TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ SALMA



"Jadi gimana menurutmu Sal?"


Untuk sesaat Salma memilih untuk bungkam. Bungkamnya bukan berarti iya, bukan berarti tidak. Dia dilema dihadapkan oleh situasi yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Antara keinginan orang tuanya dan keinginan hatinya untuk pertama kali tidak berjalan selaras.


"Salma?" Panggilan dari abinya membuat Salma semakin bingung. Ditatapnya satu per satu wajah yang juga menatapnya penuh harap.


Di samping kiri dan kanannya sudah duduk Abi dan uminya, sedangkan di seberang mejanya sudah duduk pasangan suami istri yang dia tahu adalah teman orang tuanya. Tidak lupa juga dengan seorang laki-laki yang tak lain calon suaminya, eh bukankah Salma belum memberi keputusannya? Jadi bisa dibilang laki-laki itu belum menjadi calon suaminya.


"Emmm, Salma belum tahu. Salma masih butuh waktu." Setelah berkata demikian dia semakin menundukkan kepalanya kian dalam. Takut melihat reaksi yang akan diberikan orang-orang di depannya.


Ini merupakan sebuah kejutan yang besar bagi Salma. Bagaimana tidak? Sehari setelah wisudanya tiba-tiba ada pasutri yang datang bertamu dan bergabung untuk makan malam. Awalnya Salma pikir mereka hanyalah teman semasa sekolah Abi dan uminya, sampai akhirnya datanglah seorang laki-laki yang rupanya menjadi topik inti kedatangan keluarga itu.


Jadi di sinilah mereka sekarang. Duduk santai di ruang tamu padahal dalam hati Salma dia tidak merasa santai sedikitpun. Malah dia merasa tegang sendiri.


"Oh gitu ya? Maklum sih. Enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba ada keluarga yang mau melamarnya, pasti Salma masih shock itu," ucap wanita paruh baya yang Salma ketahui bernama Sintia itu.


"Iya lah Sin! Bukan cuma Salma yang kaget. Aku sama Mas Rifqi juga kaget lihat kalian tiba-tiba datang bertamu. Kenapa pulang dari Mesir enggak bilang-bilang?" sungut uminya Salma.


"Ya kan buat surprise, ya enggak mas?" Tampak Sintia menyenggol pelan lengan suaminya.


"Iya. Dan masalah lamaran ini sih kita sekeluarga tidak memaksa. Kalau memang Salma belum siap ya enggak apa-apa." Salma kemudian mendongak menatap suami dari Tante Sintia itu. Tidak disangka responnya bisa sehangat ini. Salma pikir dia akan dipaksa seperti kisah perjodohan yang sering dia baca di novel-novel koleksinya.


Salma pun hanya bisa tersenyum untuk membalas pengertian yang telah diberikan. Tapi ucapan dari abinya membuatnya mau tidak mau harus menelan ludahnya kasar.


"Nah, supaya biar tau cocok apa tidaknya. Kenapa kalian tidak saling mengenal saja? Tiga bulan cukup kan buat kalian saling mengenal? Setelah itu baru kalian sendiri yang putuskan bagaiman selanjutnya. Bagaimana?"


"Kalau saya iya saja Om. Enggak tau kalau Salma." Salma yang disebut namanya langsung mendongak dan menatap laki-laki yang duduk tepat di seberangnya.


Arkan namanya. Dia adalah sarjana lulusan universitas Al-Azhar di Kairo sana. Bekerja sebagai dosen di Mesir selama satu tahun dan kemudian pindah ke Indonesia beberapa Minggu lalu. Kalau dilihat dari kualifikasinya yang sedemikian itu, orang tua mana yang tidak setuju? Bahkan Salma melihat kilat bahagia di mata Abi dan uminya. Rasanya tidak sanggup apabila dia akan meredupkan binar di mata orang tuanya. 


"Iya Bi, Salma setuju." Untuk sesaat pandangannya tidak sengaja bertubrukan dengan mata Arkan yang tengah tersenyum menatapnya penuh arti.  


****


Ting!


