TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Lembaran Baru



Angin pagi yang begitu menyegarkan menyapu wajahku. Tidak lupa juga sinar mentari yang begitu hangatnya menyinari bunga-bungaku yang kini sudah tumbuh besar dan bermekaran begitu cantiknya. Tidak terasa waktu telah berjalan begitu cepatnya. Dua tahun telah berlalu. Dengan melewati berbagai lika-liku kehidupan yang kulalui bersama Mas Alif.


Tentunya dengan berbagai pengalaman yang terlewati, membuat kita semakin belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depannya. Juga masalah-masalah yang hadir silih berganti membuat kita semakin bersikap dewasa untuk menyelesaikan masalah itu. Huft! Banyak sekali yang terjadi selama dua tahun belakangan ini.


Cerahnya suasana pagi ini secerah hatiku yang tengah bersemangat menyambut hari ini. Pasalnya, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dan Mas Alif yang ke tiga tahun. Tidak sabar dengan kejutan yang akan dia berikan. Dari tahun-tahun kemarin selalu aku yang berinisiatif untuk memberikan kejutan, jadi kali ini aku diam saja. Ingin tahu apa Mas Alif punya inisiatif untuk memberikanku kejutan atau tidak.


“Sayang! Kamu di mana?!” Aku mendengar teriakan Mas Alif dari dalam rumah. Segera aku mematikan keran air yang kugunakan untuk menyiram tanaman dari tadi.


“Iya Mas,” sahutku setelah berada di dapur.


“Kamu habis dari mana?” tanyanya lalu mengambil duduk di ruang keluarga untuk bersantai. Maklum, sekarang waktunya untuk berakhir pekan.


“Di taman belakang Mas. Habis nyiram bunga-bunga.”


“Oooh gitu.” Dia mulai menyalakan TV dan memilih saluran berita. Sedangkan aku berjalan lagi ke dapur untuk mengambil sesuatu di dalam kulkas.


“Mas! Lihat deh, aku tadi pagi-pagi buta buat ini loh!” tunjukku pada piring kaca yang di atasnya sudah tersusun rapi cupcake dengan beragam rasa dan warna.


“Waah! Enak nih!” Mas Alif kemudian mengambil alih kue-kue itu dari tanganku ke pangkuannya.


“Dimakan ya Mas!” kataku sambil memeberikan senyuman semanis mungkin.


“Iya lah di makan. Orang kelihatannya enak begini, sayang kalau enggak dimakan.” Dia kemudian mengambil satu lalu dilahapnya.


“Hmm.. enak banget!” pujinya. Dia pun kembali mengambil llau memakan lagi kue buatanku.


“Makasih Mas,” ucapku sambil terus memandangnya dengan senyuman yang mengembang.


“Kamu kenapa sih Yang? Kok ngelihatin aku segitunya?” tanyanya setelah baru menyadari kalau dari tadi aku menatapnya.


“Enggak kenapa-kenapa kok. Cuma pengen lihat kamu aja,” jawabku.


“Tapi ya jangan sambil senyum-senyum sendiri gitu. Kan serem jadinya.” Dengan santainya dia bilang begitu sambil kembali mengunyah kuenya.


“Ohh... jadi senyumanku itu serem ya?” tanyaku yang mulai kesal.


“Eh! Enggak! Bukan gitu maksudnya.”


“Bukan gitu apanya? Orang tadi bilangnya gitu. Ya udah! Sekarang aku cemberut aja!” ketusku lalu mengambil remote TV di meja dan mengganti saluran untuk melihat sinetron.


“Jangan ngambek dong Sayang!” Mas Alif terus menggoyang-goyangkan lenganku. Tapi biar saja, aku tidak menghiraukannnya.


“Sayang! Kalau cemberut nanti cantiknya hilang loh!” Dia asyik menoel-noel pipiku. Dikira aku bakal luluh gitu sama gombalannya? Heh, sorry aja.


“Biarin!” Tampak dari sudut mataku aku melihat dia mengusap dahinya kasar.


“Ya udah, nanti aku belikan es krim deh.”


“Mau nyogok nih ceritanya?” tanyaku sambil menatap malas ke arahnya.


“Ditambah sama cokelat?”


“OKE!” Raut mukaku langsung berubah drastis begitu setelah mendengar tawaran menggiurkan dari Mas Alif. Jadi, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakannya.


Maafkanlah diriku ini yang mudah luluh hanya karena es krim dan cokelat. Gampang banget kalau mau nyogok aku. Hadehh! Dasar aku.


“Nah! Gitu dong!” Seperti biasa dia selalu mengacak-acak puncak kepalaku.


