
"UCUP!!! BANGUN GAK? YA ALLAH NIH ANAK!!!" Seorang wanita tengah berteriak dari arah dapur. Wanita yang tak lain adalah ibu tercinta dari Ucup sendiri.
"Iya Mak! Lima menit lagi!" teriak Ucup di balik selimut tebalnya.
"Iya! Nunggu lima menit habis itu PS-nya langsung Mak Jual!!!" Ancaman tidak main-main dari emak sukses membuat Ucup langsung berdiri dan menghampiri ruang tengah untuk mengecek apakah emaknya sudah bertindak atau belum. Tak dihiraukannya masih memakai celana boxer juga bertelanjang dada, rasa malunya tidak seberapa jika harus kehilangan PS kesayangannya.
"Emak?" Ucup tidak mendapati emaknya dia ruang tengah juga PS nya yang masih aman.
"Apaan?" Emak menghampiri Ucup dari arah ruang tamu. Tangannya membawa sayur mayur juga tempe tahu, sepertinya emak mengancam Ucup ketika mau belanja di depan.
"Ya Allah Mak! Kirain mau dijual beneran." Ucup mengelus dadanya sok dramatis.
"Buset dah! Itu cuma celana Daleman dong, muka masih ileran juga, ngapain keluar kamar? Untung aja enggak ada yang liat." Si emak sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya sendiri.
"Urgent Mak. Kalau enggak diancem tadi juga gak bakalan keluar kamar kaya gini." Masih enak nikmati rebahan di kasur. Sambungnya dalam hati.
"Niatnya Mak mau jual beneran kalau sampai kamu pulang enggak bawa calon istri."
"Ya Allah Mak. Dikira nyari istri segampang nyari onde-onde di pasar apa ya? Sekali ketemu langsung comot." Ucup yang sudah lelah dengan bahasan istri oleh keluarganya terlebih lagi dari emaknya emaknya membuat dia melangkah gontai kembali ke kamar.
"Enggak pernah nyoba sok-sokan bilang susah," cibir emak sambil melirik sekilas ke arah Ucup yang masih memegang kenop pintu kamarnya.
Ucup menghela napasnya lelah. "Iya, ini lagi diusahakan."
"Harus! Masa udah umur tiga lima tahun aja masih belum laku. Enggak malu tuh sama si Evi yang udah nikah padahal baru lulus SMA." Ini yang paling tidak Ucup suka dari emaknya. Mungkin tidak disukai hampir seluruh anak di dunia ini. Yaitu ketika dibanding-bandingkan dengan anak tetangganya.
"Ya kan si Evi nikahnya gara-gara hamidun duluan," balas Ucup tak terima.
"Iya ya. Ralat. Kalau gitu enggak malu kamu sama temen-temen kamu yang udah sampai gendong anak dua?"
"Iya Mak. Iya. Ini Ucup beneran lagi usahain, bener dah! Makanya Emak rajin-rajin doain Ucup biar laku, jangan rajin ngomelin Ucup doang Mak."
"Iya. Mak doain moga dapet. Enggak usah muluk-muluk, penting cantik, baik, mandiri, penyayang orang tua, bisa masak, bisa ngerawat rumah, dan kalau bisa berada, kalau enggak ya udah gak apa-apa, Mak gak maksa. Udah Cup. Cuma itu doang maunya Emak, enggak usah banyak-banyak."
"Permintaan panjangnya udah kaya rel kereta kaya gitu masih dibilang enggak banyak," cibir Ucup pelan. Tidak mau kalau sampai memicu omelan untuk ke sekian kalinya. Bisa-bisa nanti dia kenyang omelan bukan kenyang sarapan.
"Bilang apa kamu Cup?"
"Eh! E-enggak kok Mak. Ucup mengaminkan semoga jodoh Ucup seperti yang emak harapkan."
"Hmm. Ya udah sana mandi! Habis itu kasih makan kambing noh di belakang!"
"Iyaa."
