
Sudah menjadi kebiasaan di setiap pagi, setelah shalat subuh Mas Alif selalu membacakan surat-suratan dalam Al-quran. Dan aku dengan senang hati mendengarkan dan mengikuti bacaan Mas Alif. Kita berharap agar kelak anak-anak dalam kandungan ini dapat menjadi anak-anak yang sholeh atau sholehah dan berakhlaq Al-quran. Iya, anak-anak. Karena rupanya aku tengah mengandung bayi kembar.
“Shadaqallaahal ‘adziim.” Aku dan Mas Alif mengakhiri bacaan Surat Al kahfi.
Seperti biasa, dia akan mengusap lalu mencium perutku yang sudah terlihat membesar ini. Dan karena mengandung bayi kembar, jadilah besarnya perutku sudah seperti ibu hamil delapan bulan. Tidak terasa usia kandunganku sudah memasuki bulan keenam. Dan ketika aku melakukan check-up kandungan, keadaanku dan calon bayi-bayiku ini syukur Alhamdulillah dalam keadaan sehat.
“Assalamualaikum calon anak-anaknya Abi! Sehat-sehat ya di dalam sana!” kata Mas Alif mengajak berbicara si jabang bayi di dalam perutku.
“Wa’alaikumsalam Abi! Dedek semua di sini sehat kok!” aku yang menjawab dengan menirukan suara khas anak kecil. Membuat Mas Alif dan diriku sendiri tertawa.
“Ya sudah, aku mau nyiapin air hangat buat kamu mandi,” kataku lalu melepas mukena yang kupakai.
“Enggak usah Sayang! Biar aku aja.” Dan seperti biasa pula, Mas Alif selalu menolak perhatianku.
Semenjak perutku sudah membesar Mas Alif mulai menunjukkan sikap protektifnya. Dari tidur sekarang di kamar tamu agar aku tidak capek naik turun tangga. Dilarang melakukan kegiatan berat seperti berkebun dan membereskan rumah lagi. Mas Alif sempat menyarankan untuk menyewa asisten rumah tangga. Tapi kutolak usulannya itu. Selain karena butuh waktu untuk terbiasa dengan orang baru, selagi aku masih bisa mengerjakan tidak perlu menyewa ART segala. Alhasil Mas Alif lah yang selalu mengerjakan kegiatan bersih-bersih rumah.
Mas Alif kemudian keluar untuk mandi, karena di kamar tamu ini tidak dilengkapi toilet di dalamnya. Biasanya jam sekarang aku akan memasak, tapi entah kenapa hari ini rasanya malas sekali. Apa mungkin efek hari Minggu yang identik dengan hari malas-malas nasional? Hmm. Mungkin iya.
Jadi aku memilih untuk berbaring di atas kasur sambil bermain ponsel. Kemudian mengecek pesan-pesan yang masuk semalam, setelah itu barulah membuka akun instagramku. Isi riwayat kolom pencarianku mayoritas adalah resep-resep makanan. Jadilah banyak foto atau video tentang masakan yang muncul di berandaku. Pagi-pagi melihat postingan makanan membuat selera makanku tergoda.
“Loh, Sayang? Kamu enggak masak?” tanya Mas Alif yang sudah berganti baju dengan pakaian olahraga.
“Lagi malas nih Mas. Kamu sarapan pakai roti aja ya?” jawabku seadanya dengan mata yang masih fokus di layar ponsel dan tangan yang sibuk menggulir layar.
“Iya. Enggak apa-apa,” katanya.
“Maaf ya Mas!”
“Hmm... oh iya, aku habis ini mau jogging. Kamu jaga rumah ya!” pamitnya.
“Tunggu!” Dengan susah payah aku mencoba bangkit dari tidurku. Beruntung Mas Alif dengan sigap membantuku. “Aku mau ikut!” pintaku.
Sebenarnya kandunganku sudah kuat jika dibuat untuk jalan-jalan, tapi Mas Alif aja yang lebay tidak memperbolehkanku. Tapi akhirnya kata dokter waktu check up kemarin mengentahkan ketakukan Mas Alif.
“Iya. Kamu ganti baju dulu gih sana!” Benar kan. Mas Alif sekarang bisa membolehkan.
Segera aku beranjak dari tempat tidur dan berganti baju. Berkat perut buncitku ini sekarang apa pun yang kulakukan akan mememakan waktu yang lumayang lama. Contoh kecilnya saja ketika ganti baju yang sekarang bisa memakan waktu sampai sepuluh menit.
