
"Arin!" Will dan Loman serempak berteriak dan memacu kedua kaki mereka untuk berlari.
Teriakan dari dua pemuda itu memancing kemarahan si monster anjing. Dia menyalak untuk kedua kalinya dengan nada yang lebih tinggi dan mengayunkan sebelah cakarnya.
Dalam sekian detik yang mendebarkan itu, tubuh Arin bergerak untuk melindungi dirinya. Circle hitam keluar ketika kedua tangannya terulur kedepan dan dengan lantang berseru, "Barrier!"
Walaupun sudah memfokuskan seluruh energinya, karena perbedaan kekuatan yang cukup besar membuat Barrier milik Arin langsung hancur. Dia terluka dan terlontar dari tempat asalnya puluhan meter.
"Master!" Loretta berteriak histeris dan langsung berlari mendekati tubuh Arin.
Arin tak bisa menggerakkan tubuhnya. Mungkin beberapa tulangnya patah ketika dia menghantam tanah dengan cukup kerasnya. Dia merasa basah di beberapa bagian, mungkin itu darah dari luka yang masih menyembunyikan rasa sakit rapat-rapat. Bahkan ketika Loretta bersimpuh di dekatnya dengan air mata menuruni wajah cantiknya, Arin tak bisa melakukan apapun untuk menenangkannya.
Para murid terkesiap dan mundur mendekati kastil sedangkan para guru segera berlari menghampiri si monster anjing. Kepanikan langsung pecah tanpa bisa ditahan saat itu juga.
"Loman dan Will, mundur!" teriak Reinhard selagi membuka formasi sihir agar langsung berada di tempat mereka.
Namun kedua pemuda itu tak mengindahkan perkataannya. Tak ada yang memperhatikan fakta bahwa Hellhound tidak berada dalam level yang sama dengan mereka, siswa tingkat pertama.
"Bajingan!" Will lebih dulu menyerang dengan melompat dan mengincar leher Hellhound menggunakan pedang dalam genggamannya yang telah diselimuti circle biru. "Wind cutter!"
Angin yang terbentuk dari tebasan pedang itu menjadi tajam, hanya saja tak cukup untuk mengirim Hellhound ke alam baka. Kepala anjing hitam itu tersentak tetapi tak ada luka dari lehernya. Dan hal itu membuat Will terkejut karena walaupun tak bisa membunuh, dia yakin masih bisa membuatnya terluka.
Serangan balasan Hellhound tiba begitu Will mendarat. Monster itu menerjang maju dengan cepatnya. Dua langkah lagi tersisa ketika cakar tajam itu hampir meraih Will, Reinhard menarik pemuda itu kebelakangnya dan membuat barier dengan tangan lainnya.
Benturan keras terjadi ketika cakar tajam itu menghantam barier. Keduanya sama-sama terdorong mundur beberapa langkah.
Mata semerah darah milik Hellhound menatap Reinhard untuk sesaat, tak tertarik untuk melancarkan serangan lanjutan. Namun mata itu bergerak ke arah dimana seorang gadis tengah terbaring setengah sadar.
'Bagaimana bisa ada Ancient Hellhound disini? Juga, sepertinya hanya Arin yang dia incar.' Kepanikan yang sudah terpantik membuat Reinhard harus berpikir cepat.
"Loretta! Hati-hati!" Reinhard berteriak keras. "Hellhound itu mengincar Arin!"
Loretta mengusap matanya yang kabur karena air mata dan menoleh pada Reinhard. Wajahnya berubah ngeri ketika monster anjing itu berlari ke arah mereka. Tanpa pikir panjang dia mencoba menghalangi tubuh Arin dengan tubuhnya, walaupun itu tak akan berguna.
Reinhard mendecih dengan penuh kekesalan. Dia meninggalkan Will dan berlari mengikuti si anjing, berharap bisa menyusulnya dan menghalangi moncong berliur itu melahap dua muridnya.
Loman berdiri di depan Loretta dan mengambil alih. Pemuda itu memegang pedangnya dengan erat, kemudian mengayunkannya setelah mengatakan, "Pembelah waktu."
Tak terjadi apa-apa. Serangan itu terlihat seperti efek serangan Will dimata Loretta dan membuatnya semakin panik.
