This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 06. Ujian Masuk Dimulai



Suara bisikan mulai terdengar memenuhi arena ujian itu. Semuanya kembali terfokus pada peserta yang kini hendak memulai testnya. Peserta itu mulai mengeluarkan circle nya, membuat perhatian Arin kembali terfokus pada arena. Muncul sebuah lingkaran sihir berputar di sekitar tubuhnya.


"Circle cokelat ya. Kalau begitu sekarang coba keluarkan energi sihirmu!" perintah pengawas itu.


"Hyaa!" Anak itu berteriak sambil mengarahkan tangannya pada bebatuan didepannya.


Anak itu tampak berusaha keras untuk melakukan sesuatu yang tidak Arin mengerti. Namun tiba-tiba dari pucuk batu itu, keluar api. Apinya cukup besar, mungkin seukuran bola basket.


"Cukup. Kamu lolos. Kategori kelas B. Selanjutnya!" ucap pengawas itu dengan suara datar karena sikapnya yang terlihat jelas acuh tak acuh.


"Hmph! Lemah." Tiba-tiba anak Count tukang tidur disamping Arin berbicara.


Dari parasnya saja dia terlihat seperti bocah sombong. Arin hanya menatapnya dengan jengkel.


"Ada urusan apa melihatku terus?" Putra Count yang tiba-tiba membuka matanya dan mengajak Arin bicara, membuat Arin kaget.


"Ha-halo." Sapa Arin sedikit gugup karena tatapan datar itu.


Sedikit keringat dingin mulai muncul, Arin berharap bahwa dirinya tidak menyebabkan masalah di hari pertamanya ini.


"Namaku Arin. Se-senang berkenalan dengan-"


Belum selesai berbicara, anak count itu langsung menyela omongan Arin. "Anak burung? Ya, sudahlah."


Walaupun pria itu mengatakannya dengan sedikit bingung, tetap saja hal itu membuat Arin hampir melompat dari tempat duduk. Butuh banyak usaha untuk meyakinkan dirinya bahwa pria itu berkata demikian karena Arin tampak lebih kecil darinya


'Walau sindiranmu tadi secara kebetulan benar, tapi aku tidak sekecil itu dasar anak Count sialan!' tentu saja Arin hanya mengatakan itu dalam hatinya.


Arin hanya tersenyum walau itu sangat berat. Memahan rasa jengkel yang membuncah itu tak mudah tetapi dia harus mengingat untuk tidak terlibat masalah apapun untuk saat ini.


"Selanjutnya, Arin... Harast?" Pengawas itu mengucapkan nama yang terlampir dengan agak ragu, tapi itu hanya sesaat sebelum dia kembali pada ketenangannya. "Silahkan maju!"


Arin berjalan turun menuju arena. Tadi dia mendengar namanya dengan jelas, Arin Harast. Harast itu kalau tidak salah nama belakang dari ayah angkatnya, Ricardo Harast. Ternyata Ricardo mendaftarkan Arin dengan menggunakan nama keluarganya. Ini merupakan sebuah hadiah yang berarti untuk Arin.


'Tapi tadi pengawas itu sempat bingung, atau mungkin terkejut. Apa jangan-jangan beliau mengenal ayah?' Arin diam-diam memikirkannya.


"Sekarang tunjukkan circlemu!" perintah pengawas itu sama seperti peserta sebelumnya.


Arin sudah diberi tahu oleh Ricardo cara mengeluarkan circle. Dan hal itu cukup mudah dimengerti. Gadis itu mulai berkonsentrasi dan memejamkan matanya. Kemudian muncullah circle hitam dari dalam tubuhnya. Sesaat dia merasa bahagia begitu ia berhasil mengeluarkannya, namun nampaknya tidak bagi yang lain. Peserta lainnya tampak menertawakan Arin entah apa alasannya. Pengawas itu pun juga sempat menghela napas.


Arin berusaha fokus untuk mengeluarkan sihirnya. Selama dua belas tahun Arin hidup sebagai monster, ia tidak tahu tentang pengeluaran energi sihir. Karena skill yang ia punya langsung terhubung dengan berapa banyak jumlah mana yang Arin miliki. Misalkan saja, untuk menggunakan skill Bulu Api Neraka, Arin menggunakan sekitar seratus mana miliknya setiap penggunaan. Sedangkan jumlah maksimal dari mana Arin sendiri mencapai lima puluh ribu.


