This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 12. Pertemuan Pertama Arista



Seusai pertandingan itu, Arin mencoba untuk berdiri kembali dengan batuan Loman. Mata gadis itu mengikuti Loretta yang tidak puas dilihat dari gerak-geriknya. Dia merasa sifat gadis itu sangat kekanakan. Gadis itu sudah menang dan dirinya terluka tetapi masih belum puas. 'Apa sih maunya?'


Sepeninggalnya Loretta yang menghilang sendirian dan Loman yang memapah Arin menuju ruang perwatan, kelas praktik dimulai dengan normal sampai berakhirnya kelas itu.


Setelah berakhirnya kelas praktek itu, Loman sedikit menundukkan kepalanya ketika berjalan menuju taman. Taman dimana dirinya melihat salju di musim semi bersama dengan si rambut perak. Pemuda itu duduk pada salah satu kursi kosong. Terlintas kembali bayangan gadis kecil dengan gaun hijau yang berputar-putar dibawah turunnya salju ajaib.


Namun bayangan akan gadis itu terusik oleh duel yang baru saja dia lihat. Pemuda itu sedikit menyadari jika dirinya mulai menyukai Arin. Hanya saja fakta bahwa si rambut perak mungkin lebih kuat membuatnya ragu. Jika dia lebih lemah, bagaimana dia bisa melindungi gadis itu?


"Loman? Sedang apa disini?" Sebuah suara menginterupsi Loman, tanpa menolehpun dia tahu siapa yang baru saja bertanya.


Loretta sudah mengikuti Loman sejak tadi, dan sekarang berpura-pura tidak sengaja bertemu pemuda itu hanya untuk berbicara dengannya. Gadis berambut pirang itu bergerak perlahan menuju Loman, dan kemudian ikut duduk tepat disebelahnya.


"Taman yang indah." Loretta berusaha mencairkan suasana, tetapi tak mendapat tanggapan.


"Tadi itu kamu sengaja kan?" Loman merlirik Loretta, nada yang digunakannya pun sangat datar.


"Sengaja? Apa maksudmu?" Loretta berpura-pura kebingungan walaupun sebenarnya sangat panik.


"Seranganmu terhadap Arin dengan niatan untuk mencelakai gadis itu kan? Kamu membanggakan dirimu sendiri dan merendahkan orang lain." Loman berdiri.


Loretta merasa tak terima dihakimi seperti itu, dengan menahan tangis dia berkata, "Kenapa kamu dingin begitu. Loman, aku ini sebenarnya menyukaimu. Aku menyukaimu lebih dulu daripada gadis desa itu."


Loman tak menunjukkan reaksi apapun. Namun beberapa menit kemudian pemuda itu berbalik menghadap gadis berambut pirang dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku tidak menyukaimu. Jangan ganggu gadis itu lagi, mulai dari sekarang."


Loretta menatap Loman yang berbalik meninggalkannya. Sementara dia diam membeku, pemuda itu tanpa hati terus berjalan. Dia sendirian, di tengah taman dengan langit yang mulai gelap. Penolakan yang diterimanya memukul mental dan hatinya dengan telak. Semua perjuangannya sia-sia.


"Aku, minta maaf." Loretta tak kuasa membendung air matanya, gadis malang itu terisak ditemani dengan bunga-bunga yang bermekaran.


---


Sejak duel yang terjadi beberapa hari lalu, hinaan yang diterima Arin sedikit berkurang. Mungkin beberapa orang tertampar dengan hasil duelnya dan tidak berani meremehkannya lagi.


'Bagus sih jika aku sudah tidak di hina sesering dulu. Tapi fakta aku tidak punya teman tidak berubah. Dan juga tiap hari Loman selalu duduk disampingku saat makan siang. Memangnya dia tidak bosan yah?' pikir Arin dengan wajah cemberut sambil menyantap makan siangnya.


Loretta terlihat duduk tidak jauh dari tempat duduk Arin dan Loman. Hanya saja dia sudah tidak pernah mengajak bicara Arin lagi.


"Halo, Putih!" sapa anak berambut merah yang beberapa hari lalu menganggu Arin. Nampaknya dia belum kapok karena dengan berani duduk pada kursi di depan Arin.


