
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Perasaan baru kemarin aku datang di desa ini, tiba-tiba sekarang sudah hari ke sembilan belas. Kurang seminggu lagi kita sudah pergi meninggalkan desa ini.
Sekarang kita sedang mengerjakan proker kelompok, yaitu pengembangan potensi wisata desa. Meneruskan dari survey air terjun dulu, setelah hari itu kita mulai mencari dana baik dari swadaya masyarakat atau dari sponsor untuk pembangunan sarana dan prasarana yang memadai.
"Jangan lupa bawa baju ganti Na! Nanti kalau kecebur lagi biar enggak repot!"
"Ngeledek ya kamu Tik?!" Eh, dianya malah ketawa keras banget.
"Sumpah!! Masih ngakak aku kalau ingat wajah kamu waktu itu Na!! Hahahahaha"
Beruntung Salma membelaku dengan memukul mulut Tika pakai buku.
Rasain Tik!
"Perempuan kalau ketawa enggak boleh keras-keras!" Tika langsung diam habis diceramahin sama Salma.
"Iya bu ustadzah!" Habis itu dia lari keluar buat bergabung sama yang lain.
"Tapi yang dikatakan Tika tadi ada benarnya, kamu sudah bawa baju ganti belum?"
"Udah Sal. Nanti emang niatnya pas selesai mau main air. Kan airnya enggak dalam" jawabku.
Setelah merasa sudah selesai dengan semua persiapan, aku dan Salma bergabung dengan yang lain di teras rumah.
"Sudah semua?" Alif bertanya, memastikan semua sudah berkumpul apa belum.
Kita semua mengangguk, dan perjalanan pun dimulai. Semuanya berpakaian santai, kebanyakan memakai baju training. Karena nanti kita akan kerja bakti di sana. Ditengah-tengah perjalanan rupanya banyak warga yang ikut bergabung, mereka sudah diberi tahu oleh Pak Karto. Dan mereka menunggu kedatangan kita di beberapa titik rute perjalanan.
Setelah sampai, kita langsung berpencar. Mengerjakan tugas masing-masing. Yang cowok kebagian tugas berat tentunya, seperti mempermudah akses jalan, membangun toilet juga ruang ganti, dan lain sebagainya. Sedangkan kita yang cewek juga dibantu ibu-ibu, kita menanam banyak tanaman bunga dari berbagai jenis. Untuk mempercantik tentunya, dan juga sebagai tempat untuk beroto.
"Waa!!! Tikaa!!! Tik!! Jijik ih!!" Tentu saja Tika dengan segala keusilannya.
Anak itu tidak bisa diam barang sehari pun. Ada saja tingkah usilnya. Seperti sekarang. Dia menakut-nakuti Gea dan Sita dengan cacing besar yang dia pegang.
"Tika! Udah jangan main-main! Cepet bantu-bantu sini!" Tika kalau sama Nala selalu nurut. Kaya anak sama emaknya.
Mungkin ini yang dinamakan karma. Ketika berjalan menghampiriku dan Salma, Tika yang enggak memperhatikan jalan langsung terpeleset waktu melewati jalan licin yang agak berlumpur.
Kita semua tertawa terpingkal-pingkal, bahkan ibu-ibu juga ikut tertawa. Pasalnya, posisi Tika jatuh itu enggak ada bagus-bagusnya. Jatuhnya dalam posisi tengkurap, dan wajahnya langsung mencium tanah berlumpur.
"Bwahahhaahah!! Rasain Tik! Karma itu nyata wahai manusia!" Gea yang habis jadi korbannya Tika tertawa puas banget.
Mungkin jengkel di hatinya waktu Tika usil tadi langsung sirna. Tergantikan oleh tawa puas. Dia juga tidak perlu repot-repot menyusun rencana balas dendam. Rupanya, alam sudah membalasnya duluan.
"Enak ya kalian! Temennya jatuh malah ketawa!" Tika tiba-tiba berlari menghampiri kita dengan tangan yang penuh lumpur. Dan perang lumpur pun tidak terelakkan.
"Udah-udah! Nyerah deh nyerah! Sekarang bersihin badan yuk!" Ajakku.
Ketika perjalanan ke kolam air terjun, anak-anak cowok yang lihat penampilan kita yang persis mahluk jadi-jadian cuma bisa tertawa penasaran. Tapi kita enggak peduli, memilih langsung menceburkan diri ke kolam.
Setelah merasa bersih, aku memilih berendam agak ke tepian. Dari sini aku dapat melihat Alif dan yang lain sedang berkutat dengan bambu-bambu. Sepertinya mereka akan membuat pintu masuk dan keluar. Diam-diam aku mengamati Alif yang tengah bekerja.
"Kamu suka sama Alif ya Na?"
"Eh?" Aku kaget ketika mendapati Salma yang tiba-tiba berada di sampingku.
Ketahuan deh.
"Enggak lah! Masa iya aku suka sama Alif!" Terpaksa aku berbohong.
"Bohong itu dosa lo Na!" Ya terus aku mau jawab apa Na? Masa iya harus terus terang.