Salma kembali membuka matanya ketika mendapati ponselnya berbunyi. Dia yang tidak benar-benar tertidur langsung tersadar dengan notifikasi ponselnya itu. Kejadian lamaran dadakan itu sudah usai dua jam lalu. Bahkan sejak beberapa menit lalu dia mencoba untuk menutup matanya, tapi tidak bisa. Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi jika dia bersama seseorang yang bahkan baru pertama kali ditemuinya.


Sudah tidur?


Sebenarnya selain karena faktor belum terlalu kenal dengan Arkan, ada alasan lain mengapa dia ragu akan lamaran yang ditujukan padanya tadi. Alasan itu tidak lain dan tidak bukan adalah seseorang yang tengah mengirimkan pesan untuknya saat ini. Seseorang yang sudah mengisi ruang hatinya sejak setahun lalu.


Belum Ren.


Telpon jangan?


Boleh deh.


Dan sedetik kemudian sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Panggilan dari kontak yang diberi nama Rendi itu langsung Salma angkat. Tak lupa dia mendudukkan dirinya dan menyalakan lampu kamar kembali.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Kenapa belum tidur?"


"Enggak tau kenapa. Mendadak insomnia."


"Lah, kamu insomnia? Jangan dong! Gawat kalau gitu."


"Memangnya kenapa?"


"Entar kalau kamu insomnia bakalan lupa sama aku." Mendengarnya membuat Salma ingin tertawa.


"Itu amnesia Rendi! Ini insomnia. Susah tidur! Bukannya lupa ingatan."


"Loh, beda ya?" Sebenarnya Rendi tahu itu. Dia tidak terlalu bodoh untuk membedakan antara insomnia dan amnesia. Sengaja dia lakukan untuk mendengar tawa dari Salma yang seakan sudah menjadi candu untuknya.


"Beda lah!"


"Hehehe, Alhamdulillah."


"Kenapa?"


"Karena kamu enggak akan ngelupain aku."


"Oh."


"Cuma oh doang? Ya udah aku tutup nih telponnya."


"Silakan." Dalam hati Salma tertawa puas. Pasti Rendi di sana tengah cemberut kesal.


"Kok gitu? Keliatan banget enggak diharapkan." Terdengar nada Rendi di seberang sana dibuat-buat sok sedih.


"Lebay!"


Diam untuk beberapa saat. Sedangkan Salma memilih untuk bersandar di kepala ranjangnya. Hanya bertelepon seperti ini saja sudah membuat hatinya membaik. Untuk sesaat dia melupakan perjodohan tadi.


"Sal."


"Hmm," gumam Salma.


"Sudah ngantuk?"


"Belum. Kamu kenapa enggak tidur?"


"Enggak tahu. Sejak tadi resah gitu. Terus kepikiran kamu. Jadi aku langsung telpon deh. Takutnya kamu beneran kenapa-napa." Hati Salma langsung menghangat. Apakah Rendi seperti mempunyai firasat tentang suasana hati Salma yang tidak baik-baik saja saat ini?


"Aku baik-baik aja kok." Tapi hatiku yang enggak baik-baik aja. Sambungnya dalam hati.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau gitu aku bisa tidur dengan tenang."


"Kamu mau tidur?"


"Enggak. Nunggu kamu dulu yang tidur."


"Tapi masih susah Ren."


"Ya udah, sekarang kamu siap-siap bobo. Matiin lampu kamar, tarik selimut, dan taruh ponsel di nakas. Entar aku bacain surat Al-Qur'an."


"Request Al Kahfi boleh?"


"Boleh."


Kemudian Salma melakukan apa yang disarankan oleh Rendi. Setelah siap dengan posisi tidurnya, dia lalu memberitahu Rendi untuk memulai bacaannya. Dan beberapa saat kemudian mulai terdengar suara merdu Rendi yang melantunkan ayat suci Alquran. Perlahan tapi pasti, Salma mulai memasuki alam bawah sadarnya. Tepat saat Rendi menyelesaikan ayat terakhir, dia mendengar dengkuran halus dari perempuan yang dicintainya. Segera dia mengakhiri panggilannya.


"Selamat tidur Salma! Semoga mimpi indah."


