This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
PROLOG : ARC Circle



Namaku adalah Rina. Seorang mahasiswi dari sebuah universitas Sayap Bangsa. Tidak banyak cerita yang menyenangkan disana. Dan semua yang kulalui tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang lain pada umumnya. Yah, apapun itu... Kini semua itu sudah tidak penting.


Bagaimana bisa tidak penting? Sebagian dari kalian mungkin tidak percaya dengan apa yang aku tulis. Bahkan teman sekampusku akan menertawakan apa yang aku tulis ini. Tapi, inilah kenyataannya. Saat ini, aku sudah bereinkarnasi di sebuah dunia yang baru.


Aku dihidupkan entah bagaimana ke sebuah dunia fantasy, sebuah dunia khayalan, dan sebuah dunia yang memiliki imajinatif yang tinggi. Kematianku di kehidupan sebelumnya pun tidak berbeda jauh dengan novel romansa kerajaan yang pernah aku baca. Hanya saja, yang aku takutkan adalah... Kisahku kali ini, akan dipenuhi oleh bahaya yang tiada duanya.


Okeey, mari kita mulai dengan sudut pandangku. Bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya terlahir kembali? Merasakan pengalaman lahir kembali mungkin cukup indah bagi sebagian orang, tetapi hal pertama yang kulihat saat itu bukanlah atap sebuah rumah ataupun gedung. Bahkan tidak terlihat seperti bangunan. Gelap gulita, sunyi, sangat dingin, bahkan saat aku mengeluarkan sayapku sedikit saja dari cangkang telurku, rasa dingin itu seakan masuk kedalam tubuhku.


Sayap? Benar sekali... Tepat seperti imajinasi kalian. Aku terlahir bukan sebagai manusia, melainkan hanya seekor burung kecil. Lebih buruknya lagi, aku tidak melihat adanya satupun telur lain selain diriku. Tempat yang mirip dengan gua ini benar-benar terasa asing.


Tapi itu masih tidak apa-apa. Dengan pengetahuanku yang sekarang, hal itu bukan masalah. Aku cukup mencari makanan yang bisa kumakan dan tumbuh dengan sehat agar bisa meninggalkan gua ini sesegera mungkin. Setidaknya impian itu terasa cukup mudah sebelum aku berhasil keluar dari gua itu.


Berbulu, besar, berawakan seperti seekor kera, hanya saja berukuran 3 kali lebih besar dari manusia. Apa itu monster? Jujur saja, bahkan dimataku itu terlihat seperti binatang kecil begitu aku melihat lingkungan itu secara keseluruhan dimana aku menjumpai Wyvern, Hellhound, Balissik, dan monster lainnya. Apakah aku, bisa bertahan hidup?


Jawabannya, bisa. Mungkin kalian tidak memercayai nya bagaimana aku hidup dalam situasi seperti itu kalian juga pasti tidak ingin tahu seberapa menjijikkan makanan yang aku makan hanya demi memenuhi perut kecilku yang lapar. Setidaknya aku berhasil. Dan juga ada satu fakta yang sangat menarik perhatianku. Itu merupakan fakta buruk, namun berkat fakta inilah aku berhasil bertahan hidup. Yaitu fakta bahwa ternyata aku, juga merupakan seekor monster.


Nephthys... Begitulah orang-orang menyebutku begitu pertama kali aku bertemu dengan manusia. Saat itu aku berhasil berevolusi dari seekor burung kecil menjadi silver nephthys yang sangat cantik. Yah, namun karena aku ini adalah monster, tentu saja orang-orang itu berniat untuk membunuhku.


Apakah aku pernah membunuh orang? Tentu saja. Aku sudah bilang sebelumnya bahwa prioritasku adalah bertahan hidup. Aku bahkan sempat terkejut karena mendapat panggilan dari sesuatu yang mengatakan kalau dia adalah ibuku. Tentu saja ibu di dunia ini, yang berarti induk dari nephthys.


