This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 39. Kedatangan Ricardo



Duke Lancelot dan Requaza kini sudah siap untuk saling menyerang. Mereka berdua juga memiliki variasi warna circle yang sama, dimana satu circle putih yang mereka miliki akan menjadi senjata terkuat kali ini.


Tanpa banyak bicara, Duke langsung mengeluarkan tombak birunya dan menyerang Requaza dengan cepat.


Terdengar suara benturan yang cukup keras, seakan tombak itu mendarat pada benda yang sangat kokoh hingga tak dapat dihancurkan. Ternyata tepat sebelum tombak itu mengenai Requaza, ia sudah mengeluarkan kedua White Scythe dan menggunakan salah satunya untuk menahan tombak itu.


Satu sabit yang tersisa Requaza gunakan untuk menepis tombak itu hingga melayang jauh di udara. "Asteroid." Requaza menggunakan circle jingganya dan menghujani Duke Lancelot dengan ratusan peluru sihir dari arah depan. Kedua sabitnya juga ikut menyerang dari dua sisi samping tang berbeda.


"Ex-barrier." Duke Lancelot mengeluarkan Barrier di kerua sisinya yang memfokuskan untuk menahan sabit itu. Sedangkan tombak yang tadinya diterbangkan itu, kini melayang dengan cepat hingga tepat berada di depan Duke.


Tombak itu berputar dengan kencang dan menangkis setiap tembakan asteroid milik Requaza. Beberapa tembakan itu ada yang terpantul dan mengarah secara acak hingga menimbulkan ledakan yang cukup besar.


"Para guru, segera ambil posisi kalian!" Salah satu guru disana memberi aba-aba agar mengambil tindakan cepat untuk melindungi para murid


"Ex-barrier." Setiap guru memasangkan barrier dan memberikan intruksi agar tidak keluar dari jangkauan itu. 'Membuat barrier tingkat dua dengan circle merah, apa ini cukup?' Rasa khawatir Arin muncul mengingat ia tahu seberapa besar dampak serangan Requaza saat benar-benar serius. Sedangkan Reinhard dan Aslan masing-masing hanya berdiam diri karena merasa tidak mampu mengikuti alir pertarungan itu.


Setelah sihir asteroid dan kedua sabit Requaza berhasil ditangkis, mereka berdua kembali dalam posisi bertahan. Tentu saja hal itu tidak bertahan lama, karena sepertinya Duke Lancelot tidak ingin membuang-buang waktunya. Ia langsung mengeluarkan circle putihnyadan bersiap untuk mengeluarkan serangan skala besar. Tombak miliknya diselimuti oleh energi sihir yang besar, membuat tanah yang berlapis semen dibawahnya rusak parah.


'Apa dia serius? Circle putih milikku sanggup untuk melindungiku, tapi tidak dengan seluruh murid disini.' Disaat melihat serangan itu, Requaza lebih dulu berusaha mencari cara agar mengamankan seluruh murid yang terlibat disana. "Sudah cukup Razzak! Kamu ingin membunuh semua murid yang ada disini?"


Teriakan Requaza membuat seluruh orang yang berada disana gemetar ketakutan dan tersadar kalau mereka bisa saja mati kali ini. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Duke gentar. "Kamu yang memulai ini!" Hanya perlu sedikit waktu lagi, maka tombak itu akan siap diluncurkan.


Arin melakukannya. Tentu saja tanpa disadari oleh Loman dan Loretta yang berada di dekatnya. Warna kuning pada iris matanya menyala terang. Pupilnya berubah seperti pupil ular yang merupakan ciri khas seluruh monster yang ada. 'Ini jelas akan terasa aneh kalau kami bisa hidup setelah serangan besar itu, tapi itu tidak penting. Prioritasku sekarang adalah menyelamatkan Loman dan Loretta!'


Mana dalam jumlah besar menyelimuti ketiga orang itu. Karena transparan, jadi tidak ada yang menyadari hal itu. Arin juga mengambil posisi sedikit lebih belakang dibanding mereka berdua dan menundukkan kepalanya agar lebih leluasa menggunakan skillnya.


"Matilah!" Teriak Duke Lancelot yang kini sudah siap untuk melancarkan serangan. Waktu seakan berjalan lambat di situasi yang menegangkan ini. Langkah kaki orang yang berusaha lari, bunyi circle putih Requaza yang keluar secara perlahan, dan tombak milik Duke yang mulai bergerak maju. Tiap detiknya bisa Arin saksikan dengan siaga penuh, karena jika melewatkan ini sedikit saja nyawanya bisa terancam.


