
Sore hari yang cerah kuhabiskan untuk memberi makan ikan-ikan peliharaanku di kolam. Sambil bersenandung ria diiringi oleh kicauan burung yang sudah kembali di sarangnya. Angin sepoi-sepoi membuatku jilbab segi empatku berkibar-kibar. Suasana yang sangat pas untuk menghilangkan penat di sela-sela kesibukan hari.
"Hmm. Sore yang indah ya?"
Hadehhh!
Kayanya setelah menikah dengan Mas Alif aku harus sering-sering mengecek kesehatan jantungku deh. Hobi banget buat orang kaget dengan tiba-tiba muncul dan memeluk dari belakang. Kalau enggak gitu tiba-tiba nyium.
Kan jantung eneng enggak kuat Bang!
Bawaannya mau lompat keluar dari tempatnya aja.
"Mas! Kebiasaan deh. Jangan sering buat aku kaget kenapa?"
"Hobi aja lihat istri aku berdebar-debar jantungnya," katanya dengan rasa tidak bersalah sambil ikut mengambil pelet yang kubawa dan menyebarkannya ke kolam.
"Entar kalau aku jantungan, Mas Alif yang tanggung jawab ya!"
"Hust!" Mas Alif langsung menutup mulutku dengan tangannya. "Enggak baik bicara yang jelek-jelek. Omongan adalah doa. Mau diamini sama malaikat?"
Sontak aku menggelang cepat.
Naudzubillah. Jangan sampai aku jantungan beneran.
Setelah melepaskan tangannya, lantas aku bertanya. "Oh iya. Sampai lupa. Kamu baru pulang Mas? Kok aku enggak dengar mobil kamu?"
"Mobilnya mogok. Jadi tadi aku nebeng sama karyawan buat pulang." Mendengar itu aku langsung tertawa.
"Kenapa kamu ketawa? Hmm?"
"Enggak bisa bayangin, ada pak bos yang capek-capek dorong mobilnya gara-gara mogok." Haduh! Aku masih belum bisa berhenti tertawa.
"Oh gitu ya? Kamu seneng banget kayanya lihat suaminya kesusahan." Mas Alif mulai berjalan mendekat. Jangan bilang kalau mau menjahiliku!
"Mas! Mas, kamu mau ngapain?"
"Mau begini!" Mas Alif langsung menangkap tubuhku dan menggelitikiku. Aku hanya bisa mengelak dan tertawa terbahak-bahak. Selalu begini kalau jahilnya kumat.
"Mas! Udah dong!"
"Rasain ini!" Mas Alif yang enggak berhenti menggelitikiku membuatku terus mencoba menghindar. Sampai tidak sadar kalau kakiku sudah berada di ujung kolam dan...
"Aaakh!"
Tubuhku sudah menghadap ke kolam dan hampir saja jatuh ke dalamnya jika tangan Mas Alif tidak menahan pinggangku. Sungguh, ini jarak antara air dan wajahku begitu dekat. Terlembap sepersekian detik saja sudah pasti aku nyebur dan berenang bareng ikan-ikanku.
"Mas! Cepet tarik!"
"Iya. Iya."
Mulutnya yang bicara iya, padahal kenyataannya malah aku dijahili terlebih dahulu. Tubuhku digoyang-goyang atau kalau tidak begitu tubuhku di tarik ulur ke arah kolam. Membuatku kesal saja.
"Maaasss! Jangan bercanda deh!"
Dan akhirnya Mas Alif menuruti permintaanku. Tapi entah karena tangannya yang tidak memegangku erat, atau bagaimana yang jelas tangannya yang berada di pinggangku terlepas sebelum tubuhku sempurna beridiri.
Byurrrr!!!
"Huaaaaaaaa!!!!!!! Mas Alif jahat!" Habis sudah tubuhku ini bau amis karena kecebur di kolam ikan.
Pokoknya ini semua salahnya Mas Alif!
"Sayang! Sayang! Kamu enggak apa-apa kan?" Mukanya terlihat panik dan tangannya terulur padaku.