*****


"Mau jalan kemana Sal?" tanya Arkan ketika mereka berdua telah berada dalam mobil. Sesuai dengan yang disepakati, maka mulai hari ini mereka memulai perkenalan diri masing-masing. Setelah mencocokkan dengan jadwal Arkan, kemudian dipilihlah hari ini untuk keluar.


"Terserah Mas Arkan aja."


"Ke cafe aja gimana? Kamu udah makan siang?"


"Belum."


"Ya sudah, kita ke sana." Dan Salma menjawabnya dengan anggukan kepala.


Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di depan sebuah cafe dengan konsep minimalis tapi tetap memberi kesan mewah. Masuk di dalam, ternyata cafe ini memberi kesan nyaman. Mereka memilih tempat duduk di sekitar jendela kaca. Sengaja Salma memilih di situ, selain dekat dengan lalu lalang orang dia juga ingin makan dengan melihat jalanan luar.


Beberapa menit kemudian seorang pelayan datang dan menyodorkan buku menu pada mereka berdua. Arkan memilih salad dan jus jambu, sedangkan Salma memilih kari ayam dan ice lemon tea.


"Kamu yakin mau pesan itu? Bukannya banyak lemaknya ya?"


"Yaa tapi enak kok Mas," jawab Salma.


"Kamu tiap hari makan yang kaya gituan?" Salma mengangguk.


"Ya Allah, itu kan menu enggak sehat Sal. Kamu enggak takut kolesterol tinggi apa? Atau kalau enggak badan kamu gendutan?" Sontak saja Salma langsung menggeleng cepat. Siapa sih yang mau punya penyakit?


"Nah, enggak mau diganti aja menunya? Yang sehat kayak punyaku misalnya?"


Salma menatap lekat Arkan. Kemudian diam-diam menghela napas lelah. "Pesananku samain aja Mbak!"


Si pelayan langsung mencatat kemudian berlalu dari hadapan Salma dan Arkan untuk menyiapkan pesanannya.


"Emm, kamu sekarang sibuk apa Sal?" tanya Arkan memulai topik percakapan.


"Masih nyari lowongan kerja sih Mas. Baru aja wisuda kemarin." Jujur, dalam hati Salma masih sedikit jengkel karena Arkan mengatai pola makannya yang tidak sehat. Seumur-umur belum pernah ada yang mengomentari makanannya. Selagi itu halal, sah-sah saja bagi Salma. Tapi tidak apa, Salma mencoba berpikir positif. Mungkin memang benar Arkan ingin Salma menjalani hidup sehat dan itu dimulai dari makanannya.


"Oh ya, bukannya kamu juga lulusan pendidikan ya?" Salma mengangguki tebakan Arkan. "Aku ada teman, dia punya yayasan gitu. Dari SD sampai SMP. Kamu kalau mau bisa aku rekomendasikan ke temenku."


"Eh, gak usah Mas! Aku mau nyari sendiri. Takutnya nanti merepotkan."


"Enggak kok. Kebetulan emang temenku itu cari guru baru di SMP nya." Arkan tetap saja ingin membantu Salma.


"Salma cari sendiri dulu. Nanti kalau seumpama belum ketemu, aku pikirin lagi tawarannya." Jawaban final terdengar dari mulut Salma.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Bersamaan dengan itu pesanan datang. Salma yang memang sudah lapar ditambah dengan suasana hati yang kurang baik segera menyantap makanannya. Tapi tak kup juga untuk berdoa dulu sebelum itu. Baru suapan pertama, rasanya Salma ingin menangis saja. Bukannya Salma tipikal orang yang anti sayur, tapi kalau sayurnya mentah begini rasanya Salma tidak ingin memakannya. Tapi buru-buru dia ingat kalau jangan sampai dia mubazir makanan. Alhasil, mau tidak mau ya Salma harus makan itu.


"Kamu sebelumnya enggak pernah liat saya ya Sal?"


"Sama sekali belum."


"Padahal saya sudah lama ngikuti kamu."


"Hah?"


"Bukan! Bukan ngikutin kaya penguntit. Ngikutin di sosmed kamu maksudnya." Salma kemudian mengangguk-angguk paham.


"Saya juga tahu sama sahabat kamu. Nala kan namanya?"


