
Penantianku selama ini tidak sia-sia, rinduku kini terbayarkan, dan cintaku kini sudah berlabuh di hati yang tepat. Dia yang tiga tahun lalu telah berjanji akan mengikatku dalam janji suci kini telah menepatinya.
Iya.
Dia Alif Muhammad, teman sekaligus cinta dalam diamku selama tiga tahun belakangan. Dengan berani dia menjabat tangan penghulu, dan lantang mengucapkan ijab qabul atas namaku.
Kata "SAH!" Dari para saksi melegakan hati yang sedari tadi resah tak menentu.
Sekarang dia menghadapku. Dengan jantung yang bertalu-talu aku menyalimi tangannya dan mengecupnya sekilas. Lalu sebelah tangannya membingkai wajahku. Sebelahnya lagi dia tengadahkan untuk memanjatkan doa. Setelah selesai berdoa dia meniup pelan ubun-ubunku.
Cup!
Darahku seketika berdesir ketika bibirnya mengenai keningku, rasa hangat ini langsung menyebar ke seluruh tubuh. Menimbulkan perasaan yang tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Seperti ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutku.
Intinya aku bahagia.
Masih terasa seperti mimpi. Ketika orang yang bertahun-tahun kusebut namanya dalam doa, kini telah Allah sandingkan menjadi suamiku. Hingga tak sadar aku meneteskan air mata bahagia.
"Terima kasih sudah menungguku" katanya sambil mengusap pelan jejak air mata di pipiku. Dan aku tersenyum tulus padanya.
"Sudah dong romantis-romantisannya! Lapar ini!"
Dasar.
Teman-temanku itu tidak berubah. Penampilannya saja yang sekarang tampak lebih dewasa, tapi sikapnya masih sama dengan yang kutemui tiga tahun lalu.
Aku berterima kasih karena mereka telah meluangkan waktunya untuk memenuhi undanganku. Padahal aku tahu mereka juga punya kesibukan lain. Meski ada satu orang yang tidak datang ke acara pernikahanku. Si buaya darat yang katanya sudah taubat itu ada Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) hari ini. Jadi dia tidak bisa datang.
"Sstt! Kau ini Tik! Merusak suasana haru saja!" Dan masih sama, Iren dan Tika jika bertemu akan menjelma seperti Tom and Jerry. Tidak pernah akur.
Setelah acara ijab qabul, acara dilanjutkan dengan makan-makan. Sedangkan aku dan Alif harus siap-siap menyiapkan tenaga ekstra untuk berdiri dan menyalimi tamu satu per satu di atas pelaminan.
Teman-temanku itu tampak mengantri untuk menyalimi. Yang pertama ada keluargan kecil yang berbahagia. Rangga, Astri, dan juga putri kecil mereka, Lia. Aku juga senang melihat perubahan dari ice couple ini. Mereka sekarang tampak sedikit lebih ekspresif.
Perlu diingat. Hanya se-di-kit.
Tapi menurutku itu suatu kemajuan yang bagus.
"Selamat ya Lif, Na! Semoga pernikahan kalian langgeng dan juga bahagia.
"Makasih As!" Ucapku sambil ber-cipika cipiki.
Hal serupa juga diucapkan oleh Rangga yang sedang menggendong Lia yang masih berumur tiga tahun itu. Tidak tahan dengan imutnya Lia ini, aku mencubit kedua pipi tembemnya. Dan menciumnya kemudian.
"Pengen? Lif! Nanti buatin Nala yang imut-imut kaya gini! Yang banyak ya!"
Apaan sih Rangga! Jadi mesum gini. Kan pipiku langsung panas. Malu tahu!
Mana Alif jawabnya santai lagi.
"Oke Ga!" Mereka saling mengkode lewat mata. Ini mereka kok jadi begini sih?
Dengan tertawa puas, Rangga segera turun menyusul Astri. Membuat napasku kembali lega. Dan sekarang ada Wahyu juga Abdul yang memberikan ucapan selamat.
"Kenapa mukamu Dul? Ditekuk begitu?" Pertanyaan Alif membuatku lebih mengmati raut wajah si Abdul.
