TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Dingin



Semenjak kejadian tadi sore sampai saat ini Mas Alif masih mendiamkanku. Ruang makan yang biasanya hangat dengan celoteh kita berdua sekarang mendadak diam ditelan sunyi. Hanya dentingan sendok dengan piring yang terdengar. Bahkan untuk sekadar mengomentari masakanku saja dia enggan.


Ya Allah!


Lebih baik aku mengahadapi Mas Alif yang marah daripada diam seperti gunung es yang tak tersentuh ini.


"Mas, aku mau-,"


"Aku sudah selesai." Dia memotong ucapanku dan langsung beranjak pergi dari ruang makan.


Kulihat dia memasuki ruang kerjanya. Bahkan pintu yang tidak bersalah itu menjadi pelampiasan kesalnya dengan membantingnya begitu keras. Membuatku berjengkit kaget. Apakah di se-cemburu itu?


Huft! Bodoh kamu Na! Bodoh!


Lihat Radit yang notabene sebagai temannya saja dia cemburu. Apalagi ini orang asing! Bahkan Mas-mas penjual asongan yang sama sekali tidak mengenal aku dan Kak Rio saja menganggap kita berdua sebagau pasangan romantis. Pasti Mas Alif juga menganggap begitu dalam sudut pandangnya.


Oke. Mungkin ini saatnya aku yang berjuang meluluhkan hatinya.


Langkah pertama adalah dengan memberinya perhatian. Jadi sekarang aku sudah ada di dapur untuk membuatkan susu hangat sebagai temannya bekerja.


Tok! Tok! Tok!


Kuketuk pintu ruang kerjanya. Meski aku istrinya, mengetuk pintu bagiku adalah keharusan jika dia ada di dalam. Terlebih ruang kerja adalah ruang privasinya. Jika aku langsung masuk, takutnya aku mengganggunya.


Tapi sudah beberapa kali aku mengetuk pintu dia tidak menyahut sama sekali. "Mas! Aku masuk ya?!"


Masih tetap tidak ada sahutan dari dalam. Ya sudahlah, lagian aku sudah mengetuk pintu dan memberitahunya. Jadi aku langsung masuk saja. Toh pintunya tidak dikunci juga.


Kulihat dia tengah sibuk membolak-balikkan lembar dokumen di meja kerjanya. Pelan-pelan aku menghampirinya dan meletakkan segelas susu hangat ini di atas meja kerjanya.


"Mas, ini aku buatin susu anget. Biar kerjanya tambah semangat!" kataku dengan muka yang kubuat seceria dan tersenyum semanis mungkin.


"Hmm."


Hmm? Reaksinya cuma itu doang? Ini Mas Alif bener-bener deh! Biasanya juga lihat aku mesem sedikit langsung terlena. Nah ini? Udah dibuat semanis mungkin ditambah gula jawa dua kilo juga dia tetap enggak melirikku sama sekali.


Tak kehabisan akal aku langsung mendekatinya dan berjalan ke belakang kursinya. Tanganku sudah lama tidak memijat, mudah-mudahan rasanya tetap enak. "Mas aku pijit ya? Kasihan kamu kerja tiap hari tapi jarang istirahat. Pasti capek ya?" Mulai deh aku mengeluarkan mulut-mulut manis.


Baru saja aku memulai memijitnya, dia sudah menepis tanganku dari pundaknya. "Enggak usah," katanya singkat sekali.


"Enggak apa-apa kok Mas. Lagian aku juga belum pernah mijit kamu." Aku yang tetap ngeyel masih memijitnya. Kali ini tidak di pundak, melainkan di lengan atasnya.


"Enggak usah Na."


"Enggak apa-apa Mas."


Begitu seterusnya. Mas Alif yang mencoba menyingkirkan tanganku dan aku yang tetap keukeh berusaha keras untuk memijitnya. Di tengah-tengah perdebatan itu Mas Alif menepis tanganku agak kasar, dan tidak sengaja tanganku itu mengenai gelas dan akhirnya air susunya jatuh ke dokumen-dokumen. Sontak dia berdii karena kaget, aku juga tidak kalah kagetnya. Jadi dengan bodohnya aku malah menggunakan jilbabku untuk mengelap mejanya.


