TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ PUPUT



"Enggak Ma!"


"Kenapa sih enggak mau? Orang kamu juga kerjanya libur."


Puput tampak menggigit kuku jarinya, pertanda dia sedang mencari alibi untuk menghindari ajakan mamanya. Hidup bersama anaknya selama puluhan tahun, bagaimana mungkin tidak mengenal gerak-gerik anaknya? Tentu saja mamanya Puput tahu kalau putrinya itu tengah mencari sebuah alasan.


"Udah. Kamu enggak usah nyari alasan. Pokoknya besok Minggu kamu ikut Mama!


"Haish! Lagian mama kenapa sih? Tumben banget ngajak aku ke pengajian. Biasanya juga berangkat bareng sama ibu-ibu komplek."


"Ya kan tempatnya jauh. Makanya mama minta anterin kamu."


"Terus papa?"


"Papa kamu juga ikut, pokoknya satu keluarga ikut."


"Tumben. Ini ad-,"


"Halah-halah! Sudah. Pokoknya kamu juga ikut. Enggak usah banyak tanya. Mama mau ke kamar dulu, ngantuk." Dan sedetik kemudian si mama berlalu meninggalkan Puput yang makan keripik dengan muka masih kesal.


Sepeninggal mamanya, kemudian dia menghadap ke sofa single tempat di mana papanya bertahta. Seperti raja yang duduk di atas singgasana kebesarannya. Bedanya, raja yang ini hobi sekali makan kerupuk udang sambil menonton acara TV yang menayangkan pertandingan sepakbola liga Inggris favoritnya. Apalagi sambil duduk bersila, menunjukkan kenikmatan yang sempurna. Dan bayangan tentang raja langsung hilang seketika Puput mendapati papanya menggaruk-garuk perutnya yang buncit.


"Pa..." rengek Puput seperti anak kecil yang menginginkan agar dibelikan lolipop oleh ayahnya.


"Udah. Nurut aja apa kata mamamu. Orang diajak panen pahala kok enggak mau." Singkat, padat, jelas, dan sedikit mencubit hati Puput.


"Iya-iya. Aku besok ikut." Sambil menghentakkan kakinya Puput menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya. Tidak lupa sambil membawa keripik untuk cadangan kalau-kalau dia lapar.


*****


Hari minggunya....


"Ya Allah Puput! Kamu itu mau ke pengajian apa mau mejeng ke mall sih?" Mamanya Puput yang sudah lama menunggu putrinya di dalam mobil langsung keluar mobil dan memarahi Puput untuk yang ke sekian kalinya.


"Ya ke pengajian lah Ma. Katanya harus ikut. Di-wa-jib-kan." Sengaja Puput menekankan satu kata terakhirnya.


"Ke pengajian macam apa pakai baju kaya gitu?! Udah pakai jeans ketat, cuma jaketan doang, dan itu kenapa kerudungnya cuma disampirin ke kepala?! Sana ganti baju lagi! Pakai gamis sama kerudung yang bener!"


"Iya-iya!" Meski setengah hati menjawab, tapi Puput tetap menuruti apa kata mamanya.


"Hadeh! Bisa-bisa darah tinggi aku punya anak aturannya susah kaya gini."


"Udah Ma. Sabar!" Sang papa tampak ikut keluar dari mobil dan ikut bersandar di samping pintu penumpang.


"Iya. Pokoknya rencana ini harus berhasil. Punya anak perempuan satu-satunya tapi susah banget dibilangin. Mungkin kalau sama suaminya bisa nurut."


"Amiin."


Kedua orang tua itu tampak tersenyum penuh arti sambil bertatapan seperti berkomunikasi dalam hati. Puput yang baru saja keluar dengan penampilan sudah rapi menjadi bingung sendiri melihat tingkah mama dan papanya. Tapi setelah dia tegur, keduanya seolah gelagapan dan memilih untuk masuk mobil. Puput pun mengangkut bahunya acuh. Tidak heran lagi karena orang tuanya memang terkadang suka bersikap aneh.


