This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 43. Cristya (ARC Circle Selesai)



[Beberapa bulan sebelumnya]


"Lihatlah ini anakku. Aku berhasil menciptakan penemuan baru. Kali ini senjata pembunuh dewa yang kuciptakan pasti akan berhasil. Hahaha." Terlihat seorang pria paruh baya yang berhasil membuat sesuatu yang dianggapnya akan menjadi sangat hebat. Pria paruh baya itu hanya berdua dengan anaknya disana.


"Cristya? Apa kamu mendengarkanku?" Gadis itu hanya mengangguk kecil menandakan iya, karena berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat dalam rencana ayahnya. "Kita harus bisa segera menyelesaikan ini atau umat manusia akan mengalami kepunahan."


Sejujurnya, gadis itu perlahan mulai menganggap bahwa ayahnya sudah gila. Ia benar-benar berfikir bahwa ayahnya percaya dewa kelak akan datang dan menghancurkan dunia ini sekali lagi. "Itu hanyalah dongeng ayah."


Tak berselang lama setelah Cristya mengatakan itu, pria tua itu langsung dengan cepat menampar anaknya sendiri hingga terjatuh. "Cukup bicaramu dan patuhi saja aku. Sekarang, bawalah bibit monster ini ke daerah selatan lalu larilah secepat mungkin."


Sambil menekan kuat kedua pipinya, pria itu menyuruh Cristya melakukan sesuatu yang buruk lagi. "Ingatlah jika ini demi kedamaian dunia nak." Sayangnya sedari kecil gadis itu sudah mendapat pendidikan seperti itu, dan tak punya keberanian untuk menolak. Ia pun segera mengiyakan permintaan ayahnya dan segera berangkat menuju wilayah selatan.


---


"Nona, anda sudah sampai. Sebenarnya didepan sana hanya ada beberapa desa saja. Kota utama sudah kita lewati, berdekatan dengan kediaman Count Raven." Seorang kusir yang mengantar Cristya menjelaskan singkat daerah sekitar karena merasa bahwa gadis itu pendatang dari luar. "Tidak apa. Aku memang ingin berkunjung di sekitar sini."


Setelah memberikan sejumlah keping perak, Cristya langsung melanjutkan perjalanan menuju desa paling selatan. Perjalanan itu memakan waktu hampir setengah hari, dan Cristya sempat bermalam di sebuah penginapan yang ada disana.


"Hey lihat, ada seorang gadis kecil disana." Ucap beberapa petualang ketika melihat Cristya menyantap makanannya sorang diri. Beberapa petualang itu mulai menatap dengan niatan buruk sambil perlahan mendekat. "Ekhem... Kalian sedang apa?"


Terdengar suara wanita dewasa tepat dibelakang beberapa pria itu. Disini Cristya memberanikan diri untuk menoleh dan melihat siapa wanita itu. Tentu saja ia tidak mengenalnya. Itu hanyalah seorang wanita dewasa yang terlihat sedang membawa satu anak perempuannya yang kecil. "Ka-kami hanya bercanda tadi. Hahaha." Mereka segera pergi dengan sejumlah alasan yang mereka buat agar terhindar dari wanita itu.


'Apa wanita itu lebih kuat?' Cristya mempertanyakan hal itu karena berhasil mengusir para petualang. "Kakak cantik. Hehe." Tiba-tiba gadis kecil yang wanita bawa itu datang menghampirinya dan berkata demikian. Cristya menunjukkan senyumnya dan berterimakasih atas pujian yang gadis kecil itu lontarkan.


"Jika bisa, cobalah untuk menjauhi para petualang ya." Wanita itu memberikan saran serta cara yang setidaknya bisa Cristya gunakan ketika berhadapaan dengan mereka lagi. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Ayo Tia, kita pulang."


Wanita itu memanggil gadis kecil itu dan segera pergi. Cristya sedikit membungkukkan kepalanya karena berterkmakasih atas bantuan yang sudah diberikan. 'Kedua orang itu, juga akan mati.' Pikir Cristya dengan sedih mengingat mereka berdua juga tinggal di desa ini.


---


'Inilah saat nya.' Cristya menelan ludah mempersiapkan dirinya untuk memulai perintah ayahnya. Dalam perintah itu, ia disuruh segera lari begitu berhasil meletakkan bibit monster itu di tempat yang disebutkan. Cristya bergegas menunu tempat itu secara diam-diam dan mengelabuhi penjaga yang ada disana.