"Maaf Mas! Maaf! Aku enggak sengaja." Jelas aku panik karena airnya tumpah mengenai beberapa dokumen.


Beberapa saat kemudia tanganku dicekal olehnya. Membuatku menghentikan kegiatanku dan beralih menatapnya. Mata dingin itu seakan bukan Mas Alif yang kukenal.


"Keluar." Satu kata itu yang terucap dari bibirnya.


"Tapi Mas-,"


"Na? Keluar. Aku bisa membersekannya sendiri." Dia langsung melepaskan tanganku dan mulai memilah-milah dokumennya.


Dengan muka yang merah dan mata yang mulai memanas aku meninggalkan ruangannya. Berjalan cepat ke ruang sebelah yang tidak lain adalah kamarku. Kututup pintu itu sekeras mungkin. Meluapkan segala sesak yang ada. Semacam adegan-adegan di film, tubuhku beringsut tepat di depan pintu. Menekuk lutut lalu membenamkan wajahku dan menangis sepuasnya di sana.


"Hiks! Hiks! Kamu kok jahat sih Mas? Kamu, hiks! Bukan seperti Mas Alif, hiks! Yang kukenal!"


Aku berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wanita menyedihkan ini. Mata sembabku ini sudah menjelaskan berapa lama aku menangis. Sikap dinginnya itu jujur membuatku takut. Tapi itu setimpal. Ini adalah kesalahanku sendiri. Aku tidak tegas dengam Kak Rio, bersikap seolah-olah masih seperti Nala seperti dulu, membiarkan dia menaruh harap kepadaku. Sampai akhirnya Mas Alif sendiri yang mendapatiku dengan Kak Rio.


Tahu jika Mas Alif cemburunya seperti ini, enggak bakalan lagi aku mengulangi kesalahan yang sama. Tapi, bicara soal Mas Alif, ini sudah jam sepuluh. Dan aku belum mendapatinya masuk ke kamar sama sekali. Apa mungkin dia ketiduran di ruang kerjanya? Batinku bertanya.


Jadi kuputuskan untuk mengeceknya di ruang kerja. Tapi sebelum itu aku terlebih dahulu cuci muka, membenarkan penampilanku. Setidaknya aku tidak tampil terlalu menyedihkan di depannya.


Tok! Tok! Tok!


Kembali kuketuk pintu itu. Dan sepertu tadi, tidak ada sahutan dari dalam. Ketika aku akan memutar kenop pintu, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka. Menampilkan Mas Alif yang berdiri tepat di depanku.


"Ah! Mas Alif baru selesai ternyata."


Tidak ada sahutan atau pun balasan darinya. Melihat dia akan melangkah, aku pun minggir karena menghalangi jalannya. Aku kemudian mengikutinya yang berjalan menuju kamar. Kulihat dia tengah menyiapkan baju ganti.


"Mau mandi ya Mas? Aku siapkan air hangatnya dulu ya!" tawarku dan langsung berjalan ke toilet. Tapi saat aku sudah berada di ambang pintu, kalimat selanjutnya membuat langkahku terhenti. Dan senyumku pun memudar.


"Tidak perlu. Malam ini aku tidur di kamar tamu."


Bahkan dia tanpa menoleh sedikit pun ketika mengatakan itu. Dengan santai hanya mengambil baju dan celana lalu berjalan keluar. Aku hanya bisa mentapnya kepergiannya dengan tatapan nanar. Sepertinya malam ini aku akan tidur ditemani dengan deraian air mata.


*******


Pagi-pagi sekali aku sudah tidak mendapati dia di kamar tamu. Sebegitunyakah dia ingin menghindariku? Sampai-sampai melewatkan sarapan yang merupakan kegiatan wajibnya. Jadi pagi ini hanya aku seorang diri yang sarapan di ruang makan. Tidak ada seseorang yang kuantar ke depan pintu. Tidak ada tas yang kubawakan. Tidak ada kecupan hangat di dahi untuk mengawali hari. Dan tidak ada senyuman untukku pagi ini.


Huft!


Ya sudahlah. Kalau terus meratapi kegalauan ini, bisa-bisa aku tidak berangkat mengajar. Tapi mau mengajar pun pasti pikiranku terbang ke mana-mana. Mungkin nanti siang aku bawakan makanan di kantornya. Siapa tahu dia belum makan. Dengan memberikan perhatian terus menerus, kuharap dapat membuat hatinya luluh dan mau memaafkanku.


