kue ini juga ingin mengganggunya. Sudah lama tidak bergurau dengan anak yang satu itu. Terhalang jarak juga kesibukan membuat kami jarang meluangkan waktu bersama.
"Assalamu'alaikum!" ucapku tidak melupakan sopan santun dalam bertamu. Yah, meskipun kami sudah sangat akrab.
"Wa'alaikumsalam!" Mamanya Rendi menyambutku denhan gembira. Bahkan langsung memelukku. Sangat berbeda sekali dengan penyambutan mamaku tadi.
"Ish! Nala! Kamu kok lama banget enggak main ke sini sih!"
"Hehehe... iya Tan, maaf!"
"Eh, oh iya. Tante lupa, kan Nala sudah menikah. Pasti betah lah jauh dari rumah, kan ada suami tercinta." Haish. Tante ini tidaka ada bedanya sama mama. Suka banget menggodaku.
"Oh iya Tan, ini aku tadi buat kue. Dan ini buat Tante sama Rendi." Aku menyerahkan setoples kue yang kubawa ketika sudah memasuki rumah.
"Wahh! Makasih ya!" Tante langsung pergi ke dapur.
Suara langkah kaki menuruni tangga mengalihkan perhatianku. "Siapa Ma?" Suara bariton khas laki-laki itu membuatku menyunggingkan senyum.
"I am coming!"
Dia tampak terkejut melihatku sudah duduk manis di ruang keluarga. "Lah. Kamu Na? Tumben ke sini," katanya sambil duduk di sofa single depanku.
Aku duduk di sofa panjang, merebahkan tubuhku asal dan menenggelamkan wajahku dengan bantal sofa. "Huhuhu!!! Ditinggal Mas Alif kerja!!!"
"Elah. Manja amat! Wajar kan kalau suami kerja."
"Kerjanya jauh tau Ren! Ke Australia sana!"
"Ooh. Jadi LDR-an lagi?"
"Hmmm."
"Ya udah. Berhubung kamu di sini, bantu aku hafalan Na."
Mendengar hal itu membuatku bangkit dan duduk dengan semangat. Baru ingat jika sahabatku yang satu ini tengah menjalani misi untuk merebut hati calon mertuanya. Masih ingat waktu Rendu dengan percaya diri melamar Salma tapi pulang-pulang wajahnya langsung pias mendapat persyaratan dari ayahnya Salma.
"Sudah hapal berapa juz?"
"Masih empat. Kurang satu juz lagi dan aku bakal nyusul kamu naik ke pelaminan Na," katanya dengan percaya diri.
"Amin."
Rendi pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lalu kembali dengan alqur'an kecil di genggamannya. Sedangkan aku memilih membuka aplikasi berisi ayat-ayat Alqur'an di ponselku. Rendi rupanya bersungguh-sungguh untuk meminang Salwa. Buktinya sekarang dia bisa hapal hampir lima juz dalam Alqur'an. Padahal dulu dia sulit sekali untuk sekadar mengahap juz amma. Memanh kekuatan cinta bisa merubah segalanya. Syukurlah Rendi menjadi seseorang yang lebih baik.
Setelah hapalan, Rendi rupanya masih mengulangi lagi hapalannya yang awal-awal. Agar tidak lupa katanya. Aku pun mengiyakan. Ponsel yang semula membuka aplikasi Alqur'an itu sekarang membuka aplikasi chatting, dan memilih untuk melakukan video call dengan Salma.
Tidak butuh waktu lama, sambungan pun sudah terhubung. "Halo Na!"
"Salmaaa!!!" Aku melambai-lambai heboh di depan kamera. Tapi suaraku tidak terlalu kencang agar tidak mengganggu Rendi yang masih khusyu' dengan hapalannya.
"Lihat tuh! Calon suaminya lagi khusyu' baca qur'an," godaku ke Salwa dengan menghadapkan kamera ke arah Rendi.
"Apaan sih Na!"
"Ciee yang mukanya merah." Tidak menyangka jika menggoda orang bisa seseru ini.
"Aku matiin nih kalau kamu gitu terus!"
"Iya-iya." Aku akhirnya mengalah. Tidak lagi menggoda Salma.
"Kamu ngapain di rumah Rendi Na?"
"Ups! Apakah aku mencium bau-bau kecemburuan?" Takutnya jika Salma cemburu beneran.
"Enggaklah! Masa iya aku mau cemburu sama kamu."
"Lagi bosen di rumah Sal. Ditinggal Mas Alif kerja," kataku. Menyebut nama itu membuatku jadi tambah rindu. Mas Alif terakhir menghubungiku se-jam yang lalu waktu sudah sampai di kantornya sana.
"Oohh... gitu."
"Hmm. Kapan-kapan main ke rumah ya Sal!"
Kalau dipikir-pikir memang teman-temanku kebanyakan belum mengunjungiku di rumah baru. Masih Astri dan Rangga, itu pun karena mereka ternyata bertetangga denganku. Aku jadi dapat ide untuk mengundang teman-temanku untuk datang ke rumah. Hitung-hitung temu kangen.
"Iya Na. Tapi minggu depan ya? Kalau sekarang masih sibuk di rumah."
"Hmm... iya."
"Na. Sudah dulu ya, aku mau bantu-bantu ibuku dulu. Salam buat Rendi ya!"
"Rendi apa Mas Rendi?" Kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk menggodanya lagi.
"Ish! Kamu Na! Ya sudah. Aku tutup dulu ya, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Bebarengan dengan berakhirnya penggilan videoku dengan Salma, Rendi sudah selesai dengan kegiatannya. Ditaruhnya alqur'an itu ke lemari di samping tv. Dan kembali duduk menghadapku. "Video call-an sama siapa Na?"
"Sama calon istrimu tuh," kataku.
Eh. Malah Rendi mesem-mesem sendiri sambil menyalakan televisi. "Dih Ren! Muka kamu enggak cocok tahu sok malu kaya gitu!"
"Lah. Biarin!"
"Iyain deh buat yang lagi kasmaran."
"Nah. Tuh tahu!"
Beberapa menit berlalu aku dan Rendi memilih untuk menonton televisi dengan bercerita ringan. Kadang juga berbagi masalah dan pendapat. Ditemani dengan kastengel buatanku yang dibawakan mamanya Rendi ke sini, kita berdua menghabiskan waktu dengan mengingat-ingat kembali kenangan masa kecil dulu. Tidak lupa juga dengan ejekan-ejekan yang mewarnai perbincangan ini.