"Disini." Dengan segera Cristya langsung menanam bibit itu. Gadis itu masih terdiam begitu selesai menanamnya, karena secara tidak sadar ia sendiri penasaran apa yang akan dihadapinya jika melihat langsung. Penantiannya itu memakan waktu hingga matahari tepat berasa diatas kepalanya. Tidak ada hal yang aneh, dan tidak terjadi apa-apa.


Dalam hati kecilnya, ia sedikit lega dan bersyukur jika rencana ayahnya tidak berjalan lancar. Karena andaikata bibit ini benar-benar menumbuhkan monster, entah berapa banyak nyawa yang akan melayang.


"Sepertinya tidak ada apa-apa. Semoga saja seperti ini hingga nanti." Cristya membalikkan badannya setelah mengucapkan harapan kecilnya. Namun begitu ia membalikkan badan, dihadapannya kini ada sesosok makhluk yang tengan berjongkok tenang sambil tersenyum dan mengamatinya.


'Homunculus? Se-sejak kapan makhluk sebesar ini dibelakangku?' dalam waktu yang singkat itu, Cristya menyadari mengapa ayahnya segera menyuruhnya lari begitu selesai menanam bibitnya. Ia tidak tahu dengan jelas berapa bibit yang ia tanam, tapi sekarang ini dia sedang melihat jlah makhluk raksasa itu hingga puluhan.


Dengan cepat, satu Homunculus yang paling berdekatan dengan Cristya mengayunkan tangannya hendak menindih gadis kecil itu. "Chain!" Cristya berhasil mengeluarkan sejumlah rantai yang menahan serangan makhluk itu. Disaat yang bersamaan, ia mengulurkan salah satu rantainya pada batang pohon yang cukup tinggi, dan membuat dirinya tertarik menuju batang pohon itu.


Begitu berhasil selamat, gadis itu langsung kabur secepat mungkin menggunakan rantainya dengan hinggap di tiap batang pohon yang ada. "Itukah makhluk ciptaan ayah?" Ucapnya sambil membayangkan betapa mengerikannya monstee itu. Ia kini mulai khawatir bahwa monster itu akan membumihanguskan desa ini.


Saat gadis itu pikir bahwa jaraknya sudah cukup jauh, iapun berhenti berlari dan segera merapal sihir terkuatnya. Dengan ketiga circlenya yang berwarna cokelat, biru, dan ungu, gadis itu mulai mengeluarkan sebuah batu berwarna merah yang sangat panas.


"Aku memang merahasiakan berkatku, rantai ini pada semua orang. Tetapi karena sekarang tidak ada siapapun, aku tidak akan menahan diri." Ucap Cristya begitu sihirnya telah siap ditembakkan. "Mengamuklah, Ledakan Magma!"


Batu merah itu meluncur tepat mengarah Homunculus yang terdepan, dan langsung meledak mengenai beberapa dari mereka. Ledakan itu juga mengeluarkan lahar panas yang membakar habis monster itu, namun hanya satu monster terdepan saja.


"Mustahil. Padahal itu serangan terkuatku. Mengapa yang lain tidak terbakar?" Cristya bertanya-tanya dengan panik ketika melihat hal itu. Jawaban dari pertanyaannya itu pun tak membutuhkan waktu yang lama. Api yang membakar monster itu padam dengan cepat, sedangkan luka akibat terkena lahar juga segera pulih.


"Regenerasi?" Gadis itu seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kini ia sudah tak punya cara untuk menghentikannya lagi dan memilih untuk mundur. "Maaf. Maafkan aku." Sambil berlinang air mata, Cristya pergi kembali menuju desa itu.


Dengan cara yang sama sebelumnya, Cristya berhasil menyusup masuk kembali tanpa ada yang tahu. Ia hanya berlari tanpa henti melalui orang-orang yang berlalu lalang disana. Disaat dirinya berfikir sudah aman, tiba-tiba pergerakan gadisbitu terhenti dan seakan tidak bisa berbafas. Muncul suara dalam otaknya yang sepertinya hanya bisa didengar olehnya saja.


"Kamu melanggar perintahku, Cristya." Itulah kalimat yang gadis itu dengar sebelum detik-detik dia akan pingsan. Entah ia pingsan berapa lama, namun begitu ia bangun, hari sudah petang dan ia sudah berada di sebuah kereta pengungsi.