
Sepeninggal wanita tadi, aku dan Iren tidak dapat menahan tawa. "Haduh! Lucu banget mukanya tadi," kataku yang masih tidak bisa menahan tawa.
"Maklum. Namanya tadi Seli, temanku se-devisi. Dia mah orangnya emang kaya gitu. Udah jadi rahasia umum lagi kalau Seli tuh enggak suka lihat ada yang lebih cantik dari dia. Sekalinya papasan langsung digas."
"Iya. Aku tadi juga gituin waktu di lift."
"Kenapa enggak langsung ngomong aja kalau kamu istrinya Alif?"
"Enggak ah. Lagian pegawai di sini kan emang belum kenal sama aku. Entar kalau aku ngomong gitu bisa dikira ngaku-ngaku lagi."
"Hadehh! Kalau kamu mikirnya gitu terus, besok-besok pas kamu ke sini sendirian lagi pasti bakal ketemu sama orang kaya Seli." Setelah berkata demikian Iren langsung meminum es tehnya sampai tandas lalu berdiri sambil membawa gelas yang sudah kosong itu dan sendok. Dipukulnya gelas itu dengan sendok hingga berbunyi nyaring, membuat semua mata tertuju pada meja kita.
"Halo semuanya! Ekhm!" Dia pura-pura batuk. "Tahu enggak siapa yang siang ini dateng buat lihat kita?" Aku yang merasa bahwa tindakan Iren itu berlebihan segera menarik-narik ujung bajunya agar dia menghentikan aksinya. Tapi kenyataannya aku malah diabaikan.
"Perkenalkan semuanya! Ibu Nala Ayu Kinanti. Istri dari Pak Alif. Siang ini datang ke kantor biar kenal sama kita guys!"
Sontak saja, mendengar penuturan dari Iren semua orang berduyun-duyun menghampiriku. Hanya sekadar untuk menyalamiku, memperkenalkan diri, atau pun basa-basi. Saking banyaknya yang antusias menyambutku, membuat ayam geprek pesananku menjadi dingin. Jadi setelah mereka semua kembali ke tempat duduknya, aku pun menyantap ayam geprekku.
Belum juga masuk lima suapan, sebuah pemandangan yang nenyesakkan membuat nafsu makanku hilang. Tampak dua sejoli tengah tertawa riang gembira bersama saat akan memasuki kafetaria. Iya, mereka adalah Mas Alif dan si Nita itu. Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun beranjak berdiri dan hendak pergi.
"Loh! Loh! Kamu mau kemana Na?" tanya Iren yang bingung dengan pergerakanku yang tiba-tiba.
"Pulang," jawabku singkat.
"Terus ini bekal buat Alif gimana?" tanyanya sekali lagi.
"Buat kamu aja." Aku pun segera melenggang pergi. Sengaja terburu-buru agar bisa berpapasan dengan Mas Alif di pintu masuk.
Benar saja, melihat keberadaanku membuatnya mengdaangku dan menyapaku dengan muka gembira tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Sayang? Kamu ke sini?"
Tanpa mengindahkan sapaannya, aku langsung pergi meninggalkannya. Sampai di parkiran aku segera menghampiri motorku. Tapi ketika aku hendak memakai helm, tangan Mas Alif mencekal tanganku.
"Kamu mau kemana Sayang?"
"Pulang," jawabku singkat. Jawaban sama yang kulontarkan pada Iren tadi.
"Kenapa mendadak mau pulang? Bukannya kamu ke sini mau lihat aku?"
"Iya."
"Terus sekarang kenapa pulang?"
"Kan tadi udah lihat. Jadi sekarang udah selesai urusannya." Aku pun menyentak tangan Mas Alif yang mencekalku. Lalu segera memakai helm dan menyalakan mesin motor.
Tapi rupanya Mas Alif tidak membiarkanku pergi dengan mudah begitu saja. Dia tiba-tiba berdiri di depan, menghalangi motorku. "Minggir Mas!"
"Enggak! Sayang, kamu marah lagi ya sama aku?"
Kamu pikir? Muka aku ini kaya orang yang kelihatan senang gitu?
"Aku capek Mas. Mau pulang. Pengen istirahat." Mendengar jawabanku itu rupanya membuatnya luluh. Perlahan-lahan dia berjalan menepi agar tidak menghalangi jalannya motorku.
"Assalamu'alaikum!" pamitku lalu meninggalkannya sendiri di parkiran.
