
Satu hari setelahnya, para kesatria Count dan pasukan bantuan ibukota mengklaim bahwa wilayah selatan telah aman. Semua pengungsi kembali ke desa dengan sedikit was-was. Bagaimanapun tak akan ada yang bisa menghilangkan kenangan traumatis hari itu.
Tia berlari keluar rumah untuk menghampiri Arin yang sedang duduk di bawah pohon besar. Gadis itu melompat duduk di samping kakak angkatnya dengan wajah sedih yang masih menggemaskan. "Baru saja sampai di rumah, masa kakak akan pergi lagi?"
Hubungan mereka semakin dekat tanpa ada lagi permusuhan serta kecanggungan. Arin mengelus kepala Tia. "Ya mau bagaimana lagi, Kak Arin harus kembali ke akademi."
"Tidak boleh." Tia memajukan bibir bawahnya.
"Maaf ya. Nanti kalau libur Kak Arin pasti langsung pulang. Janji, bakal bawain Tia permen." Arin berusaha membujuk.
Pada akhirnya Tia mengangguk kecil. Menyerah pada iming-iming makanan manis yang tak pernah bisa ditolak oleh anak seusianya.
"Padahal sebelumnya Tia kecil ayah selalu menjaga jarak pada Arin. Ada angin apa semalam di pengungsian sampai-sampai akrab begitu?" Ricardo tertawa dan menghampiri kedua putrinya.
Tia ikut tertawa bersama Ricardo sedangkan Arin hanya tersenyum kecil. Dia mendengar jika ayah angkatnya ini ikut andil dalam mempertahankan desa dari makhluk tak dikenal. Dengan kekuatannya, Arin tak heran kalau pria itu bisa mempertahankan desa dan kembali dengan utuh.
"Oh." Arin mengerjap, tiba-tiba terpikirkan sesuatu. "Aku punya hadiah untuk Tia."
Tia berhenti tertawa dan menatap Arin dengan mata berbinar. Dia melihat penuh harap pada Arin yang tengah menggeledah tasnya.
Sebenarnya tas Arin hanya berisi sisa uangnya, mencari di tas hanyalah kamuflase karena sebenarnya dia sedang mengubah dua helai bulunya menjadi gelang.
"Cantiknya!" Tia memekik ketika melihat apa yang ada di telapak tangan Arin.
Dimata Tia, gelang perak dengan motif bunga dan daun yang saling menjalin adalah benda paling indah yang pernah dilihatnya. Terlebih dia tak pernah menemukan ada teman sebaya atau tetangga yang memakai gelang dengan motif seperti itu. Pasti, ini adalah benda berharga yang tak dimiliki banyak orang.
Arin tertawa. Dia menarik tengan kiri Tia dan membantu memasangkannya. "Gelang cantik sangat cocok dipakai oleh gadis cantik."
Tia tersipu. Dengan malu-malu dia berkata, "Terimakasih."
Arin menarik telapak tangan Tia dan meletakkan gelang lain yang terlihat lebih elegan. "Wakili aku berikan ini untuk ibu."
Tia langsung menghambur memeluk Arin. Dengan pikiran kalau dua benda ini pasti mahal.
Arin menepuk-nepuk punggung Tia. Bahaya yang hampir membuat adik dan ibunya celaka menjadi alasan dia memberikan bulunya dalam bentuk gelang. Kelak, jika mereka mengalami hal yang serupa, Arin akan langsung datang untuk menyelamatkan mereka. "Aku tak akan membiarkan kalian terluka."
Tia mendongak. Dia mengerutkan kedua alis karena sepertinya mendengar gadis itu bicara. "Kak Arin?"
Arin menggeleng. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Ricardo yang berlalu dengan senyum bangga. Senyum seorang ayah yang senang melihat kedua putrinya saling mengasihi.
Ketika kembali menatap wajah menggemaskan Tia, Arin mengerutkan kening karena gadis kecil di depannya mengatupkan mulut dan menatapnya penuh tekad. "Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kak Arin, ajari aku sihir!" Tia mengatakannya dengan lantang.