“Ayo Mas!” ajakku ke Mas Alif yang sedang membaca koran di ruang tamu.
Di teras rumah aku melihat Mas Alif dengan santainya memakai sepatu. Sedangkan aku berusaha mati-matian hanya sekadar untuk memasang kaos kaki. Perutku menghalangi tanganku untuk meraih ujung kakiku.
“Haish!” Jadi kesal sendiri dari tadi masang kaos kaki tapi enggak bisa-bisa.
Mendengar lenguhanku membuat Mas Alif menoleh, dan beranjak menghampiriku. “Sini biar aku bantu!”
Mas Alif menuntunku untuk duduk di kursi karena tadi aku selonjoran di lantai. Dengan telaten dia memasangkan kaos kaki di kedua kakiku, lalu mengambilkan sepatuku di rak.
Cup!
Kucium keningnya yang tengah mengerut karena fokus menyimpulkan tali sepatuku. “Makasih ya Mas!”
Hal yang serupa dia lakukan. Mengecup punggung telapak tanganku dan tersenyum tulus padaku sebagai jawaban terima kasihku.
“Sudah!” katanya lalu meraih tanganku untuk berdiri.
Dengan bergandengan tangan kita berdua berjalan meninggalkan pekarangan rumah. Rutenya cukup memutari komplek saja, tidak sampai ke jalan besar. Tapi meski pun begitu, masih berjalan satu putaran saja sudah membuat napasku terengah-engah. Mas Alif yang lari-lari kecil di sampingku menyadari hal itu.
“Kamu capek Yang?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala. “Ya sudah, istirahat bentar.”
Ajakan Mas Alif kutolak dengan gelengan kepala, membuat dahinya mengerut kebingungan. “Kenapa enggak mau?”
“Aku maunya tetap jalan,” jawabku.
“Katanya tadi capek? Kalau capek ya istirahat lah Sayang. Jangan dipaksakan!” kata Mas Alif menggandeng tanganku hendak membawaku ke tepi jalan untuk istirahat.
“Iiih! Enggak mau istirahat Mas!” Orang ini ngeyel banget sih! Udah dibilang mau tetap jalan tapi maksa buat istirahat. Kan bukan salahku kalau kutepis tangannya.
Tampak Mas Alif menghela napas lelah. Mungkin lelah menghadapiku? “Terus sekarang mau kamu gimana?”
“Gendong!” ucapku semangat sambil merentangkan kedua tanganku lebar-lebar.
Mata Mas Alif langsung melotot begitu setelah mendengar permintaanku. “Apa? Gendong?!” tanyanya dengan nada terkejut.
“Iya. Kan bisa aku bisa tetap menyelesaikan putaran meski pun capek.” Ini yang kumaksud dari tadi.
Mas Alif tampak berpikir sebentar. Seperti mempertimbangkan keputusan yang berat. Lalu pandangannya melihatku dari atas ke bawah. Jangan bilang dia tengah menilai berat badanku?!!! Kok jahat benget sih! Kan secara enggak langsung berpikir kalau aku gendutan. Padahal berat badanku cuma bertambah lima belas kilo kok.
“Mas!” panggilku karena dia lama banget berpikirnya. “Ayo gendong! Atau aku nangis nih?!” ancamanku rupanya berhasil. Dia mulai mendekatiku lalu menggendongku ala bridal style.
“Kok gendong depan sih? Kan aku pengennya gendong belakang!” protesku.
“Kamu enggak mikirin nasib perut kamu? Kalau gendong belakang bisa-bisa dedeknya kejepit.”
“Oh iya ya,” kataku lalu menyengir lebar.
Dengan langkah pelan tapi pasti Mas Alif menggendongku untuk untuk melakukan satu putaran lagi. Sedangkan dia tengah berusaha sekuat tenaga, aku terus menyemangati dalam gendongannya. Sesekali mengusap peluhnya yang bercucuran sangat deras. Perjalanan hampir usai, dari sini sudah bisa kulihat gerbang rumahku.
Ketika melewati depan rumahnya Rangga dan Astri, tampak mereka bersama Lia baru memulai untuk berolahraga. Rangga dan Astri yang berjalan-jalan kecil, dan Lia yang berjalan pelan sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya.
“Ciiiee!! Masih pagi udah pamer keromantisan aja Buk!” teriak Astri yang menyindirku.
“Ciiee yang iri! Suruh Rangga yang gendong sana!” balasku tidak mau kalah.
