
Berita tentang kehamilanku tentu saja akan menyebar dengan cepat bagaikan angin yang berhembus. Mulai dari mama dan papa mertuaku yang tahu dari Mas Alif, kemudian semua temanku juga tahu. Dan kalau boleh kubilang, sejak tahu aku hamil Mas Alif jadi sangat overprotektif kepadaku. Sampai-sampai untuk turun tangga saja Mas Alif selalu menuntunku. Padahal aku bisa jalan sendiri.
Kalau saja aku tidak memaksa untuk tetap beraktivitas, pasti aku disuruh cuti dari kegiatan mengajarku. Padahal kan kandunganku masih belum besar dan tidak menghalangi aktivitasku, jadi tidak masuk akal kalau aku mengambil cuti hamil. Bahkan aku pernah melihat guru lain tengah mengandung dan perutnya sudah besar pun masih bisa mengajar.
Tapi ya maklum sih. Ini adalah kehamilan pertamaku. Baik aku mau pun Mas Alif baru pertama kali mengalami ini. Jadi segala tindakan Mas Alif yang overprotektif itu untuk berusaha menjadi ayah yang baik.
Untuk gejala morning sickness yang biasa dialami ibu hamil muda, aku pun juga mengalami itu. Muntah-muntah dan mual sekitaran waktu shubuh, tapi pagi harinya sudah normal kembali. Ya itu berkat kehadiran Mas Alif. Entah kenapa tiap mual aku selalu pengen meluk dia, dan itu pun langsung hilang seketika rasa mualku. Yah! Semua hal diluar nalar ini rupanya juga pernah dialami mama mertuaku. Katanya cukup memeluk dan mencium aroma suami saja sudah meredakan morning sickness-nya. Dan aku pun mengalami hal yang sama. Jadilah Mas Alif sekarang jarang pergi ke masjid. Seringnya sholat shubuh berjama'ah di rumah denganku.
Seperti hari-hari biasanya, aku menyiapkan sarapan untuk Mas Alif. Dan kita Sarapan bersama. Lalu aku menyiapakan makanan juga untuk Jimmy, kucing kesayanganku. Oh iya, khusus untuk Jimmy ini Mas Alif melarangku agar tidak berlama-lama bermain dengannya. Apalagi untuk menciumnya. Kalau tahu itu, Mas Alif langsung mengomeli habis-habisan. Dan ternyata setelah aku tanya Gea, memelihara kucing memang agak membahayakan untuk ibu hamil. Jadi ya aku hanya bisa mengikuti sarannya. Sering-sering memebersihkan Jimmy, membawany ke dokter hewan, rajin-rajin cuci tangan setelas mengelusnya, dan banyak lagi.
"Jimmy-nya dibawa pulang ke rumah Mama aja gimana Sayang?" Mas Alif tiba-tiba berdiri di belakangku.
"Enggak! Aku enggak mau Jimmy dibawa ke mana-mana. Awas aja kalau Mas Alif mau macem-macem sama Jimmy! Aku enggak maafin nanti!"
Melihat mukaku yang serius dan nada bicaraku yang ketus ini membuatnya diam seketika. Ketar-ketir menghadapi sensitifnya bumil yang satu ini.
"Eh iya-iya. Jimmy tetap di sini kok. Enggak ada yang mau macem-macem sama dia. Iya Jimmy ya?" Mas Alif jongkok dan ikut mengelus Jimmy.
"Udah sana Mas Alis siap-siap berangkat! Jangan sok asik sama Jimmy!" Aku mengusirnya dengan mendorong bahunya agar dia pergi.
"Iya. Ini aku mau siap-siap. Emangnya kamu enggak mau siap-siap?"
"Ini kan sudah liburan semester ganjil. Mas Alif gimana sih? Gitu aja enggak tahu!"
"Eh iya ya. Mas lupa. Hehehe," katanya sambil nyengir ganteng. Orang ganteng mah mau mukanya dibuat gimana pun jatuhnya tetap ganteng.
"Malah nyengir, udah sana siap-siap! Ngganggu orang aja," ketusku.