"Biasa Lif, jadi galon dia" jawab Wahyu enteng.
"Galon apaan Yu?"
"Gagal move on Na! Habis ketemu sama calon masa depan yang enggak jadi" perkataan dari Wahyu ini membuatku teringat sesuatu.
Jadi Abdul ini berani datang ke rumah Salma buat ngelamar. Tapi ditolak dengan halus oleh Salma. Enggak tahunya sampai sekarang dia masih gagal move on.
"Oh habis ketemu Salma" mereka mengangguk.
"Oke. Selamat sekali lagi buat kalian berdua" Abdul turun terlebih dahulu, tapi Wahyu menghentikan langkahnya.
"Na, kalau Alif buat kamu nangis. Bahu abang pasti bersedia buat bersandar" mulai deh ngerecehnya. Aku kira dia mau bilang apa tadi.
Eh, enggak tahunya Alif jadi melotot ke Wahyu. Ceritanya cemburu nih.
"Santai Lif! Santai! Bercanda kali!" Sambil cengengesan dia turun menyusul Abdul yang sedang galau.
"Selamat ya Mas atas pernikahannya!" Salma datang disusul oleh Rendi di belakangnya.
"Selamat ya Na!" Kita berpelukan lumayan lama.
"Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah, wa rahmah!"
"Amiiinn!" Aku dan Alif kompak mengamini doa dari Salma.
"Selamat ya bro! Akhirnya dinikahin juga nih macan betina!"
"Apaan sih Ren!" Sungutku.
"Tahu enggak Lif? Dia kalau lagi galau, uring-uringannya selalu ke rumahku. Bikin orang kesel pikiran!" Wah!! Buka kartu nih orang!
Nyebelin deh!
"Kenapa bisa galau?" Alif nih, malah ditanggepin Rendinya.
"Biasalah Lif, rindu sama pawangnya" setelah mengatakan itu, dia puas tertawa. Alif kelihatannya juga mau ketawa, tapi enggak jadi pas lihat mataku sudah melotot ke arahnya.
"Udah pergi sana! Hapalan yang rajin biar bisa nyusul!"
"Iya-iya Na! Masih kurang dua juz lagi ini!" Katanya sambil mengajak Salma turun.
Ini dia alasan kenapa Salma menolak Abdul. Karena diam-diam, Salma juga menaruh hati ke Rendi. Sebagai sahabat yang baik, aku langsung memberitahu Rendi. Dengan semangat 45, besoknya dia langsung pergi ke Rumah Salma buat melamar. Tapi waktu pulang, tampangnya jadi 180 derajat berbeda dari pertama berangkat. Katanya, abahnya Salma mengajukan syarat agar Rendi hapal minimal 5 juz Al-qur'an. Mulai saat itu dia membulatkan tekad untuk menghapal Al-qur'an.
"Hai semua! Aku sekarang sudah ada di pernikahannya Alif dan Nala!" Dari dulu sampai sekarang, Indra masih setia dengan tripod dan kameranya.
"Sapa dong dua juta subcribers-ku!" Ini mau pamer?
Tapi ya akhirnya aku dan Alif tersenyum dan melambaikan tangan ke kamera. Bukan tanda menyerah lo ya, itu beda acara. Ini lambaian untuk menyapa. Wkwkwk.
Di belakangnya Indra juga ada Fahmi. Ternyata mereka berdua juga pada kelompok yang sama selama masa koas. Memang, kalau jodoh enggak kemana. Padahal Fahmi udah jengah sama Indra, apalagi kalau Indra udah pegang kamera. Fahmi langsung keluar ruangan, menurutnya Indra itu terlalu berisik. Iya sih.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka kemudian turun. Berganti dengan dua mantan teman sekamarku. Tom and Jerry kita. Siapa lagi kalau bukan Tika dan Iren.
"Selamat ya Lif, Na!" ucap Tika
"Enggak nyangka, temen kita ada yang cinlok sampai lanjut ke pelaminan!" Iren menimpali dengan senyuman.