"Iya. Baguslah kalau Mas Arkan udah tau. Nanti pas ketemu enggak perlu kenalan lagi berarti."


"Tapi saya kurang suka sih sama sahabat kamu yang satunya." Tangan Salma yang sibuk mencampur salad di piring itu langsung terhenti.


Sahabat selain Nala? Dia rasa itu Rendi. Karena yang sering wira wiri di laman media sosialnya memang dua orang itu. "Rendi maksudnya?"


"Hmm. Saya rasa kalian berdua terlalu dekat untuk ukuran sahabat."


Salma semakin bingung dengan Arkan. Belum apa-apa sudah banyak mencampuri urusannya. Dan masalah terlalu dekat dengan Rendi? Bahkan untuk keluar saja selalu ada Nala. Tidak pernah mereka keluar berdua.


"Hmm." Hanya respon inilah yang Salma keluarkan.


Selang beberapa saat suara dering ponsel memecah keheningan mereka. Arkan yang sudah paham kalau itu nada dering dari ponselnya langsung mengangkat panggilan. Dapat Salma dengan kalau Arkan tengah bertelepon dengan rekan kerjanya. Karena percakapan mereka melibatkan kata kampus, jam mengajar, dan dosen pengganti. Kalau dari simpulan Salma sih dapat dipastikan kalau Arkan ini diminta rekannya untuk menjadi dosen pengganti.


"Salma, maaf ya! Saya harus ke kampus sekarang. Teman saya tiba-tiba sakit, jadi saya harus menggantikan dia."


"Iya Mas. Enggak apa-apa kok." Dalam hati Salma dia sedang bersorak sorai gembira pasti.


"Apa sekarang saya antar kamu pulang dulu?" tawar Arkan.


Sontak Salma langsung menggeleng. "Enggak usah Mas. Aku nanti pulangnya bisa naik taksi kok. Lagian rumah sama kampus Mas Arkan juga berlawanan arah."


"Oh ya sudah. Maaf ya!"


"Iy-,"


"Salma?" Baru saja Arkan hendak bergerak meninggalkan mejanya. Tapi sapaan seseorang dari belakang Salma membuat Arkan mengurungkan niatnya.


"Eh, Nala!" Seperti biasa kedua perempuan itu langsung berpelukan untuk saling sapa.


"Hai Ren!" sapa Salma kemudian ke Rendi.


"Sama siapa Sal?" Pertanyaan dari Rendi langsung menyadarkan Salma kalau Arkan masih berdiri di tempatnya. Diliriknya Arkan yang raut mukanya terlihat agak kurang suka? Entahlah. Salma tidak mau ambil pusing itu.


"Perkenalkan," ucap Arkan sambil menjulurkan tangannya ke arah Rendi dan langsung disambut jabatan tangan dari Rendi pula. "Saya Arkan, ca-,"


"Temen aku!" Salma langsung memotong ucapan Arkan. Biar saja akan sekarang meliriknya penuh arti. Lagian mereka masih perkenalan, belum resmi bertunangan. Otomatis Arkan belum resmi menjadi calon suaminya. Benar bukan apa yang dikatakan Salma?


"Saya Rendi," balas Rendi dengan memperkenalkan namanya.


"Saya Nala." Begitu pun Nala.


"Mas Arkan bukannya mau ngajar?" tanya Salma sekaligus mengingatkan Arkan.


"Eh? Oh, iya. Ya sudah saya pamit dulu. Assalamualaikum!" Dengan berat hati Arkan meninggalkan Salma bersama dua sahabatnya. Kali ini tak mengapa dia mengalah, lagian di sana juga ada Nala. Setidaknya hal itu mengurangi sedikit keresahannya.


"Waalaikumsalam!" jawab mereka bertiga kompak.


"Temen dari mana Sal? Kok aku belum pernah liat?" tanya Nala.


"Temen lama Na. Udahlah, enggak usah dibahas. Ngomong-ngomong kalian ke sini mau apa?"


"Nih, nemenin sing betina makan," jawab Rendi yang dihadiahi cubitan pedas oleh Nala.


"Ya udah, duduk sini aja." Salma pun mempersilakan kedua sahabatnya untuk ikut duduk di meja yang sama.