Tampak dia mengacak rambutnya yang sudah klimis tadi. Pasti dalam hatinya sudah berteriak-teriak karena lagi-lagi di mataku perbuatannya salah. Setelah kepergiannya ke kamar aku tersenyum lebar.
"Lihat tuh bapak kamu! Mukanya langsung kusut gitu. Enggak tahu apa ya kalau kita kerjain. Hihihi."
Sekarang adalah tangga sepuluh Desember. Hari di mana dua puluh lima tahun seorang Alif Muhammad dilahirkan. Dia terlalu sibuk mungkin, hari ulang tahunnya saja dia lupa. Jadi hari ini aku berniat memberinya kejutan ulang tahun. Seharian pura-pura ngambek sebelum akhirnya memberikan kejutan itu. Rencananya sih aku mau buat kejutannya di rumah. Jadi dia bekerja di kantor, dan aku menyiapkan kejutannya di rumah.
"Sayang! Aku berangkat dulu ya!" pamitnya kepadaku yang sedang rebahan di sofa, menonton kartun di TV.
"Iya. Hati-hat!," ucapanku langsung terhenti ketika mataku menatap tepat ke Mas Alif.
Aku pun berdiri dan menghampirinya. "Ck.ck.ck! Kamu tuh pimpinan tapi masang dasi aja enggak bener! Sini!" Aku menarik dasinya sampai lehernya tertarik, hehehe rasain!.
"Eh! Sakit Sayang!"
"Udah! Kamu diam dulu!" Sambil berjinjit aku membenarkan simpul dasinya yang asal-asalan.
Tanpa kuduga dia manarik tubuhku sangat dekat dengannya. Bahkan aku dapat mendengar deru napasnya. Ini orang sengaja menggodaku apa ya? Kan jantungku jadi dag-dig-dug gini.
Stop Nala!
Ingat rencana awal!
Jutek, cemberut, sebel! Enggak ada yang namanya blushing-blushing enggak jelas.
Jadi aku segera menyelesaikan simpul dasinya sebelum Mas Alif beraksi lebih jauh lagi. Bisa-bisa rencana untuk pura-pura jutek hancur seketika gara-gara melting sama godaannya.
"Gini aja enggak bisa!" kataku setelah menyelesaikan simpulnya. Tapi ketika aku hendak mundur, tangannya sudah tepat dibelakangku. Mengurungku dalam pelukannya.
"Sengaja. Biar dibenerin sama istri tercinta!" bisiknya yang membuat bulu romaku meremang.
Buru-buru aku menyadarkan diriku sendiri. Lalu menarik dasi Mas Alif sampai mencekik lehernya sendiri. Dengan begitu aku bisa lepas dari kungkungan tangannya.
"Oh! Jadi gitu! Kamu sengaja nambah kerjaan buat aku? Yaudah benerin sendiri sana!" Aku kemudian merusak kembali simpul dasi yang semula sudah rapi kubuat.
Tanpa melihatnya, aku kembali duduk di sofa dan menonton tv. "Langsung berangkat kerja sana!"
"Ya enggak bisa dong. Masa pimpinan dasinya enggak bener gini?"
"Pasang sendiri!" suruhku masih tetap fokus dengan kartun yang diputar.
"Ya sudah, kalau gitu aku minta tolong aja sama karyawatiku buat masangin dasi ini."
Aku langsung berbalik menghadapnya. Tampak dia tersenyum miring, berhasil membuatku menaruh perhatian lagi kepadanya. Oke, kalau itu maunya. Aku berjalan ke arahnya lagi. Bukannya menyimpulkan dasinya lagi, melainkan hanya membenarkan sedikit jasnya. Lalu mengusap pelan pipinya sambil mataku menatap tepat ke manik matanya. Aku pun tersenyum manis.
"Silakan kalau mau begitu. Tapi jangan salahkan aku ya kalau pulang-pulang kepala sama badan kamu sudah terpisah," kataku dengan nada lembut sambil mengelus pipinya.