Sampai di rumah aku segera menghempaskan diri di atas kasur. Menangis histeris sampai guling-guling tidak jelas. Karena sudah tidak tahan lagi dengan sesak di dada, kubenamkan wajahku di bantal dan berteriak sekeras mungkin.
"AAAAAAAAAAA!!!!!!!!"
Berhubung aku berteriak di bantal, jadi suaraku teredam dan tidak khawatir bisa mengganggu tetangga sebelah.
Rupanya uring-uringan tidak jelas ini memakan waktu berjam-jam. Kini kamarku sudah mirip dengan kapal pecah. Tisu yang berceceran di mana-mana. Bungkus makanan ringan yang berserakan. Juga dengan televisi yang sedari tadi menyala tanpa kuhiraukan. Setelah melirik jam juga langit yang menunjulkan hari sudah sore, aku pun beranjak dari kasur dan membereskan semuanya.
Prinsipku itu galau tapi harus bertanggung jawab. Jadi setelah memberantakkan kamar, aku juga harus merapikannya kembali. Masa harus Mas Alif yang membersihkan tisu-tisu bekas ingusku?
Huft!
Mendengar nama itu membuatku tambah gerah hati.
Setelah selesai dengan urusan beres-beres, aku pun turun ke dapur untuk memasak makanan untuk makan malam. Sengaja aku memasak dengan porsi sedikit, karena aku tidak berniat sampai malam di sini. Jadi makanan ini hanya untuk Mas Alif. Tidak lama kemudian masakanku sudah siap, aku pun segera menatanya di atas meja makan.
Lalu kembali lagi ke kamar untuk mengeluarkan koper kecilku, dan memindahkan beberapa pakaianku ke dalamnya. Karena aku tidak berniat untuk bermalam di rumah ini. Masih butuh waktu untuk meredam kekesalanku dengan dia.
Rupanya ketika aku dan koperku sudah sampai di ruang tamu, Mas Alif sudah berada di depan pintu. Dia sudah pulang rupanya.
"Loh! Sayang! Kamu mau ke mana? Jangan bilang kalau kamu mau pulang ke rumah kamu?"
Aku menatap datar dirinya. Ayolah! Hanya masalah seperti ini tidak membuatku harus pulang ke rumah. Apa Mas Alif pikir aku mau merusak citra suamiku sendiri dengan pulang ke rumah mama dan papaku seperti ini?
"Kamu lupa ya Mas? Dua hari lagi kan pernikahannya Salma sama Rendi."
"Iya aku tahu. Mana mungkin aku melupakan pernikahan sahabat sendiri."
"Nah itu tahu."
"Tapi kamu kenapa berangkat sekarang? Bukankah seharusnya kita bersama-sama datang ke sana besok?"
"Aku mau nemenin Salma malam nanti." Aku pun segera mengambil tangannya untuk kucium dan berpamitan pergi.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'laikumsalam," jawabnya lirih tapi masih bisa kudengar.
Iya. Pernikahan Salma dan Rendi adalah alibi yang tepat untuk menghindari bertatap muka dengan Mas Alif. Buru-buru aku menarik koperku dan menuju ke jalan. Menunggu mobil taksi online yang sudah kupesan sebelumnya tadi.
Sekitar setengah jam kemudian aku sudah sampai di kediaman Salma. Pesta pernikahan dilaksanakan di rumah, jadi pasti besok di rumah akan ramai dengan orang yang memasak dan mendekorasi. Tapi berhubung hari pernikahannya masih kurang dua hari lagi, jadi sekarang masih belum terlalu ramai. Terlihat hanya beberapa tetangga dan kerabat dekat. Dekorasi dan segala macam yang lain mungkin akan tiba besok. Jadi sekarang yang sibuk hanya di bagian dapur.
"Nala!" Lengkingan suara teriakan dari dalam rumah menghentikan aksi pengamatanku. Salma berlari ke arahku dan menghamburkan diri kepadaku. Pelukan macam teletubbies adalah tradisi jika sudah bertemu.
"Salma!!! Selamat ya bentar lagi mau nikah!"
"Iya." Acar berpelukan pun sudah usai. Salma mengajakku ke dalam.
Di ruang makan sudah ada Umi yang tengah menata kue di loyang. Menyadari keberadaanku, Umi pun menghampiriku. "Eh, Nala sudah datang rupanya."
"Iya Umi," jawabku sambil mencium punggung telapak tangannya sebagai bentuk penghormatan. Kupanggil Umi karena memang permintaan beliaun sendiri. Karena ruma ini adalah rumah yang sering kukunjungi selain rumahnya Rendi. Jadi Umi sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri.