Sepertinya dia marah besar karena aku bertindak sesuai keinginanku sendiri dan melanggar apa yang ia perintahkan. Dia bahkan sampai datang kedalam gua tempat ku tinggal dan berniat membunuhku secara langsung. Jujur saja, itu merupakan pertarungan yang sangat sulit. Seakan adanya perbedaan kasta diantara aku dan sang induk itu.


Hanya saja dia salah memilih lawan. Hey mama para monster. Aku ini adalah salah satu mahasiswi unggulan. Kecerdasanku adalah senjata terhebat yang pernah kumiliki. Dan dengan itulah aku berhasik mengalahkannya.


Yap.. Harpie Nephthys.. Sosok monster yang memiliki wujud manusia setengah burung. Bukankah jika aku berhasil mencapai tahap itu, aku akan kembali menjadi manusia? Itu memberiku sebuah harapan baru. Walau tentu itu bukanlah hal yang muda karena masih ada beberapa tahap evolusi yang harus kulalui.


Singkat cerita, aku harus melalui 2 evolusi terlebih dahulu agar bisa menjadi seekor harpie. Evolusi pertama sudah kudapatkan begitu berhasil membunuh induk nephthys, dan aku menjadi Sky Nephthys. Selang beberapa tahun kemudian, aku berhasik mengalahkan seekor naga dan berevolusi menjadi Arch Nephthys.


Karena naga saat itu merupakan monster terkuat yang ada disana, jadi aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahku. Menemukan jalan keluarnya cukup mudah, karena aku pernah menandai para petualangan yang pernah memasuki daerah ini.


Begitu aku keluar, ini adalah pertama kalinya aku bisa terbang bebas di langit yang biru. Daerah yang dulu menjadu rumahku selama ini ternyata merupaka sebuah labirin. Pantas saja tidak ada binatang normal yang hidup disana.


Karena aku berhasil mengalahkan monster terkuat saat itu, lalu bagaimana aku bisa menjadi harpie? Sepertinya itu merupakan hari keberunntunganku. Aku menemukan banyak sekali manusia yang tampak sedang berperang. Diantaranya ada sebuah kereta kuda yang tengah hancur. Tampaknya para perampok itu hendak mencuri sesuati yang ada didalamnya.


Aku melihat jelas ada seorang bayi dan ibu didalam sana. Sebenarnya aku tidak berkeinginan untuk membantunya sama sekali. Mungkin karena aku telah menjadi monster seutuhnya? Namun pada akhirnya aku malah memutuskan untuk melakukan hal yang merepotkan itu. Melihat situasi dimana sepertinya kesatria menjaga bisa dihitung dengan jari, sedangkan para perampok utu masih berjumlah puluhan, aku pun menghabisi semua perampok itu tanpa pandang bulu. Beberapa dari mereka memang ada yg berhasil membuatku terluka parah. Bahkan aku merasa bahwa pemimpin mereka jauh lebih kuat dari naga yang sudah kulawan. Tapi pemenangnya tetaplah aku.


Bagaimana dengan kesatria lainnya? Tampaknya mereka semua sudah pingsan begitu saja mengetahui bahwa para perampok itu sudah mati tanpa mencari tahu penyebab dari semua itu.  Bahkan ibu dari anak itu juga ikut pingsan dengan sedikit luka dikepalanya. Disaat itulah aku berhasil memenuhi persyaratan untuk berevolusi menjadi seekor harpie.


Saat aku pergi meninggalkan tempat itu, namoaknya muncul seorang kesatria dengan armor lengkap. Ia menjeritkan sesuatu yang memang tidak kupahami artinya. Yang kumengerti, dia memanggil bayi kecil itu dengan sebutan "Tia." Kami sempat betatapan sejenak sebelum aku mengibaskan sayapku lebih cepat. Dan dia sepertinya tidak menganggapku musuh dan lebih seperti berterimakasih.


Dan setelah itu, akhirnya aku mendapatkan wujud ini. Tidak sepenuhnya manusia, tapi aku masih memiliki skill Body Transform yang bisa membuatku menyembunyikan bulu, cakar, serta sayapku. Kisahku pun sebagai manusia, dimulai dengan nama baruku... Arin


ARC : circle