
Cantik? Iya. Tanpa bantuan make up pun kecantikannya masih terpancar jelas.
Body goals? Sudah pasti. Sehingga banyak perempuan yang iri padanya.
Pintar? Tentu, jurusannya saja bukan main susahnya.
Kaya? Sudah tidak perlu diragukan lagi.
Banyak teman? Hmm, ini yang perlu dipertanyakan.
Karena bagi Sita, tidak ada teman yang benar-benar tulus berteman. Untuk orang yang baik di depan dan mengatainya di belakang, maka Sita tak menyebut mereka teman. Dan kalau begitu, maka segelintir teman yang ia punya.
"Sita!" panggil seseorang dari belakang ketika Sita baru saja keluar dari kelasnya.
Tanpa membalikkan badan saja Sita sudah hapal siapa yang memanggilnya. Maka dari itu dia segera berhenti dan berbalik badan. "Iya Pak? Ada apa?"
"Kan kita udah enggak di kelas. Ya jangan panggil pak lagi lah! Padahal saya belum kelihatan tua lho."
Kan situ emang udah tua. Enggak nyadar apa kalau mau kepala tiga? batin Sita menggerutu.
"Hei! Sita?"
"Eh, iya Mas. Mas Tirta ada perlu apa?" tanya Sita lagi pada pria pemilik tubuh jangkung dengan rahang tegas dan brewok tipis di depannya.
Namanya Tirta. Berumur delapan tahun lebih tua dari Sita. Dosen muda, kharismatik, dan tampan pula. Maka tak heran kalau gerak-geriknya menjadi sorotan khususnya bagi sebagian besar mahasiswi. Dia menaruh hati pada Sita, mahasiswinya sendiri. Tapi lain halnya dengan Sita yang tak merasakan perasaan yang sama dengan Tirta. Dia menganggap hubungan mereka hanya sekedar dosen dengan mahasiswi, hanya itu. Segala pesona Tirta tidak membuat Sita terkesan sedikit pun. Malah ketika bersama Tirta, Sita merasa sedikit risih karena banyak pasang mata yang meliriknya sinis. Tapi sepertinya Tirta tidak merasa, atau bahkan tidak mau tau kalau Sita merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
"Kamu habis ini mau pulang atau gimana?"
"Enggak Mas, habis ini masih ada kelas lagi."
"Oh, ya udah kalau gitu ke kantin bareng gimana?" Hmm, sudah Sita duga pasti begini. Hampir setiap Tirta mengajar kelasnya, pasti setelah itu mengajak makan bersama. Entah itu di kantin fakultas atau pun di tempat makan luar kampus.
"Enggak usah Mas! Enggak enak jadinya," jawab Sita sambil sesekali menundukkan kepalanya karena malas melihat tatapan sinis dari mahasiswi yang lewat.
"Kapan sih kamu ngerepotin? Enggak kok. Cuma nraktir makan siang aja enggak buat saya bangkrut. Kecuali kalau kamu makannya banyak."
"Ahahaha." Sita menanggapi lawakan garing dosennya itu dengan tawa terpaksa.
"Jadi gimana?"
"Iya, terserah Mas Tirta aja."
"Di kantin aja ya? Nanti biar kamu enggak telat masuk kelasnya."
"Hmm."
Makan siang mereka berdua selain ditemani oleh tatapan itu oleh banyak kamu hawa, yang pasti ditemani dengan menu makan siang yang sebenarnya. Sengaja Sita memesan banyak makanan agar Tirta merasa ilfeel padanya dan tidak lagi mendekatinya. Tapi bukan reaksi jijik yang Tirta keluarkan, malah dia semakin gemas dengan Sita.
"Makan yang banyak ya! Atau kamu mau nambah lagi?"
"Enggak! Enggak usah Pak! Eh, Mas. Udah cukup kok." Padahal dirinya sedari tadi menahan perutnya yang rasanya sudah mau meledak saja. Kalau begini namanya senjata makan tuan. Mau mengerjai tapi dirinya sendiri yang kesusahan.
