TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Reuni Dadakan



Satu minggu sudah berlalu. Dan aku masih sendiri di rumah. Mas Alif yang katanya akan berusaha pulang setelah satu minggu kemarin malam menelpon jika akan sedikit terlambat pulang. Yah, mau bagaimana lagi. Suruh cepat-cepat pulang juga tidak mungkin. Nanti dia dikira tidak bertanggung jawab oleh bawahannya lagi. Akhirnya aku hanya mengisi hari-hariku dengan bersih-bersih rumah, dan kegiatan lain untuk membunuh kebosananku.


Kegiatan aku mulai dengan menyapu rumah, kemudian mengepel lantai, cuci mencuci, dan terakhir menyiram tanaman di sekeliling rumah. Hmm... kupikir-pikir, halaman belakang rumah terlihat kosong. Kayanya bagus juga jika aku menanam banyak bunga di sini. Lalu menambahkan meja dan kursi, seperti berada di taman bunga. Bagus juga sebagai tempat untuk menghilangkan penat. Lebih baik aku meminta bantuan Astri untuk urusan ini.


Setelah membersihkan diri aku berkunjung ke rumah Astri. Tampak gerbang rumahnya terbuka dan menampilkan dia yang sedang menemani bermain anaknya, Lia. "Hai Astri!"


"Eh, Nala!" Kami berpelukan sebentar.


"Hai sayang!" sapaku pada Lia yang sedang bermain istana pasir dengan mencium pipi gembulnya.


"Hai Tante!" katanya ceria tapi melanjutkan lagi aktivitas bermainnya.


"Gimana kabar kamu Na?"


"Alhamdulillah baik As. Oh iya, Rangga mana?"


"Masih mandi di dalam."


"Oohh." Aku mengangguk-anggukkan kepala. "As, temenin aku ke toko tanaman hias yuk!" ajakku.


"Kamu mau apa?"


"Mau buat taman kecil-kecilan di belakang rumah. Please, temenin ya?" pintaku dengan menyatukan kedua telapak tangan, memohon pada Astri.


"Hmm, aku tanya Mas Rangga dulu."


"Okey!"


Kebetulan sekali, Astri yang akan masuk ke dalam rumah untuk menemui Rangga tapi Rangga sudah terlebih dahulu keluar. Tampak mukanya segar khas orang sehabis mandi. "Loh Nala?"


"Iyap! Rangga! Astri aku pinjam sebentar ya buat nemenin aku belanja," pintaku kali ini pada Rangga.


"Lama enggak?" Pertanyaan yang menjelaskan kalau Rangga enggak mau lama-lama berjauhan dengan Astri.


"Ya tergantung. Tapi nanti kalau sudah selesai pasti cepat pulang kok."


Dia tampak berpikir sebentar. "Oke."


"Yeyy!" Aku langsung memeluk Astri dengan erat. Membuat Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nala, Nala. Udah punya suami juga sikapnya masih kaya anak kecil."


"Biarin dong. Berarti kan awet muda. Daripada mukanya flat terus, entar cepat tua!" sanggahku dengan menyindir Rangga. Dia yang tidak terima menatap tajam ke arahku, membuatku tertawa saja.


"Ya sudah, kamu jagain Lia ya Mas. Aku sama Nala berangkat dulu." Astri kemudian mengambil tangan Rangga untuk diciumnya lalu berpamitan.


Huh!


Adegan yang membuatku semakin rindu saja dengan Mas Alif.


"Ayo As!" Dengan segera aku menarik lengan Astri meninggalakan pekarangan rumahnya.


Kali ini kita akan pergi ke toko tanaman hias yang ada di dekat sini. Jadi kita memilih untuk menggunakan angkutan umum saja. Selain jaraknya dekat, juga untuk menghemat uang. Maklum, sekarang kita sudah tidak sebebas seperti dulu. Apalagi Astri yang sudah memiliki anak, menghemat uang untuk kebaikan anaknya di masa depan tentulah menjadi prioritas utama.


"Kita sudah sampai Na." Setelah angkutan umum berhenti di pinggir jalan, Astri menuntunku masuk ke dalam toko. "Kamu mau nanam bunga apa aja Na?"


"Hmm, belum tahu. Lihat-lihat dulu aja deh."


Astri mengangguki usulanku. Kita pun melihat-lihat bunga yang sesuai dengan seleraku. Astri bolak-balik mengusulkan beberapa tanaman kepadaku, tapi masih belum ada yang sesuai dengan kemauanku.