“Haish!!! Mana kuat aku gendong dia Na. Sekarang udah gendutan,” kata Rangga menunjuk ke arah Astri, bertujuan untuk menggodanya.
Tapi satu hal tidak Rangga sadari, yaitu jangan pernah bercanda atau membahas berat badan di depan seorang wanita. Itu tuh hal yang sensitif banget tahu gak?! Lihat aja tuh si Astri. Mukanya sudah masam begitu menanggapi candaannya Rangga. Alamat akan ada perang dunia ketiga nih.
“Oooh gitu. Sekarang aku gendutan ya?” kata Astri mengulang perkataan Rangga.
Rangga yang bingung karena candaannya salah ditanggapi hanya bisa nyengir lebar sambil mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya di udara. Tanda damai. “Becanda kok Yang!”
“Ya udah. Kalau gitu kita pamit mau lanjut ya! Kalian terusin berantemnya di rumah!” pamitku. Aku menepuk-nepuk dada Mas Alif agar segera berjalan cepat. Meninggalkan keluarga yang sedang memanas itu.
Tapi rasanya aku juga penasaran dengan kelanjutannya. Akhirnya kepalaku timbul di balik pundak Mas Alif untuk mengintip apa yang terjadi selanjutnya. WAAHH! Benar. Astri udah enggak mood lagi kayanya. Kelihatan dari sini dia mengajak Lia untuk kembali masuk ke rumahnya. Meninggalkan Rangga sendirian di depan gerbang.
“Minum Mas!” Aku menyerahkan segelas airke arahnya.
Dan dalam sekali minum, air yang memenuhi gelas besar itu langsung tandas tak bersisa. “Makasih ya Sayang!”
“Iya.”
Dalam keheningan, tiba-tiba terdengar suara perutku yang kerocongan. Meronta ingin diberi makan. Baru sadar kalau sebelum jalan tadi aku belum sarapan. Mas Alif yang memjamkan mata sambil bersandar di kursi itu juga membuka mata dan melihat ke arahku. “Kamu belum sarapan tadi?” tanyanya.
“Belum Mas. Tadi terlalu semangat, jadi habis ganti baju langsung berangkat deh.”
“Kamu itu!” Mas Alif gemas sendiri sampai-sampai mengacak puncak kepalaku dan membuat jilbabku berantakan.
“Ya sudah, aku pesankan makanan dulu ya!” katanya lalu siap-siap memesan Gofood.
“Eh! Jangan-jangan Mas!”
Mendengar laranganku membuatnya mengerutkan dahi dan bertanya mengapa padaku.
“Aku enggak pesen makanan di situ,” jawabku.
“Terus maunya apa? Datang langsung ke tempatnya?” tawarnya yang langsung kuangguki dengan semangat.
“Ya udah, kalau gitu aku siapin mobilnya dulu.” Mas Alif kemudian beranjak dari duduknya untuk pergi ke garasi. Lalu mengeluarkan mobil untuk siap digunakan.
Dia kemudian membantuku masuk ke mobil, lalu dengan romantisnya memasangkan seatbelt-ku. Suatu perhatian kecil yang menyentuh hatiku. Haissh!
“Kamu mau makan di mana?” tanyanya setelah mobil keluar dari area komplek.
“Mau ke taman!” seruku.
“Ke taman? Ngapain?”
“Ya makan lah Mas. Masa mau salto di pinggir jalan,” jawabku ketus.
“Hasihh! Kamu ini!” dia hendak mengacak lagi ujung kepalaku. Tapi segera aku menghindar, tidak mau jilbabku berantakan lagi.
“Iya tahu mau makan, tapi kenapa harus di taman?” ujar Mas Alif.
“Mau makan mie ayam yang dijual di dekat sana.” Iya, masih ingat kan dengan mie ayam dan bakso yang kumakan bersama Iren dan Tika beberapa bulan lalu? Nah. Semenjak itu aku jadi sering beli di situ dan menjadi pelanggan setianya.
“Nah. Bilang gitu dong dari tadi,” kata Mas Alif lalu mulai menambah kecepatan agar segera sampai di taman.
Sesampainya di area taman dan Mas Alis sudah menepikan mobilnya, aku segera mengajaknya untuk menghampiri tempat si bapak penjual mie ayamnya. Tapi wajahku langsung pias ketika tidak mendapati gerobak mie ayam yang biasa aku datangi. Di sana hanya berjejer orang yang menjual segala macam jenis bubur dan jagung rebus.
“Enggak ada ya?” tanya Mas Alif seakan mengerti arti di balik raut sedihku.