Untungnya setelah beberapa saat Arin memfokuskan pikiran, ia berhasil mengeluarkan energi sihirnya dan membuat batu runcing didepannya itu mengeluarkan api. Hanya saja tidak sebesar peserta yang ia lihat tadi. Kali ini apinya hanya sebesar kelereng. Tawa peserta yang melihatnya pun semakin pecah dan lebih keras.


"Peserta Arin Harast, mohon maaf tapi kamu tidak lolos dalam ujian ini," ucap pengawas itu sambil melihat papan kecil yang sedari tadi ia pegang untuk mencatat setiap nilai peserta.


Arin benar-benar kebingungan dan sedih begitu mengetahui hasilnya. Padahal ini adalah sesuatu yang sudah Ricardo berikan, tapi malah ia gagalkan seperti ini.


Selang beberapa waktu, suasana gaduh karena menertawakan Arin itu tiba-tiba terhenti begitu seseorang mulai masuk ke ruang ujian. Seorang pria tua dengan janggut putih yang menutupi lehernya masuk. Seragamnya berbeda dari guru lainnya. Terlebih para guru serta pengawas yang berada di arena langsung memberi salam padanya. Hanya ada satu orang yang bisa membuat hal seperti itu, yaitu kepala akademi sihir Luxirous, Requaza.


"Apa anak ini tidak lolos dalam ujian, Reinhard?" tanya kepala sekolah pada pengawas berkacamata itu sambil melirik Arin yang tampaknya kebingungan akan kehadirannya.


"Benar tuan. Circle gadis ini memiliki warna paling rendah, yaitu hitam. Lalu energi sihirnya juga sangat kecil," balas Reinhard sembari membacakan hasil tes milik Arin.


Arin hanya bisa diam tertunduk karena mau dilihat bagaimanapun, itulah kenyataannya. Namun entah ada angin apa, sepertinya keberuntungan masih memihak gadis itu.


"Siapa namamu nak?" Requaza berjalan mendekati Arin, membuat Arin sedikit kebingungan. Ia tahu bahwa dirinya harus bersikap sopan dihadapan kepala akademi, namun tak tahu harus berbuat apa. "Na-nama saya Arin Harast." Jawab Arin dengan gugup sambil menundukkan kepalanya.


"Hm... Jadi kamu ya, anak yang dibawa oleh Ricardo. Menarik." Ucapan Requaza sedikit membuat Arin terkejut. Entah apa hubungan antara kepala akademi dengan Ricardo, tapi tanpaknya mereka saling mengenal.


"Aku merharapkan sebuah kejutan darimu. Mengingat kamu adalah anak yang dibawa olehnya." Pernyataan Requaza tidak bisa Arin pahami. Dengan masih setengah kebingungan, Arin hanya bisa menatap Requaza yang milai pergi meninggalkan dirinya.


'Sebuah kejutan? Apa ada sesuatu yang ayah sembunyikan dariku?' Pikir Arin mulai berusaha mencari tahu makna dari perkataan Requaza.


"Loloskan dia," Ucap Requaza yang membuat pengawas Reinhard kebingungan. Karena sepanjang berdirinya akademi ini, kepala sekolah belum pernah menunjukkan sikap pilih kasih seperti itu.


"Jika kalian melihat batu itu, kalian pasti paham alasan aku berkata demikian," Lanjut kepala akademi Requaza sambil mulai melangkah menjauh dan meninggalkan ruang ujian.


Saat pengawas melihat kembali batu itu, ternyata masih terdapat api kecil yang menyala. Padahal begitu energi sihir terputus, api di batu itu akan padam dengan sendirinya. Itu karena energi yang dikeluarkan manusia berfungsi sebagai bahan bakar untuk api tersebut.


'Apinya masih menyala walau tidak dialiri energi sihir. Hanya ada satu hal yang bisa menjadi bahan bakar api selain energi. Jangan-jangan, gadis ini, Arin Harast, bisa mengendalikan mana?' pengawas itu mulai mendapatkan jawaban setelah menuruti apa yang kepala akademi katakan.


"Arin Harast, dinyatakan lulus. Arin akan dimasukkan ke kategori kelas C!" ucap pengawas itu.


Arin merasa sangat bersyukur karena pak tua itu telah membantunya. Namun perasaan itu bercampur dengan rasa penasaran yang tinggi. Arin merasakan bahwa, kehidupannya kali ini tidak akan semulus apa yang ia rencanakan.