Tampak dia menelan ludahnya secara kasar. "Hehehe. Tadi bercanda kok Sayang. Kalau gitu aku berangkat dulu ya!" Dia mencium puncak kepalaku sekilas. Lalu berlari keluar rumah.
Dasar!
Udah tahu istrinya kaya singa begini, masih coba-coba mau buat cemburu.
*******
Setelah memastikan Mas Alif benar-benar pergi, aku pun memulai aksi. Tv kumatikan dan aku berjalan menuju dapur. Siap dengan celemek warna merah muda dengan motif bunga-bunga, lalu mixer sebagai senjata utama, maka pertempuran akan dimulai.
Eh.
Tapi ketika semangatku sudah turun, sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat kue tart tanpa telur. Sebuah ide melintas di kepalaku. Kenapa sih harus susah-susah mikir ini itu kalau ada penyelamat sejuta umat. Iyap, Google. Tinggal googling aja beres.
"Wah? Bisa gitu ya? Tampilannya juga menarik." Baru tahu aku kalau buat kue tanpa telur itu bisa.
Jadi mengandalkan resep yang kudapat dari internet, aku mencoba langkah demi langkah. Ulang tahun perdana Mas Alif ketika sudah menjadi suamiku ini harus dibuat spesial. Jadilah kue kali ini aku rela repot-repot membuatnya.
Namanya juga amatiran dan minim pengalaman. Percobaan pertama langsung gagal. Kuenya bantet, tidak mau mengembang. Oke, singkirkan.
Percobaan kedua hampir sempurna, kuenya hampir matang. Tapi tiba-tiba tabung gasnya habis. Jadi kompornya mati dan enggak bisa buat ngukus lagi.
Alhasil aku masih menunggu abang ojek online buat nukar tabung gas lama ke tabung gas baru di toko. Jadi sambil menunggu abangnya tadi datang, aku kembali membuat adonan ketiga. Kuharap ini yang terakhir dan yang berhasil.
Sekitar satu jam kemudian kus tart rasa cokelat dengan toping cokelat yang meleleh dan biskuit cokelat juga buah ceri sudah siap kusajikan untuk Mas Alif. Tinggal taruh dalam kulkas supaya hasilnya nanti lebih cantik.
Setelah itu tinggal mendekorasi ruang tamu. Tidak terlalu berlebihan sih, orang cuma buat dua orang saja. Jadi ya dekorasinya cuma balon warna-warni yang sudah kupesan lengkap dengan gas nitrogen di dalamnya. Jelas saja, pasti kesal mulutku kalau harus meniup semua balon ini sendiri. Lalu tulisan selamat ulang tahun yang kutempel di dinding, dan kertas warna-warna yang menghiasi lantai dan sofa.
Ternyata mempersiapkan kejutan kecil seperti ini melelahkan juga. Memakan tidak sedikit waktu dan tenaga. Tiba-tiba saja ini sudah dzuhur. Tinggal sholat, membereskan dapur, setelah itu menelpon Mas Alif agar sore nanti bisa segera pulang.
"Assalamu'alaikum Mas!" sapaku ketika telpon sudah tersambung.
"Wa'alaikumsalam Sayang. Ada apa? Tumben nelpon, lagi kangen ya!"
"Idih PD! Aku cuma mau tanya kamu tuh pulangnya jam berapa?" Iya kangen. Aku cuma bisa bilang begitu dalam hati.
"Seperti biasa, jam empat sore. Kenapa memangnya?"
"Ya enggak. Mau tanya aja. Jadi nanti pulangnya jam segitu ya! Awas kalau sampai terlambat!"
"Insya Allah. Kalau enggak ada halangan." Semoga saja tidak. Aku sudah mempersiapkan semua ini buat kamu. Doaku dalam hati.
"Ya sudah, kalau gitu aku tutup telponnya." Baru saja mau salam, tapi Mas Alif kembali bertanya.
"Kok cepet?"
"Emangnya harus lama?" Aku balik bertanya.
"Iya dong. Masa kamu enggak rindu sama suara aku sih?" Rindu. Makanya cepat pulang biar tahu kejutan apa yang kuberikan.