*****
"Pantes nilainya bagus, orang dosennya aja dipepet terus."
"Enak ya jadi dia? Gampang banget dapet nilai bagus."
"Heleh, palingan juga tiap malem kerjaannya nyervis tuh dosen."
"Dibayar berapa tuh per jamnya?"
"Hussst! Jangan kencang-kencang! Entar orangnya dengar."
"***** mulutnya!!! Kalian ngomong gitu orangnya denger kali! Mulutnya belum pernah dicium sepatu apa gimana nih? Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau mulutnya enggak disekolahin! Buang-buang duit aja!" Entah datang dari mana tiba-tiba Gea ada di belakang Sita dan memarahi cewek-cewek yang sibuk menggosipkan Sita di sepanjang koridor. Dan Sita tak perlu menanyakan lagi kemana saja Gea hingga datangnya baru sekarang dan tidak ikut kelas Pak Tirta siang tadi, tentunya ikut membolos dengan Radit.
"Udahlah Ge, enggak usah ditanggepin." Sita menarik lengan Gea agar tidak memperpanjang masalah dan memilih menuju kelas mereka saja. Tapi bukan Gea namanya kalau berhenti di situ saja. Melihat temannya dijelek-jelekkan tentu saja membangkitkan jiwa bar-bar nya.
"Apa kalian liat-liat?!!! Mau aku colok tuh mata satu-satu?!!!" Melihat Gea seperti beruang mengamuk membuat gerombolan cewek murah kerjaan itu membubarkan diri.
"Udah lah Ge. Ngapain sih ngamuk-ngamuk gak jelas gitu? Malu tau dilihatin orang-orang."
"Biarin. Orang kaya mereka itu harus dikasih pelajaran. Biar enggak asal ngebacot aja tuh mulut! Kamu juga! Kenapa cuma diem aja sih? Mereka kan tambah ngelunjak jadinya."
"Males. Buang-buang waktu dan tenaga aja," jawab Sita dengan santainya.
"Sumpah ya! Rasanya pengen kutendang mereka sampe Pluto sana!" Gea masih saja belum menuntaskan amarahnya.
"Pluto kan udah di hapus dari tata surya Ge. Lagian kejauhan juga."
"Biarin. Biar mereka hilang dari semesta ini sekalian. Empet ngeliat orang kaya mereka."
"Heleh! Udah ah! Ayo ke kelas aja!"
"Nanti! Aku masih marah nih, butuh pendinginan. Ke kantin dulu yuk! Beli es," ajak Gea kemudian sambil menarik lengan Sita menuju ke arah kantin yang berlawanan dengan arah kelas mereka.
"Lah, kelas kan habis ini mau dimulai Ge!"
"Udah gak papa! Pak Hendro juga biasanya telat masuk."
Begitulah kehidupan Sita yang selalu dikelilingi oleh tatapan sinis dari orang-orang di sekitarnya. Pernah sekali dia bertanya-tanya, dan berakhir mendapat jawaban yang lumayan masuk akal dari Gea. "Biasalah, pemikiran cewek yang sirik aja kerjaannya. Liat ada cewek seksi cakep aja langsung mikirnya itu cewek enggak baik-baik.
Memang dia tidak bisa menghentikan orang lain untuk mencibirnya, tapi dia masih punya dua tangan untuk menutup telinga. Beruntungnya lagi ada teman seperti Gea yang selalu mendukung dan memberi semangat, meski pun blak-blakan tapi Gea tak pernah mengkhianatinya.
*****
Empat tahun berlalu dan kini Sita bersama sahabat baru yang dia kenal berkat progam KKN yang mereka ikuti telah wisuda di hari yang sama. Senyum merekah selalu menghiasi wajah mereka. Lega akhirnya bisa terlepas dari tugas yang memusingkan juga bertatapan dengan dosen killer. Tapi itu hanya untuk mahasiswa di fakultas lain. Akan beda ceritanya dengan anak kedokteran yang masih panjang perjalanannya menuju titel seorang dokter yang sah di Indonesia.
