
Jam dinding masih menunjukkan pukul setengah delapan malam, belum waktunya untukku tidur. Karena biasanya jam sepuluh malam aku baru tidur. Jadilah sekarang aku sibuk bercerita dengan Salma untuk menghapus sejenak kepedihan ditinggalkan Jimmy. Banyak hal yang kita bicarakan. Mulai dari makanan, baju, restoran yang baru buka, sampai masalah pernikahan.
“Jadi ya gitu deh Na. Setiap hari harus menghadapi manjanya Mas Rendi. Awal-awal pernikahan agak terkejut sih, tapi lama-kelamaan juga akhirnya terbiasa.” Salma bercerita tentang perilaku mengejutkan Rendi setelah menikah dengannya.
“Iya sih. Kebanyakan orang akan menujukkan sifat aslinya pas udah menikah. Tapi kalau untuk sifat Rendi yang manja itu enggak buat aku heran sih, orang sampai sekarang aja masih manja sama mamanya. Cuman covernya aja yang dibuat sok keren gitu,” kataku terlewat jujur tentang Rendi. Membuatku dan Salma jadi tertawa.
“Kalau Mas Alif gimana Na? Sifat apa yang kamu enggak nyangka ada di dia?” tanya Salma di sela-sela tawanya.
Ini kenapa harus membahas orang itu sih?!!! Enggak ada bahan obrolan lain apa ya?
“Ganti topik deh Sal. Malas aku kalau mau bahas dia sekarang.”
“Ya kan aku pengen tahu Na.” Lah. Ini kenapa tiba-tiba muka Salam dibuat sedih gitu? Kan membuat aku jadi merasa bersalah.
“O-oh Mas Alif ya? Kalau aku sih enggak nyangka sama sifat mudan cemburunya dia.”
“Bagus dong! Cemburu kan tanda cinta.” Lihat kan! Wajahnya langsung balik lagi seperti semula.
“Iya sih cemburu itu tanda cinta, tapi kalau kelewatan ya bahaya juga.”
“Contohnya?”
“Hmm... apa ya?” Aku masih mencoba mengingat lagi kecemburuan Mas Alif yang tidak beralasan.
“Oh ini. Waktu itu aku datang ke kantornya. Tapi aku lihat ada Nita di kafetaria. Jadi aku samperin dong. Di meja itu ada satu cowok, aku lupa dia itu karyawan bagian mana. Pokoknya waktu itu Nita pamit pergi ke toilet, dan seperti yang bisa kamu tebak, di meja itu jadinya cuma ada aku sama si karyawan. Eh, tiba-tiba Mas Alif muncul dong di belakang. Mana mukanya udah masam gitu.”
“Terus-terus?” tanya Salma antusias.
“Terus ya gitu. Aku disuruh ke ruangannya, habis itu mulai ngomel deh.”
“Terus kamu diam aja gitu?”
“Pas dia ngomel aku diam. Kalau ikut ngomong malah tambah panas nanti suasananya. Baru pas dia diam aku jelasin kalau itu cuma salah paham. Terus dia minta maaf, lalu aku maafin dan kelar deh masalahnya.”
“Waahh! Hebat! Masalahnya langsung selesai. Udah enggak kaya dulu nih yang suka ngambek-ngambekan?” sindir Salma.
“Enggak dong. Aku sama Mas Alif udah berkomitmen untuk apa pun masalah yang terjadi, salah satu pihak harus berkepala dingin. Tidak boleh ada kebohongan sedikit pun,” perjelasku ke Salma.
“Bisa dibilang kalian adalah pasangan yang menjunjung tinggi integritas ya,” kata Salma diikuti tawa renyahnya lagi.
“Yoi. Udah kaya motto perusahaan aja,” timpalku.
“Oh iya Na. Kandungan kamu sekarang udah berapa bulan?” tanya Salma setelah menyelesaikan tawanya.
“Alhamdulillah udah memasuki bulan ketiga,” jawabku sambil mengelus perutku yang masih belum terlalu besar.
“Ooh gitu.” Salma mengangguk dan terdiam sesaat. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Kenapa Sal?”
“Enggak. Aku lagi pengen jalan-jalan di luar aja. Kayanya cuacanya lagi bagus.”