"Oh iya, Abah mana Mi?" tanya Salma.
"Enggak tahu. Mungkin lagi keluar."
"Ooh." Aku dan Salma mengangguk bersamaan.
"Ya sudah. Salma, kamu antar Nala naik ke kamar. Kelihatannya dia mau menginap di sini malam ini." Mata Umi tertuju pada koper kecil yang kubawa.
"Loh? Kamu bawa koper? Kok aku enggak lihat?" Aku hanya mengendikkan bahu untuk menjawab pertanyannya Salma.
Kita berdua pun langsung naik ke lantai atas. Malam ini aku menginap di kamar Salma, karena kamar tamu pasti sudag diisi sama kerabat jauh yang datang. Sampai di dalam Salma terus menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa Sal?"
"Kamu yakinenggak mau cerita sesuatu?"
"Cerita apaan sih? Udah maghrib nih. Yuk sholat!" Aku mengelak dan langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Jadi begitu seterusnya. Aku selalu menghindar pertanyaan yang dilontarkan Salma. Alibiku itu entah untuk sholat isya' lah, mengaji lah, sampai membantu ibu membuat kue. Meski aku lebih banyak membantu makan daripada membuatnya.
Dan alibiku itu hanya bisa bertahan sampai sekaraang ini. Ketika semua pekerjaan sudah selesai, dan hari sudah malam. Ketika masuk ke kamar untuk tidur, Salma sudah duduk di kursi belajarnya. Lengkap dengan wajah penuh selidiknya yang menyambut kedatanganku.
"Kenapa Sal?"
"Cerita apaan?" kilahku.
"Kalian enggak sedang berantem kan?"
"Atas dasar apa kamu bisa nebak begitu?"
"Gampang! Kamu kan cinta mati sama Mas Alif. Kalau hubungan kalian baik-baik aja, enggak mungkin malam ini kamu di sini. Pasti sekarang kamu lagi asyik kelonan sama dia dan milih datang ke sini besok. Terus juga tadi kamu datang ke sini sendiri kan? Enggak mungkin Mas Alif ke sini cuma sekadar mengantar tanpa menyapa." Salma kini sudah berhenti dari penjabaran dugaan-dugaannya. Memang bakat jadi detektif nih satu anak.
"Iya, iya. Ini aku mau cerita." Mau bohong bagaimana pun juga, yang namanya sahabat pasti tetap tahu.
Kubanting tubuhku di atas kasur. Lalu menghela napas lelah. "Aku lagi kesel sama Mas Alif. Lagi enggak mau lihat muka dia dulu."
"Sebelnya jangan lama-lama lho Na. Enggak baik mendiamkan suami kaya gini."
"Maksimal ngambek sama orang berapa hari?"
"Tiga."
"Ya sudah. Berarti masih ada dua hari lagi," jawabku santai.
Mungkin karena sudah kesal, Salma memukul tanganku yang ada di atas bantalnya. Lalu dia juga ikut merebahkan diri di sampingku. "Ya enggak gitu juga Na. Kan lebih baik kalau cepat berdamainya."
"Entahlah Sal. Aku masih butuh waktu," kataku sambil menatap langit-langit kamar.
Agak lama suasana hening. Kupikir Salma sudah tidur, jadi aku memejamkan mata.
"Na."
"Eh? Iya." Aku kembali membuka mata setelah Salma memanggil namaku. Kukira dia sudah tidur lagi.
"Gimana perasaan kamu waktu ijab qabul?"
"Rasanya nano-nano. Ada bahagia, grogi, sedih, takut juga. Pokoknya semua rasa bercampur jadi satu."
"Kaya es campur dong?"
"Iya. Di atasnya dikasih susu kental manis yang banyak." Lalu kita berdua tertawa bersama. Kelakar yang sangat receh tapi bisa membuat tertawa.
"Eh, tapi kok ada takutnya? Takut kenapa?"
"Jelaslah! Takut kalau semisal Mas Alif enggak lancar ucap ijab qabulnya."
"Iya ya. Kalau salah sampai tiga kali bisa berabe urusannya."
"Nah itu!"
Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar. "Salma! Nala! Cepat tidur!"
"Iya Mi!" ucap kita berdua secara bersamaan. Persis seperti dua anak perempuan yang ditegur karena ketahuan bergurau dan bukannya tidur.
"Sudah Sal, tidur. Besok aku pasti sibuk bantu-bantu."