Rupanya selain bayang-bayang pendidikan yang masih berlanjut panjang, bayang-bayang seorang Tirta juga masih menghantui Sita. Dosen yang satu itu bahkan sampai belum menikah padahal usianya sudah menginjak tiga puluh tahun. Tekadnya untuk memiliki Sita seutuhnya seakan menjadi prioritas utamanya. Masa bodoh dengan wanita pilihan mamanya yang silih berganti dikenalkan padanya namun selalu ia tolak. Kini, antara cinta dan obsesi hanya berbeda tipis di mata Tirta.
"Happy graduation Sita! Tapi jangan senang dulu! Habis ini masih ada jalan baru yang harus kamu lewati."
"Iya Pak, makasih," jawab Sita sambil menerima buket bunga yang sangat besar, bukan sampai penuh kedua tangan Sita untuk memegangnya.
"Mas!"
"E-eh, iya. Mas. Mas Tirta, hehehe."
"Nanti malam ada acara enggak Sit?" tanya Tirta penuh harap.
"Ada Pak. Eh Mas. Ada acara sama temen-temen."
"Penting tidak?"
"Ya penting lah! Pesta barbeque sama temen-temen lebih penting daripada jalan sama bapak!" batin Sita. Bukan percaya diri terlalu tinggi, tapi memang sudah hapal dengan dengan Tirta yang pasti akan mengajaknya keluar.
"Penting Mas."
"Enggak bisa ya kalau kamu enggak datang?" Sita menatap malas ke arah Tirta. Rasanya ingin melempar bunga yang ada di genggamannya ke muka Tirta saat itu juga. Padahal sudah dijawab kalau acara penting, tapi masih berusaha menawar agar Sita tidak hadir di acara itu. Siapa yang tidak kesal?
Karena selain acara bakar-bakar, pesta kelulusan juga perpisahan itu untuk menghabiskan waktu bersama yang mungkin untuk terakhir kalinya sebelum teman-temannya sibuk dengan dunia barunya sampai waktu yang tidak ditentukan. Sita tentu saja tidak akan melewatkan quality time itu.
Seakan sadar diri ditatap tidak enak oleh Sita, Tirta segera minta maaf dan merubah rencananya. "Ya udah, kalau besok gimana?"
"Hmm, bentar." Sita mencoba mengingat-ingat jadwalnya besok. Setelah dirasa tidak menemukan acara apa pun, rasanya dia ingin berbohong dan mengatakan kalau dirinya sangatlah sibuk. Tapi tentu saja Sita tidak akan sejahat itu.
"Enggak ada Mas." Enggak apa-apa lah dia menerima ajakan keluar dari Tirta, hitung-hitung ini sebagai ucapan salam perpisahan juga. Karena Sita tidak mau lagi berurusan dengan Tirta. Tapi tetap, hubungan antara guru dan murid tidak akan dia lupakan. Karena bagaimanapun juga Tirta telah mengajarkan banyak ilmu padanya, tidak mungkin dia akan lupa jasa seorang guru.
"Oke. Kalau begitu sudah disepakati, besok jam tujuh malam di cafe Moonlight," ucap Tirta mantap tanpa mengindahkan binar bahagia di matanya. Seakan rencana yang sudah ia susun akan berjalan sesuai rencana dan berakhir bahagia.
"Loh, malam Mas?".
"Iya, kenapa? Kamu enggak bisa memangnya?"
"Emm, enggak bisa diganti siang atau sore gitu?"
"Tidak bisa. Tolong kamu usahakan ya?" Muka memelas yang diperlihatkan Tirta sangat jauh berbeda dengan Tirta yang selalu tampak cool dan kharismatik. Membuat Sita jadi tidak tega dan mengiyakan.
Setelah berbincang agak lama, Sita segera kembali menuju teman-temannya yang mengajaknya foto bersama. Meninggalkan Tirta dengan senyum penuh arti sambil terus menatap punggung Sita yang samar-samar mulai menjauh.
*****
Sudah berangkat?
Sebuah pesan dari Tirta masuk ke dalam ponselnya. Langsung ia balas sekalian turun menuju taksi yang ia sudah pesan tadi.