Saat akan memesan, mata Nala melihat sisa makanan di meja Salma. "Salad? Kamu serius Sal? Sejak kapan suka sayur mentah?"


"Emm, itu. Cuma pengen nyoba aja. Hehehe," alibi yang sempurna diucapkan Salma.


Kemudian pelayan yang sama kembali mendatangi meja Salma. Menanyakan makanan apa yang akan dipesan oleh Nala dan Rendi. Tapi sebelum pelayan itu pergi, Salma memanggil kembali untuk memesan makanan yang tadi tidak sempat dia pesan ketika bersama Arkan.


"Ha? Belum kenyang?"


"Belum lah Na. Cuma sayur segitu mana kenyang, hehehe."


Mereka bertiga pun larut dalam perbincangan. Kadang membicarakan tentang pekerjaan yang akan dilamar, kemudian bisa beralih membicarakan rumah tangga, setelah itu membicarakan tentang hal yang sedang trend di media sosial.


"Pasti habis masing-masing dapat pekerjaan, semua langsung sibuk dan jarang ada waktu buat bareng kaya gini," ujar Nala dengan raut wajah sedih.


"Halah! Sok-sok dibuat melow dramatis. Kalau kangen tinggal jalan ke depan rumah entar juga nyampe ke rumahku." Rendi yang masih asyik menyeruput latte nya menimpali Nala.


"Haishh! Siapa juga yang bakal kangen sama situ. Kan kangennya sama Salma!" Kedua perempuan itu langsung berpelukan manja.


"Ya kalau mau keluar bareng tinggal ngomong aja Na. Nanti aku usahain bisa kok." Seperti biasa, Salma dengan bijak menanggapi Nala dan Rendi yang selalu berdebat.


"Hemm," gumam Nala. "Oh ya, kita sudah lama kan enggak hangout bareng? Gimana kalau besok nge-mall? Ada film bagus nih," lanjutnya memberi usulan.


"Boleh," Salma otomatis langsung mengiyakan. Benar apa kata Nala, mereka sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama setelah sibuk dengan skripsi dan sidang masing-masing.


"Mau nonton apaan? Enggak mau kalau film cinta-cintaan."


"Kartun aja gimana?" saran Salma.


"Hmm, gimana kalau nonton yang anti mainstream? Horor yuk!"


"Halah, ngajak nonton horor paling ujung-ujungnya ketakutan sendiri!" Rendi mengetuk-ngetukkan jarinya di dahi Nala.


"Haish! Besok aku enggak takut deh! Udah berani ini!"


"Oke. Awas aja kalau habis nonton malamnya langsung nelpon buat nemenin begadang. Ogah!"


"Udahlah Ren. Gapapa sekali-kali nurutin Nala," ujar Salma menengahi.


"Hmm."


*****


Sesuai perjanjian maka Nala, Salma, dan Rendi hari ini sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Sekitar dua jam kemudian mereka tampak keluar dari bioskop dengan muka pucat pasi. Tapi di antara mereka bertiga, Nala lah yang paling ketakutan.


"Na? Kamu enggak apa-apa kan?" Raut khawatir jelas terpatri di muka Salma melihat kondisi Nala. Muka pucat, keringat dingin memenuhi dahinya, dan tangannya sedikit bergetar.


"Huek!" Nala segera menutup mulutnya yang. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. "Kalian cari makan dulu! Entar aku nyusul!" Nala pun langsung berlari terbirit-birit ke toilet. Takut jika sampai dia muntah tidak pada tempatnya.


Salma dan Rendi yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Nala. Dan sesuai apa yang dikatakan Nala, maka mereka berdua segera ke food court untuk mencari menu makan siang. Saat akan memasuki salah satu resto yang kental dengan nuansa Jawa, ada seorang pengunjung yang tidak sengaja menabrak bahu Salma dan membuatnya terhuyung ke belakang. Beruntung Rendi menangkapnya, tidak jadi tubuhnya mencium lantai mall yang dingin.


Posisi yang jika dilihat dari sudut tertentu seperti berpelukan itu langsung menyadarkan mereka berdua. Takut jika ada yang melihat dan menyalahartikan.