Tepat ketika monster itu berada di depan mereka dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerkam. Sihir milik Loman pun aktif dan membuat monster itu menjerit kesakitan. Luka tebasan di lehernya membuat Hellhound semakin marah dan akhirnya menyerang secara membabi buta.
Loretta terjungkal tepat di samping tubuh Arin ketika Loman terlempar oleh serangan Hellhound yang tak bisa ditangkisnya. Gadis itu kemudian meraih tubuh Arin sepelan yang dia bisa dan memeluknya. Dia bertekad, jika pada akhirnya harus mati maka dia akan menemani masternya sehingga gadis dipelukannya ini tak sendirian.
"Kalian baik-baik saja?" Guru itu melepas genggamannya dan berjongkok di depan kedua muridnya.
Loretta mengangguk. "Aku baik-baik saja, tapi Arin…" Gadis itu kini menangis sesenggukan karena gadis dalam pelukannya hanya menatapnya dengan mata setengah terbuka.
"Heal." Guru itu meraih tangan Arin dan menekan nadinya, memberi pertolongan menggunakan sihir penyembuh.
Hellhound yang kehilangan mangsanya serta mendapat serangan bertubi-tubi mengalihkan perhatian pada seseorang yang mengejarnya. Dia berbalik dan langsung melompat maju untuk menyerang Reinhard.
"Explosion!" Enam circle berwarna coklat, biru, ungu, dua merah, dan jingga muncul dan menciptakan bola api peledak dalam jumlah yang tak terhingga.
Begitu jarak Hellhound hampir terpangkas habis, dengan sekali sentakan semua bola peledak itu terarah padanya. Efek ledakannya menimbulkan hembusan angin besar sehingga beberapa murid ikut terseret.
Semua mata menatap waspada lantaran debu mengaburkam jarak pandang. Semua orang memacu indra mereka bekerja dua kali lipat, terlebih telinga demi mendengar pergerakan sedikit apapun sehingga tak ada yang berani bernafas lebih keras.
Sudah sangat terlambat ketika Reinhard menyadari lingkaran mana terbentuk di bawah kakinya. Sedetik kemudian dia jatuh berlutut karena gravitasi yang menariknya.
"Skill gravitasi?" Reinhard menggertakkan giginya kuat-kuat. "Ternyata monster ini memiliki kecerdasan."
Geraman pelan menyapa terlebih dahulu sebelum hewan berbulu itu menampakkan diri dengan moncong yang terlihat seperti menyeringai. Setiap langkahnya menebarkan teror yang menekan bahkan pada mereka yang tak terjangkau lingkaran mana.
"Bukankah Guru Reinhard penyihir circle 6? Kenapa bisa disudutkan seperti itu?" Dua pertanyaan itu memecah keheningan mencekam semua orang.
Loman mendesak ketika dilihatnya para guru masih diam ditempat. " Kenapa para guru diam saja? Serang dan bantu guru Reinhard!"
"Mustahil bagi kami. Ancient Hellhound adalah monster kelas A yang hanya bisa diburu oleh sekumpulan penyihir circle 6. Sedangkan kami hanya circle 5." Seorang guru melangkah mundur dengan suara dan tubuh yang gemetar.
Salah satu murid memekik ketika lingkaran mana memunculkan panah es yang siap ditembakkan. Dia sangat ketakutan karena bila orang seperti guru mereka saja bisa dibuat tak berdaya seperti itu, lalu, bagaimana dengan mereka?
"Guru, Lari!"
"Guru! Menghindar!"
Jeritan memenuhi puncak bukit. Berbeda dengan Will-yang kini sudah berada di dekat Arin, Loman, dan Loretta yang mengatupkan mulut rapat-rapat.
'Apakah aku harus bertindak?' pikir Arin yang melihat semua situasi ini sembari mengaktifkan indranya kembali. 'Alasan kenapa monster itu tertarik padaku karena aroma yang menempel ini. Arista sialan! Kalau situasinya dibiarkan begini, Guru Reinhard akan tewas. Disusul dengan guru dan murid yang lainnya.'
Keraguan Arin masih bertahan bahkan setelah melihat air mata Loretta serta wajah Loman dan Will yang memucat. Jika dia menolong semua orang ini, maka akan ada kemungkinan identitasnya diketahui.
Arin diam-diam mengesah. 'Merepotkan. Baiklah, akan aku bantu sedikit.'