
"Hyaaa!!!" Arin berteriak sambil mengayunkan tangannya sekuat tenaga.
Suara ketika Arin menahan serangan Hellhound cukup ngilu untuk didengar. Layaknya dua tengkorak yang dihantam keras-keras tetapi tak bisa patah. Dampaknya, Arin terpukul mundur tiga langkah. Belum sempat menstabilkan diri, Hellhound melanjutkan serangan dengan menerkam tangan kanan Arin.
Sensasi dibanting keras ke tanah membuat Arin menggertakkan gigi. Tak ada celah untuk melawan, gadis itu dilempar beberapa meter dari tempat awalnya. Menghantam pohon hingga tumbang.
Sekali lagi Arin menggertakkan gigi. Bersusah payah untuk berdiri walaupun semua tulangnya menjerit, membuatnya agak kesusahan menegakkan diri. Diliriknya tangan kanan yang berlumuran darah dan air liur yang membuatnya jijik. Salahnya karena meremehkan lawannya sendiri.
Beberapa hari lalu di ibukota dia telah melihat sendiri akibat dari kesombongan, tetapi kini malah melakukannya. Monster di depannya tak akan dimasukkan ke dalam kelas D tanpa alasan. "Ah, bodoh sekali."
Hellhound mengambil ancang-ancang menyerang kembali.
Arin tak tinggal diam, dia tak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Di ambilnya sehelai bulu dan mengarahkannya pada monster itu. "Skill Bulu Api Neraka."
Tepat setelah bulunya menyentuh Hellhound, monster berbulu hitam itu langsung terbakar hebat. Dan dalam satu kedipan mata, yang ada di depan gadis itu hanya abu yang bertebangan. Monster berbulu hitam dengan mata merah dan air liur mentes yang menjijikkan telah lenyap.
Tangan kanannya masih mengucurkan darah. Pertama kalinya dia terluka seperti ini. Tak ada rasa sakit karena dia memiliki resistansi akan hal tersebut.
Ini berbeda dengan pertarungannya melawan Loretta. Dia merasakan sakit tetapi hanya sebatas itu. Bahkan rasa sakit akibat pukulan dengan terpotongnya beberapa bagian tubuh tidak ada bedanya. "Apa karena bantuan dari resistansi ini?" Arin mengerutkan kening, mencoba mengingat kembali apa saja yang membuatnya terluka.
Membandingkan rasa sakit akibat sayap yang terpotong ketika melawan Mother Nepthys dengan pertarungan melawan Loretta, Arin merasa jika keduanya memiliki efek rasa sakit yang sama. Dia merasa tidak akan bagus jika dia terus mengandalkan skill monsternya. Perlahan, tekadnya untuk menjadi normal selayaknya manusia semakin besar. Mulai saat ini, dia akan menggunakan kemampuan yang ia dapatkan dalam wujud manusianya.
"Baiklah, sudah diputuskan! Sejak saat ini, akan kunonaktifkan semua skill monster." Arin dipenuhi tekad, matanya menyala. "Passive skill, Resistansi Rasa Sakit nonaktifkan!!! "
---
"Cepat, kepung para Hellhound!"
"Aktifkan sihir, Ex-Barrier!"
"Serang sekarang!"
Dalam perjalanan menuju Bukit Uranus untuk menemukan tempat istirahat, para kesatria dari Kerajaan Luxirous tiba-tiba bertemu dengan sekumpulan Hellhound. Mereka baru saja menyelesaikan misi di perbatasan dengan Kerajaan Avantheim dan tidak menyangka akan disambut begitu meriah karena jumlah monster bermata merah itu jauh lebih banyak dari biasanya.
"Pangeran, ada satu Hellhound yang berhasil keluar dari barrier dan berlari menuju atas bukit!" ucap salah satu kesatria pada seorang pemuda yang memimpin pasukan.
"Aku akan mengejarnya. Tetap fokus untuk membasmi yang ada di sekitar sini." Pangeran itu segera berlari tanpa mengindahkan panggillan kesatria lain yang sudah menyiapkan kuda.
Ia berlari dengan sangat cepat. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh sihir, dan pada bagian kaki terdapat kilatan cahaya yang membuatnya dapat berlari dengan kencang.
"Aa!" jeritan seorang gadis hinggap ke telinganya. Perasaan khawatir dan kesal memberatkan pundaknya sehingga dia memacu kakinya berlari lebih cepat.