Ini mau berangkat.
"Ke cafe Moonlight ya Pak!" ujarnya setelah memasuki taksi online yang sudah menunggu beberapa menit lalu.
"Oke Mbak!"
Ting!
Kalau begitu hati-hati:)
Sita kemudian memasukkan ponselnya ke dalam sling bag miliknya tanpa berniat membalas. Dan butuh waktu sekitar dua puluh menit dari rumahnya menuju tempat yang telah ia sepakati bersama Tirta.
Masuk di dalam cafe ternyata sudah banyak pengunjung yang datang. Di antara sekian banyaknya, dia tidak menemukan sosok Tirta sama sekali. Kalau dipikir-pikir, apakah Tirta akan memesan meja di sini? Kalau melihat ia menjadi Tirta pasti akan memesan meja cafe di bagian luar. Sita berusaha menebaknya.
Baru ia akan melangkah menuju bagian luar cafe, pesan dari Tirta kembali masuk ke ponselnya. .
Kalau sudah sampai langsung ke are outdoor ya! Saya sudah di situ.
Nah, benar kan!
Jadi tanpa membuang banyak waktu lagi maka Sita langsung melangkahkan kakinya menuju are outdoor yang berada tepat di samping area indoor yang saat ini ia masuki. Sekat pemisahnya antara dua ruangan adalah tembok, jadi tidak bisa melihat bagaimana penampakan bagian satu sama lain. Dan ketika sudah di pintu masuk, baru terlihat kedua perbedaannya. Jika di area indoor cafe terlihat mewah dan berkelas, maka di area outdoor akan tampak lebih santai dengan menyuguhkan pemandangan luar.
"Hai Sit!" sapa Tirta sambil berniat memeluk Sita tapi ia urungkan karena Sita yang langsung memundurkan dirinya dan memilih untuk berjabat tangan. Malah seperti makan malam dengan kolega bisnis saja.
"Hai Mas! Sudah lama sampai?"
"Enggak, baru lima menitan." Bohong, padahal dia sudah sampai dari setengah jam yang lalu. Sibuk mengecek kembali agar rencananya nanti berjalan sukses.
Tirta pun segera memesankan makanan untuk mereka berdua. Sedangkan Sita sibuk mengamati sekitar. Di bagian luar sini terdapat banyak lampu kecil yang menjalar dari tiang lampu satu ke tiang lampu yang lain, seperti membentuk atap mereka. Ternyata selain di area indoor, di outdoor juga terdapat home band yang mengiringi suasana makan malam semakin hangat dan romantis, bagi yang berpasangan tentunya. Tapi anehnya, selain pemain band Sita tidak melihat pengunjung lain di sekitarnya. Padahal tadi di bagian dalam cafe sangat ramai.
"Ada apa?" tanya Tirta ketika melihat alis Sita bertaut dan dahinya mengernyit.
"Kok sepi ya Mas? Aneh banget."
"Emm, mungkin mereka takut kedinginan. Jadi ya milih di dalam." Padahal ini adalah ulah Tirta yang menyewa seluruh meja di area outdoor. Memang dia tidak main-main dengan rencananya.
"Ooh, gitu."
Sesaat kemudian seorang waiters datang membawa pesanan Sita dan Tirta. Mereka berdua pun makan dalam diam, karena memang Sita tidak punya bahan obrolan dan enggan untuk mencari topik pembicaraan. Setelah menu utama selesai, waiters yang sama datang membawa dessert sebagai penutup dari acara makan malam mereka. Tapi sebelum Sita memakannya, tiba-tiba tangan Tirta menyentuh tangan kirinya yang tergeletak bebas di atas meja.
"Sita, aku mau ngomong sama kamu."
"Mau ngomong apa Mas?" tanya Sita sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Tirta, tapi tidak bisa. Genggamannya malah semakin erat, mengisyaratkan bahwa Sita tidak boleh melepaskannya terlebih dulu.