Mendengar penuturan Salma membuatku berjalan menuju balkon. Kulihat langit yang membentang luas di atas sana. Berwarna gelap gulita dengan taburan banyak bintang yang bekerlap-kerlip cantik. Oh, jangan lupakan bulan yang berbentuk seperti sabit itu. Semakin memperindah langit malam. Angin yang berhembus juga tidak terlalu dingin seperti biasanya. Membuatku setuju dengan Salma.
“Mau keluar ke mana Sal?”
“Alun-alun yuk Na! Ada pasar malamnya juga kan sekarang.”
Bagus juga ide dari Salma ini. Jadi teringat waktu KKN dulu. “Oke deh!”
Kita pun bersiap-siap. Salma yang membenarkan lagi pashminanya, dan aku yang mengambil tas selempangku di lemari. Lalu kumasukkan ponsel, power bank, dan juga dompet. Setelah semuanya siap, aku dan Salma langsung turun. Di ruang keluarga aku dapat melihat Mas Alif tengah asyik bermain PS bersama Rendi.
Haishhh!!!
Itu orang enggak merasa bersalah atau gimana gitu ya? Padahal habis buat istrinya ngambek. Nyebelin deh!!!
Salma berjalan menghampiri suaminya. Sedangkan aku memilih tetap berdiri di samping tangga.Kedatangan Salma membuat Rendi dan Mas Alif menghentikan permainan mereka. Dan tampak kepala Mas Alif tengah mencari keberadaanku. Ketika mata kita bertubrukan, aku memilih menyampingkan wajahku.
“Mas. Aku sama Nala keluar ya?” pamit Nala ke Rendi.
“Mau ke mana memangnya?” tanya Mas Alif tapi matanya masih menatapku.
“Ke alun-alun kota Mas. Mau lihat pasar malam,” jawab Salma.
“Ikutt!!!” seru Rendi dengan semangat empat lima sambil berdiri.
“Enggak! Yang cowok jaga rumah aja,” sahutku ketus.
“Lah kenapa? Kan udah ada Pak satpam yang dua puluh empat jam jaga di depan komplek sana.” Rendi berusaha membantahku.
“Jawabannya tetap enggak!” jawabku.
“Bukankah lebih baik aku dan Rendi ikut juga? Ini sudah malam, dan kalian juga perempuan. Aku enggak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan kalian,” kata Mas Alif mendukung Rendi. Tapi perkataannya benar juga.
“Enggak apa-apa lah Na. Benar juga apa kata Mas Alif.” Ini lagi si Salma juga ikut-ikutan dukung Rendi dan Mas Alif.
Aku pun menghela napas panjang. “Iya deh iya.” Akhirnya aku menuruti juga permintaan mereka bertiga.
“Oke. Kalau begitu tunggu bentar!” pinta Rendi lalu meninggalkan kita dan menuju ke kamar tamu untuk bersiap-siap. Begitu pun dengan Mas Alif yang langsung pergi ke kamar atas untuk bersiap diri juga.
Kita berempat berangkat ke alun-alun dengan menumpangi mobil milik Rendi. Meski awalnya ada perdebatan antara dia dan Mas Alif untuk menentukan mobil siapa yang akan dipakai, akhirnya Mas Alif menang juga dengan alasan kalau mobilnya masih di garasi dan akan menambah waktu saja. Tapi, tidak berhenti sampai disitu perdebatan mereka. Untuk menentukan siapa yang menyetir juga mereka masih saling melempar argumen. Membuatku dan Salma geleng-geleng kepala.
Mereka ini laki-laki, tapi kalau sudah bertemu cerewetnya bisa mengalahkan kita yang perempuan. Keputusan akhir diambil dengan suit. Aku yang sudah hapal dengan payahnya Rendi dalam bidang ini sudah bisa menebak dari awal kalau dia akan kalah. Terbukti dengan sekarang dia menyetir mobilnya dengan muka masam.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang kita tumpangi sudah memasuki area alun-alun kota. Minggu malam ini suasananya sangat ramai. Selain karema muda-mudi yang datang untuk menghibur diri, juga karena ada pasar malam yang tentunya akan mengundang perhatian banyak orang. Dengan kondisi ini aku bisa menjadikannya alasan untuk jauh-jauh dari Mas Alif.
