
'Labirin? Bukankah itu merupakan tempat dimana aku berada sebelumnya?' Arin sedikit kebingungan karena salah seorang murid itu mulai membahasnya. Bahkan sepertinya bukan hanya itu saja. Murid tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa terdapat dua labirin.
Reinhard pun juga sedikit terkejut dengan pembahasan mengenai labirin.
"Anak tingkat satu langsung masuk labirin? Gila ya."
"Kedua labirin itu sekarang sudah di segel karena munculnya monster malapetaka. Jadi hanya petualang dan kesatria tingkat atas saja yang diperbolehkan masuk."
"Kalau mau pergi kesana, pergi saja sendiri."
Balasan itu bukan dari Reinhard, melainkan dari teman sekelasnya yang agak tak setuju jika tujuan mereka adalah tempat itu.
'Malapetaka yang ada di labirin Gallahan pasti aku saat menjadi monster. Namun untuk labirin Elleanor, siapa?' dengan semua pertanyaan yang memenuhi kepala Arin, ia hanya memilih untuk diam dan menyimak kelanjutannya saja.
Dari apa yang Arin dengar itu, ia mulai sedikit tertarik dengan apa yang dinanti-nantikan teman sekelasnya. Wajah khawatir pada beberapa teman sekalasnya membuat gadis itu semakin penasaran.
Di luar sana pasti ada banyak makhluk yang sekuat atau bahkan lebih kuat darinya. Hanya saja jangan sampai ada perselisihan, karena jika ada, pasti dampak kehancurannya tidak kecil.
Terbersit ingatan ketika Arin melawan ibunya sebagai aksi pemberontakan karena terus-menerus dipaksa menuruti perintahnya. Hasil dari pertarungan mereka mampu menghancurkam setengah dari lantai menengah. 'Daripada saat itu sekarang aku jauh lebih kuat. Jika ada pertarungan yang mirip seperti waktu itu, dampaknya akan seperti apa ya?'
Reinhard berdeham untuk menenangkan kelas dan menarik perhatian para murid padanya. "Untuk kegiatan itu, kita akan melakukannya di Bukit Uranus yang terletak di barat laut. Yang berdekatan dengan perbatasan kerajaan Luxirous dengan kerajaan Avantheim. Disana juga berdekatan dengan kediaman Count Vallet di pelabuhan utara kerajaan. Jadi kami para guru bisa menjamin keamanan kalian yang akan mengikuti kegiatan ini."
Setelah kelas berakhir, apa yang baru saja dikatakan Reinhard menjadi topik panas dikelasnya. Beberapa merasa lega dan sisanya merasa kecewa karena dirasa tak ada monster kuat yang bisa dihadapi.
"Yahoo!" teriak Will dengan tiba-tiba tepat dibelakang Arin dan Loman sambil merangkul keduanya.
Arin bergidik karena terkejut dengan suara dan tangan Will yang menyentuh sebagian lehernya.
Bahkan Loman yang selalu menjaga ketenangannya berhasil dikejutkan oleh bocah bersurai merah. Dia melotot dengan kesal dan menutup bukunya dengan cepat.
"Karena kali ini kita pergi ke Bukit Uranus, ayo nanti kita main di kediamanku. Nanti akan aku ajak melihat laut. Arin belum pernah melihat laut kan?" Will mengajak dengan penuh semangat.
"Memangnya apa enaknya melihat genangan air? Kalau memang ingin jalan-jalan, ke kediamanku saja. Arin pasti lebih nyaman disana." Loman menimpali.
"Ha? Memangnya ada apa di kediamanmu?" Will setengah meledek kediaman Will yang kalah dari kediamannya.
"Cukup kalian berdua. Bukankah akan menyenangkan kemanapun asalkan bersama?" Usaha Arin untuk melerai keduanya berbuah pahit.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Monster apa yang ada si labirin Elleanor sehingga sekarang disegel?" Dengan dalih melerai pertengkaran mereka berdua, Arin juga memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya.