"Kok aku jadi pengen bunga teratai ya As."


"Ha?" Tampak Astri menepuk pelan dahinya. "Kalau teratai kan tumbuhnya di air Na, bukan ditanam."


"Iya tahu. Tapi tiba-tiba aja kepikiran sama teratai."


"Kamu ada kolam enggak buat tumbuhnya teratai?" tanya Astri.


Aku menggeleng. "Kalau gitu pas Mas Alif pulang biar aku bilang suruh buat kolam aja ya As?"


"Boleh juga. Terus sekarang gimana?"


"Tetep beli aja buat taman daratnya."


Kita pun melanjutkan lagi melihat dan memilih bunga-bunga yang lain. Setelah beberapa waktu, aku akhirnya memilih bunga matahari serta anggrek untuk kutanam. Berhubung aku membeli banyak pohon, maka pesananku akan diantar dengan mobil pick up milik toko.


"Makasih ya As! Sudah mau menemani aku hari ini," kataku setelah sampai di depan gerbang rumah Astri.


"Oke. Kamu yakin nih enggak mau dibantu buat nanamnya?"


"Enggak deh As. Aku mau berkebun sendiri, lagian juga kamu sudah ditunggu sama suami tercinta kamu tuh!" tunjukku pada Rangga yang sudah berdiri di dekat pintu rumah.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya Na!"


"Iya. Makasih ya!"


Tidak butuh waktu lama mobil yang mengantarkan bunga-bunga pesananku sudah datang. Tidak banyak membuang waktu, aku segera berganti pakaian dan memulai waktu berkebunku. Kutanam dan kusiram sepenuh hati, berharap agar mereka dapat tumbuh dan bermekaran dengan cantiknya.


Hari yang beranjak siang membuatku mengakhiri kegiatan berkebun ini. Aku menghela napas lelah. Lelah karena masih rindu yang masih membelenggu. Iseng, aku pun membuka grup chatku dengan teman-teman. Tiba-tiba teringat dengan rencanaku dan Salma untuk menghabiskan waktu bersama.


Good afternoon all!😙


Tika : Ciee.. pengantin baru tiba-tiba nongol.


Rere : Kesambet apaan tiba-tiba nge-chat?


Gea : Iya tuh.


Ih, kalian jahad banget sih. Kan aku kangen kalian❤


Iren : Prett.😛


Tika : Prett juga.


Yaudah kalau enggak percaya.


Btw, main ke rumahku yuk! Kangen beneran nih.


Rere : Reuni dadakan?


Anggep aja begitu.


Iren : Oke deh.


Salma : Aku juga mau!


Yang lain?


Tika : kuy lah!


Rere : Hmm.. boleh juga.


Gea : Sorry, aku sama Sita enggak bisa ikut. Ada shift sore nanti.


Yahhh:(


Astri : Aku juga enggak bisa nih Na. Lagi ngurus Lia.


Puput : Ngurus Lia apa bapaknya?


Tika : Ya ngurus dua-duanya dong. Wkwkwk.


Astri : Berisik! Jomblo dilarang iri.


Wkwkwk. Iya tuh.


Kamu gimana Put? Bisa enggak?


Oke. Kalau gitu nanti jam dua kalian datang ke rumah ya! Nanti aku share loc.


Aku segera bersiap diri. Tidak sabar bertemu dengan teman-temanku yang sekarang super sibuk itu. Yah meskipun ada beberapa yang tidak akan datang, setidaknya yang lain dapat menemaniku nanti.


Empat jam berlalu.


"Oh iya!" Aku menepuk dahiku. Saking semangatnya dengan rencana reuni dadakan ini, aku sampai lupa untuk memberi tahu Mas Alif. Segera aku membuka ponsel lagi dan menelponnya.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


"Kemana sih? Kok enggak diangkat-angkat?" Membuatku kesal saja.


Akhirnya aku memilih opsi untuk mengiriminya pesan saja. Yang terpenting aku sudah izin kepadanya.


To : Mas Alif❤


Mas, hari ini aku undang temen-temen datang ke rumah. Enggak apa-apa ya?


Berhubung panggilanku tadi tidak diangkat, otomatis pesanku ini akan dibalasnya nanti. Jadi aku segera menutup ponsel itu. Beranjak menghampiri pintu karena bel sudah berbunyi berkali-kali. Ketika pintu kubuka, otomatis semua temanku menghamburkan diri kepadaku. Dan dimulailah kehebohan kami.