Dengan langkah malas aku merapikan lagi peralatan bekasku makan. Mencucinya, mengeringkannya, dan menaruhnya ke rak piring. Setelah itu kembali ke kamar dan bersiap diri untuk berangkat. Sangat malas sekali sebenarnya hari ini untuk berangkat. Seperti kehilangan semua semangat dan energi. Padahal di luar matahari sudah tersenyum cerah sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Mengajar adalah kewajibanku. Dan tidak mungkin juga aku akan lepas tanggung jawab begitu saja.


*******


"Bu!" Samar-samar aku mendengar ada yang memanggil namaku.


"Bu!" Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar.


"Eh iya?!" Aku langsung tersentak kaget. Jelas saja, orang satu kelas meneriakkan namaku. Rupanya lagi-lagi aku melamun di tengah-tenga kegiatan mengajarku.


"Ada apa?" tanyaku. Karena jelas aku tidak mendengarkan mereka gara-gara melamun tadi.


"Sudah waktunya ganti pelajaran Bu," jawab salah seorang di antara mereka.


"Ah masa sih?"


"IYA BU!" Mereka lagi-lagi berteriak kompak. Sepertinya gemas denganku. Tapi memang benar, kulihat jam di tanganku dan ini sudah waktunya ganti pelajaran.


Setelah membereskan buku-buku dan peralatan lainnya di tas, aku segera pamit ke mereka. Pergantian jam ini sekaligus mengakhiri jam mengajarku hari ini. Membuatku bisa bernapas lega ketika langkahku sudah keluar dari kelas.


Ketika bel pulang berbunyi, aku pun segera bergegas pulang. Lalu menyiapkan bekal untuk Mas Alif makan siang. Tidak perlu memasak lagi, hanya menghangatkan opor ayam yang kumasak tadi pagi. Lalu memasukkannya ke dalam tupperware. Setelah itu aku berganti baju dan segera meluncur ke membelah jalanan yang selalu padat merayap.


Sampau di kantor aku segere melangkahkan kaki ke lift dan menuju ruang kerja Mas Alif. Tidak seperti dulu waktu pertama kali aku ke sini, sekarang sudah banyak tatapan-tatapan ramah yang ditujukan padaku. Bahkan ada beberapa karyawan yang sampai membungkukkan badan ketika melihat atau pun berpapasan denganku. Membuatku jadi sungkan plus canggung saja.


Sampai di lantai atas seperti biasa aku langsung disambut oleh sekretarisnya Mas Alif. Kali ini Nita ada di balik meja kerjanya. Melihatku, dia langsung berdiri dan memelukku. Tentu saja kusambut dengan hangat. Tidak ada lagi yang namanya kecemburuan seperti dulu. Bahkan kadang jika aku melihat Nita, dalam hati aku menertawaiku diriku sendiri karena salah paham itu.


"Hai Na! Udah lama enggak ketemu ya?"


"Iya."


"Kamu sih enggak pernah datang ke sini!" Dia berlagak seperti sedang merajuk.


"Iya-iya. Maaf! Kan aku juga setiap hari sibuk ngajar." Alasanku memang benar. Jikalau aku bisa datang kesini, pasti itu hari Jum'at seperti sekarang ini. Ketika sekolahan pulang lebih awal. Mau datang Sabtu atau Minggu juga tidak mungkin karena perusahaan ini tutup.


"Hmm. Bisa dimaklumi kalau gitu."


"Oh iya Nit, Mas Alif ada di dalam enggak?" tanyaku.


"Oh Alif?" Aku mengangguk. "Enggak ada." Jawaban dari Nita ini membuatku lesu.


"Dia lagi ada urusan di luar kantor?" tanyaku sekali lagi.


Tapi bukannya menjawab, si Nita malah ketawa puas. "Haduh! Langsung sedih gitu mukanya pas tahu cintanya enggak ada," katanya masih mencoba berhenti untuk tertawa.


Jangan-jangan dia bohong lagi?


"Aku tadi bercanda kali Na!" Benar kan! Gemas deh! Jadi kucubit pinggangnya. Biarin dia mengaduh kesakitan. Salah siapa bohongin orang.