"Tidak. Setelah bagian luar, ada beberapa monster yang cukup kuat, tapi mereka bukan malapetaka. Mereka adalah monster yang sebelumnya menghuni bagian terdalam hutan." Lanjut Will menjelaskan.
'Hm.. Berarti karena kemunculannya, monster kuat lainnya lebih memilih mengalah dan keluar dari daerah kekuasaannya ya.' Arin perlahan mulai mendapatkan kesimpulan dari penjelasan Will. "Mengapa kamu sebegitu tertariknya, Arin?"
Loman yang sedari tadi menyimak, mulai ikut berbicara ketika Arin terdiam memikirkan sesuatu. "Tidak apa. Aku hanya penasaran saja... Hahaha.." Tawanya sedikit membuat Loman dan Will bingung karena tidak terlalu paham dengan itu.
Kedua pemuda itu menatap Arin dengan raut tidak setuju yang sama. Gadis itu mulai merasa kesal dengan tatapan kedua laki-laki itu.
Melihat wajah Arin yang cemberut dengan sangat menggemaskan, Loman tak tahan untuk tidak mencubit pipinya yang menggembung.
"A-aduuh!" Arin menjerit kecil saat cubitan itu semakin keras.
Reaksi Arin membuat Loman tersenyum samar. Pemuda itu melepaskan cubitannya dan berdiri. "Ayo ke kantin."
Arin dan Will belum menjawab ketika pemuda itu sudah berjalan lebih dulu. Meninggalkan keduanya.
"Dia itu maunya apa sih? Gimana caramu bisa akrab dengannya?" Will berbisik, memangkas jarak diantara mereka.
Arin melirik wajah Will yang begitu dekat dengan telinganya. Karena dia perempuan, tak bisa disangkal bila dia malu. Wajah pemuda bersurai merah itu tampan, tidak baik untuk jantung Arin yang selalu bereaksi lebih pada tipikal keindahan makhluk ciptaan Tuhan.
Arin mendorong wajah Will menjauh baru menjawab, "Entah."
Beruntunglah pria itu tak menyadari wajah Arin yang sedikit bersemu. Dia memang sedikit bingung, tetapi secepat datangnya, hal itu juga cepat hilangnya. Dia berdiri dan bersiap menyusul Loman. "Ayo cepat. Loman itu tidak akan menunggu jika kita telat."
Arin tersenyum setelah berhasil menangani detak jantungnya. "Aku tidak ikut tidak apa-apa kan?" Tanya Arin sembari menyusul Will yang melambatkan aengaja langkahnya agar Arin dapat mengejar.
"Kau tidak ikut, maka akan membosankan." Gumam Will yang sambil memalingkan wajahnya dari Arin membuat gadis itu tertawa kecil. Tentu saja akan membosankan karena Arin tahu benar bahwa mereka tidak mau duduk bersama jika tidak ada dirinya.
"Ah itu Loman.." Arin langsung berlari kecil menuju Loman yang sudah siap sepiring makanan dan telah duduk di meja yang kosong. "Buuu... Curang. Kenapa tidak menunggu?" Gadis itu memasang ekspresi cemberut begitu melihat Loman sudah siap untuk menyantap makanannya.
"Hm... Aku akan menunggu kalau kamu mau membelikan aku segelas jus lemon. Bagaimana?" Hal yang cukup langka melihat Loman menggoda sambil memasang ekspresi senyum kecil diwajahnya itu. Sesaat Arin merasa kagum karena laki-laki dingin sepertinya akhirnya bisa luluh juga.
"Tentu... Tenang saja, akan aku traktir. Will yang bayar." Ucapnya sambil menunjuj Will yang baru saja tiba. "Aku baru sampai disini dan kalian langsung menyuruhku membayar? Dasa kejam." Terpapar jelas wajah datarnya yang agak kesal karena tertinggal paling belakang dari mereka berdua.
Arin hanya bisa tertawa dengan candaan kecil yang mereka lakukan. "Sudahlah, ayok kita juga pesan makan." Ajak Will menarik lembut tangan Arin, membuat Arin menghentikan tawanya dan mulai menyeimbangkan langkah kakinya menyusuk Will. "Hm.. Ayoo..."