Laki-laki tuh kenapa sih selalu ngacak-ngacak rambut? Enggak tahu apa ya kalau itu titik lemahnya perempuan. Kan jadi meleleh gini. Langsung deh nurut aja main dirangkul-rangkul gitu. Jadi lupa kalau habis ada acara ngambek.


“Mas, ingat enggak sekarang tanggal berapa?” Aku mencoba bertanya dengan penuh harap.


“Bentar.” Dia mengambil ponselnya lalu menghidupkan layarnya. “Tanggal tujuh belas.”


Lah. Cuma itu aja? Mukanya santai banget bilang begitu sambil nonton TV lagi. Jangan bilang kalau dia lupa sama hari spesial ini?!!!


“Terus?” Aku masih terus mencoba untuk memberinya kode agar dia ingat, kalau-kalau beneran dia lupa.


“Terus? Ada apa?”


BENAR KAN!!! DIA LUPA!!!


“Haish!! Kamu mah gitu! Jahat banget sih!” buru-buru aku berdiri dan melepas rangkulan tangannya. Kemudian berlalu dari hadapannya.


“Loh? Kamu mau ke mana Yang?”


“Nyuci baju!” teriakku karena sudah berada di tangga untuk ke kamar.


“Nyebelin banget sih! Masa sama tanggal pernikahannya lupa. Enggak romantis banget!” Aku terus menggerutu sambil memasukkan baju kotor ke keranjang untuk kucuci di bawah.


Seperti biasa, ketika aku akan mencuci baju terlebih dahulu aku mengecek pakain-pakaian yang akan kucuci. Takutnya ada benda asing yang ada di dalam saku nanti ikut kecuci. Uang misalnya. Tapi ketika aku merogoh saku di jasnya Mas Alif, aku menemukan sesuatu di dalamnya. Sebuah brosur yang menampilkan resort indah di Bali.


Bentar-bentar!


Kalau di novel-novel romansa yang biasa kubaca, kalau ada beginian biasanya si suami mau ngasih kejutan ke si istri. Dan tadi Mas Alif cuma pura-pura lupa aja, padahal sebenarnya ingat. Kalau itu benar, berarti Mas Alif mau ngajakin aku ke Bali dong! Wahh! Senangnya!!!


Enggak jadi sebel deh sama Mas Alif. Kata-kataku tadi biar kutarik. Ternyata Mas Alif adalah suami yang paling romantis di dunia!!!


Berhubung ini kejutan, biar saja aku mengikuti rencana Mas Alif. Kan enggak lucu kalau aku tiba-tiba bilang kalau udah tahu rencana Mas Alif buat kejutan ke aku. Nanti dia bisa kecewa lagi gara-gara kejutannya gagal.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar diketuk dari luar. Aku langsung menyembunyikan brosur tadi dan memasang tampang kesal. Ini kan memang rencananya dia, sengaja bikin aku kesal.


“Sayang!” panggil Mas Alif ketika sudah berada di dalam kamar. Sedangkan aku pura-pura sibuk dengan pakaian-pakaian kotor ini.


“Hmm.”


“Kamu tadi marah kenapa sih? Coba sini ngomong baik-baik.” Mas Alif menepuk-nepuk pelan kasur yang di dudukinya.


“Engga kok. Bukan masalah besar juga.” Segera setelah memasukkan semua baju kotor di keranjang, aku beranjak untuk keluar kamar.


“Kamu yakin?” tanyanya sekali lagi.


“Iya Mas. Aku mau nyuci dulu.”


“Ya udah, kalau gitu aku mau minta tolong ya! Tolong kamu siapin pakaian-pakaianku buat tiga hari ke depan.”


Nah! Benar kan! Mas Alif mau ngajak aku jalan-jalan!!!


Sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak loncat-loncat kesenangan. “Mau ke mana memangnya?”


“Aku mau ke Bali. Ada rapat sama investor baru buat resort di Bali, jadi kamu siapin baju-bajunya ya!”


“Iya. Nanti ak-, he?!” Aku baru menyadari sesuatu. “Tadi kamu bilang mau ngapain ke Bali?”


“Ada rapat sama investor baru di sana. Sekalian sama lihat di lapangannya langsung, jadi harus ke sana. Enggak bisa di sini.”


JEDERR!!!


Bagai disambar petir di siang-siang bolong, aku sangat kaget mendengarnya. Kupikir tadi Mas Alif mau bicara kalau dia memberikan kejutan untukku. Jalan-jalan ke Bai buat kado ulang tahun pernikahan.


Tapi nyatanya?!!!


Kejutan apaan! Ternyata dia ke Bali buat urusan kantor. Malangnya kau ini Nala! Terlalu percaya diri sih.


