
"Apa tidak ada sesuatu yang kamu anggap cantik?"
Pertanyaan Arin membawa Loman pada masa kecilnya. Terlahir sebagai putra bangsawan membuatnya menghabiskan masa kanak-kanak yang tak sama dengan anak kecil dari keluarga biasa. Sejak kecil dia sudah mendapat beban dan tekanan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar dan berlatih, setiap hari dengan pengulangan yang sama.
Kemudian pada suatu hari ketika dia tengah belajar di kamarnya, dia melihat salju pertama yang turun melalui jendela. Butiran-butiran kecil yang jatuh perlahan dengan anggun membuatnya terpaku. Berbeda dengan air, salju tak menghasilkan bunyi berisik yang konstan.
Loman kecil berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan meja belajar. Langkah kakinya berjalan cepat mendekati jendela. Wajahnya menempel pada kaca yang dingin. Salju yang turun mulai menumpuk dan menjadi gundukan sedikit demi sedikit, sepertinya akan lembut jika disentuh. Saat itu Loman sangat ingin keluar, dia ingin bermain dengan benda putih itu. Tapi itu tidak mungkin. Dia hanya bisa melihat dari jendela kamarnya dengan sedih.
"Mungkin salju."
Arin terdiam. Salju memang indah tetapi berbeda jika yang datang badai salju. Dia menatap Loman ketika sebuah ide muncul dalam kepalanya.
"Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Arin dengan pelan agar tidak mengacaukan konsentrasi Loman pada langit.
"Ya."
Arin hanya tersenyum mendengar jawabannya. Gadis itu melangkah mensejajari langkah Loman. Dan menggenggam erat tangan kiri laki-laki itu.
'Mengaktifkan skill Freeze Zone.' Arin bergumam dalam pikirannya sembari mengalirkan sedikit mana agar skill-nya tidak membuat objek membeku.
Kemudian seperti keajaiban, sedikit demi sedikit muncul gumpalan kecil berwarna putih di langit. Selanjutnya yang terjadi adalah gumpalan yang lebih kecil jatuh dengan perlahan.
'Ini, salju?' pikir Loman yang terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Loman tak pernah menyangka akan melihat salju di pertengahan musim semi. Tangan kanannya perlahan terulur, mencoba meraih butiran salju. Namun, begitu benda putih itu mengenai tangannya, salju itu berubah menjadi air.
"Ah." Loman agak kecewa.
"Pfft! Ahaha. Bagaimana? Bukankah ini indah?" Senyum dan tawa kecil keluar dari gadis itu ketika dia melepas genggaman tangannya.
Arin mulai berlari kecil. Dia berputar layaknya tengah menari dibawah hujan salju yang dibuatnya sendiri.
"Ya, benar-benar indah. Indah sekali." Loman tak lagi memperhatikan salju yang turun, melainkan tatapannya mengikuti setiap gerakan gadis itu.
Gadis asing yang baru ditemuinya tadi pagi. Gadis yang diremehkan oleh seluruh peserta. Sosok mungil yang selalu tersenyum dan mencoba tertawa untuk menunjukkan keramahannya. Rambut peraknya bergerak mengikuti tingkahnya dan semakin bersinar karena cahaya lampu taman. Turunnya salju seakan untuk memperindah sosok itu. Ini pertama kalinya Loman merasakan perasaan seperti ini, ada sesuatu yang menyusup kedalam hatinya yang tak ia mengerti.
Arin berhenti ketika mendengar Loman. Ditatapnya pria itu dan mematung, manakala pria yang memiliki kesan pertama menjengkelkan dimatanya tengah tersenyum. Senyum pertama yang putra Count itu tunjukkan padanya. Dia tak bisa menghentikan bibirnya untuk tersenyum lebih lebar karena berhasil menghibur laki-laki itu.
'Gadis kecil yang menarik,' pikir Loman dalam hatinya.
Tanpa ragu Arin berlari kearahnya dan meraih tangan itu. Dia menganggap bahwa uluran tangannya adalah sinyal bahwa mereka sekarang adalah teman. "Tentu."