Tidak mau dibantah lagi, aku langsung menarik Salma pergi. Meninggalkan dua pria itu belakang. Setelah masuk lebih dalam, pandanganku langsung tertuju pada bazar yang menyediakan berbagai jenis makanan. Membuat mataku langsung berbinar. Dengan langkah semangat aku mengajak Salma untuk berburu makanan. Tentu saja Salma tidak mengizinkanku jika langkahku mulai menghampiri stan yang menjajakan makanan yang kurang baik untukku dan calon bayiku.
“Yang lain aja Na!” bisiknya dengan penuh penekanan di samping telingaku.
“Tapi itu kayanya enak Sa!” tunjukku pada stan yang menjual seblak kering dengan level kepedasan yang di luar nalar.
“Yang lain aja Nala.” Salma tetap keukeh tidak mengizinkanku. “Gimana kalau itu aja!” tunjuk Salma ke arah bapak-bapak penjual jagung bakar.
Biar kupikir sebentar. Kelihatannya enak makan jagung bakar. Udah lama juga enggak makan itu. “Oke deh.”
Akhirnya aku dan Salma menghampiri bapak penjual jagung bakar itu. Sedangkan Salma memesan satu, aku memutuskan untuk memesan dua setelah tercium aroma menggoda dari asap jagung yang telah dibakar.
“Ini Pak uangnya,” kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar pesananku dan Salma.
“Terima kasih Neng!” jawab si bapak dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
Kita berdua memilih untuk duduk di kursi taman yang terletak di bawah pohon. Sambil makan aku melihat-lihat sekitar yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu khas suasana pasar malam. Pandanganku tiba-tiba terhalang dengan kehadiran seorang badut berkostum panda yang tengah dikerumuni banyak anak kecil. Mungkin badut itu tengah melakukan aksinya. Lama mengamati membuatku tidak menyadari kalau Salma sudah tidak berada di sampingku lagi.
“Loh. Salma? Dia ke mana?” batinku melihat ruang kosong di kursi sebelahku.
Bersamaan dengan itu aku dikejutkan dengan kehadiran badut yang kuamati tadi, dia tiba-tiba berdiri di depanku. Dengan membawa beberapa peralatan, dia mulai menunjukkan aksinya. Pertama-tama dia mengeluarkan kotak dari tasnya. Ditunjukkannya kotak kosong itu dihadapanku, lalu tangannya merogoh ke dalam kotak. Lalu simsalabim!! Tangannya sudah memegang kelinci kecil dari kotak kosong tersebut. Aku pun mengapresiasinya dengan bertepuk tangan.
Tidak sampai di situ, dia memasukkan kembali si kelinci ke dalam kotak dan mendadak menghilang entah kemana. Binar bahagia sudah jelas terpatri di wajahku. Sudah lama tidak melihat aksi badut. Kemudia badutnya mengeluarkan sebuah tongkat, dan dengan sekejap mata tongkat itu berubah menjadi setangkai bunga mawar yang indah. Tak kusangka bunga itu diberikannya kepadaku.
“terima kasih,” ucapku tulus menerima bunganya dengan senang hati. Dan si badut menganggukkan kepala.
Lalu si badut mengeluarkan selembar tisu dan korek api dari kantong kostum pandanya. Kutebak dia akan membakar tisu itu. Dengan isyarat jari, dia mulai menghitung mundur dalam tiga.... dua.... satu!
Slash!!!
Dan sedetik kemudian tisu terbakar habis dan tangannya beralih memegang selembar kertas bertuliskan “I am sorry!” dalam hati kubaca itu dan menebak kenapa si badut mengucapkan maaf padaku. Padahal aku tidak yakin jika badut itu membuat kesalahan padaku.
Tapi segala pertanyaan di benakku langsung terjawab ketika badut itu melepaskan kostum panda di bagian kepalanya. Menampilkan wajah seseorang yang tersenyum penuh harap ke arahku.
“Mas Alif..” lirihku.
Tanpa menjawabnya pasti dia sudah tahu jawaban apa yang kuberi melalui pelukan hangat ini. Dalam pelukan hangat ini aku kemudian teringat dengan kostus panda yang Mas Alif terpaksa beli waktu di taman tempo hari. Pantas saja aku merasa sedikit tidak asing dengan kostum ini.