“Iya.”
“Biasanya kalau orang jual mie ayam atau bakso itu sekitar sore sampai malam, jarang ada yang jual di pagi hari seperti sekarang ini.”
Kata Mas Alif ada benarnya juga. Biasanya aku membeli juga pas pulang dari mengajar. Dan itu sudah agak sorean.
“Tapi aku mau mie ayam itu Mas!” rengekku padanya. Rasanya hatiku cuma pengen makan itu, bukan yang lain. Apa mungkin ini ngidam ya?
“Kalau gitu kita ke sini lagi sore nanti ya? Sekarang kita cari makan yang lain aja.”
“ENGGAK! Aku maunya sekarang!!”
“Tapi kan-,”
“Pokoknya sekarang!” segera aku memotong ucapannya agar tidak lagi memberi alasan.
Akhirnya Mas Alif menyanggupi permintaanku. Dia berjalan mendekati salah satu penjual bubur kacang hijau untuk bertanya apakah kenal dengan bapak si penjual mie ayam. Setelah berbincang agak lama, Mas Alif sudah mendapatkan info alamat bapaknya. Ternyata rumahnya tidak jauh dari sini.
“Ayo berangkat!” seruku semangat.
Dari alamat yang diberitahu, sepertinya mobil kita sudah dekat. Tapi sayangnya ada gang kecil yang tidak bisa dilalui mobil. Alhasil, kita berdua berjalan menyusuri gang dan akhirnya bisa sampai juga. Aku tahu karena di depan rumah bercat hijau itu sudah ada gerobak yang sangat kukenal terparkir di sana.
“Assalamu’alaikum!” ucapku dan Mas Alif bersamaan.
Samar-samar aku mendengar sahutan dari dalam, kemudian disusul dengan pintu yang mulai terbuka lebar. Tampak wanita paruh baya berdiri dengan muka bertanya-tanya. “Maaf, ada apa ya?”
Mas Alif segera mengutarakan maksud kedatangan kita. Si ibu yang mendengar cerita Mas Alif hanya bisa senyum-senyum lalu menoleh ke arahku yang menjadi sumber pembicaraan.
“Istrinya lagi ngidam itu Mas! Untung segera dituruti,” kata si ibu lalu mempersilakan kita masuk.
“Itu, Bapak lagi masih buat bakso di dapur. Masnya sama Enengnya tunggu di sini ya!” ujarnya lagi mempersilakan kita duduk di kursi ruang tamunya.
“Emm.. Bu, kalau mau lihat Bapak buat baksonya boleh enggak Bu?” tanyaku.
“Boleh kok. Ayo ikut Ibu kalau gitu.”
Aku dan Mas Alif mengikuti langkah Ibu. Benar saja, ketika hampir mendekati dapur aroma sedapnya daging bakso bercampur kuah langsung menguar. Si bapak yang tengah membuat bakso langsung terkejut dengan kedatanganku.
“Loh. Neng Nala? Kok bisa ada di sini?” tanyanya.
“Ini loh Pak. Si Enengnya lagi ngidam mie ayam buatannya Bapak.” Si ibu rupanya yang menjawab.
“Oalah gitu.” Si bapak kemudian melihat ke arahku dan Mas Alif. “Ya sudah, Bapak langsung buatkan kalau begitu.”
Berhubung si bapak yang membuatkanku mie ayam, gantian ibu yang membuat baksonya. Tidak butuh waktu lama dan dua mangkok mie ayam untukku dan Mas Alif sudah siap. Sambil makan langsung dari dapurnya, sesekali aku menimpali kelakar si bapak yang menggodaku dan Mas Alif.
“Terima kasih ya Pak!” pamitku karena sudah menghabiskan dua mangkok mie ayam, rupanya tadi aku masih menambah seporsi lagi. Membuat Mas Alif geleng-geleng kepala.
“Iya. Nanti kalau ngidam lagi jangan sungkan datang ke sini,” kata si bapak ramah.
“Tentu Pak. Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu saya sama istri pamit pulang dulu,” ucap Mas Alif lalu berjalan menggandengku keluar rumah.
“Iya. Hati-hati di jalan ya kalian!” kata si ibu ikut mengantarku dan Mas Alif sampai depan pintu.
“Kita pulang dulu, Assalamu’alaikum!” Aku dan Mas Alif segera mengundurkan diri dan berlalu dari rumah si bapak. Menyusuri gang kecil lalu untuk sampai di mobil, lalu pulang untuk mengistirahatkan diri.