Arin dan Loman meninggalkan taman dengan langkah ringan, tanpa menyadari ada pihak ketiga yang memperhatikan mereka. Gadis itu menatap dua sosok yang semakin mengecil dengan tajam dari jendela lantai dua kamarnya, merasa tak terima dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Usianya baru empat belas tahun, dengan rambut pirang dan poni yang menutupi dahinya. Matanya masih memacarkan kemarahan. Dia merasa martabatnya seakan di injak-injak oleh gadis itu. Bagaimana mungkin gadis rendahan itu dengan lancangnya mendekati laki-laki yang ia cintai.
"Bagaimana bisa gadis rendahan itu mendekati tuan Loman dengan santainya. Benar-benar tidak tahu sopan santun!!!" Emosi dari gadis itu sampai membuatnya melempar beberapa benda yang terbuat dari keramik hingga pecah.
Mulai terlihat aura yang muncul di kedua tangannya. Dengan tanpa menggunakan circle miliknya, gadis itu berhasil mengeluarkan kekuatannya. Andai hal itu dilihat oleh orang lain, tentu saja mereka pasti bisa langsung menebak, bahwa gadis itu bisa menggunakan mana secara langsung dari dalam tubuhnya.
"Lihat saja. Aku akan membuatmu membayar semua ini dasar anak kampungan." Gadis itu berusaha menenangkan emosinya, namun tidak dengan tekadnya yang hendak mencelakai Arin.
---
Ditempat lain, tampak Ricardo tengah menikmati minuman keras di sebuah bar dekat akademi Luxirous berada. Dengan ekspresi puasnya, ia menikmati setiap suasana di bar itu dengan gembira. Namun suasana itu menjadi hening saat seorang pria tua tiba-tiba masuk ke bar itu.
"Tuan, Kepala Akademi Requaza mencari anda," ucap bartender dengan suara pelan pada Ricardo.
Ricardo pun langsung bangkit dan keluar menyusul pria itu yang sudah meninggalkan bar terlebih dahulu.
"Lama tidak bertemu, mantan pahlawan kerajaan Luxirous, sang mawar hitam, Ricardo," sapa pak tua itu sambil menatap Ricardo.
"Ah.. Aku sudah membuang nama itu. Sekarang aku hanyalah pria biasa yang hanya bekerja sebagai penjaga di sebuah desa kecil," jawab Ricardo sambil setengah mabuk menatap pria di depannya. Kemudian dia melanjutkan, "Jadi, apa maumu?"
"Kudengar ada gadis baru yang masuk menggunakan margamu. Padahal setahuku anakmu baru berusia lima tahun."
"Yah. Aku bertemu dengannya di perbatasan desa. Dia adalah gadis yang hebat. Dan aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri." Ricardo berucap santai. Kemudian sebelum pergi Ricardo mengatakan, "Ku titipkan Arin padamu pak tua. Aku percaya dengan kemampuanmu, jadi aku yakin Arin bisa berkembang menjadi lebih hebat disana."
"Tampaknya gadis itu memang berbakat. Sepertinya akan ada tontonan yang menarik," ucap pak tua itu yang hanya memerhatikan punggung Ricardo.
Mendengar perkataan itu, langkah Ricardo pun terhenti. Nadanya mengancam saat mengatakan, "Hei, Requaza. Kuharap kau mendengarkan perkataanku ini dengan seksama."
Tiba-tiba muncul suara dengung yang cukup keras, menghasilkan hembusan angin kencang disekitar tempat itu. Beberapa rumah warga dan toko yang ada disektarnya juga terkena dampaknya. Suara dengung ini, adalah ciri khas jika seseorang mengeluarkan circle miliknya.
Muncul 8 buah circle mengelilingi Ricardo. Pak tua itupun langsung merinding. Bukan karena jumlah circle yang Ricardo miliki, namun karena 2 circle milik Ricardo memiliki warna pelangi.
Wajah Ricardo saat itu tampak menyeramkan, aura hitam mulai menyelimutinya seakan menunjukkan ***** membunuh pada pria tua di depannya. Kemudian Ricardo dengan perlahan berkata, "Jangan coba-coba untuk menyakiti Arin, kecuali jika kau merasa sanggup untuk membunuhku."