“Kamu beneran mau rapat di sana?” ulangiku, berharap kalau tadi aku hanya salah dengar.


“Ya iyalah Sayang! Ya sudah, aku ke ruang kerjaku dulu.” Kemudian Mas Alif berlalu dari hadapanku dan keluar kamar begitu saja.


BEGITU SAJA!


Segera aku meletakkan keranjang yang berisi baju-baju kotor itu di lantai. Lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselku. Kucari kontak Nita lalu menelponnya. Berharap kalau Mas Alif hanya mengerjaiku saja.


“Halo, Assalamu’alaikum Nit!”


“Wa’alaikumsalam Na. Ada apa?” tanyanya dari seberang sana.


“Emang bener ya Mas Alif besok mau ke Bali?” tanyaku.


“Iya. Besok agendanya ada rapat di sana. Kenapa memangnya?”


Nah loh! Ternyata dia beneran mau rapat di sana.


“Enggak ada apa-apa kok Nit.”


“Oohh, aku tahu. Enggak mau pisah lama-lama ya sama Alif? Nanti takut tersiksa rindu. So sweet nya!” Tanpa bertanya lebih lanjut, dia Nita malah seenaknya menjelaskan spekulasinya.


“Eh! Enggak! Bukan gitu maksudku,” elakku.


“Halah! Ngaku aja enggak apa-apa kok!” Lah, kok malah si Nita ini jadi ngeyel?


“Enggak Nita!”


“Iya juga enggak apa-apa kok. Enggak ada yang ngelarang juga. Tapi kamu tenang aja! Di sana cuma tiga hari kok, enggak lama-lama.” Hadehh! Percuma juga mau mengelak, Nita tetap saja menggodaku.


“Hmm iya, ya sudah kalau gitu. Aku tutup telponnya ya! Assalamu’alaikum!” Aku segera mengakhiri panggilan ini. Keburu aku digoda habis-habisan sama dia.


Malam hari sudah tiba. Seharian aku kesal banget sama Mas Alif. Tega-teganya dia lupa sama tanggal sakral kita berdua. Masa aku melulu sih yang harus mengingatkan lebih dulu. Kan sekali-kali pengen gitu dibuatkan kejutan.


Beruntung hampir seharian tadi dia berkutat di ruang kerjanya, jadi aku tidak perlu lama-lama menahan rasa kesal ketika melihat wajahnya. Sampai sekarang kita berdua duduk di ruang makan untuk makan malam. Tidak ada makan malam romantis khas anniversary seperti pasangan kebanyakan. Membuatku semakin tambah kesal.


Huft! Kesalnyaaaaaaa!!!!


Makan malam hanya dihiasi keheningan. Tampak Mas Alif sangat menikmati menu hasil olahanku. Berbeda denganku yang makan dengan melampiaskan kekesalan pada ikan goreng yang sudah kucabik-cabik dagingnya.


Ketika sudah selesai, aku langsung mengambil piring yang kotor dan mencucinya. Kulihat dia sudah duduk di ruang keluarga sambil fokus dengan ponselnya. “Mas. Aku mau tidur dulu,” pamitku.


“Iya.”


Ya Allah! Nih orang benar-benar ya!


Lihat istrinya ngambek malah dia cuek-cuek aja. Masih sibuk dengan ponselnya. Tau ah!


Dengan menghentak-hentakkan kaki kesal aku melangkah menuju kamar. Langsung menutup jendela, mematikan lampu, lalu beranjak tidur. Padahal masih jam setengah delapan malam, tapi biarin lah. Dari pada enggak tidur malah tambah bikin kesal hati saja.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit juga sudah berlalu. Dari tadi aku hanya merem melek, guling kiri guling kanan. Ganti posisi berkali-kali, tapi tetap saja belum tertidur. Sampai akhirnya aku menyalakan ponselku untuk mengecek jam. Sudah jam setengah sepuluh malam.


“Ish! Mas Alif di bawah ngapain sih? Lama banget enggak tidur-tidur!” gerutuku.


Sampai aku mendengar suara derap kaki melangkah mendekati kamar. Disusul dengan suara kenop pintu yang diputar. Sontak saja aku langsung menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Kemudian memejamkan mata. Biar disangka aku sudah tidur.


Kemudian lampu kamar menyala, dan kasur di sampingku bergoyang. Tapi anehnya, hidungku seperti mencium aroma-aroma aneh. Seperti bau cokelat ya?


“Sayang bangun!” kata Mas Alif. Tapi aku masih memejamkan mata, enggan untuk bangun.


“Bangun dong Sayang!”


“Hmm..” Akhirnya juga aku memilih untuk bangun. Sambil menyibakkan selimut, aku pura-pura menguap agar cocok dengan orang yang habis bangun tidur.