"Enggak! Mas Alif jahat! Pergi sana! Aku enggak butuh bantuin kamu!" Kutepis dengan kasar tangannya yang hampir meraihku. Masih kesal. Huft!
"Ayolah Sayang! Maafin Mas! Tadi enggak sengaja terlepas," katanya sambil terus mencoba meraih tanganku. "Ayo naik! Nanti kamu demam gara-gara kedinginan."
Hmm.. kupikir-pikir sejenak permintaan maafnya.
Oke. Kumaafkan. Tapi tidak begitu saja, maafku tidak gratis wahai saudara.
Jadi kuterima uluran tangan Mas Alif. Senyum licik langsung terbit di bibirku. Dan dengan sekuat tenaga kutarik tangannya ke arahku sehingga dia juga ikut-ikutan tercebur di kolam. Jadilah kita berdua seperti induk baru bagi ikan-ikan ini.
"Kamu kok gitu sih Sayang?"
"Biar impas. Nih rasain!" Aku terus menyipratkan air kolam ke wajahnya dengan puas. "Salah siapa suka jahil ya?! Nih rasain!" Belum puas rasanya untuk terus menyipratinya.
Mas Alif juga tidak mau kalah, ikut-ikutan dengan aksiku. Kita berdua sudah seperti anak-anak yang asyik main air di sungai. Tapi bedanya ini di kolam ikan. Bau amisnya tidak menghalangi kita berdua untuk bersenang-senang. Sampai beberapa saat kemudian kita menghentikan aksi ini karena sudah mulai kedinginan.
"Mas!" panggilku ketika kita sudah makan malam.
"Kenapa?"
"Besok sore Lia ulang tahun. Astri sama Rangga minta kita bantu buat dekor rumahnya."
"Bentar." Mas Alif tampak tidak melanjutkan bicaranya. Memangnya dia ada kegiatan lain ya besok?
"Kenapa? Kamu ada pekerjaan? Kan besok minggu. Masa enggak ada liburnya sih? Kamu tuh pimpinan loh Mas, masa mengajukan diri buat libur enggak bisa?"
"Iya- istriku yang bawel." Dengan gemas dia mencubit pipiku. "Orang aku tadi lagi ngunyah. Enggak boleh sambil ngomong."
"Ohh.. kirain tadi mikir mau nolak, hehehe." Kutunjukkan cengiran khas Nala. "Terus habis bantuin mereka, kita jalan-jalan ya Mas?"
"Iya."
"Ke taman gimana?"
"Iya."
"Terus kita makan es krim berdua."
"Iya."
"Antusias kok. Kan aku ikut kamu aja mau ke mana. Memangnya kamu mau aku bilang tidak?" Sontak aku menggelengkan kepala.
"Hmm, tapi aku punya ide bagus."
"Apa?" Nah, wajahku berubah ekspresi lagi. Sekarang menjadi wajah-wajah bersemangat.
"Sekarang keluar yuk! Kita malam mingguan."
"Ayuk!" Dengan semangat empat lima aku menarik lengan Mas Alif naik ke lantai atas untuk segera bersiap.
Tapi ketika sudah di dalam kamar aku baru menyadari sesuatu. "Eh tunggu! Kamu mau buat aku masuk angin ya Mas? Malam-malam dingin gini ngajak keluar."
"Eh?" Reaksinya sangat kaget gitu mendengar penuturanku yang tiba-tiba. "Enggak gitu lah Sayang! Masa tega sih aku mau buat kamu sakit? Kan aku pikir kamu jalan-jalan malam. Maaf ya kalau kamu mikirnya gitu."
"Hmm. Yaudah aku mau. Tapi di Mall aja, sama belanja hadiah buat Lia," kataku final lalu mencari jilbab yang pas dengan bajuku.