Setelah setengah jam berkendara, mobil yang ditumpangi keluarga itu sampai di pelataran masjid yang tampak berdiri kokoh dan megah. Membuat setiap mata yang memandang merasa takjub dan mulut yang tak pernah berhenti memuji. Sampai di dalam ternyata sudah lumayan banyak yang datang padahal acara belum dimulai. Beruntunglah mereka masih depan bagian lumayan depan. Dan tentu saja, dengan segala bujuk rayu Puput yang menyuruh mamanya untuk mencari tempat di dekat tembok. Apalagi alasannya kalau bukan untuk bersandar dan melepas kepenatan. Syukur-syukur kalau tertidur dan bangun-bangun acara sudah selesai. Begitulah yang dipikirkan Puput.


Tapi bukan mamanya Puput namanya kalau membiarkan Puput bertindak semau hatinya. Jadi setiap Puput mulai mengantuk kedua jari mamanya siap menjadi algojo yang mengeksekusi paha mulus Puput yang terbalut gamis. Membuat Puput meringis kesakitan dan hilang sudah rasa kantuknya digantikan dengan rasa kesalnya.


Kemudian terdengar suara mikrofon yang mulai di tes, pertanda acara akan dimulai. Pertama-tama acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, kemudian pembukaan, dan akhirnya acara ceramah yang disampaikan oleh seseorang yang berada di balik kain penutup antara laki-laki dan perempuan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Deg. Seketika Puput terpaku mendengar suara dalam dari si penceramah. Suaranya begitu merdu dan menenangkan. Bahkan AC saja kalah sejuk dengan suara si da'i muda yang mulai melancarkan ceramahnya. Bagaimana Puput tahu kalau penceramah itu masih muda? Ya karena dari suaranya. Dan Puput menebak kalau umurnya masih kurang dari tiga puluh tahun. Kalau sampai tebakannya benar, berarti orang yang berada di atas mimbar sana sangatlah hebat. Di umur yang masih muda sudah dipercayakan untuk memberikan ilmunya ke banyak orang yang bahkan banyak yang jauh lebih tua darinya.


Kantuk yang semula seperti tidak akan ada habisnya menggoda Puput hilang seketika. Berganti dengan perasaan tenang dan jiwa yang nyaman mendengarkan setiap kata yang dikeluarkan sang da'i. Mamanya yang duduk di sampingnya sempat melirik ke arah Puput sebentar. Senyumnya sedikit mengembang melihat putrinya begitu menikmati ceramah. Tidak sia-sia dia membawa Puput.


Satu jam kemudian...


"Ma, besok-besok lagi kalau mau ke sini ajak aku lagi ya!" ujar Sita setelah mereka berdua duduk di teras masjid, menunggu sang papa keluar.


"Yakin nih? Bukannya kemarin-kemarin kamu ngotot banget enggak mau ikut?" sindir si mama yang membuat Puput tersenyum malu sendiri.


"Ya habisnya langsung berada adem gitu pas dengerin ceramahnya."


"Iya, besok-besok Mama ajak kamu."


"Eh, tapi khusus yang da'i orang tadi ya Ma. Kalau yang lain aku tetep enggak mau."


"Loh, kok gitu?"


"Ya gapapa."


"Oh, Mama tahu. Kamu suka ya sama da'i nya?"


"Ih, ya enggak lah Ma! Ketemu orangnya aja enggak, gimana mau suka coba?" jawab Puput. Lagian juga untuk menyukai seorang da'i tidak pernah terlintas di benaknya.


"Hmm, jadi kamu pengen ketemu sama orangnya nih?"


"Ya enggak gitu juga Ma. Udah ah, Puput males sama Mama. Hobi banget godain Puput."