"Jadi Mas Alif ada enggak di ruangannya?"


"Iya. Ada kok!"


"Oke. Kalau gitu aku masuk dulu ya!"


Langkahku terhenti ketika Nita kembali memanggilku. "Ada apa?"


Nita kemudian berjalan mendekatiku. "Kalian lagi ada masalah ya?" bisiknya.


"Kok bisa kamu mikir gitu?"


"Soalnya dia itu tadi berangkatnya pagi-pagi banget. Bahkan sebelum karyawan yang lain hadir, dia sudah duduk di mejanya." Karena dia sedang menghindariku Nit. Jadinya berangkat pagi-pagi buta.


"Auranya juga suram gitu. Sumpah! Mukanya asem banget. Enggak tahan ngelihatnya. Biasanya kan kalau bos datang auranya udah suram gitu pasti ada masalah sama bininya di rumah," imbuhnya lagi.


"Hmm iya. Kita ada sedikit masalah," jujurku.


"Oh gitu. Btw, semoga masalah kalian cepat selesai ya! Enggak kuat aku ngadepin Alif yang kaya gini, bawaannya bikin kesel hati. Tadi pagi aja aku habis kena damprat sama dia." Nita berujar dengan bersungut-sungut. Seperti memang sedang kesal beneran dengan Mas Alif.


"Amiin. Makasih doanya. Kalau gitu aku masuk ya Nit!" pamitku.


"Oke. Good luck!" teriaknya tapi dengan nada lemah. Lengkap dan tangannya yang mengepal dia angkat ke atas. Membuatku hanya bisa tersenyum geli melihat tingkahnya.


Masuk dalam ruangan aku tidak mendapati seorang pun di sini. Kursi kebesarannya juga kosong. Padahal tadi Nita bilangnya Mas Alif masih ada di sini. Langkahku terus masuk lebih dalam. Kupikir, mungkin dia ada di dalam kamar. Jadi aku memilih untuk memeriksanya.


Benar saja. Dalam kamar ini aku melihatnya. Tapi tunggu!


"Ya Allah Mas!" Aku langsung berlari ke arahnya ketika melihat dia tengah meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya.


Jangan bilang kalau dari tadi pagi dia belum sarapan! Pasti sekarang ini maag-nya kambuh. Jadi aku pergi mencari-cari kotak obat. Tapi tidak kutemukan obat itu satu pun, baik di lemari atau pun di laci. Jadi kuputuskan untuk memesan obat itu di salah satu aplikasi dokter online. Tidak lupa juga aku memesan bubur ayam. Tidak mungkin dalam kondisinya seperti ini akan memakan opor ayam buatanku ini.


Sambil menunggu aku membenarkan posisi berbaringnya. Wajahnya terlihat sangat lemas. Keringat juga bercucuran dari pelipisnya. Setelah itu aku menelpon Nita. Memintanya untuk segera membawakan pesananku masuk jika kurirnya sudah datang.


"Na!" Suara Nita di ambang pintu membuatku segera beranjak dan mengambil pesananku yang sudah dia pegang.


"Mas Alif maag-nya kumat Nit." Seolah tahu apa pertanyaan yang ada di benaknya, aku langsung menjelaskannya.


Aku langsung mendudukkan Mas Alif lalu membantunya untuk minum air putih. Tidak lupa juga dengan obat maag yang sudah kubeli tadi.


"Emm, ya udah. Kalau gitu aku keluar dulu ya!" pamit Nita.


"Terima kasih ya Nit!"


"Oke."


Perhatianku kembali tertuju dengan Mas Alif. Kemudian aku menyiapkan bubur ayamnya lalu menyuapinya. Tapi ketika kusuapkan, mulutnya enggan untuk terbuka. Dia malah merebut sendok itu dari tanganku.


"Aku bisa sendiri."


Hadehh! Sudah sakit juga masih ingat aja sama acara ngambeknya.


Lihat! Tangannya aja megang sendok masih gemetaran gitu. Karena gemas sendiri aku kembali merebut sendoknya.


"Udah, ngambeknya diending dulu! Yang penting sekarang kamu sembuh dulu!" tegasku. Kemudian suap demi suap bubur ayam ini masuk dalam mulutnya. Awalnya enggan, tapi akhirnya habis juga bubur ayamnya.