Segera Ucup masuk ke dalam kamarnya dan tidur sebentar meski lima belas menit. Setelah itu mandi dan memberi makan kambing-kambing peninggalan almarhum ayahnya. Baru setelah itu dia memberi makan dirinya sendiri.
"Mak, Ucup berangkat ke warnet dulu," pamit Ucup dengan mencium punggung telapak tangan emaknya yang tengah menonton sinetron. Batinnya pasti sudah heran dengan emaknya yang masih pagi sudah menonton sinetron azab favoritnya.
"Iya. Udah sana berangkat! Jangan ganggu emak nonton!" Si emak merasa terganggu karena Ucup berdiri tepat di depan televisi sehingga menutupi pandangannya.
"Iya-iya Mak. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
*****
Satu tahun setelah wisuda Ucup memutuskan untuk membuat sebuah usaha. Karena ia tidak ingin bekerja terikat dengan perusahaan sehingga akan menguras waktunya. Mengingat lagi emaknya di rumah sendirian juga sudah berumur. Jadilah sekarang kesehariannya menjaga sebuah warnet. Sebelum besar dan ramai seperti ini tentunya dia mulai dengan warnet kecil lebih dulu. Masih ingat dulu dia hanya mampu membeli lima komputer juga tempat usaha masih menyewa. Dan sekarang warnet itu sudah besar dan bisa menambah jasa fotokopi hingga sekarang dia bisa mempekerjakan dua orang. Meski begitu dia setiap hari terus memantau dan menjaga warnet, terkecuali jika ada urusan penting. Seperti ketika emaknya sakit misal. Maka dia akan mempercayakan warnet ke dua orang pekerjanya. Lagian pekerja itu juga tetangganya sendiri.
Setelah membuka warnetnya, maka tak lama kemudian banyak orang berdatangan dengan berbagai tujuan. Ada yang memang untuk mengetik tugas, memfotokopi surat, atau pun bermain game. Apalagi ini hari Minggu, banyak anak kecil yang langsung memadati tempat untuk bermain game online dengan teman-temannya. Di sela-sela kesibukannya menjaga warnet, dia juga tidak jarang memanfaatkan waktunya untuk bermain game sendiri. Membiarkan pekerjanya saja yang bekerja.
Seperti saat ini, dia sedang asyik memainkan sebuah game online di ponselnya. Ketika permainannya tengah memasuki saat tegang-tegangnya, sebuah panggilan masuk. Hampir saja dia mengumpat kalau tidak ingat dia tengah berada di samping banyak orang juga karena yang menelponnya adalah emaknya sendiri. Tidak mau nanti menambah panjang urusan, maka Ucup memilih segera mengangkatnya saja. Dia relakan permainannya demi emak tercinta, juga demi tidak mendapat amukan emaknya.
"Assalamualaikum Mak. Ada apa?"
"Eh, Cup. Sekarang sibuk gak?"
"Enggak Mak. Kenapa?"
"Temenin emak ke pasar. Tadi lupa kalau bahan-bahan udah habis."
"Ya Allah Mak, kenapa enggak dari tadi aja?"
"Lupa Cup. L-U-P-A," kata si emak sambil mengeja kata lupa sambil memberi penekanan.
"Emak mah gitu. Ucup masih mager nih Mak."
"Oke kalau gitu. Biar nanti malem makannya kerikil sama batu aja. Awas kalau enggak mau!" Sudah gawat kalau jurus ancaman si emak keluar. Si Ucup yang mendengar itu langsung kalang kabut.
"Eh! Eh! Iya Mak! Iya. Ini mau otw ke rumah." Buru-buru Ucup membawa tas kecilnya dan berpamitan ke dua karyawannya dengan masih bertelepon dengan emaknya.
"Bagus kalau gitu. Ya udah, Mak tunggu kamu di rumah. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Ucup pun segera mengegas motornya membelah jalanan. Kalau saja jalan raya tidak ramai, sudah dipastikan kalau dia membawa motornya sampai menyaingi Valentino Rossi. Tapi dia masih sayang nyawa untuk melakukan itu sekarang.