"Iya, bantu-bantu makan!" timpalnya yang sangat berdasarkan fakta.
Keesokan harinya aku sudah sibuk membantu sana-sini. Masih subuh tapi dapur sudah penuh berisi orang-orang yang memasak. Ada yang bagian kue dan jajanan, ada yang bagian nasi, ada juga yang bagian sayur juga lauk untuk dikirim ke tetangga-tetangga. Ketika hari beranjak siang, aku memilih untuk beristirahat di kamar. Sambil menemani Salma yang tengah dihena tangannya.
"Nala, itu suami kamu baru datang," kata Umi setelah membuka pintu kamar.
"Iya Mi." Dengan malas aku berjalan keluar kamar.
Tapi sebelum aku meraih kenop pintu untuk keluar, pintu itu kembali terbuka dan menampilkan sesosok wanita.
Nita?!
Dia? Dia kenapa bisa di sini?
"Eh!" Dia juga tampaknya terkejut melihatku yang berdiri di balik pintu. "Nala ya? Istrinya Alif kan?" tanyanya yang langsung kuangguki.
"Ya ampun! Ternyata aslinya cantik banget! Pantes Alif enggak pernah bawa ke kantor. Maunya istrinya dikurung di rumah terus sih!" kelakar yang kusambut dengan tawa hambar.
Kenapa jadi seperti ini?
Kenapa dia ramah sekali?
"Kenalin, aku Nita. Sepupunya Alif."
Ha?!!!
Aku enggak bisa berkata apa-apa. Hanya diam mematung.
Setelah menyapaku, dia kemudian menuju ke Salma. Mereka berdua tampak begitu akrab. Membuatku tertawa miris dalam hati. Jadi, aku salah paham? Lagi? Dulu aku sempat salah paham dengan Mas Alif Salma, sekarang salah paham lagi dengan Mas Alif dan Nita. Aku kok bodoh banget sih?!
Segera aku keluar kamar untuk mencari keberadaan Mas Alif. Rupanya dia ada di ruang tamu. Tidak hanya Mas Alif saja. Sudah ada mama dan papa mertuaku juga di sana yang tengah asyik berbincang dengan abah. Aku langsung menyalami mereka bertiga. Dan duduk di samping Mas Alif.
"Nala tadi malam mengianap di sini ya?"
"Iya Ma."
"Pantas, tadi malam tiba-tiba Alif datang dan tidur di rumah. Rupanya enggak ada istri tercinta di rumah."
"Hehehe iya." Aku hanya bisa tertawa hambar mendengar pernyataan mama.
"Mas," bisikku pelan.
"Apa?"
"Aku mau bicara bentar." Mas Alif menganggukinya. Lalu pamit ke para tetua untuk undur diri. Sontak saja kita berdua menjadi bahan godaan.
Aku menarik tangan Mas Alif dan mencari tempat yang kosong. Akhirnya aku memilih mengajaknya ke taman belakang.
"Ada apa Sayang?" Bahkan setelah aku yang bersikap dingin padanya, tapi Mas Alif masih memanggilku Sayang? Membuatku menitikkan air mata.
"Loh? Kamu kenapa nangis gini?" Dibingkainya wajahku dengan tangannya.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau Nita itu sepupu kamu Mas?"
"Ya... karena kalian belum pernah bertemu. Bagaimana aku mau mengenalkan kalian?" kata Mas Alif masih berusaha membendung air mataku.
"Tahu enggak? Gara-gara kamu enggak ngenalin aku sama Nita, aku jadinya salah paham dengan kalian!" Segera aku membenamkan wajahku di dadanya dan memeluknya erat.
"Jadi kamu yang bersikap dingin denganku akhir-akhir ini cuma karena salah paham?"
Aku mengangguk. "Maaf!" lirihku.
"Aku juga minta maaf kalau buat kamu salah paham."
"Enggak. Aku yang salah di sini. Aku yang minta maaf."
"Iya. Ya sudah kalau begitu besok-besok lagi jangan ada yang namanya salah paham. Kalau ada sesuatu yang belum pasti haru tanya. Jangan ada rahasia di antara kita." Aku mengangguki ucapan Mas Alif. Dengan gemas dia mencubit hidungku.
"Gini dong. Kan istriku tambah cantik kalau senyum."
Biarin dia mau bilang apa atau menggodaku bagaimana. Saat ini aku hanya butuh pelukannya yang sudah beberapa hari ini tidak kudapatkan.