Gadis yang mendapat permintaan dari Tia semakin mengerutkan alisnya. Dia tak hanya heran, tapi juga terkejut. Sedetik tadi berwajah serius, sekarang malah meminta di ajari sihir. 'Gadis ini baru berusia lima tahun, sedangkan aliran mana biasa dirasakan ketika berusia tujuh tahun. Apa mungkin mengajari dia?'
'Yah, andai tidak berhasil pun aku tinggal menjelaskan bahwa dia baru bisa melakukannya di usia tujuh tahun,' pikir Arin sembari menganggukkan kepala sebagai jawaban dari permintaan Tia.
"Yeay!" Tia berseru senang. Dia menanti bagaimana kakaknya akan mengajarinya.
Arin meraih tangan gadis itu dan mentransfer mana padanya. "Apa kamu bisa merasakannya? Sesuatu yang terasa seperti mengalir."
Mata Tia membelalak takjub. "Bisa, bisa. Apa ini?"
"Itu mana." Arin menjawabnya dengan lembut. "Kalau begitu sekarang coba keluarkan manaku itu dari tanganmu. Bayangkan saja seperti memegang bola."
Tia menurut dan berkonsentrasi agar aliran mana mengalir ke tangan kirinya dan keluar dari telapak tangan membentuk bola. Hal yang sulit dipercaya terjadi, gadis itu berhasil melakukannya. "Kak Arin, aku berhasil. Berhasil!"
Arin tersenyum mendengar Tia. "Bagus. Kalau begitu sekarang coba lagi untuk tetap merasakan mana ditubuhmu."
Tia mengangguk dan Arin secara perlahan berhenti mengalirkan mana miliknya. Karena dengan begitu, jika Tia masih bisa merasakan mana maka itu adalah mana milik si gadis kecil.
"Bagaimana? Masih bisa?" tanya Arin yang penasaran karena mana-nya sudah berhenti dialirkan.
Tia mengangguk dengan perlahan sembari mencoba lebih merasakan mana yang mengalir. Matanya tertutup rapat agar bisa lebih fokus. Dia sedikit kesusahan karena tak ada bantuan dari mana milik Arin. Kemudian mata gadis kecil itu terbuka begitu dia mulai terbiasa.
"Nah, sekarang keluarkan semua mana itu dari tubuhmu. Sebanyak banyaknya." Arin menyerahkan circle stone yang ia dapat saat berada di kediaman Sterna.
Batu itu digunakan untuk menguji seperti apa prosesnya. Dia penasaran, karena circle pertama Arin muncul bersamaan dengan wujud manusianya.
Tia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan seluruh mana. Keringat mulai keluar dari tubuh kecilnya, bahkan nafasnya pun mulai terengah-engah.
"Ti-tia, kalau nggak sanggup, berhenti saja." Arin mulai panik.
Tia menolak mendengarkan Arin. Dia ingin menjadi kuat. Sangat kuat untuk melindungi ibunya.
Circle stone mulai bereaksi. Batu itu bersinar, menandakan telah bereaksi pada mana. Warna yang keluar dari batu itu adalah hitam.
'Itukah warna Circle yang akan dimiliki Tia?' Arin mengamati dalam diam.
Kemudian, cahaya hitam pada batu berubah menjadi coklat. Arin sangat terkejut. Karena dengan circle itu, Tia sudah memiliki kualifikasi untuk bersekolah di akademi.
Ketika cahaya batu itu berubah warna lagi dengan perlahan menjadi biru, Tia berhenti melepas mana-nya dan menjatuhkan diri kebelakang. "Nggak kuat!"
'Tunggu dulu. Apakah hal ini wajar? Mendapatkan circle pertamanya hanya dalam hitungan menit?' Arin terdiam penasaran dan sepertinya mulai meragukan beberapa pengetahuan yang ia dapatkan dalam akademi. Pasalnya, teori tentang circle yang Arin pelajari mengatakan bahwa membutuhkan waktu sekitar 2 tahun bagi manusia untuk bisa menciptakan circle mereka sendiri.
Arin sedikit merasa bersalah karena memaksa gadi kecil itu. Dia akan membantunya untuk duduk ketika tiba-tiba circle milik Tia keluar. Tia Harast, circle satu dengan warna biru.