Sepuluh menit kemudian dia sudah sampai di rumah. Emaknya sudah siap dengan penampilan daster rumahannya, jilbab instan, juga tas belanjaannya. Emak langsung menghampiri Ucup dan naik di jok belakang motor Ucup. Tanpa memberi jeda Ucup untuk istirahat.
"Enggak mau ngasih minum dulu apa gimana nih Mak?"
"Gak usah. Kelamaan. Entar beli es aja di pasar."
"Hmm." Dengan setengah hati Ucup menjalankan motornya menuju pasar.
Membonceng emaknya merupakan salah satu hal yang tidak begitu dia sukai. Pasalnya badannya langsung remuk setelah itu. Bagaimana tidak? Tiap kali Ucup menambah kecepatannya yang menurutnya masih wajar, maka emak di belakangnya sudah siap memberikan pukulan di bahu Ucup. Atau ketika mereka menjumpai polisi tidur, masih jauh juga si emak sudah memperingatkan Ucup untuk hati-hati. Bukan hanya omongan saja, ditambah bonus pukulan lagi. Tapi itu semua dengan sabar Ucup lakukan. Emaknya selalu menolak jika ia mengajak menggunakan mobil. Maklum, emak tercintanya mudah mabuk kendaraan.
Sekitar lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah pasar tradisional. Lalu lalang buruh panggul, pembeli yang sedang memilih belanjaan, penjual yang sibuk melayani semua pemandangan biasa ketika di pasar. Dan Ucup sebagai asisten bertugas untuk membawakan belanjaan emak tercinta. Tidak tanggung-tanggung, rasanya satu tas belanjaan besar tidak cukup. Masih menambah satu kresek besar lagi. Karena kalau pergi ke pasar hanya seminggu sekali, dan langsung memborong belanjaan banyak.
Sambil menunggu emaknya memilih daging ayam, Ucup duduk dan mengamati sekitar. Matanya kemudian tidak sengaja menangkap sesosok perempuan dengan topi yang menutupi hampir separuh wajahnya. Gerak-geriknya begitu mencurigakan di mata Ucup. Maka dia terus mengawasi perempuan itu. Dia berjalan perlahan menuju kerumunan ibu-ibu yang tengah membeli. Tunggu! Dia mendekati emaknya Ucup. Dan dengan cepat tangannya langsung mengambil sesuatu dari dalam tas emaknya.
Dompet!
Ucup yakin perempuan itu mengambil dompet milik emaknya. Secepat kilat dia berlari mengejar perempuan itu. Si emak yang melihat anaknya lari terbirit-birit berteriak untuk menanyakan ke mana Ucup akan pergi.
"Toilet bentar Mak!" teriak Ucup di tengah larinya.
Perempuan yang ia kejar begitu gesit. Tapi Ucup tidak menyerah begitu saja. Dia juga tidak kalah gesitnya dengan tubuh cungkring yang ia miliki.
"Woy! Berhenti!" teriak Ucup agar perempuan yang dia kejar berhenti. Tapi bodohnya dia mengharapkan copet itu berhenti. Memangnya copet itu mau cari mati apa gimana tiba-tiba berhenti pas ada yang mengejar.
Langkahnya semakin masuk ke dalam pasar dan berakhir di belakang pasar. Hanya ada tumpukan kardus juga beberapa barang tidak digunakan lagi. Melihat si perempuan yang mulai lengah, Ucup langsung mempercepat langkahnya dan berhasil meraih lengan pelaku. Sekuat tenaga dia mencengkeram lengannya agr tidak kabur, masalah dia itu perempuan akan Ucup pikir belakangan. Yang terpenting dompet emaknya harus terselamatkan.