"Uluh-uluh! Sayangku lagu ngambek ya?" Si mama mencubit kedua pipi Puput layaknya dulu ketika putrinya masih kecil.


"Duh! Udah Ma! Sakit!"


Lalu tak lama kemudian, mereka melihat si papa keluar dari arah pintu laki-laki. Tapi rupanya tidak sendiri. Di sampingnya ada pemuda dengan perawakan tinggi dan berbrewok tipis sambil mengenakan baju koko tengah berbincang-bincang. Puput akui, pemuda itu sangat tampan. Tapi Puput belum jatuh dalam pesonanya. Karena di hatinya sudah mengucap mantra yang tak lain adalah menyebut nama seseorang.


"Assalamualaikum Tante!" sapa pemuda itu sambil mencium punggung telapak tangan mamanya Puput dengan penuh hormat.


"Waalaikumsalam. Ya Allah, Fikri sekarang sudah besar ya? Padahal dulu masih sekaki lho, sekarang udah ngelebihin Tante aja tingginya."


"Ini mama kok sok kenal banget sih? Siapa juga nih orang? Kok aku enggak pernah tahu kalau punya kerabat seganteng ini?" batin Puput penuh tanda tanya.


"Hehehe, iya Tan. Alhamdulillah diberi kesehatan dan pertumbuhan yang baik."


"Ya jelas udah besar lah Ma. Orang udah bisa ceramah di depan orang segini banyaknya." Si papa juga ikut menyahut, membuat Puput semakin mengernyitkan dahinya. Jadi dia sendiri di sini yang tidak kenal dengan si ganteng? Eh, Fikri?


Dan tunggu.


Puput kembali mengulang rekaman suara papanya beberapa detik lalu. Ceramah? Di depan orang banyak? Apa jangan-jangan...


"Oh ya Fik, ini ada yang mau ketemu sama kamu katanya." Sang mama sibuk menyenggol lengan Puput, membuatnya sadar dari lamunannya.


"Apaan sih Ma. Siapa juga yang bilang begitu."


"Loh, bukannya kamu sendiri pengen ketemu sama da'i yang ceramah tadi ya? Ya ini orangnya."


"Ha?" Mulut Puput menganga sempurna, tidak dia sangka bahwa penceramah tadi wujudnya seperti ini. Ia tahu tidak ada manusia yang sempurna, tapi baginya seorang Fikri sudah begitu sempurna. Tampan, pintar, agamis.


Puput segera menggelengkan kepalanya. Dia masih ingat ada hati lain yang harus ia jaga.


"Kamu kenapa Put?"


"Enggak Ma. Aku enggak kenapa-napa kok."


"Oh ya, kamu masih ingat sama Fikri gak Put? Dia anaknya Budhe Fatma lho. Dulu sering main ke rumah waktu kalian masih kecil. Inget gak?"


"Sebentar." Puput tampak sedang berpikir. Memaksakan otaknya untuk mencari file memori yang diceritakan mamanya. "Budhe Fatma temennya Mama?"


"Iya."


"Oh aku inget! Jangan-jangan dia anak laki-laki yang suka mengerjaiku dulu ya?" tuding Puput dengan mengarahkan telunjuk jarinya ke muka Fikri.


"Oh, kamu masih ingat rupanya. Maaf ya! Waktu itu kan masih kecil, jadi ya suka jahil," ucap Fikri tulus. Padahal Puput juga tidak terlalu mempermasalahkan itu, toh anak-anak memang suka jahil.


"Iya. Lagian itu udah lama juga," jawab Puput.


"Ekhm! Masih mau ngobrol di sini apa langsung berangkat?" Si papa yang dari tadi diam mengeluarkan suaranya. Membuat mama tersenyum minta maaf ke suaminya.


"Berangkat? Mau berangkat ke mana lagi Pa?"


"Ya ke rumahnya Fikri, mau ke mana lagi?"