Ketika mencapai atas bukit dan sedikit mencari, dia menemukan seorang gadis yang tengah duduk dengan lengan kanan yang terlihat terkoyak. Baju kuningnya kotor dan berlumuran darah miliknya sendiri.
Gadis itu terisak sembari menatapnya. Keterkejutan tak bisa ditutupi dari wajahnya.
Pangeran menatap kesekeliling dan tak mendapati monster biadab itu dan berasumsi kalau monster itu telah pergi setelah menggigitnya.
Pangeran itu berlari mendekat. Berjongkok disampingnya dan menyobek lengan kemejanya sendiri untuk di ikatkan pada lengan gadis itu. Berharap bisa menghentikan pendarahannya. "Tenanglah. Jangan menangis. Aku akan segera mengobatimu."
\*
Arin mengerjapkan matanya berulang-ulang yang kabur karena air yang terus keluar. Bodoh sekali memang, kenapa dia tidak terpikirkan menyembuhkan lukanya lebih dulu daripada harus menahan sakit setelah semua tekniknya dimatikan. Terlebih dengan kedatangan orang asing yang membalut lukanya yang sepertinya datang karena dia tak bisa menahan teriakan tadi.
'Bodoh! Arin bodoh! Benar-benar memalukan.' Dengan sebelah tangannya yang bersih, Arin menghapus air matanya sendiri. Perlu beberapa waktu untuk mengatur nafasnya yang sesenggukan agar kembali tenang.
Ketika seorang gadis kecil menahan rasa sakit yang bisa membuat pria dewasa mengerutkan dahi membuat pemuda itu merasa iba. Dipeluknya gadis kecil itu, berharap bisa menenangkannya. "Tenanglah, tidak apa-apa. Tidak ada yang akan membuatmu terluka lagi. Tidak apa-apa."
Arin tak berkutik ketika mendapat pelukan yang tiba-tiba itu, terlebih elusan lembut pada kepalanya. Karena pemuda di depannya bisa dikatakan tampan, dia sama sekali tak keberatan. Namun tetap saja hatinya menjerit, 'Berhentilah membuatku semakin merasa malu.'
Bagaimanapun ini semua adalah salahnya karena gagal menilai situasi dan terlalu gegabah. Tak ada yang bisa dilakukannya selain pasrah jika tak ingin menambah semuanya menjadi semakin rumit.
Untuk beberapa saat mereka membeku dalam keadaan seperti itu. Hingga derap langkah mengusik mereka. Dan pemiliknya datang terlambat, sekumpulan kesatria penuh peluh dan darah di beberapa bagian.
Arin menatap kedatangan mereka dengan mata basah. Dia dengan jelas melihat kekikukan mereka melihatnya dipeluk. Walaupun sedikit penasaran akan identitas pemuda yang memeluknya, dia menebak jika pemuda ini mungkin adalah pemimpin mereka.
"Sudah selesai?" Pangeran perlahan mengendurkan pelukannya dan berbalik menghadap para kesatrianya.
"Ya, Pangeran. Apa Nona ini terkena serangan Hellhound yang kabur?"
Arin hampir tersedak ludahnya sendiri mengetahui indentitas pemuda itu lebih dari pemimpin. Dia tak berani menyela pembicaraan mereka dan memasang telinga baik-baik.
"Aku, akan membawanya ke tempatku." Berbanding terbalik dengan ekspresi penuh pertimbangan si Pangeran, seluruh prajuritnya dan Arin terkejut bukan main.
"A-anda akan membawanya ke Istana Pixiss? Apa anda serius?" tanya salah satu prajurit itu kepada pangeran yang kini menggendong Arin.
'Pixis. Nama keluarga Kerajaan Luxirous.' Arin menyerap informasi itu pelan-pelan sebelum terkejut ketika Pangeran menggendongnya ala tuan putri. 'Apa-apaan bocah ini?!'
Tak bisa melawan dan tak bisa mendebat, membuat Arin semakin terjebak dalam situasi ini. Dia mencoba mencari hal positif yang bisa diambil. Contohnya, dalam posisi ini dia bisa merasakan otot perut pemuda itu yang tersembunyi dalam bajunya. Rambut pirangnya sedikit berayun ketika berjalan. 'Ah, keindahan dunia.'