"Siapa kamu?!" Tidak menjawab, perempuan itu berusaha untuk kabur.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban maka Ucup yang bertindak sendiri. Dibukanya topi yang menutupi sebagian wajahnya. Bak adegan slow motion di sinetron, rambut perempuan itu langsung tergerai jatuh dan perlahan memperlihatkan wajahnya.
Cantik. Batin Ucup.
"Mana dompet ibu saya?!"
"Saku belakang," jawab si perempuan dengan acuh. Segera Ucup mengambil dompet ibunya yang berada di saku belakang celana milik si perempuan itu.
"Udah kan? Sekarang lepasin!" Perempuan yang Ucup tidak tahu namanya itu memberontak agar dapat terlepas dari cengkeraman tangan Ucup.
"Enak aja. Tunggu bentar!" Ucup mengeluarkan ponselnya lalu menghidupkan kamera. Dipotretnya perempuan itu.
"Woy! Ngapain difoto!"
"Sebagai barang bukti. Sekarang duduk bentar, ada yang mau aku tanyain. Jangan coba-coba buat kabur! Atau aku serahin foto ini ke polisi."
"Iya-iya!" Perempuan itu pun menuruti perkataan Ucup untuk duduk. Ucup juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa nyopet?"
"Ya buat nyari duit lah!"
"Udah sering ngelakuin ini?" Bak polisi yang tengah mengintrogasi pelaku kejahatan, Ucup terus mewawancarai perempuan itu.
"Enggak. Baru pertama ini."
"Pantes amatir," gumam Ucup membuat perempuan di depannya mengalihkan perhatiannya.
"Sebelum ini kerjanya apa?"
"Tukang parkir."
"Terus kenapa sekarang harus nyopet?"
"Aelah, banyak banget nanyanya. Udah ah! Aku mau pergi." Dan ketika perempuan itu sudah berdiri, Ucup segera mengeluarkan ponselnya dan menampilkan gambar perempuan itu tadi.
"Eits! Maju selangkah dan ini langsung kesebar."
"Kenapa enggak nyari kerja aja? Memangnya kamu mau ngasih adik kamu makan juga obat dari uang haram?"
"Mau kerja apa? Lagian aku cuma lulusan SD. Kalau bisa milih juga gak mau kaya gini," ucap perempuan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Ya coba aja. Siapa tau ada yang diterima. Kalau masih muda, masih sehat juga, jangan coba-coba buat kerja enggak halal. Coba aja dulu. Kalau udah usaha, sertakan tuhan juga. Doa jangan lupa." Ucup memang kadang kala bisa sebijak ini. Kalau teman-temanya mendengar, pasti mereka tengah mengira kalau Ucup kerasukan jin bijak.
"Iya."
"Sini, ikut!" Ucup menarik lengan perempuan itu untuk kembali ke pasar. Dia membawanya ke bagian pakaian.
"Cepet pilih buat kamu sama adik kamu."
"Enggak mau, aku enggak ngemis belas kasihan orang lain."
"Siapa bilang kamu ngemis? Ini aku yang bantu. Ikhlas. Dan juga aku enggak menerima penolakan."
Perempuan itu memutar bola matanya malas. Menuruti perkataan Ucup dengan memilih beberapa setel baju untuknya juga untuk adiknya. Melihat baju berukuran kecil yang dipilih, Ucup tebak bahwa adiknya laki-laki. Setelah selesai dengan urusan belanja baju, Ucup kemudian memberikan beberapa lembar uang seratus ribu untuk perempuan itu. Awalnya sempat menolak, tapi Ucup berhasil meyakinkan.
"Makasih." Setelah mengucapkan terima kasih, perempuan itu langsung pergi. Mungkin untuk membeli obat adiknya.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba Ucup mendapatkan jeweran di telinganya. Ketika dia melihat siapa pelakunya, ternyata sang emak yang dengan raut muka yang tidak enak.
"Dicariin dari tadi juga enggak taunya melipir ke sini! Dompet emak kamu bawa ya?! Untung ya tadi emak sempet naruh uang di saku."
