
"Apa yang terjadi?" Arin menarik-narik lengan Will. Kemudian berbalik pada Loman karena tak mendapat tanggapan. "Siapa yang bertengkar?"
"Bukan apa-apa, tidak penting." Loman tersenyum, tetapi bukan itu jawaban yang di inginkan gadis itu. 'Dasar... Bagaimana jika yang para guru perdebatkan itu sesuatu yang penting?'
Maka, Arin mendesak maju dengan tubuh kecilnya. Hal ini membuat Will dan Loman kesusahan menyusul. Arin bertekad tak akan menggunakan kekuatannya lagi, jadi dia sedang menggunakan kelebihannya sebagai manusia dengan tubuh lebih kecil dari yang lain untuk menyelinap mendekati panggung.
Sayangnya, begitu Arin sampai di depan panggug. Dia harus menelan kekecewaan karena debat seru atau apalah yang tadi terjadi telah berakhir.
Reinhard maju ke tengah panggung, meninggalkan beberapa guru yang tak puas dibelakang. Dia berdeham terlebih dahulu kemudian mengatakan, "Sehubungan dengan misi pertama kalian, ada sedikit perubahan. Karena itu saya meminta kalian membentuk tim beranggotakan empat orang."
Will meremas pelan bahu Arin. "Heh, kalau mau kabur bilang-bilang. Kalau anak semungil dirimu menghilang, kami harus cari kemana?"
Arin tidak membalas. Dia menyentak bahunya agak keras agar tangan Will terlepas.
Melihat Arin agak kesal, Will tertawa dengan nakal. "Jangan marah."
"Tutup mulut!" Arin menudingkan telunjuknya kepada pemuda berambut merah.
"Kita di tugaskan membuat tim. Tapi karena kita sudah ada tiga orang, berarti tinggal cari satu orang lagi." Loman berbaik hati mengalihkan pembicaraan sengit milik dua temannya.
Masih kesal dengan Will dan Loman yang tidak mau memberitahunya, sekarang Arin merasakan seseorang tengah mengawasinya. Perasaan diperhatikan ini membuatnya tidak nyaman. Mau diabaikan, tetapi bukan menghilang malah terus memperhatikan. 'Sekarang apa lagi?!'
Arin mengusap dahinya sebelum berbalik. Di depan panggung tak sesesak tadi karena semua orang tengah menyebar mencari kelompok. Ketika matanya bertemu dengan si pelaku yang mengawasinya, dia hanya bisa mendesah diam-diam. "Loretta?"
Mendengar namanya dipanggil, gadis itu segera mendekat. Dia masih menjaga ekspresi tenangnya, berhenti tiga langkah dari Arin dan teman-temannya. Kedua tangan menyilang di depan dada dan agak canggung ketika berkata, "Master kekurangan satu orang, bukan? Aku tak keberatan bergabung."
Arin menggigit bibir bawahnya supaya tidak kelepasan tertawa. Dia takut kalau dia melakukannya, maka Loretta akan berpikir jika dia tengah mempermalukannya.
'Kyaaa... Polos sekali... Siapa yang menyangka dia bisa se menggemaskan ini.' Beberapa detik setelah Arin berhasil menghilangkan keinginannya untuk tertawa, ia langsung mengijinkan gadis itu bergabung. "Ya, kemari!"
Loman dan Will sama-sama terkejut dan bingung. Bukan rahasia lagi jika hubungan dua gadis ini tak baik. Mereka bersamaan mengerutkan kening selagi berpandangan.
"Nona pirang, sedang apa disini? Rencana busuk apa yang sedang coba kamu lakukan?" Will yang terlebih dahulu bicara setelah memutus kontak mata dengan Loman, alisnya terangkat tinggi dengan menyebalkan.
Loretta mengabaikan Will sepenuhnya. Dia berubah menjadi gadis manis yang di temui Arin di kediaman marquis. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja." Arin membalas dengan senyuman.
"Berhenti mengganggu Arin. Kurasa apa yang kukatakan di taman cukup jelas untuk dipahami." Loman maju satu langkah di depan Arin, berniat menyembunyikan gadis itu dibalik punggungnya.