"Loh, kok-,"


"Wuih Puput keliatannya senang banget tuh. Ya udah, yuk langsung berangkat!" ajak sang mama sambil menarik lengan Puput menuju ke arah mobil mereka. Diikuti oleh papa danĀ  juga Fikri.


Mobil Fikri melaju terlebih dahulu membelah jalanan Kota Malang. Diikuti oleh mobil milik keluarga Puput. Di dalam mobil sangat berisik, suar radio juga suara protesan dari Puput berpadu sempurna. Tapi orang tuanya tidak ambil pusing, mereka tampak menikmati kekesalan anaknya. Hiburan gratis setelah penat bekerja kata mereka.


*****


Tak lama kemudian dua mobil itu memasuki parkiran sebuah rumah yang tak lain adalah rumah milik orang tua Fikri. Masuk di dalam, otak Puput kemudian memutar memori kenangan masa kecilnya dulu. Karena dulu ia sering diajak pergi oleh mamanya. Salah satunya ya di rumah Tante Fatma.


Masuk ke ruang tamu mereka sudah di sambut dengan senyuman merekah dari Fatma dan suaminya. Semua bersalam-salaman dan berkahir mengobrol santai di ruang keluarga. Karena tidak paham dengan obrolan para orang tua, juga Fikri yang masih mandi membuat Puput memilih memainkan ponselnya.


Sampai tak lama kemudian para ibu ke dapur untuk memasakkan makan siang, tentu saja Puput mengikuti mereka berdua. Memasak bersama sambil diselingi canda tawa tidak terasa semua menu makanan sudah siap.


"Puput masih suka tempe penyet?" tanya Fatma.


"Masih Tan."


"Dia mah asal bahannya tempe mau diolah apa pun juga doyan Fat," kelakar mamanya Puput.


"Hmm, anak kita memang masih sama seleranya."


"Oh iya ya. Mereka berdua sama-sama tempe lovers. Masih ingat dulu mereka sampai berantem gara-gara rebutan tempe mendoan." Seketika tawa dua orang ibu itu pecah. Membuat Puput semakin malu.


"Udah ah. Kasihan anak kamu kalau diledekin terus. Tuh mukanya udah kaya kepiting rebus," ujar Fatma dan Puput memilih meninggalkan mereka berdua di dapur dengan menata makanan di atas meja makan.


Ketika Puput akan keluar dapur menuju ruang makan, tepat di depannya ada Fikri yang akan masuk ke dapur. Puput tentu saja langsung tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan nasi yang ia bawa kalau saja Fikri tidak ikut memegangnya juga. Tangan mereka berdua bersentuhan, seperti menimbulkan sengatan listrik bagi Puput. Langsung saja dia mengambil alih nasi tersebut dan meletakkannya ke meja makan sambil terus menundukkan kepala. Merutuki kecerobohannya sendiri.


Makan siang berjalan penuh suka cita. Pertemuan dua keluarga yang lama tidak berjumpa tentu saja akan menimbulkan banyak cerita. Dari masalah kerja hingga menyinggung anak-anak mereka.


"Puput sekarang umur berapa?" tanya suami Fatma.


"Dua lima om, besok September."


"Oh gitu, berarti kurang tiga bulan lagi ya. Pas dong kalau acaranya disatukan?"


"Maksudnya apa ya om?"


"Ya digabung gitu, pernikahan kalian sama ulang tahun kamu." Puput semakin mengernyitkan dahinya.


"Pernikahan siapa om?"


"Ya kamu sama Fikri lah, masa kamu sama om. Entar Tante Fatma marah lagi."


"Hee?" Ini Puput tidak sedang bermimpi kan? Untuk mengetesnya maka dia langsung mencubit pahanya yang ternyata rasanya perih. Berarti ini dunia nyata.