"Aduh! Duh! Iya Mak! Iya! Ampun! Ini dompetnya Ucup kembaliin." Perlahan jeweran itu sudah mereda. Membuat Ucup bisa mengusap telinganya yang memerah agar tidak terasa sakit.
"Ayo pulang!" titah si emak sambil memberikan tas juga kresek uang sudah penuh berisi belanjaan.
"Iya Mak." Sekuat tenaga Ucup mengangkatnya sampai ke parkiran. Sudah tadi ngos-ngosan habis main kejar-kejaran, dan sekarang nguras tenaga lagi dengan menjadi kuli angkut untuk emaknya. Untuk dia sayang dan tidak menolak permintaan emaknya. Lagi pun dia juga tidak bisa menolak, mau dikutuk jadi apa?
*****
"Bang, udah dapet nih penggantinya si Banu."
"Laki apa cewek?" tanya Ucup ketika sampai di depan warnetnya.
Salah satu pekerjanya mengundurkan diri tiga hari lalu. Bukan karena gaji kurang atau perlakuan kurang baik dari bosnya yang tak lain adalah Ucup sendiri, melainkan akan menikah dan bekerja di tempat istrinya. Lagi-lagi hal ini membuat dia disindir habis-habisan oleh emaknya. Kan sudah dibilang kalau dua orang pegawainya adalah tetangganya sendiri. Tentu saja emaknya akan tahu. Sudah pasti dia harus menyiapkan telinga kanan dan kirinya untuk mendengarkan sindiran, omelan, dan lain-lain lagi.
"Permisi!" ucap seseorang setelah masuk dan menghampiri meja tempat Ucup dan satu karyawannya.
"Iya. Ma-," ucapan Ucup langsung terhenti begitu juga perempuan yang barusan masuk langsung terpaku.
"Kamu?!" ucap keduanya bersamaan.
"Oalah, jadi sudah kenal toh? Bagus kalau gitu. Bang, ini namanya Lia. Dia yang bakal gantiin Banu. Dan Lia, ini Bang Yusuf. Bos kita." Karyawan Ucup yang bernama Ari itu memperkenalkan keduanya.
Ucup juga Lia tidak menyangka kalau mereka akan bertemu lagi. Malang sempit sekali, pikir mereka berdua. Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, juga karena dia sangat butuh pekerjaan, Lia terima saja bekerja dengan seseorang yang pernah menjadi korban pencopetannya dulu. Sedangkan Ucup, dalam hati dia sudah senyum-senyum sendiri. Berarti nasihatnya berhasil. Buktinya Lia sekarang mencari pekerjaan. Dan lagi, sekarang dia melihat Lia yang berpenampilan rapi. Sangat cantik di matanya. Apalagi dia tahu kalau Lia tengah memakai baju yang ia belikan tempo hari.
"Salam kenal Bang, aku Lia." Membunuh egonya, Lia mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan dan dibalas oleh Ucup juga.
Dan semenjak itu mereka sering bertemu karena berada dalam satu tempat kerja yang sama. Selama bekerja, Lia ternyata tidak menimbulkan keributan seperti yang pernah Ucup takutkan. Yang penting bisa membaca dan menulis, maka Lia cepat sekali belajar hal-hal baru. Dan tak sengaja pula, tiba-tiba Ucup merasa kalau ada rasa yang berbeda untuk Lia. Lebih dari sekedar bos dengan pegawainya.
Hari ini Ucup keluar warnet sebentar. Ketika akan kembali lagi ke warnet, dia memilih membelikan es dawet uniknya juga untuk Ari dan Lia. Sesampainya di warnet, betapa terkejutnya Ucup melihat keadaan meja kasirnya berantakan. Komputernya jatuh, meja tempat menyimpan uang berantakan dan beberapa uang receh terjatuh di lantai. Kemudian matanya mengarah ke luar warnet. Dia sempat melihat Lia tengah mengejar seseorang sampai berbeluk ke sebuah gang. Segera Ucup berlari dan menyusul Lia.