"Apa yang terjadi disini?" Suara yang terdengar santai, muncul tepat dihadapan Duke Lancelot sambil menggenggam tombaknya dengan tangan kosong. Sihir Duke pun hilang saat itu juga, bersamaan dengan darah yang keluarh dibalik telapak tangan pria itu.


"Kenapa kamu bisa ada disini, Ricardo?" Dengan keringat yang muncul, Razzak memberanikan diri untuk memulai pembicaraan ini. Rasa takutnya mulai muncul setelah dengan lancang telah melukai tangan kanannya. "Apa yang kulakukan? Tentu saja aku datang karena ingin menjenguk anakku. Aku bergegas datang kemari setelah mengetahui bahwa ada tragedi itu."


Jawaban Ricardo membuat Razzak terdiam. Dengan situasi saat itu, kurang lebih Ricardo bisa menebak secara garis besar apa yang sudah terjadi.


"Tenanglah kawan. Kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Aku sudah mendengar berita akan kematian anakmu. Aku tidak menyalahkanmu untuk ini karena aku tahu benar kamu itu mudah terbawa emosi. Karena kita ini adalah sahabat."


Ricardo tersenyum sambil menepuk punggung orang itu dan segera pergi menuju Arin berada. Circle jingga yang muncul disekitar Ricardo juga hilang secara perlahan. 'Itu, ayah? Mengapa ayah bisa ada disini? Tidak. Sebelum itu, bagaimana ayah bisa menahan kekuatan sebesar itu hanya dengan circle jingga?' Muncul banyak pertanyaannya dalam kepala Arin tentang hal itu.


Dengan sigap, gadis itu langsung menghilangkan mana dan mengubah kembali matanya menjadi normal. "Arin, itu ayahmu bukan?" Loretta sepertinya juga terkejut dengan kejadian tadi. Terlihat bahwa tubuhnya masih gemetaran saat menoleh kearah gadis itu. "Iya, mungkin." Gumam Arin sambil berusaha untuk bangkit dan menyambut kedatangan ayahnya.


"Halo Arin. Bagaimana kabarmu?" Ricardo mengelus lembut rambut Arin. Arin hanya mengangguk sambil menggenggam tangan ayahnya. Terasa lebih besar dan kasar, namun kuat. Walau darah yang tadi mengalir kini sudah sembuh, namun masih sedikit tercium baunya dan bekas lukanya.


"Apakah ayah datang untuk menjengukku?" Gadis itu mendongakkan kepalanya sambil tersenyum manis dan manja karena merasa senang. "Tentu saja. Kami langsung berangkat kesini begitu mendengar kabar itu. Ditambah lagi, Tia tidak bisa diam sedikitpun karena khawatir haha."


Arin sedikit bingung dengan hal itu. Karena begitu melihat sekitar, ia tidak mendapati keberadaan Tia sama sekali. Tidak mungkin juga ayahnya melepas jauh Tia karena itu berbahaya. "Tia? Kalau dia ikut, dimana Tia?"


Begitu Arin menanyakan itu, ia mulai mendengar suara Tia dari tempat yang jauh. Suara itu mendekat dengan cepat dan terasa tidak wajar.


"Yuhuuuuu." Saat suara itu sudah cukup dekat, Arin sadar bahwa asal suara itu berada diatasnya. Tia sedang jatuh dari ketinggian yang sangat jauh dan meluncur dengan cepat kearah Ricardo. "Haaap. Bagaimana rasanya, putriku?"


"Seruu. Menyenangkan sekali, hehehe." Tawa Tia pecah begitu selesai mendarat dengan aman dipelukan ayahnya. Arin, Loretta, dan Loman yang menyaksikan itu hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar seakan tak percaya bahwa Ricardo baru saja melempar anaknya setinggi langit.


"A-ayahh. Apa yang ayah lakukan? Ayah melempar Tia?" Secara refleks, Ari langsung merebut Tia dari ayahnya dan menggendongnya. "Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa membiarkan Tia terkena serangan itu kan, jadi aku tawarkan jalan-jalan sebentar di langit. Hahahaha."


'Gila. Dasar gila.' Pikir Arin sambil mengelus lembut rambut Tia yang masih tidak bisa berhenti tersenyum karena menikmatinya.