"Oh, Merah!" balas Arin sambil berpura-pura terkejut dengan maksud menyindir.


"Namaku William. Jangan panggil Merah, panggil Will saja." Pemuda itu menyeringai dan menyantap daging burung panggang yang baru saja ia pesan.


"Sepertinya cita rasa dari ras-ku memang sangat enak ya," gumam Arin dengan nada yang kecil hingga Loman dan Will tidak mendengarnya dengan jelas.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Will karena penasaran.


"Memangnya kenapa hah? Aku ini jauh lebih dikenal daripada kamu. Jadi yang seharusnya menghilang itu kamu saja,"


balas Will dengan sedikit memeragakan keangkuhannya.


"Pffft! Ahahaha!" Arin tertawa melihat pertengkaran kecil dua orang itu.


Mereka terdiam melihat kelakuan Arin. Loman mungkin terbiasa, tapi ini pertama kalinya Will melihat gadis itu tertawa seriang itu.


Will baru menyadari kecantikannya ketika melihat gadis itu dengan seksama. Rambut peraknya dan juga senyum manisnya adalah poin utama.


Will mengalihkan tatapannya dan kembali menikmati makanannya. "Terserah."


Meja mereka lenggang untuk beberapa saat, semuanya menikmati makanan pada nampan masing-masing. Hingga seorang gadis cantik berjalan mendekat. Dilihat dari seragamnya yang berwarna merah, bisa ditebak jika dia berada di tingkat dua.


"Halo Loman, namaku Arista dari Dewan Siswa Akademi Luxirous. Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu." Gadis itu mengakhiri ucapannya dengan senyum ramah.


Semua mata terarah pada Arista. Dilihat dari reaksi mereka, pasti gadis ini bukan orang biasa. Rambut terurainya berwarna oranye berhiaskan bando merah. Dia memiliki kecantikan lemah lembut yang membuat setiap laki-laki yang melihatnya akan berusaha melindunginya.


Arin memikirkan ucapan gadis itu. Dia menebak bahwa Dewan Siswa yang disebut seniornya itu mungkin seperti OSIS di dunianya.


"Bisa berbicara disini? Sepertinya tidak masalah jika hanya terdengar oleh beberapa orang." Loman mengangkat kepalanya untuk menatap gadis itu.


Mimik wajah yang ditunjukkan pemuda itu tak sedingin biasanya. Mungkin karena sopan santun di depan senior. Namun Arin merasa wajah datarnya agak minta dipukul.


Arista mengambil nafas, kemudian menampilkan senyum percaya diri karena tawarannya tidak mungkin ditolak oleh pemuda itu. "Sebenarnya, sebentar lagi akan ada perekrutan Dewan Siswa baru. Bagaimana jika kamu mendaftar?"


"Ho, Dewan Siswa? Menarik. Mungkin aku juga ingin mencoba." Tiba-tiba Will ikut berbicara dengan semangat.


Sebaliknya, Arin tidak terlalu tertarik, karena ia sudah memiliki gambaran apa yang terjadi jika dia sang circle hitam, menjadi Dewan Siswa.


Namun Loman yang tak mengerti isi kepala Arin menoleh pada gadis itu. "Bagaimana? Kamu tertarik?"


Senyuman Loman membuat Arin merona. Gadis itu segera menormalkan detak jantungnya karena suasana yang tak tepat.


'Ah, lihat dia. Sudah kuduga akan jadi begini.' pikir Arin sembari melihat wajah Arista yang berubah keruh bersamaan dengan tatapan tajam yang menghujamnya.


"Aku sepertinya tidak terlalu tertarik. Coba saja kamu yang mendaftar. Pasti sangat menyenangkan melihatmu menggunakan baju khusus dewan siswa." Arin berusaha mengalihkan pembicaraan dengan dalih dan tawa kecilnya itu.


Ekspresi yang Arista perlihatkan mulai lebih tenang. Mungkin ia merasa bahwa Arin mengethaui posisinya yang tidak pantas berada disekolah ini.


'Okey.. Baru saja aku merasa sudah menyelesaikan masalah dengan Loretta. Dan kini masalah baru muncul. Apakah hidup dengan normal memang sesulit ini?' pikir Arin yang masih saja memasang ekspresi senyumnya itu.