"Kalian datang! Aku kangen banget tahu!"


"Iya, kita juga kangen. Kangen banget malah!" Suara cempreng khas Tika memenuhi indra pendengaranku.


"Udah-udah! Pelukan terus dari tadi. Emang kalian enggak mau masuk?" Iren berniat mengakhiri acara pelukan yang dramatis ini.


"Oh iya. Ya udah masuk yuk!" kata Tika mempersilakan yang lain masuk.


Membuatku tertawa saja, yang punya rumah siapa yang berlagak seperti tuan rumah siapa. Dasar Tika!


Langsung saja aku mengajak mereka ke ruang keluarga yang terhubung dengan ruang makan serta dapur. Sengaja aku tidak memasak untuk mereka, karena rencananya nanti kita akan memasak bareng-bareng. Bernostalgia sewaktu KKN dulu.


"Alif mana Na?" tanya Rere.


"Masih di luar negeri," jawabku lesu.


"Ya jelas Alif enggak di rumah lah Re. Kalau Alif ada, ngapain kita diundang ke sini," kelakar Tika.


"Yahh! Kita cuma jadi pelampiasan kesepiannya Nala doang." Ini lagi si Puput, mendramatisir suasana. Mana mukanya dibuat sok sedih gitu.


"Enggak gitu juga kali. Kan kalian belum pernah ke sini. Kemarin waktu tasyakuran rumah ini juga kalian enggak datang," belaku.


"Iya-iya percaya." Rere akhirnya berada di pihakku. "Sekarang kita mau ngapain nih?" tanya Rere.


"Masak bareng yuk! Buat nanti sore, sekalian nostalgia waktu KKN dulu," usulku.


"Ayuk!" Salma dengan semangat empat lima berjalan ke arah dapur.


"Iya. Kalian masak aja. Entar biar aku yang nyicip pas enggak rasanya." Iren dengan santainya berkata seperti itu.


"Yeeu! Enak banget!" Tika melempar bantal sofa dan tepat mengenai muka Iren. Membuat yang lain tertawa.


"Udah, ikut kita ke dapur!" Aku menyeret Iren ikut serta ke dapur.


Aku dan Salma memasak lauk, sedangkan Tika dan Rere memasak sayurnya, dan Iren sama Puput membuat makanan penutupnya. Dapur yang biasanya sunyi karena aku sendiri yang ada di dalamnya kini sudah ramai berkat kehebohan teman-temanku itu. Tika yang teriak-teriak karena tangannya kecipratan minyak panas, Puput yang ngomel-ngomel sendiri karena kesusahan membuka susu kaleng, dan Rere yang memilih bernyanyi berduet dengan suara air keran di wastafel saat dia mencuci sayurnya.


Setelah satu jam berkutat di dapur, makanan pun sudah siap disajikan. Berbagai macam menu pun sudah berjejer rapi di meja makan. Bersama-sama kita mulai makan bersama. Diiringi degan perbincangan santai menghangatkan suasana. Sampai maghrib tiba, kita semua sholat berjamaah di ruang khusus sholat. Dengan Salma menjadi imam, dan kita semua sebagai makmum.


"Nonton film yuk!" ajak Rere spontan setelah melipat mukenanya. Kurasa semua setuju dengan usulan Rere. Akhirnya kita semua berjalan menuju ruang tengah untuk menonton film bareng.


"Mau nonton apa?" tanyaku ke mereka.


"Horor aja."


"Enggak!" Usulan dari Tika itu langsung ditolak mentah-mentah oleh kita semua.


"Kamu enggak ingat terakhir kita nonton film horor?" Iren mencoba mengingatkan Tika tentang kenangan waktu kita dulu KKN. Menonton film horor yang berakhir dengan teriakan-teriakan histeris ditambah mati lampu dan penampakan di jendela yang rupanya Pak Karto. Akibat kejadian malam itu, Iren sampai sekarang masih trauma kalau mau nonton film horor.


"


Iya-iya. Terus sekarang mau nonton apa?" Akhirnya Tika mengalah.


"Drama!" Kita semua rupanya sepemikiran. Bukan drama sebenarnya, tapi film bergenre romantis dari negeri ginseng yang menjadi pilihan kami.