Sepertinya, kalau dilihat-lihat mukanya Tika kaya sedang terburu-buru.
"Mau ke mana sih Tik?" Tanyaku.
"Hehehe. Mau lanjut makan. Enak banget sih makanannya!" Tanpa tahu malu dia berkata begitu. Dan mengajak serta Iren untuk turun.
Berbeda dengan Tika yang hobi makan tapi enggak gendut-gendut. Iren dari tadi pasti menahan mati-matian untuk enggak menyentuh kue-kue yang disajikan. Maklum, dia sekarang sedang dalam program menurunkan berat badan. Entah sejak kapan motto "Gendut itu tanda bahagia" miliknya itu hilang.
Rere dan Bayu mulai naik. Tampak di sana Bayu sedang memegang sebuah bingkisan yang terbungkus kertas kado cantik.
"Semoga bahagia atas pernikahannya ya!"
"Makasih Re!" Sama seperti teman-temanku yang cewek, kita bercipika cipiki.
Ngomongin soal Rere. Dia sekarang sudah menggapai cita-citanya. Yaitu menjadi pegawai salah satu bank ternama di Indonesia. Bukan lagi menjadi pegawai bank dalam permainan monopoli. Aku turut berbahagia atasnya.
"Sekali lagi selamat ya! Jangan lupa dibaca!"
Oh iya.
Selain Rere yang berhasil menggapai cita-citanya, Bayu sekarang mulai merintis karirnya. Sebulan yang lalu sebuah penerbit membukukan karya dia. Aku juga datang di acara launching buku perdananya itu. Yang membuatku terkejut, ternyata buku itu mengisahkan perjalanan kita berdua puluh semasa KKN. Semoga saja kejadian aku kejedot pintu dua kali tidak dia tulis. Bisa malu aku.
"Selamat buat kalian berdua!"
"Selamat menempuh hidup baru Alif, Nala!"
"Makasih Pal, Cup"
Meski sudah lama tidak bertemu, tentu aku tidak melupakan mereka berdua. Dan panggilan khusus itu tetap melekat pada diri mereka meski tahun-tahun sudah berlalu. Ucup dan Nopal.
Dengar-dengar, sekarang Ucup sudah punya usaha warnet sendiri. Sedangkan Nopal, dia memilih melanjutkan usaha jagal ayam milik orang tuanya. Dan Alhamdulillah, katanya usaha itu setelah dia pegang menjadi berkembang pesat.
Kini tinggal Gea, Sita, juga Puput. Sama seperti yang lain, mereka mengucapkan selamat juga doa yang baik untuk pernikahanku dan Alif.
Dan pasangan yang tidak terduga akhirnya naik ke pelaminan. Ada Mas Pandu juga Mbak Ida. Diluar dugaanku, mereka ternyata menikah. Setahun setelah kepulangan kita dari desa, undangan pernikahan itu sampai ke rumahku.
Rupanya mereka dijodohkan. Pak kades geram dengan Mas Pandu yang belum juga mengenalkan calon istri. Akhirnya pak kades menjodohkan Mas Pandu dengan anak sahabatnya yang tak lain adalah Pak Mahmud, ayah dari Mbak Ida. Singkat cerita mereka akhirnya saling jatuh cinta dan mulai menerima pernikahan mereka. Dan dikaruniai dua anak laki-laki kembar yang masing-masing mereka gendong.
"Ooh, jadi ini laki-laki yang buat kamu nolak saya. Iya Na?" Aku tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.
Kurasa Mas Pandu tahu jawabannya dari gerak-gerik tubuhku.
"Selamat atas pernikahan kalian. Jaga Nala! Dia sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Jangan buat dia kecewa!" Kata Mas Pandu sambil menepuk pelan pundak Alif. Dan Alif tersenyum mengiyakan.
"Selamat ya Na! Akhirnya bisa bersatu sama ehem-ehem kamu"
"Mbak Ida apaan sih! Ehem-ehem apa coba!" Kita tertawa sekilas. Lalu berpelukan, tidak erat karena ada si kecil di tengahnya.