"Ekhm, jadi gini nak. Sebenarnya kamu itu kami jodohkan dengan nak Fikri. Karena menurut kami ya umur kalian sudah cukup, kalian juga tampak serasi, dan terlebih lagi kami pra orang tua mengharapkan yang terbaik untuk kalian." Papanya Puput mencoba memberikan penjelasan kepada putrinya.


"Kenapa enggak ngomong dulu sama Puput?" bisik Puput di samping telinga mamanya.


"Emm, Puput boleh mikir-mikir dulu enggak Tan?" Puput berharap sangat agar ada yang mengerti dirinya.


"Boleh. Kan yang bakal nikah kalian, ya sepenuhnya keputusan tergantung kalian. Tapi sekarang tinggal tergantung kamu sih Put, karena anak Tante udah setuju."


"Uhukk!!" Puput yang tengah minum langsung tersedak dan melotot ke arah Fikri. Apa-apaan dia langsung menerima tanpa membahas terlebih dahulu dengan dirinya?


"M-makasih Tan. Puput bakal pikirin matang-matang lebih dulu," lanjut Puput memberi tanggapannya final.


*****


"Mama sih enggak maksa kamu Put. Tapi kalau kamu menerima perjodohan ini maka mama sama papa akan sangat bahagia."


"Bener enggak maksa, tapi kalimatnya jelas banget pengen anaknya terima. Huh!" Puput sibuk dengan dunia gerutuannya.


"Gimana Put? Lebih cepat kamu jawab lebih baik. Biar enggak kelamaan keluarganya Tante Fatma nunggu."


Puput menghela napasnya, kemudian menatap mata mamanya. "Oke. Aku terima." Sepertinya nanti Puput harus menemui seseorang untuk mengerti keadaannya.


Seseorang yang baru dua bulan ini mengisi hari-harinya. Seseorang yang berusaha ia juga hatinya. Seseorang yang menjadi tempatnya bersandar. Dan seseorang itu adalah Rian, pacar Puput yang belum pernah ia perkenalkan ke mama dan papanya.


Saat ini dia tengah berada di salah satu restoran cepat saji, tengah berhadapan dengan seseorang yang menunggu penjelasannya. Tapi sedari sepuluh menit yang lalu Puput masih saja diam membisu sambil sesekali menyeruput minumannya.


"Sayang, kamu mau ngomong apa sih?"


"Emm, jadi gini Yang. Aku itu mau..." Lagi-lagi Puput menggantungkan kalimatnya.


"Mau apa?"


"Aku sebenarnya mau nikah sama orang lain." Puput langsung menjelaskannya dengan satu kali tarikan napas dan dengan tempo yang cepat. Beruntung Rian tidak memiliki gangguan pendengaran, jadilah dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan Puput.


"Apa? Kamu bercanda?"


"Aku enggak bercanda. Aku juga enggak tau kalau tiba-tiba dijodohkan gitu."


"Terus kenapa enggak nolak?"


"Enggak bisa Yang. Orang tuaku tuh udah kaya berharap banget. Dan aku sadar selama ini belum pernah membahagiakan orang tuaku, mungkin ini jalannya," ujar Puput sedikit putus asa.


"Terus hubungan kita?"


"Aku enggak tahu."


"Sayang." Rian langsung menggenggam kedua tangan Puput. "Apa kamu cinta sama dia?" tanya Rian dan mendapat gelengan kepala dari Puput.


"Bagus. Kalau gitu biar saja hubungan kita tetap berjalan."


"Kamu gila? Kamu nyuruh aku main di belakang dia?" Puput tak habis pikir dengan Rian.


"Ya kan kamu enggak cinta sama dia. Cintanya kamu kan sama aku. Jadi gini, coba kamu buat dia merasa ingin berpisah dengan kamu-'"


"Nanti aku jadi janda dong!" sahut Puput tidak terima.


"Kan ada aku. Aku yang akan menikahimu setelah itu." Puput tampak memikirkan tawaran dari Rian. Dalam hatinya dia masih bingung. Sisi baik dan sisi jahat saling beradu argumen.