Kita keluar mengendarai motorku, karena mobil Mas Alif masih di bengkel. Mas Alif mengendarai dengan kecepatan pelan agar aku tidak kedinginan. Sepanjang perjalanan kita berdua asyik bercerita, dengan tanganku yang melingkar di pinggangnya erat. Mencari kehangatan. Ya beginilah malam minggu padangan yang sudah halal. Mau ngapa-ngapain juga enggak dosa karena sudah sah di mata hukum dan agama.
"Ayo turun!" kata Mas Alif. Kita sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Malang.
Sambil bergenggaman tangan kita berdua menyusuri Mall dari lantai satu sampai lantai atas. Begitulah kalau mengajak wanita pergi ke Mall. Tujuan awal membeli apa, tapi ketika sampai satu Mall bisa dikelilingi semua. Maklum, untuk mencuci mata.
Sampai di bagian mainan anak-anak kita mulai memilih hadiah untuk Lia. Mataku tertuju pada sebuah boneka barbie yang sangat lucu. "Mas! Hadiahnya itu ya!" tunjuknya pada satu set boneka barbie dan rumahnya.
"Lia kan umurnya masih dua tahun. Apa enggak bagus beliin boneka biasa aja?"
"Jadi kamu enggak setuju nih sama pilihan aku?" Mendadak perasaanku jadi sedih begini. Mau nangis juga malahan. Ini kenapa aku jadi mendadak cengeng begini sih? Padahal cuma beda pendapat aja.
Hmmm. Mungkin aku lagi PMS kali ya. Jadi mood swing gini.
"Bukan. Bukannya gitu. Kan mainan itu belum cocok sama seumuran Lia. Mungkin tahun depan kita bisa beli itu buat ulang tahunnya Lia lagi." Hebat banget Mas Alif! Bisa sabar gitu menghadapi aku.
Akhirnya kita pergi dari outlet ini, dan pergi untuk mencari boneka. Dan pilihanku jatuh pada boneka beruang berwarna merah muda dengan bulu yang sangat lembut. Tidak hanya itu saja, aku juga membelikan baju serta sepatu untuk Lia. Lalu setelah itu kita pulang karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
*******
Keesokan pagi seperti yang sudah direncanakan, kita sekarang di rumah Astri dan Rangga. Berkutat dengan banyak balon berwarna merah muda serta pernak-pernik ulang tahun lainnya. Sedangkan yang laki-laki mengatur dekorasi, aku dan Astri sibuk di dapur untuk memasak makanannya.
Tumpeng ala Astri dan Nala sudah siap satu jam kemudian. Tinggal menyiapkan piring dan juga sendok untuk dibersihkan. Kelihatannya yang laki-laki masih sibuk meniup balon yang kurang sedikit lagi. Aku dan Astri yang sudah selesai dengan urusan dapur memilih untuk diam-diam mendekati mereka. Berbekal jarum pentul kita akan mengerjai para suami.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai beberapa langkah diam-diam kemudian...
Duar!!!
"Hah!!!" Mas Alif dan Rangga kompak berteriak kaget karena balon yang masih mereka tiup tiba-tiba meletus. Membuat aku dan Astri sebagai dalang di balik ini tertawa puas sekali. Sedangkan yang menjadi korban kejahilan hanya menatap kita dengan muka datar.
Sebagai hukuman kita juga disuruh ikut meniup balon. Tapi berhubung hari sudah siang dan dekorasi kurang sedikit, aku berpamitan untuk pulang dan mengajak Mas Alif ke taman sesuai yang kurencanakan tadu malam. Jadi hanya Astri yang kena hukuman meniup beberapa balon. Sudah pasti dia menatap kepergianku dengan muka datar andalannya.
Maaf ya As! Heheheh.
Sampai di taman kita sudah disambut oleh keramaian orang yang berlalu lalang. Ada yang berjalan bergandengan dengan pasangannya, mengajak bermain anak-anaknya, ada juga beberapa yang kelihatan tengah mengerjakan tugas. Pandangan pertamaku langsung tertuju pada stand es krim yang ramai dengan anak-anak yang mengantri.