Setelah sempurna membuka mata, aku langsung terkejut. Bagaimana tidak? Aku melihat Mas Alif tengah duduk tersenyum manis sambil memegang black forest cake, lengkap dengan tulisan Happy Anniversary serta lilin berbentuk angka tiga.


“Selamat hari jadi pernikahan Sayang!” ucapnya tulus.


Ini sungguh di luar dugaanku. Kupikir Mas Alif benar-benar lupa dengan hari ini. Ternyata tidak. Jadi tanpa berpikir panjang aku segera menghamburkan diri ke pelukannya.


“Eh! Hati-hati dong Sayang! Nanti kuenya jatuh.”


Kemudian aku mendongakkan kepala, dan sedetik kemudian memukul lengannya keras. Membuat Mas Alif mengaduh kesakitan. “Kamu sih! Nyebelin! Aku kira kamu lupa beneran!”


“Kan mau buat surprise! Sengaja mau buat kamu kesel.”


“Haishh! Sekarang seneng ya udah bikin aku kesel beneran?”


“Iya dong! Ya sudah, ayo kita tiup sama-sama lilinnya.” Mas Alif membawa kuenya di tengah-tengah kita, lalu dalam hitungan satu, dua, tiga!


“Fuuhh!” Kita berdua kompak meniup lilinnya.


Lalu Mas Alif meletakkan kue itu di atas nakas, dan kemudian berjalan menuju lemari. Tampaknya dia tengah mengambil sesuatu. Sebuah kotak kecil berwarna cokelat dengan pita merah muda di atasnya diberikan kepadaku. Dari isyarat matanya aku tahu bahwa dia menyuruhku untuk membuka kotak itu.


“Kado dariku,” imbuhnya.


Dengan tidak sabar aku membuka kotak itu. Ternyata isinya brosur paket liburan di Bali yang kulihat di saku jasnya tadi.


“Ini apa maksudnya?”


“Kayanya kamu harus berkemas lagi, satu koper untuk keperluan kamu sendiri selama tiga hari di Bali.”


Ha? Aku jadi semakin bingung.


“Maksud kamu gimana sih Mas? Coba ngomong yang jelas!”


“Kita besok ke Bali Sayang! Kita liburan di sana!” jawabnya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas.


“Loh, katanya kamu ke sana buat rapat?”


Aku dapat melihat Mas Alif seperti menahan tawanya. Dari sini aku sudah paham. “Kamu bohongin aku ya?!!!”


“Enggak juga sih, memang benar aku ada rapat dulu. Tapi cuma satu hari, yang dua hari buat kita liburan.”


“Ish! Sama aja kan ada bohongnya. Kamu tuh! Tahu ah, kesel aku!”


Aku langsung berbaring lagi dan menarik selimut sampai perutku. Dan juga aku membalikkan badan kemudian memeluk guling. Tampak muka Mas Alif jadi panik gitu lihat aku jadi kesal beneran.


“Loh Sayang, kamu ngambek beneran nih?” Dia menoel-noel lenganku, berharap agar aku membalikkan badan.


“Sayang... jadi kamu enggak mau liburan ke Bali beneran nih?”


Aku langsung membalikkan badan dan menatap datar ke wajahnya. “GAK.”


Tampak mukanya langsung berubah pias begitu. Sedetik kemudian raut muka kesalku berubah jadi cengiran.


“Tapi boong! Hahhaahaha!!” Puas banget bisa ngerjain dia balik.


“Ooohh! Kamu ngerjain aku ya!”


“Iya dong! Skornya sekarang jadi satu sama,” kataku.


Kemudian Mas Alif menarik tubuhku dalam pelukannya. Bukannya memeluk romantis, tapi dia menjahilku. Tubuhku yang kecil langsung terperangkap dalam kurungannya. Apalagi kakinya yang panjang dan berat itu menghimpit tubuhku agar tidak bisa bergerak. Kemudian kepalaku ditaruh di ketiaknya.


“Mas! ish! Enggak bisa napas nih!” Aku mencoba memberontak, tapi sia-sia. Tubuhku masih dikurung oleh Mas Alif.


“Biarin!”


“Iihh! Mas! Bau ketek ih! Bauuu!!!”


“Biarin! Biar kamu rasain keteknya orang ganteng!”


“Iyuhh!”


Dan begitulah seterusnya. Aku dan Mas Alif asyik bergulat di atas kasur sambil tertawa puas. Sampai lelah menyapa, kita memilih berhenti. Hampir saja lupa dengan kue yang kita anggurkan di atas nakas. Jadi sebelum tidur kita makan dulu kuenya sedikit, lalu menaruhnya ke kulkas untuk dinikmati besoknya lagi.