"Iya udah kalau gitu." Dan sisi jahat lah yang menang.


Setelah berbincang untuk mendiskusikan rencana mereka, tiba saatnya untuk Puput pulang. Teringat dia tadi hanya izin sampai sore keluarnya. Dan entah ini kebetulan atau bagaimana, lagi-lagi Puput akan bertabrakan dengan seseorang ketika akan keluar restoran. Kejadian yang sama persis di rumah Tante Fatma beberapa hari lalu, dan ajaibnya dengan orang yang sama.


"Puput? Kamu di sini?"


"Iya."


"Terus mana jilbab kamu? Kok enggak dipakai?" tanya Fikri yang menganggap Puput memang mengenakan jilbab karena pertemuan mereka di pengajian lalu, dia tidak tahu kalau sosok asli Puput yang memang hanya memakai jilbab kalau ada acara tertentu saja.


"Bukan urusan kamu." Setelah mengatakan itu dia langsung pergi meninggalkan Fikri yang masih kebingungan di samping pintu masuk.


*****


"Saya terima nikah dan kawinnya Puput binti Suherman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah dibayar tunai!"


Puput masih saja terngiang-ngiang suara Fikri yang lantang mengucapkan Qabul atas nama dirinya tiga hari lalu. Dia tidak menyangka kalau secepat ini dia akan menikah. Dengan orang yang tak pernah ia cintai bahkan. Sebenarnya Puput tidak tahu kenapa masih belum menerima Fikri, mungkin karena dia bertemu Rian terlebih dahulu. Jadi cintanya sudah untuk pacarnya itu, dan lagi di luar sana Rian masih setia menunggunya. Menunggu jandanya maksudnya.


"Kamu belum masak?" tanya Fikri mendekati Puput yang duduk termenung di ruang makan. Baru kemarin mereka pindah ke rumah baru milik Fikri, dan Puput akan memulai aksinya.


"Aku enggak bisa masak."


"Ohh gitu. Ya udah enggak apa-apa, biar aku aja yang masak." Fikri kemudian berjalan ke dapur dan mengenakan celemeknya.


Melihat Fikri yang sibuk berkutat memasakkan sarapan untuk mereka berdua sebenarnya membuat Puput sedikit kasihan. Tapi bayangan wajah Rian yang terlintas langsung menguatkan tekadnya lagi. Kan memang ini yang dia rencanakan. Syukur-syukur Fikri mereka kesal kepadanya.


"Sudah selesai!" Setengah jam Puput menunggu sambil bermain ponsel, akhirnya Fikri sudah selesai menyelesaikan masakannya.


Mereka berdua pun makan dengan khidmat. Tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu. Sampai akhirnya Fikri mencari topik agar lebih dekat dengan istrinya. Dia tahu bahwa Puput belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Tapi dia juga tidak akan menyerah untuk meluluhkan hati Puput dan menerima pernikahan ini.


"Gimana rasanya? Enak tidak?"


"Lumayan," singkat sambil membawa piring kotor ke wastafel.


"Alhamdulillah kalau gitu." Kemudian Fikri berdiri menghampiri Puput yang akan mencuci piring.


"Biar aku aja," kata Fikri mengambil alih spon untuk mencuci piring dari tangan Puput. Dan dengan tanpa rasa malu Puput langsung menyerahkannya tanpa bermaksud menghentikan Fikri. Kemudian dia melenggang pergi ke kamar. Sebuah permulaan yang bagus untuk menjadi istri durhaka.


Sudah satu bulan pernikahan mereka dan Puput masih setia dengan sikap ketus dan cueknya. Bahkan seminggu ini pula dia tidak pernah melaksanan tugas seperti istri pada umumnya. Memasak adalah tugas Fikri, menyapu dan mengepel saja dia memanggil jasa petugas kebersihan online, dan mencuci baju pun dia memilih mengantarkannya ke laundry. Dan hebatnya lagi, tidak terlihat raut kesal pun dari muka Fikri. Dia sangat sabar juga tersenyum memaklumi saja, dan itu membuat Puput sebal karena Fikri tidak terpengaruh rencananya.