"Aku mau jujur. Aku udah lama suka sama kamu, sejak pertama kali kita berkenalan di kelas empat tahun lalu. Dan rasa suka itu tanpa kusuruh berubah menjadi cinta. Dan yang ingin kusampaikan adalah..." Tirta kemudian berdiri dari tempatnya dan berlutut di hadapan Sita. Dikeluarkannya sebuah cincin dari saku kemejanya dan diperlihatkan cincin indah itu ke Sita.
"Sita, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
"Maaf Mas. Aku enggak bisa terima." Mendengar penolakan dari mulut Sita membuat Tirta melotot kaget. Padahal selama ini dia sudah percaya diri bahwa Sita memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Kenapa?"
"Ya karena aku cuma nganggep Mas Tirta sebagai dosenku doang, enggak lebih." Seiring dengan itu sudah tidak terdengar lagi suara alunan musik dari band, mereka mungkin paham situasinya.
Kemudian Tirta berdiri dari tempatnya, membuat Sita juga ikut berdiri. Diraihnya kedua tangan Sita dan menggenggamnya erat. "Enggak bisa. Kamu bohong kan? Selama ini kamu menikmati waktu bersamaku. Kenapa kau tidak mencintaiku?"
"Maaf Mas. Aku selama ini menerima ajakan Mas Tirta itu semata-mata karena aku menghormati Mas. Dan juga aku enggak enak hati buat nolak."
"Tidak bisa! Kamu juga cinta kan sama aku? Mungkin rasa itu masih belum kamu sadari."
"Maaf! Aku enggak bisa. Dan terima kasih untuk makan malamnya." Sekuat tenaga Sita mencoba melepaskan genggamannya. Dan ketika ia hendak pergi, lagi-lagi Tirta menghalanginya dengan meraih lengannya.
"Kenapa?" tanya Tirta sekali lagi. "Aku sudah berbaik hati menyerahkan cintaku ke kamu di saat banyak wanita lain yang mengejarku, bahkan aku sampai menolak permintaan orang tuaku untuk menikah demi menunggu kamu. Kenapa?!"
"Mas! Lep-as!" Sita merasakan genggaman Tirta semakin kuat, malah lebih seperti mencengkeram.
"Enggak sebelum kamu menjawabku."
Sita kemudian menghentakkan tangan Tirta sampai terlepas dari lengannya. "Kamu kenapa sih Mas? Perasaan kan enggak bisa dipaksakan. Aku menolak kamu ya karena aku enggak cinta sama kamu! Apa itu belum cukup?" Sita kemudian melangkah pergi.
"Apa karena aku kurang kaya dari pria-pria mu di luar sana ha?!" Baru beberapa langkah Sita kemudian berhenti dan berbalik arah.
"Apa maksud kamu?"
"Cih! Kamu pikir aku enggak denger selentingan tentangmu di kampus? Bukan kah kamu suka menggoda dosen-dosen mu agar diberi nilai bagus? Dasar murahan."
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tirta. Sita sudah tidak peduli lagi kalau yang dia tampar adalah dosennya sendiri. Kesabarannya sudah kelewat batas. Dia rasa tamparan cukup menjadi jawaban untuk Tirta. Dia segera berlari ke luar cafe dan melangkah kemana pun kakinya membawanya.
"Hiks! Kenapa mereka semua sama?!! Aku bukan wanita murahan! Aku tidak begitu!" Dalam hati Sita sudah berteriak mengungkapkan kekesalannya. Sedangkan di luar dia hanya berusaha menahan suara isaknya meski air mata sudah tidak terbendung.
Sita sudah tak lagi tau di mana sekarang ia berada. Langit sudah mulai gelap dan hembusan angin semakin dingin. Lelah berjalan membuat Sita langsung mendudukkan dirinya di pinggir trotoar. Kilat petir disertai gemuruh di langit menandakan bahwa hujan akan turun.
"Tuhan baik sekali mengirimkan hujan untuk menemani tangisku," batinnya.
Benar saja, beberapa menit kemudian langit menumpahkan air matanya. Tanpa permulaan, langsung turun dengan derasnya. Membuat Sita semakin puas meluapkan tangisnya. Dia tidak takut akan terdengar dengan orang lain karena suara tangisnya melebur menjadi satu dengan hujan.
