This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 40. Circle Kedua



"Jangan cepat cepat!"


"Tidak mau, week."


Sepertinya Loretta cukup menikmati waktu bermainnya bersama Tia. Walaupun wajah Tia sedikit bercampur dengan raut cemberutnya karen Loretta tidak ingin mengalah. Sedangkan Arin, Loman, dan Ricardo sedang membahas apa yang terjadi selama penyerangan Ancient Hellhound itu.


"Begitu ya. Sepertinya ayah berhutang pada guru bernama Reinhard itu." Ricardo memejamkan matanya sambil memegang dagunya seperti tengah memikirkan sesuatu. "Ah, benar juga. Arin, karena kamu juga terlibat langsung dengan monster itu, seharusnya kemampuanmu juga ikut meningkat."


Arin kebingungan dengan perkataan Loman. Loman langsung menunjukkan kartu miliknya pada arin. "Lihatlah. Sekarang sudah level 20. Ini level yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan circle kedua." Ucapan loman kini bisa dimengerti gadis itu.


"Aha, jadi kita baru bisa mendapatkan circle kedua setelah di level itu ya." Arin juga melihat kartu miliknya, dan juga berada pada level yang sama dengan itu.


"Sebenarnya tidak harus level 20. Itu hanyalah seberapa besar kekuatan kita saat diukur menggunakan angka. Hanya saja saat berusaha mendapatkan warna circle yang jauh lebih kuat, maka kekuatan yang kita miliki juga harus sepadan."


Arin terdiam sejenak dengan penjelasan itu dan hanya menatap kartu miliknya. 'Sebenarnya aku merasa aneh. Kenapa level di kartuku menunjukkan level 26?'


"Kalau begitu bagus. Ayah akan segera membelikanmu circle stone agar bisa mendapatkan circle keduamu." Ricardo tampak menikmati berita itu. Loman mulai bangkit dari tempat duduknya dan menawarkan sesuatu pada Arin. "Aku sudah membawakan 2 buah. Mengapa kita tidak melakukannya sekarang?"


Arin terdiam membatu begitu mendapat tawaran itu. Sebenarnya circle stone itu tidaklah murah bahkan bagi bangsawan tingkat rendah. Dengan perlahan Arin mengulurkan tangannya dan meraih tangan Loman. Ricardo yang melihat itupun berinisiatif untuk segera pergi. Lagipula urusannya untuk menjenguk Arin telah terpenuhi.


"Kalau begitu sudah waktunya ayah pulang. Sudah sehari ayah berada disini. Jika lebih lama, bisa-bisa seseorang dirumah akan berubah menjadi monster." Ucap Ricardo sambil meregangkan ototnya. Ia tidak lupa langsung mendekatkan kepalanya pada gadis itu dan berbisik, "jangan sampai kelewatan. Setidaknya menikahlah terlebih dahulu."


Setelah sepatah kalimat itu, Ricardo langsung pergi sambil membawa Tia. "Sampai jumpa lagi, Tia." Loretta melambaikan tangannya dan kembali ke tempat Arin dan Loman berada.


"Arin? Kamu tidak papa? Kenapa wajahmu memerah?" Loman sedikit bingung karena arin tidak bergerak sedikitpun begitu menggenggam tangannya. Gadis itu hanya terdiam dan semakin menundukkan kepalanya satupun alasan yang bisa Loman pahami.


"Hiyaaat!" Loretta dengan cepat langsung memutus genggaman erat mereka dan berdiri diantaranya. "Jangan khawatir master. Aku sudah tiba." Ucapnya sambil menepuk dada seakan siap melindungi Arin kapanpun dari Loman. "Hmmph. Sudah lupakan. Ayo kita segera coba menggunakan circle stone itu." Gadis itu beranjak dan langsung pergi sambil berusaha melupakan apa yang ayahnya katakan tadi.


---


"Baiklah, sekarang kita sudah menggenggam circle stone. Kecuali Loretta." Sindir Loman karena hanya Loretta saja yang tidak membawa circle stone. "Berisik! Aku sebenarnya bawa. Hanya saja masih kurang dua level lagi. Lihat saja, aku pasti akan menyusul."


"Hahaha." Arin tertawa kecil melihat hal itu. Bahkan saat seperti ini, mereka masih saja bisa bertengkar. Arin tidak pernah merasa bosan dengan candaan yang dibuat kedua orang itu.