"Yakin enggak mau jujur?" Salma terus memojokkanku.
"Iya. Aku suka sama Alif. Maaf ya Sal!" Jujur lebih baik right?
"Maaf kenapa?"
"Ya maaf udah suka sama gebetan kamu" mendengar jawabanku ini, Salma langsung tertawa.
Emang ada yang lucu ya?
"Gebetan apa sih maksud kamu Na? Aku sama sama Mas Alif enggak ada hubungan khusus kali!"
APA!!!!!
"Enggak bercanda deh Sal!"
"Ngapain juga aku bercanda. Oh! Jangan bilang kalau kamu selama ini salah paham sama aku dan Mas Alif?" Aku mengangguk lemah.
"Ya Allah Na! Tahu enggak? Mas Alif itu tetanggaku. Dia temanku sejak kecil Na! Makanya kelihatan akrab"
APA??? APA!!!!!
Jadi Alif sama Salma itu kaya aku sama Rendi gitu?
Jadi selama ini aku salah paham?!!!
"Kamu kok enggak bilang dari dulu sih Na! Kan jadi salah paham gini"
"Kamu enggak nanya sih" jawaban klasik.
Mendengar semua ini seakan memberi angin segar bagiku. Setidaknya aku tidak menyukai orang yang sama dengan sahabatku. Ngomong-ngomong soal sahabat, seperti ada yang mengganjal.
RENDI!!!
Dia harus tahu fakta ini. Mengngat kita sama-sama terjebak dalam kesalah pahaman ini. Pasti dia girang banget kalau tahu kebenarannya.
Apa arti semua ini???
Kata-kata yang selalu dia ucapkan "Jangan buat aku khawatir Na!". Apa arti dari kata-kata itu? Apakah dia benar-benarĀ mengkhawatirkanku, atau cuma sebatas formalitas antara ketua dengan anggotanya.
Alif terlalu rumit untuk kupahami.
"Sal, aku mau tanya sesuatu"
"Tanya apa?"
Aku berpikir sebentar. Enaknya nanya terus terang apa enggak. Kalau nanya nanti dikira aku ke-PD-an. Tapi kalau enggak nanya jadi penasaran.
Akhh!!!
"Enggak jadi deh" biarlah aku menjalani hari dengan rasa penasaran ini.
Sorenya kita sudah selesai. Setidaknya kita mulai mencicil pekerjaan agar bisa selesai sampai kita hari terakhir di sini. Tidak sabar melihat hasik akhir dari program kerja ini.
Seperti kataku tadi, hari ini aku akan memberitahu Rendi kebenarannya. Jadi sekarang kita sudah ada di bawah naungan pohon mangga. Seperti biasa, aku yang duduk di ayuanan dan dia selonjoran di atas rumput.
"Cepet ngomong apaan?! Gerah nih mau mandi!"
"Iya-iya! Padahal aku mau ngasih tahu hal penting!" Sungutku sebal.
"Hal penting apaan? Jadi penasaran nih!"
"Enggak jadi. Udah sana pergi! Katanya mau mandi!" Usirku.
"Yaelah Na! Gitu doang ngambek!"
"Biarin!"
"Ya udah. Nala yang paling cantik dan manis, aku minta maaf ya! Sekarang ayo coba ngomong!" Ini nih. Muji kalau ada maunya.
"Kaya enggak ikhlas ngomongnya" Sebenarnya aku tidak benar-benar kesal. Tapi sekali-kali mengerjainya enggak apa-apa juga.
"Gini deh gini! Kamu ngomong, nanti aku beliin cokelat"
"Yang benar?!" Mendengar cokelat mataku langsung berbinar.
"Benar! Satu kresek malahan!"
"Oke deh!"
"Dasar mata cokelatan!" Aku menepis tangannya yang akan mengacak kerudungku.
"Daripada mata duitan!"
"Cokelat belinya juga pakai duit kali Na! Dikira pakai daun apa"
"Biarin!"
"Ya udah, mau ngomong penting apa?"
"Tahu enggak Ren?"
"Enggak!" Aku langsung mencubit lengannya.
"Belum selesai ngomong ini!"
"Oohh. Oke lanjut!"
"Ternyata selama ini kita salah paham! Alif dan Salma itu enggak seperti yang kita duga!"
"Maksudnya?"
"Mereka cuma sahabatan Ren!! Kaya kita gini. Tetanggaan pula. Pantes mereka dekat!"
Kayanya dia masih mencerna kata-kataku. Otaknya masih susah diajak kompromi.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Yang benar kamu Na?!" Benar kan langsung heboh.
"Benar dong! Orang aku dikasih tahu sama Salma sendiri kok!"
"Wuhuu!!!!!"
Allohu akbar!!
Rendi buat orang jadi kaget. Tiba-tiba berdiri sambik teriak-teriak enggak jelas gitu. Dengan enggat tahu terima kasih dia langsung berlarian masuk ke dalam rumah.
"Ren! Jangan lupa cokelatnya!!"
"Siap!! Aku tambah jadi dua kresek Na!!"
Asiikkk!!!!!
Mabuk cokelat deh nanti malam.