"Enggak! Udah kerja yang rajin sana! Cari uang yang banyak buat kebutuhan aku sama dedek kecil. Jadi kamu jangan leha-leha ya! Time is money." Lah. Tiba-tiba jadi ceramah gini. Mas Alif sih memperpanjang cerita. Enggak tahu apa ya kalau aku lagi akting jutek sama dia.
"Iya-iya Sayangku, Cintaku. Kok galak banget sih."
"Apa kamu bilang?!" Aku enggak salah dengar kan tadi dia lagi ngatain aku galak?
"Eh, enggak-enggak! Ini lho di tv ada gambar burung gagak. Iya gagak." Alibinya.
"Oh, yaudah kalau begitu. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam," tutupnya dan sambungan terputus beberapa saat kemudian.
Tinggal masak buat makan malam, lalu mandi dan tunggu deh! Dengan langkah riang aku berjalan menuju dapur. Memasak lagi sampai satu jam ke depan. Malam ini menu yang spesial juga, nasi kuning lengkap dengan sambal goreng dan ayam gorengnya. Pokoknya kukerahkan seluruh tenaga agar malam ini berjalan lancar dan sempurna.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Sebentar lagi dia akan pulang. Jadi aku tinggal bersiap-siap diri untuk tampil cantik di depannya. Gaun yang dulu pernah ia belikan waktu aku gagal menghampiri pelantikannya kugunakan sekarang. Lalu wajahku yang kupoles dengan make up yang natural, enggak perlu menor karena Mas Alif enggak suka make up yang terlalu tebal. Terima kasih buat Sita, berkat berteman dengan dia aku bisa tahu apa itu yang namanya make up. Padahal sebelumnya aku hanya bisa memakai lip ice dan bedak bayi. Berkat dia bimbing aku jadi sekarang Nala bisa tampil cantik dengan make up-nya.
Aku sudah siap dan menunggu di ruang tamu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat. Tidak sabarnya untuk menunggu kepulangannya. Aku sudah gugup begini padahal orangnya belum datang.
"Mas Alif ke mana sih?" Kesal banget sudah lama menunggu tapi orangnya belum juga ada. Sampai-sampai adzan maghrib di masjid sudah terdengar.
"Mungkin jalanannya macet, atau kalau enggak gitu mobilnya mogok lagi. Jadi pulangnya terlambat." Aku mencoba untuk positive thinking.
Jadi kuputuskan untuk sholat maghrib dan isya' terlebih dahulu. Kemudian memperbaiki lagi penampilanku dan turun ke ruang tamu.
Sekitar setengah jam kemudian ponsel yang kutaruh di meja tampak bergetar. Menampilkan seseorang yang mengirimkan pesan. Buru-buru aku membukanya. Siapa tahu itu dari Mas Alif.
Selamat! Anda mendapatkan hadiah 100 juta rupiah! Dari PT. ABC DEF. Untuk mengklaim hadiah anda silakan kunjungi link di bawah.
www.cepatkaya.com
Haishh!
Kupikir Mas Alif. Rupanya orang aneh yang mengirim pesan abal-abal seperti. Pengen kubanting saja ponselku ke lantai. Tapi kuurungkan niatku itu. Masih sayang sama ponsel ini. Daripada kubanting, kugunakan ponsel itu untuk memanggilnya.
Lama sambungan tidak terhubung.
"Ini kantornya Mas Alif di hutan apa gimana sih? Dari tadi ditelpon enggak diangkat-angkat," kesalku sambil menaruh ponsel ke sofa.
Sudah jam tujuh malam. Tapi suara mesin mobilnya masih belum terdengar. Pulang telat, ponsel enggak aktif, enggak ada kabar. Kan jadi khawatir ini!
Nita juga tadi aku tanya dia enggak tahu karena dia sudah pulang dari sore tadi.
Ah sudahlah!
Aku menunggu sambil rebahan di sofa yang panjang. Barang kali dia tiba-tiba muncul di balik pintu kan siapa tahu. Sambil men-scroll salah satu media sosialku, aku menunggunya.