"Astagfirullah! Maaf Ren!"


"Iya. Lain kali hati-hati ya!"


"Hmm. Ya udah, yuk langsung masuk!" ajak Salma yang sebenarnya berusaha menetralisir degup jantung yang bertalu-talu.


"Oke."


Tidak lama kemudian Nala datang dan langsung mengambil duduk di samping Salma. "Huh! Lega banget!" ujar Nala sambil mengusap perutnya.


"Hih! Jorok!" ketus Rendi.


"Kenapa bisa sampai muntah-muntah gitu sih Na?"


"Enggak tahan aku Sal liat adegan sadis kaya tadi. Jadi mual deh."


"Ya udah, sekarang cepet pesen makan sono! Biar keisi lagi perutnya," titah Rendi.


Mereka bertiga pun kemudian mengakhiri kebersamaan mereka dengan makan siang bersama. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan badan. Tepat saat piring di hadapan Salma tandas tak bersisa, sebuah pesan masuk di ponselnya.


Dari : Arkan


Ayo pulang! Saya ingin mengajakmu pergi.


Mas Arkan di mana?


Parkiran.


"Na, Ren. Aku pulang dulu ya!" pamit Salma.


"Enggak bareng sama kita?" tawar Rendi.


"Enggak Ren. Makasih! Aku udah ada yang jemput." Segera Salma membereskan barangnya. "Aku pulang ya! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Benar saja, ketika sampai di parkiran Salma sudah melihat Arkan yang berdiri dan bersandar di mobilnya. Kalau dilihat-lihat sebenarnya Arkan ini cukup tampan, apalagi dia lulusan Al Azhar, sudah mapan pula. Tapi entah mengapa Salma masih belum menemukan alasan untuk menerimanya menjadi calon suami.


"Sudah lama nunggunya Mas?" tanya Salma sambil masuk ke mobil.


"Lumayan."


"Maaf ya!"


"Enggak apa-apa." Salma rasa ada yang aneh dengan sikap Arkan. Mengapa mendadak dingin seperti ini?


"Kita mau ke mana Mas?"


"Saya mau ajak kamu lihat-lihat rumah baruku. Sekadar untuk memberi saran kalau ada yang kurang. Tadi saya sudah izin ke mama kamu."


"Ohh."


"Salma, bukankah saya sudah bilang jangan terlalu dekat dengan Rendi?"


Salma langsung menoleh ke Arkan. "Maksud kamu gimana sih Mas? Kita kan cuma sahabatan."


"Sahabatan kok pakai acara peluk-peluk gitu." Mendengar itu membuat Salma terkejut.


"Kamu buntutin aku Mas?"


"Bukan. Tadi enggak sengaja liat."


"Kalau gitu berarti kamu salah paham. Tadi aku mau jatuh, dan Rendi otomatis langsung nangkap tubuhku. Udah gitu. Enggak sengaja mau pelukan juga kok," jawab Salma membantah tuduhan Arkan.


"Tapi tetap saja saya tidak suka."


"Mas! Kita itu masih tahap perkenalan ya. Dan aku belum memberi jawabanku untuk Nerima kamu atau enggak. Jadi tolong! Tolong jangan bersikap seolah-olah aku itu milikmu." Akhirnya Salma mengeluarkan segala unek-uneknya mulai dari kemarin. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Arkan yang suka mengaturnya. Apalagi tadi yang langsung menuduhnya tanpa mencari tahu kebenarannya.


"Baiklah." Arkan kembali fokus ke jalanan di depan setelah beberapa saat terpaku mendengar kekesalan Salma. "Berarti aku harus pakai cara lain untuk membuatmu menerimaku," gumamnya lirih.


Sekitar setengah jam kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah besar. Kalau dilihat dari luar rumah baru ini sudah siap untuk ditinggali. Tapi ketika Salma masuk ke dalam, barulah terlihat bahwa rumah ini memang masih baru selesai. Banyak furnitur yang masih terbungkus plastik dan belum ditata.


"Gimana menurutmu?" tanya Arkan.


"Ini sudah bagus sih Mas."


"Kamu enggak mau lihat kamr utamanya?" tawarnya lagi.