"Mas. Beli es krim ya!" pintaku dengan wajah memohon.
"Iya. Kamu mau rasa apa?"
"Vanila, cokelat, dan stroberi dicampur jadi satu!" ujarku semangat sambil mendorong tubuh Mas Alif untuk ikut mengantri. Dan aku memilih duduk di kursi taman yang diteduhkan beberapa tanaman rindang.
Dari sini aku dapat melihat Mas Alif dengan sabar mengantri dengan anak-anak. Beberapa kali tampak mengalah dengan anak yang menangis karena lama tidak dilayani pesanannya. Sampai beberapa menit kemudian dia berjalan ke arahku dengan kedua tangan yang sudah penuh dengan dua cone es krim.
Kulihat wajahnya sangat berkeringat karena habis berpanas-panasan. Tidak tega, aku pun mengelap keringat di wajahnya dengan kerudungku. "Makasih ya es krimnya!"
"Iya. Gimana? Suka es krimnya?"
"Belum juga dicoba." Aku pun memakan es krim tiga rasa itu bersamaan. "Hmm, kayanya aku mau es krim kamu aja deh Mas." Mas Alif segera menukarkan es krim rasa cokelatnya denganku.
"Makasih ya!" kataku sambil mencium pipinya. Ya karena aku habis makan es krim, sisa es krim tampat menempel di pipi Mas Alif. Membuatku tertawa melihat muka masam Mas Alif.
"Nih rasain juga!" Mas Alif dengan sengaja menoel hidungku dengan jarinya yang sudah dilumuri es krim. Alhasil es krim kita berdua tidak berakhir di perut tapi berakhir di wajah.
Sampai seorang badut dengan kostum panda lewat di depan kita. Membuat mataku berbinar-binar. "Panda!" Jeritku kemudian. Membuat di badut berhenti dan kembali menghampiri kita.
Badut itu sangat lucu. Apalagi tangannya yang melambai-lambai kepadaku. Segera aku mengeluarkan ponsek dari tasku dan menyuruh Mas Alif untuk memfotokan kita berdua.
Ckrek!
Setelah beberapa foto badut itu pergi. Aku masih tidak rela jika badut itu pergi, jadi kupegang kostumnya. Mas Alif sudah berkali-kali menyuruhku untuk melepaskannya, tapi aku tidak mau.
"Maass! Mau kostum panda," rengekku padanya.
Akhirnya Mas Alif berbicara dengan seseorang di dalam kostum itu, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan di dompetnya. Dan kostum panda itu sekarang sudah menjadi milikku. Yey!
"Terus kamu mau apakan kostum ini?" tanyanya.
"Kamu pakai lah Mas! Ayo cepet pakai!" kataku.
"Apa? Enggak mau. Gerah Sayang!"
"Ooh. Jadi kamu enggak mau ya?" Mungkin melihat mukaku yang sedih ini meluluhkan hatinya. Jadi buru-buru dia mengenakan kostum panda itu.
"Iihh lucuuu!" Tidak bisa aku menahan diriku untuk tidak memeluknya.
"Mas Alif kaya Palila tahu!" Iya, mirip dengan boneka panda pemberiannya tiga tahun lalu.
"Hmm, asal kamu senang!" katanya dari balik kostum ini.
Dengan semangat aku mengajak badut ini, eh maksudku Mas Alif untuk berjalan-jalan mengelilingi taman. Banyak anak-anak kecil yang mengajak untuk berfoto. Dan aku menjadi juru foto dadakan. Jadi siang ini, Mas Alif jadi primadona dadakan untuk anak-anak. Sampai pulang pun Mas Alif tetap kusuruh memakai kostum itu. Jadilah di dalam angkutan umum Mas Alif jadi pusat perhatian. Tapi tidak apa-apa lah ya, kan mukanya tertutup kepala panda. Jadi dia tidak merasa malu. Demi istri tercinta, apa sih yang enggak? Hehehe. Makin cinta sama Mas Alif pokoknya.