'Karena loman baru memiliki satu circle, jadi dia hanya perlu menahan kemunculan satu circle selagi mengeluarkan mananya.' Arin mengamati dengan seksama proses itu. Ia juga menggunakan sedikit cara curang dengan mengaktifkan skill Identify miliknya.


Sudah sekitar 30 menit mereka menunggu, namun circle stone itu belum menunjukkan reaksi apapun. Namun setelah itu, akhirnya mulai muncul warna. "Biru? Kenapa yang muncul langsung biru, dan tidak dimulai dari hitam?" Tanya Arin dengan penasaran karena berbeda dengan saat Tia mendapat circle pertamanya.


"Jika sudah mendapatkan warna biru, maka mustahil mendapatkan circle yang lebih rendah dari itu. Itulah kenapa banyak orang dewasa yang terhenti pada circle merah karena mereka tidak mampu mendapatkan lebih dari itu." Penjelasan Loretta menjawab pertanyaan yang membuat gadis itu kebingungan.


Warna dari circle stone itu kini berubah menjadi ungu. Dan tepat setelah perubahan itu, Loman langsung kehilangan fokus dan terhenti akibat kelelahan. Nafasnya terdengar berat dan keringat bermunculan dari seluruh tubuhnya. "Hmmph. Lumayan juga bisa mendapat circle ungu." Sepertinya Loretta sedikit merasa tidak terima karena Loman lebih baik dari dirinya.


"Pfft." Arin berusaha menahan tawa akibat raut wajah Loretta saat itu. "Ma-master. Jangan mengejek begitu." Gadis itu langsung menggoyang-goyangkan badan Arin karena merasa telah ditertawakan.


"Bagaimana Arin? Apa kamu bisa melakukannya?" Tanya Loman yang kini telah selesai mengelap keringatnya menggunakan handuk yang ia bawa sendiri. "Yap. Aku akan berusaha."


Arin segera mengambil posisi dan mengeluarkan mananya. Secara garis besar, ia tahu seberapa banyak mana yang Loman keluarkan tadi. Karena jumlah mana yang Arin miliki jauh lebih banyak, maka ia hanya mengeluarkan sebanyak yang Loman keluarkan.


'Huhuhu. Mereka pasti terkejut begitu aku yang circle hitam ini langsung lompat menjadi biru bukan?' Gadis itu mulai berfikir sombong sambil membayangkan ekspresi terkejut mereka berdua. Kali ini, Arin memilih untuk mengeluarkan jumlah mana yang ditentukan dalam waktu 20 menit agar tidak terlalu lama.


Arin bisa mendengar bahwa circle stone sudah mulai bereaksi di menit ke sepuluh. Namun tidak terdengar komentar apapun dari kedua orang itu. Bahkan saat Arin hampir mengeluarkan jumlah mana yang setara dengan Loman, tidak satupun dari mereka ada yang bersuara.


'Mengapa mereka diam saja? Apakah mereka berusaha tetap diam agar aku bisa fokus? Ataukah mereka terkejut dengan warna hebat yang keluar di circle stone milikku?' Arin membuat asumsi sendiri alasan mereka terdiam seperti itu.


Kini jumlah mana yang gadis itu keluarkan sudah setara dengan milik Loman. Bahkan sedikit jauh lebih banyak dengan harapan ia bisa melampaui warna ungu, yaitu merah. Karena bakal terlihat aneh jika Arin baik-baik saja setelah mengeluarkan mana sebanyak itu, gadis itu pun sengaja mengeluarkan keringatnya dan pura-pura kelelahan.


Arin menghentikan pengeluaran mana-nya sambil memberatkan nafasnya agar terlihat kelelahan. "Se-selamat, Arin." Terdengar suara Loman yang mengatakan selamat, tapi dengan nada yang ragu.


'Memangnya ada apa? Mengapa Loman sampai seperti itu?' Arin pun mengangkat kepalanya dan melihat langsung circle keduanya. "Ja-jangan khawatir master. Ini tidak seburuk yang terlihat kok. Kekuatan seseorang tidak ditentukan dari warna circle, benarkan Loman?" Loretta terlihat berusaha menghibur Arin dengan panik.


"Be-benar Arin. Warna circle bukan segalanya, jadi tidak apa-apa." Loman kini juga ikut berusaha menenangkan Arin. Sedangkan untuk Arin sendiri, mulai terlihat setetes air matanya jatuh dengan ekspresi senyum yang sedikit dipaksakan.


"Ho-hore. Aku mendapatkan circle hitam keduaku."