“Kamu kok bisa berpikir buat ngelakuin semua ini sih Mas?” tanyaku masih dalam dekapannya.
Tangan yang dibalut kostum panda tebal itu menggapai puncak kepalaku. Membuatku mendongakkan wajah ke atas.
“Buat kamu, apa sih yang tidak untukku?” jawabnya yang membuatku melambung tinggi di udara.
“Makasih ya! Udah mau repot-repot hanya untuk meminta maaf padaku.”
“Enggak repot kok. Cuma hal kecil seperti ini.”
“Mmm..” Mas Alif romantis banget sih! Membuatku tidak berhenti bersyukur karena Allah telah menjadikan dia sebagai pendamping hidupku.
“Ekhm!!!” suara deheman yang keras dari seseorang membuatku dan Mas Alif melepaskan pelukan masing-masing. Lalu kompak menoleh ke sumber suara.
“Masih mau romantis-romantisan di sini apa ikut kita seru-seruan di sana?!” Ternyata Rendi yang tiba-tiba muncul sambil merangkul pundak Salma. Matanya mengisyaratkanku dan Mas Alif untuk ikut bergabung di pasar malam.
“Haishh! Ngerusak momen aja kamu Ren!” ketus Mas Alif.
“Busett dah! Habis dibantuin bukannya terima kasih malah ngatain!” sahut Rendi tidak mau kalah.
“Iya-iya. Makasih buat idenya,” jawab Mas Alif sambil melepaskan seluruh kostumnya.
“Jadi ini semua ide kamu Ren?” tanyaku penasaran.
“Yoi! Keren enggak? Pasti keren dong! Siapa dulu? Rendi!”
Hadeeh! Tahu begini enggak bakal nanya ke dia kalau percaya dirinya mulai muncul lagi.
Tidak perlu aku yang menyadarkannya, Salma sudah bertindak terlebih dahulu dengan memukul lengan Rendi agar dia diam. Setelah itu kita berjalan ke lapangan untuk mencoba setiap wahana yang ada. Bagai pasangan yang tengah kasmaran, masing-masing dari kita bergandengan tangan dengan pasangannya. Ketika sudah di area wahana bermain, bukannya berjalan bersama-sama kita malah memilih berpisah. Tentu saja aku dengan Mas Alif dan Rendi dengan Salma.
“Oh iya Mas. Kamu tadi kok bisa main sulap? Belajar dari mana?” tanyaku.
“Ada deh. Itu tadi cuma sebagian kecil bakatku yang belum kamu ketahui,” jawab Mas Alif dengan menyunggingkan senyumnya.
“Hmmm, percaya deh. Terus kalau bakat yang lainnya apa?” tanyaku lagi.
“Bakatku yang lain?” Mas Alif kembali mengulang pertanyaanku. Kuangguki saja sebagai jawaban. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Bakatku yang lain adalah mencintai dan menyayangimu selalu,” bisiknya pelan di samping telingaku.
“Gombal aja kamu Mas!”
“Benar kok. Siapa juga yang gombalin kamu,” elaknya.
“Hmm.”
Pandanganku kemudian tertuju pada rumah hantu yang kelihatannya tengah ramai orang mengantri. Merasa adrenalinku terpacu, dengan semangat aku mengajak Mas Alif untuk ikut mengantri di sana.
“Enggak. Main yang lain aja ya!” tolaknya tanpa alasan.
“Kenapa? Kamu takut?”
“Iya, aku takut. Bukannya takut dengan hantu-hantunya, tapi takut jika terjadi hal yang tidak-tidak dengan kandungan kamu. Di dalam sana siapa yang menjamin kalau nanti kamu enggak lari-larian? Iya kalau jalannya mulus. Kalau tiba-tiba kamu tersandung gimana?”
Lagi-lagi aku merasa tertohok atas kecerobohanku sendiri. Calon ibu bagaimana sih aku ini yang sampai tidak memikirkan calon bayinya di dalam sana. Dengan berat hati akhirnya aku mengubur dalam-dalam niatku untuk menguji nyali. Meski pun begitu, bermain wahana aman yang lain tetap seru. Asal kan ada Mas Alif di sisiku.