Selepas pasangan itu turun, aku merasa tanganku ada yang menyenggol. Rupanya itu Alif.
"Kamu emang pernah ditembak sama Mas Pandu?" Ternyata dia masih kepikiran dengan ucapan Mas Pandu tadi.
"Enggak"
"Tadi kok bilangnya kamu nolak dia?"
"Dia enggak nembak, tapi langsung ngelamar. Ngajak nikah" perjelasku.
"Terus kamu tolak?" Aku mengangguk.
Belum lima menit kita duduk, tamu-tamu sudah berdatangan lagi. Dengan terpaksa harus tersenyum tulus padahal kaki sudah menahan lelah.
Tanpa kuduga, Alif tiba-tiba merapatkan tubuh kita. Tangannya merangkul pinggangku erat. Dan aku mengikuti arah pandangnya.
Ha?!
Jadi dia datang?
Orang yang kumaksud langsung naik dan mulai menyapaku.
"Biasa aja kali Lif! Enggak bakal aku rebut Nala-nya"
"Apaan sih Dit?! Katanya enggak bisa datang?" Iya. Orang yang barusan datang adalah Radit.
Jadi ini alasan tiba-tiba Alif jadi posesif?
Aku baru tahu kalau dia pencemburu juga.
"Udah selesai Na, jadi langsung ke sini." aku manggut-manggut.
Kini tatapannya Radit beralih ke Alif.
"Selamat sob! Aku turut bahagia, ya meski agak sakit hati sedikit. Kamu beruntung bisa mendapatkan hatinya Nala, jangan buat dia sedih. Kalau enggak..." dia menggantungkan ucapannya. Membuatku penasaran saja.
"Tahu sendiri lah ya" dia membuat isyarat mata dengan Alif. Dan aku tidak tahu artinya itu apa.
"Enggak akan" dan jawaban dari Alif itu membuat Radit tersenyum miring.
"Baguslah! Btw, congrats Na! Semoga bahagia" setelah mengatakan itu dia langsung turun. Bergabung dengan yang lain.
Akhirnya kita bisa duduk. Aku dapat melihat gurat lelah di wajah Alif. Aku ingin menawarkan minum, tapi bingung mau memulai percakapan. Masih terasa agak canggung bagiku untuk berbicara dengannya. Setelah dua tahun tidak bertemu dan aku tersiksa dengan rindu, kini setelah bertemu malah bingung mau berkata apa.
"Mas, mau minum enggak?"
Ya Allah!
Cuma ngucapin itu tapi groginya setengah hidup!
Agak aneh juga manggil dia dengan embel-embel "Mas" yang biasanya manggil nama langsung.
"Kamu ngomong apa barusan?" Aku diam. Enggak mau mengulangi ucapanku. Masih malu lah.
"Na?"
"Mau minum enggak?" Akhirnya aku mengulangi, tapi tanpa panggilan mas.
"Masa cuma ngomong itu? Kamu tadi manggil apa?"
Tuh kan! Dibahas jadinya.
"Mas. Enggak pantes ya?"
"Pantes. Aku suka" katanya sambil mengusap pelan pipiku.
Aduh!
Berasa kaya es yang dikasih api.
Meleleh deh hatiku ini.
"Gimana? Mau minum enggak?" Tawarku sekali lagi.
"Emang enggak capek mau ambil minum?" Karena dia bertanya begitu, ya aku menjawabnya jujur.
"Capek sih"
"Ya sudah sekarang istirahat" ajaknya.
"Emang boleh?"
"Bolehlah, pengantin kan juga manusia. Butuh makan, butuh minum" akhirnya aku menyetujuinya.
Tapi ketika aku sudah beranjak berdiri dia langsung mengangkat tubuhku. Menggendongku ala bridal style. Sontak saja para tamu langsung heboh. Apalagi teman-temanku. Sudah heboh pasti mereka.
"Pengantin barunya buru-buru amat!"
"Enggak sabar buat berduaan nih yee!"
Dasar mereka!!!
Aku langsung menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Menyembunyikan wajahku yang sudah memerah.
Malunyaaa!!!!