Tapi hal aneh ia rasakan ketika tubuhnya tak lagi merasakan derai air hujan. Sita pun mendongak dan melihat seorang laki-laki tampan dengan setelan santai, hanya mengenakan jeans dan kaos oblong berwarna hitam tengah memayunginya.
"David?!" Binar mata bahagia langsung terpancar dari wajah Sita. Kesedihan yang baru saja dia alami langsung sirna. Dia pun langsung berdiri dan menghamburkan pelukannya ke laki-laki yang ia panggil David itu.
"Kamu dari mana aja?"
"Maaf! Aku baru menemui kamu."
*****
Cklek!
Tampak Sita keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian kering. Celana training juga hoodie yang menghangatkannya. Tabuh Sita yang tinggi semampai bak model itu tidak membuat pakaian David yang dia pakai tampak kebesaran, hanya terlihat sedikit lebih longgar saja. Kemudian dia turun dari kamar menuju dapur, menghampiri David yang tengah membuatkannya susu hangat.
"Sudah selesai mandinya?" tanya David melihat Sita yang sudah duduk manis di ruang makan.
"Sudah."
Sebenarnya ada alasan di balik kecuekan Sita terhadap laki-laki yang berusaha mendekatinya. Juga alasan mengapa dia menolak Tirta tadi. Karena hatinya sudah terukir nama seorang David. Laki-laki yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Tapi takdir yang memisahkan mereka tepat setelah kelulusan SMA. David diharuskan ikut orang tuanya pindah ke Makassar dan berkuliah di sana. Tak disangka kalau dia akan bertemu David kembali. Membuat bunga di hatinya bersemi kembali.
"Nih. Minum! Maaf ya enggak bisa masakin apa-apa. Kulkasnya kan kosong melompong." Maklum, mereka berdua saat ini berada di rumah lama keluarga David di Malang.
"Iya enggak apa-apa." Sita langsung meminum susu hangat itu sampai tandas tak bersisa.
"Kamu tadi kenapa nangis gitu di pinggir jalan? Hujan-hujanan lagi. Drama banget!" cibir David.
"Lagi frustasi nyariin sahabat yang ngilang enggak ada kabar selama empat tahun." Sita tak kalah sinisnya menyindir David.
"Ya Maaf! Hp ku ilang pas di bandara. Jadi ya langsung pakai nomor baru."
"Terus kenapa baru datang sekarang?"
"Ya karena aku mau mengabulkan doa seseorang." David kemudian menunjukkan sebuah foto yang berisikan dirinya dengan Sita yang tengah memegang kue ulang tahun di rumah pohon. Momen itu sudah terjadi sangat lama, sekitar mereka masih kelas satu SMA.
Melihat foto yang dipegang David membuat pipi Sita langsung memerah panas. Dia malu sendiri karena waktu itu mengucapkan harapan di hari ulang tahunnya dengan terang-terangan. "Aku ingin besok kalau sudah dewasa menikah dengan David. Amiin." Meski saat itu David hanya menganggapnya sebagai sebuah lelucon, dan tidak tahu kalau itu adalah harapan yang sebenarnya dari Sita.
"Maaf ya! Aku bodoh banget baru ngerti perasaan kamu sekarang ini, dan dulu aku hanya menganggapnya sebagai gurauan. Jarak dan waktu membuatku sadar kalau kamu adalah perempuan yang selama ini menempati hatiku. Dan bodohnya lagi aku baru menyadarinya saat ini. Maafin kebodohanku ya?"
Meski tidak ada makan malam romantis, di tempat yang indah, bunga mawar atau pun hadiah, tapi ucapan tulus dari David sudah membuat Sita bahagia. Dia langsung memeluk David untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku tau kamu bodoh. Tapi aku yang lebih bodoh masih mengharapkan orang bodoh seperti kamu."
"So, will you marry me?" ucap David tanpa basa-basi sedikit pun.
"Yes! I will."