"Lia!" teriaknya ketika melihat karyawatinya itu tengah memiting tangan seorang laki-laki yang tubuhnya bahkan lebih besar darinya.
"Bang! Cepet ke sini! Nih orang habis nyuri di tempat kita Bang. Enaknya kita apain nih?" Jiwa bar-bar Lia yang sudah lama pensiun sebagai preman pasar merasa tergugah.
"Jangan diapa-apain! Kita telpon polisi." Lalu Ucup mengambil ponselnya dan menelpon polisi. Tidak lama kemudian sebuah mobil patroli polisi datang dan langsung meringkus penjahat tadi. Dan kini tersisa Lia dan Ucup.
"Yahh, sayang banget! Padahal belum aku hajar tadi."
"Hust! Jangan gitu. Kapan majunya Indonesia kalau semua orang maunya main hakim sendiri?" peringat Ucup ke Lia. Bukan hanya itu saja sebenarnya alasannya, dia juga tidak mau kalau Lia sampai terluka..
"Ya udah, ayo balik ke warnet! Heh? Kenapa lagi ini?" Ucup baru sadar kalau lengan baju Lia berdarah. Disingkapnya kemudian dan memperlihatkan sebuah luka sayatan dengan darah yang masih mengalir.
"Ya Allah! Kok bisa kaya gini sih Lia?"
Lia mengendikkan bahunya. "Enggak tahu Bang. Mungkin tadi kena pisaunya."
Tanpa banyak bicara lagi, Ucup pun segera membawa Lia ke warnet dan mengobatinya di sana. Di perjalanan Lia bercerita mengenai kronologi kejadiannya. Ketika Ari pergi mengantar fotokopian surat ke tempat pelanggan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang masuk dan mengatakan hendak memfotokopi. Dan ketika Lia akan memasukkan uangnya ke meja kasir, pria tadi langsung mengambil banyak uang dari sana dan langsung kabur. Lia pun segera mengejarnya dan berakhir dengan kemenangannya. Mendengar itu membuat Ucup merasa bersalah. Andai saja dia tidak keluar tadi. Pasti Lia masih baik-baik saja.
"Sini tangan kamu." Lia menurut saja Ucup akan mengobati tangannya.
Dengan telaten Ucup membersihkan tangan Lia dengan alkohol, lalu memberikan obat merah dan menempelkan plester setelahnya. Sebenarnya sangat perih, tapi melihat wajah Ucup yang sangat tulus mengobatinya seakan menjadi bius untuknya. Tidak ada sakit, tidak ada perih.
"Sudah." Ucup sedikit menekan plesternya, membuat Lia terkejut dan merintih. "Eh? Ada yg sakit?"
Lia menggeleng pelan. "Makasih."
"Iya. Lain kali lebih hati-hati. Dan lagi, kalau seumpama lihat penjahat jangan turun tangan sendiri. Teriak minta tolong aja!"
"Ya mana keburu Bang! Udah lari jauh dianya."
"Kalau kamu teriaknya kenceng juga pasti warga langsung denger."
"Enggak seru ah! Lebih baik ditangkap sendiri. Kan keren tuh."
"Lia, dibilangan jangan ya jangan!"
"Ya tapi kenapa?"
"Karena aku khawatir sama kamu Lia!" Tidak sengaja Ucup berteriak di depan wajah Lia. Kini dia sangat takut kalau Lia ikut marah atau sakit hati. Ucup merutuki dirinya sendiri. "Ma-maaf!"
Lia terhenyak sejenak. Mencerna kata demi kata yang Ucup ucapkan barusan. Bukannya marah, Lia malah tertunduk malu. Entahlah, kalau dekat-dekat dengan Ucup seolah kepribadiannya berubah. Sejak kapan seorang Lia bisa malu-malu kucing? Itu terjadi hanya ketika bersama Ucup.