"Mas. Aku mau keluar," pamit Puput karena Fikri sedang ada di rumah. Kalau Fikri tidak ada, dia asal nyelonong keluar saja. Tujuannya tentulah untuk bertemu Rian.


"Kamu enggak pakai jilbab lagi?" tanya Fikri memandangi penampilan istrinya.


"Di luar panas Mas. Nanti kegerahan."


Lagi-lagi Fikri tersenyum dan menghampiri Puput yang berdiri di samping pintu rumah. "Ya sudah, tapi lain kali pakai ya? Bukannya malah bagus berpakaian tertutup? Jadi kulitnya enggak terkena sinar matahari langsung."


"Hmm."


"Kalau begitu kamu hati-hati di jalan!"


Cup.


Sebuah kecupan manis mendarat di kening Puput. Membuat perasannya menghangat, juga jantungnya yang terasa seperti lari maraton. Sudah sering dia mendapat perlakuan manis dari Fikri. Dan saat itu juga antara hati dan pikirannya beradu. Antara menerima Fikri, atau mengharapkan Rian.


"Iya. Aku berangkat! Assalamualaikum!" Buru-buru Puput pergi dari hadapan Fikri untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.


*****


Di taman Puput sudah janjian akan bertemu dengan Rian. Keduanya memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan makan es krim berdua sambil memandangi jalanan ramai.


"Gimana suami kamu?"


"Masih no respon. Kadang aku bingung, dia tuh punya rasa kesal gak sih? Tiap hari senyum terus."


"Hmm, mungkin kamu harus lebih keras lagi usahanya. Ingat, ada aku yang selalu menunggumu," ucap Rian penuh sayang sambil mengusap puncak kepala Puput.


Sore yang cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung. Alam seolah-olah menunjukkan ketidaksukaan pada apa yang dilakukan dua sejoli itu. Hawa dingin langsung menyelimuti. Orang-orang yang semula riang menikmati suasana taman langsung berlarian mencari tempat yang teduh karena rintik hujan sudah turun. Begitu pula dengan Puput dan Rian yang berteduh di depan sebuah toko.


"Sekarang cuaca enggak bisa ketebak. Padahal tadi cerah, sekarang tiba-tiba hujan," kata Puput yang sibuk mengusap lengannya yang kedinginan. Kalau begini dia tiba-tiba teringat Fikri yang menyuruhnya berpakaian tertutup, pasti lah dia akan merasa hangat.


"Maaf ya! Aku enggak bawa jaket. Jadi enggak bisa angetin kamu."


"Iya gak papa."


Tak lama kemudian ponsel milik Puput berbunyi, menampilkan kontak Fikri yang sedang menelpon. Seakan paham, Rian langsung diam. Selama dua menit bertelepon, Puput hanya menjawab iya dan tidak. Membuat Fikri tidak bisa menyimpulkan apa yang tengah mereka bahas.


"Yang, habis ini Mas Fikri mau jemput aku," kata Puput seakan memberi isyarat agar Rian menjauh.


"Iya. Kalau gitu aku tunggu di depan toko sebelah. Kamu baik-baik nunggu di sini ya!"


"Iya."


Sekitar sepuluh menit menunggu sudah tampak mobil Fikri dari kejauhan. Tanpa membuang waktu, Puput segera masuk karena tidak kuat lagi dengan hawa dingin di luar. Sesampainya mereka di rumah, Puput langsung merebahkan dirinya ke kasur dan menyelimuti dirinya yang masih saja kedinginan.