"Boleh." Dan Salma melangkah menaiki anak tangga yang menuju kamar utama.


Dibukanya ruangan besar itu. Dan tampaklah tempat tidur king size berwarna putih dan di depannya terdapat sofa yang menghadap ke arah tv LED besar yang sudah terpasang di dinding. Kemudian di samping kiri terdapat kabinet yang mungkin nantinya akan diisi hiasan. Kemudian mata Salma melihat sebuah pintu kecil yang dia tebak di dalamnya adalah walk in closet mengingat di dalam kamar tidak terdapat lemari pakaian.


Kemudian langkahnya menuju sebuah pintu kaca besar yang tertutup. Disibaknya gorden itu dan terlihat pemandangan atap-atap perumahan dari atas sini. "Mungkin balkon ini perlu kamu tambahin kursi sama meja gitu Mas. Lumayan buat santai-santai," usul Salma.


Cklik!


Salma langsung berbalik badan setelah mendengar suara pintu yang dikunci. Dilihatnya Arkan yang mengunci pintu kamar dan berjalan ke arahnya. Salma menelan ludah kasar melihatnya.


"M-mas Arkan ngapain ngunci pintunya?"


"Hmm, mungkin agar tidak ada yang mengganggu kita?"


"Maksud kamu apa sih Mas?" Salma yang mulai merasakan hawa tidak enak langsung berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya. Tapi tak bisa. Kunci itu sudah berada di genggaman Arkan.


"Mas! Enggak usah bercanda ya!" Teriak Salma sambil mencoba membuka pintu.


"Bercanda? Saya enggak sedang bercanda Salma. Apa kamu tidak lihat kalau saya benar-benar mencintaimu? Tapi kamu kenapa menolak saya?" Perlahan tapi pasti Arkan mendekat ke arah Salma.


"M-mas Arkan mau ngapain?"


"Mau buat kamu supaya enggak bisa lagi menolak lamaran saya!" Diraihnya kedua tangan Salma dengan kasar dan menaruhnya ke atas, didapatkannya tubuh Salma hingga membentur dinding.


"Mas istighfar!"


"Kamu itu beruntung bisa mendapat cinta saya. Sedangkan di luar sana banyak yang mengemis cinta saya. Tapi apa? Kamu malah menolak saya dan lebih memilih bocah ingusan itu!"


"Mas lepas!" Salma tidak lagi mendengar racauan Arkan. Tubuhnya berusaha semaksimal mungkin untuk memberontak.


"Lepas? Nanti ya sayang! Sekarang kita senang-senang dulu." Sebelah tangan Arkan yang bebas kemudian menelusuri wajah Salma. Membuat Salma kian menangis menjadi-jadi. Mulutnya tidak berhenti untuk memohon agar Arkan tidak berbuat macam-macam padanya, dan dalam hati dia sibuk berdoa agar Allah melindunginya.


"Mas! Hiks! Lep- as! Lepasin hiks!"


"Sst! Jangan nangis dong!"


Cup!


Dengan kurang ajarnya Arkan menciumi wajah Salma yang sudah basah dengan air mata. Sedangkan Salma saat ini hanya bisa menangis kian keras. Tapi, tiba-tiba Salma seperti mendapat keberanian untuk melawan. Otaknya kemudian memutar akal agar bisa kabur, dan dia mencoba melawan dengan kakinya yang bebas untuk menendang Arkan sekencang mungkin. Arkan yang tidak siap menerima serangan langsung tersungkur. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Salma langsung mengambil kunci di saku Arkan dan keluar dari rumah terkutuk itu.


Kejadian itu adalah hal terburuk yang pernah Salma alami. Dia tidak berani menceritakan kepada siapapun. Yang pasti sepulang di rumah dia langsung mengucapkan keputusannya untuk menolak Arkan dan tidak mau lagi berurusan dengannya. Mengingat itu, ada satu penyesalan ketika dia sudah menikah dengan Rendi. Yaitu wajahnya yang sudah terjamah orang lain sebelum suaminya. Seolah penghinaan itu sudah mengakar di hatinya, sampai saat ini pun dia masih belum bisa memaafkan seorang Arkana Syauqi Fikran.