Keripik kentang, keripik singkong, dan segala macam keripik lainnya sudah kusajikan di meja. Tidak lupa juga air putih untuk menemani. Tisu juga tidak boleh ketinggalan ketika kita menonton drama Korea. Sudah pasti kita akan banjir air mata berkat akting para aktor dan aktrisnya yang begitu lihai mendalami perannya.


"Oh iya Ren. Kamu kok tiba-tiba kepikiran diet itu gara-gara apa?" tanya Salma memecah keheningan kita semua. Pertanyaan yang mewakili diriku juga.


"Mmmm... ya enggak apa-apa kan? Pengen aja suasana baru," jawabnya. Tapi dengan ragu-ragu. Semacam mengucapkan sebuah kebohongan.


"Masa?" tanyaku untuk memperjelas lagi.


"Iya!"


"Alah! Iren diet itu gara-gara naksir sama manajer di kantornya. Maklum, biar di-, mmpp!" Spontan Iren menutup mulut Tika. Tapi sudah terlambat. Tanpa Tika melanjutkan kalimatnya pun kita semua akhirnya sudah tahu.


"Ekhm!" Puput yang pura-pura batuk.


"Cieee-cieee!" Rere yang kaya anak SD yang menyoraki temannya.


Dan aku yang geleng-geleng kepala tidak habis pikir. Salut dengan perjuangan Iren yang sampai segitunya untuk memperjuangkan cintanya. Mengingat pribadi Iren yang suka makan, pasti sangat sulit baginya untuk menjalani diet. Tapi tubuhnya sekarang yang tampak tidak sesubur dulu adalah bukti dari jerih payahnya untuk berdiet.


"Siapa Ren namanya?" tanya Salma.


"Enggak Ih! Tika itu asal ngomong." Padahal sudah jelas, tapi Iren tetap saja berkilah.


"Yakin nih? Entar kalau bohong dianya malah jauh lo," kata Puput membuat Iren mengetukkan tangannya ke meja.


"Amit-amit! Jangan sampe!"


"Nah kan! Berarti bener!" Seru kita semua.


"Iya deh iya. Aku jujur." Iren pun bercerita tentang laki-laki yang sudah mencari hatinya. Dilihat dari fotonya yang kita telusuri dari media sosial, laki-laki itu cukup keren. Dan lumayan tampan juga. Tidak salah kalau Iren sampai jatuh hati pada laki-laki ini.


"Kalau kamu Na? Gimana nih rasanya pas malem pertama?"


"Uhuk-uhuk!" Sontak saja aku memelototi Rere yang membuatku tersedak keripik kentang akibat pertanyaannya.


"Pertanyaan apa sih Re? Masa kaya gitu mau diceritain." Makasih Salma sudah mau membelaku.


Dasar Rere. Masa pengalaman seperti itu mau dibagikan. Membuat pipiku jadi bersemu merah saja.


"Ya kan penasaran Sal, ya enggak?" Tidak kusangka kalau Tika, Iren, dan Puput mengangguki pertanyaan Rere sambil nyengir enggak jelas.


"Kalau penasaran cepet nikah sana! Biar tahu rasanya malem pertama!" ketusku.


"Nikah mah iya-iya aja. Pasangannya nih yang belum ada." Puput berujar dengan dramatisnya.


"Ya usaha lah!" saranku.


"Ngapain repot-repot. Jodoh mah enggak akan kemana." Tika berkata dengan santainya sambil mengunyah keripik singkongnya.


"Iya. Jodoh enggak akan kemana. Tapi kalau kamu enggak usaha, jodohmu yang kemana-mana," jawabku jadi kesal sendiri dengan Respon Tika yang memang sampai detik ini belum berpikir tentang pendamping hidupnya.


"Hmm.. iya-iya," jawab Tika dengan wajah malasnya.


Acara pun kita lanjutkan dengan menonton film yang sempat kita anggurkan beberapa saat lalu. Benar saja, film itu berhasil mengaduk-aduk emosi kita. Kadang tertawa terbahak-bahak, marah, dan sedih. Tidak satu pun di antara kita yang tidak menangis bombay, membuatku mengambil lagi stok tisu di dapur.


Sampai hari mulai tengah malam, teman-temanku itu satu per satu mulai pulang. Meski singkat, nyatanya kehadiran mereka mampu membuatku melupakan sejenak rinduku kepada dia yang saat ini entah sedang apa di sana.