Malamnya Puput mendapati dirinya sangat berkeringat. Padahal dia merasa kedinginan. Apa mungkin dia masuk angin? Fikri yang baru pulang dari masjid setelah sholat isya langsung menghampiri Puput yang tampak menggigil. Dipegangnya dahi Puput untuk mengecek suhu badannya.


"Ya Allah! Kamu panas banget. Tadi udah makan apa belum?" Puput menggeleng.


"Ya udah Bentar, aku ambilin makanan sekalian obatnya." Secepat kilat Fikri mengambil air hangat, obat demam, juga seember air hangat dan kain untuk mengompres dahi Puput.


Dengan telaten Fikri menyuapi Puput meski Puput sendiri enggan makan karena terasa pahit, kemudian meminumkan obat, menyelimutinya, hingga begadang untuk terus menggantikan kain yang mengompres dahi Puput.


Sinar mentari yang perlahan masuk ke dalam kamar membuat Puput terbangun dari tidurnya. Tubuhnya sudah jauh lebih membaik dari semalam. Dan ketika ia akan bangun, barulah dia tersadar kalau lengannya terasa berat. Dilihatnya Fikri yang tertidur dengan posisi masih duduk di lantai dan menjadikan lengan Puput sebagai tumpuan kepalanya. Melihat itu setetes air mata jatuh dari mata Puput. Dia merasa sangat bersalah dan berdosa telah mengkhianati suaminya.


"Kenapa kamu baik banget sih Mas?" tanyanya lirih.


Dia terkejut saat Fikri tiba-tiba terbangun. Mungkin karena pergerakan kecilnya juga posisi tidak nyaman yang membuat Fikri cepat terbangun.


"Loh? Kamu kenapa menangis? Apa masih sakit?" tanya Fikri penuh perhatian yang malah membuat Puput semakin menangis histeris.


Dengan hati-hati Fikri mencoba memeluk istrinya itu. Setelah merasa bahwa Puput tidak menolak, barulah dia mengeratkan pelukannya dan sesekali mengusap punggung Puput yang bergetar.


"Mas, maaf! Maafin aku! Aku udah banyak berdosa sama kamu," ucapnya di sela Isak tangis.


"Iya. Aku maafkan, cuma masalah tugas ibu rumah tangga saja itu masih bisa belajar nanti."


Puput menggeleng, lalu menatap manik mata Fikri. "Bukan. Kesalahan ku yang satu ini mungkin enggak bisa kamu maafkan."


"Memangnya apa? Insya Allah aku akan memaafkanmu."


"Aku masih berhubungan dengan mantan kekasihku," lirihnya sambil menunduk.


Fikri yang mendengar itu jelas saja terkejut. Tapi sebisa mungkin dia mengalahkan amarahnya. "Apa kamu akan terus begitu?"


Langsung saja Puput menggeleng cepat. "Enggak! Aku udah enggak mau lagi berdosa sama kamu Mas. Sudah cukup waktuku menjadi istri durhaka."


Fikri kemudian meraih wajah Puput agar menatapnya lagi. " Kalau begitu kamu kumaafkan, karena kamu ada keinginan untuk berubah. Dan lagi, aku tahu kalau semua ini terasa berat dan mengejutkan untukmu. Mungkin juga aku bukan laki-laki yang selama ini kamu dambakan, tapi-,"


"Enggak. Kamu adalah laki-laki yang selama ini aku cari Mas. Aku saja yang bodoh dan terlambat menyadarinya. Dan sekarang aku sudah menerima pernikahan ini. Terima kasih sudah bersabar menghadapi ku," ujar Puput tulus dan dihadiahi pelukan oleh Fikri.


"Alhamdulillah. Akhirnya kamu bisa menerima pernikahan ini. Kalau begitu, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita coba membuka lembaran baru."


"Hmm, iya."


"Dan sekarang aku memberi pengakuan bahwa aku mencintaimu."


"Aku juga." Puput mengangguk dalam dekapan Fikri. "Aku juga mencintaimu. Sangat."