"Enggak apa-apa kok. Maaf juga tadi aku yang ngeyel."
"Hmm," keduanya tiba-tiba dihampiri suasana canggung.
Untuk mengusir kecanggungan itu Ucup berdehem sebentar. Lalu membereskan kotak P3K. Setelah itu dia menaruhnya ke lemari di belakang Lia. Tidak menduga kalau jarak keduanya sangat dekat. Dan kalau sampai ada orang yang lihat pasti mengira kalau mereka tengah berciuman.
Cklek!
"Ya Allah UCUP!!!!!" Benar kan. Baru saja dibahas sudah ada orang yang salah paham. Segera Ucup menjauhkan diri dari Lia dan melihat ke arah pintu. Di sana sudah berdiri si emak dengan kedua tangan ditaruh di pinggang.
"Kamu habis ngapain ha?"
"Aduh! Duh! Duh! Ampun Mak! Ucup enggak ngapa-ngapain kok! Beneran!"
"Halah! Alasan! Orang tadi emak liat dengan mata kepala emak sendiri!" Kemudian mata emak menatap Lia yang dari tadi hanya bisa diam tak berkutik di depannya.
"Neng, kamu habis diapain sama Ucup?"
"E-enggak kok Mak! Enggak diapa-apain!" Sontak Lia langsung menggeleng tegas. "Jadi lepasin Bang Ucup nya Mak."
"Enggak. Pasti kamu tadi dipaksa Ucup buat tutup mulut ya? Ini juga, kenapa tempatnya jadi berantakan gini? Emak enggak percaya kalau memang beneran enggak ada apa-apa." Ucup hanya bisa pasrah telinganya menjadi korban tangan emaknya kali ini.
"Makanya! Kalau emak suruh cepet nikah ya cepetan! Kan gini jadinya kalau udah enggak sabar tapi belum ada pasangan." Emak kemudian melepaskan tangannya dari telinga Ucup.
"Emak enggak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab!" Mata Ucup langsung membelalak mendengar ucapan emaknya. Dia bertanggung jawab atas hal apa coba?"
"Tanggung jawab apa sih Mak?"
"Neng, kamu enggak usah takut. Nih anak emak bakal tanggung jawab kok! Kamu mau kan nikah sama anak emak?" Dengan malu-malu Lia mengangguk. Membuat Ucup kembali membelalakkan matanya, dan membuat emak langsung tersenyum lega.
"Li, apa maksud kamu? Aku enggak mau kamu nurutin kata ibuku yang enggak jelas."
Pletak!
"Aww!! Apalagi sih Mak?" Ucup rasanya serba salah dengan emaknya. Membela diri saja langsung dijitak keningnya.
"Enggak jelas apanya? Ya udah kalau enggak mau. Emak cari orang lain aja buat si eneng, sebagai ganti kamu yang enggak mau tanggung jawab!"
"Eh-eh!! Berhenti Mak!" Ucup memetik lengan emaknya yang hendak membawa Lia pergi. "Emak jangan gitu dong! Ucup mau kok!"
"Lha terus tadi kenapa nolak?"
"Bukannya gitu, Ucup gak mau kalau Lia nikah sama Ucup gara-gara nurutin emak, alias terpaksa. Ucup mau Lia nikah sama Ucup tuh sebab cinta. Seperti cinta Ucup ke Lia." Dua orang perempuan di depan Ucup langsung menatap kaget. Terlebih lagi Lia yang baru menyadari kalau Ucup mencintainya.
"Neng, apa bener kamu terpaksa nikah sama Ucup?"
"Enggak kok Mak. Saya enggak merasa terpaksa. Karena saya juga cinta sama Bang Ucup."
Mendengar itu membuat emak langsung berteriak kegirangan. "Alhamdulillah!!! Ya udah, ayo kalian ikut emak ke KUA sekarang juga!"
"Ha???" Ucup dan Lia saling menoleh tidak percaya.