Loretta sempat teralihkan sejenak begitu kini Loman yang menegurnya. Namun tatapannya sangat berbeda dari apa yang ketiga orang itu bayangkan.
"Berisik!" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Loretta aambil menatap tajam pada Loman.
Pemuda yang mendapat respon itu mengerutkan kening, sedangkan Will dan Arin terbengong-bengong tak percaya. Setahunya Loretta menyukai Loman, apakah tindakan ini dikarenakan gadis itu mengakuinya sebagai master atau memang dia sudah melupakan rasa sukanya?
Loretta kembali menjadi gadis manis dan menatap Arin. "Ah soal itu. Sebenarnya, sebagian guru ingin membatalkan kegiatan ini."
"Kenapa?"
Kali ini Loretta tak mengabaikan Will, dia menjawab pertanyaannya dengan santai. "Beberapa hari lalu, ada saksi mata yang melihat monster kelas bencana disana."
"Wilayah mereka ada di Labirin Bawah Tanah Gallahan dan Labirin Hutan Kabut Eleanor, pantas saja para guru khawatir." Loman ikut bergabung dalam diskusi mendadak mereka.
"Tunggu, bukankah sebelumnya sudah dikonfirmasi bahwa monster disana aman? Kenapa tiba-tiba ada monster kelas bencana?" Will menyenggol gadis disampingnya, meminta pendapat.
Arin menggelengkan kepala dan menutup mulut rapat-rapat. Di dalam kepalanya, dia sedang sibuk merutuki kebodohannya dan berharap hal itu tak akan terulang kembali. 'Mulai sekarang, bukan hanya kekuatan atau skillku. Tapi aku juga tidak akan mengeluarkan wujud asliku sembarangan.'
Tak hanya mereka, murid-murid lain juga sudah membentuk tim masing-masing. Semua kembali berkumpul di sekitar panggung.
Reinhard yang menyadari itu pun mempersilahkan beberapa murid senior dibelakangnya untuk maju. "Merakalah yang akan membimbing kalian selama misi. Kami, para guru, hanya akan mengawasi dan menilai dari jauh."
Para siswa dibawah panggung saling berbisik begitu melihat para senior yang disebut. Bagaimana tidak, mereka yang ada di atas panggung adalah senior yang paling dikagumi karena kekuatan mereka. Hanya saja, Arin tidak mengerti dan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Namun, ada dua senior yang dikenali Arin. Yang dua-duanya bukanlah orang yang dia harapkan menjadi pembimbingnya.
"Oh, itu Kyle Whites kan? Dia cukup terkanal." Will berkomentar.
"Benar. Satu dari dua wajah pembawa masalah." Arin menimpali dengan samar.
Loman melirik Arin dengan bingung, bertanya-tanya apa maksud dari 'pembawa masalah' dalam kalimatnya.
"Baiklah. Pembagian akan dimulai." Reinhard memberi sinyal agar murid senior menuruni panggung.
Para murid senior bergabung dengan kelompok sesuka hati mereka. Yang terpenting, setiap tim memiliki satu pembimbing.
Arin merasakan kepalanya berdenyut ketika seorang murid senior yang tak diharapkannya mendekat. Wajah penuh kepercayaan dirinya membuat Arin tak nyaman.
"Halo, aku murid tingkat dua, penyihir tiga circle, Arista," ucap senior perempuan itu begitu sampai di hadapan Arin dan timnya.
"Dan inilah yang kedua," gumam Arin amat pelan.
Saking ramahnya senyum milik Arista dan tatapannya yang hangat, tak ada siapapun yang menyadari ketidak sukaan perempuan itu pada Arin. Bahkan jika dikatakan, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk mempercayainya.
"Mohon bantuannya, senior," ucap Loman sekedar untuk sopan santun.
Arin menatap Arista, mata gadis itu melengkung kebawah dengan cantiknya ketika tersenyum. Namun ketika mereka bertatapan, senyum gadis itu agak berbeda. Seakan, sesuatu yang lebih gelap tersembunyi dibalik senyumnya.
'Entah kenapa auranya tidak seperti sebelumnya. Dia sedang merencanakan sesuatu ya?' pikir Arin karena mulai curiga.
Maka dengan begitulah, para siswa diberangkatkan menuju Bukit Uranus dan memulai misi perburuan pertama mereka.