
Bibir dari dua gadis yang duduk saling berhadapan di beranda samping kediaman tertutup rapat. Tak ada yang mencoba mengakhiri keheningan canggung satu sama lain sampai akhirnya seorang pelayan menghampiri mereka.
Secangkir teh krisan yang masih hangat dengan uap yang meliuk-liuk di letakkan di depan masing-masing gadis itu. Keharumannya sedikit membuat ketegangan mereka melunak.
Setelah pelayan yang membawa teh mengundurkan diri, Arin menatap Loretta yang terus saja menundukkan kepala. Gadis beriris kuning itu mengalihkan matanya pada tanaman indah yang dirawat dengan baik. Otaknya terus memikirkan cara untuk menyudahi ketidaknyamanan mereka. Sepertinya keputusan untuk tinggal bukanlah pilihan yang bagus.
Tangan Loretta bergerak meraih cangkir teh. Dia menghidu harumnya salah satu teh kesukaannya dan menenangkan pikiran. Pada akhirnya dia lah yang membunuh kebisuan diantara mereka. "Ada perlu apa?"
Keterpaksaan terdengar jelas dalam suara gadis itu. Arin kembali menatap tuan rumah didepannya. "Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu tapi aku menjadikanmu alasan supaya aku tak ikut ke istana. Kuharap kamu tak keberatan."
Loretta mendengus dan menyesap tehnya perlahan. Angin berhembus pelan, membelai wajah dan menerbangkan beberapa anak rambutnya. Terlahir dengan darah bangsawan dan keanggunan yang melekat pada tulangnya membuat dia nampak seperti keluar dari lukisan dewi yunani.
Arin yang menyukai keindahan tak bisa menahan dirinya untuk tidak kagum. Andai saja gadis ini memiliki hati secantik wajahnya, maka dia akan menjadi primadona negeri. Terlebih kemampuan uniknya yang dapat mengeluarkan Mana tanpa bantuan alat sihir atau circle. 'Ah, Mana.'
Arin tersenyum begitu mendapat ide pembicaraan guna mengenyahkan kecanggungan mereka yang terasa mencekik. "Kamu bisa menggunakan Mana kan?"
Loretta meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang menyenangkan. Dia mengangkat matanya untuk menatap Arin tanpa repot-repot menjawab. Sudah jelas fakta itu diketahui oleh semua orang.
"Sampai batas mana kamu bisa menggunakan Manamu?" Tahu gadis didepannya tak berniat menjawab, Arin melanjutkan pertanyaannya.
Pertanyaan itu menggelitik Loretta. Bisa dia rasakan tatapan ingin tahu Arin. "Kenapa?"
Arin mati-matian untuk tidak memutar matanya. Rasanya sangat alot sekali berbicara dengan gadis itu. Dia menghela nafas berharap kekesalannya sedikit berkurang dan memutuskan untuk menunjukkan sesuatu pada gadis itu daripada harus menjelaskan.
Arin membuka telapak tangan kanannya dan mengangkatnya sedikit. Kemudian dia menyelimuti tangan kanannya dengan Mana. Matanya mengawasi wajah Loretta yang masih sama tanpa perubahan dan memutuskan membentuk bola mana dengan ukuran kecil.
Loretta sedikit melebarkan mata tetapi kemudian berkedip. Dibandingkan gadis perak itu, pengendaliannya masih berada dibawahnya. "Mau pamer? Maaf saja tapi aku tidak tertarik untuk unjuk kekuatan denganmu."
Sudut bibir Arin naik beberapa derajat. Bola Mana di telapak tangannya terbakar dan menjadi api kecil. Tak sampai disitu, lidah api berwarna merah berubah menjadi api biru yang menakjubkan.
Loretta tak bisa menutupi keterkejutannya. Ini pertama kalinya dia melihat trik Mana seperti itu dan tak bisa menahan kekagumannya.
Api biru itu hilang kedalam genggaman Arin dan terlempar keatas setelahnya. Ketika api itu hampir menyentuh langit-langit yang tinggi, benda itu meledak seperti kembang api. Serpihannya menyebar. Nampak seperti hujan bintang yang turun.
"Indah." Loretta semakin kagum. Matanya berbinar entah karena takjub atau pantulan dari bunga-bunga api.
"Bagaimana? Mai kuajari?" Arin melihat semua perubahan ekspresi gadis berambut pirang di depannya.
Tawaran itu sedikit membuat Loretta tergoda. Namun harga dirinya tak mengijinkannya melakukan itu. "Bagaimana kamu bisa melakukannya? Dalam sejarah para pengguna Mana, tak tercatat satupun teknik seperti itu. Lalu, kenapa begitu baik mau mengajariku? Apa yang sedang coba kamu mainkan?"
Sebenarnya cukup mudah menemukan kesalahan dalam ucapan Arin. Mana ada orang lewat yang mau mengajari teknik menggunakan Mana kepada sembarang orang? Apalagi dipinggir jalan. Namun mengetahui gadis itu ingin akrab denganya membuat hati kecilnya tersentuh. Karena kemampuan uniknya, semua tetua dalam keluarganya bahkan ayah dan ibunya ingin dia menjadi penyihir terbaik yang tentu saja membuatnya tertekan. Permasalahan anak bangsawan pada umumnya. Bakatnya sebagai pengguna Mana terkadang dianggap gadis itu sebagai sebuah kutukan.
"Baik, ajari aku! Mau kupanggil apa? Master?" Loretta memajukan tubuhnya, membuat Arin terkejut setengah mati karena tindakannya yang tiba-tiba.
Reaksi Loretta diluar dugaan Arin. Dia yang awalnya menyangga kedua siku di meja perlahan mundur dan menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, berusaha menjauhi wajah Loretta dengan cara sehalus mungkin. 'Master? Boleh juga, kapan lagi bisa membuat gadis itu bertingkah seperti ini.'
"Master kedengaran bagus." Arin meraih cangkir tehnya dan minum dua tegukan. "Ayo mulai sekarang. Di kediamanmu yang luas ini pasti ada tempat lapang tanpa pohon atau orang kan?"
Loretta mengangguk. "Terimakasih, Master." Dia mengucapkannya dengan penuh keyakinan hingga membuat Arin was-was.
Masih dengan memegang cangkirnya, Arin menatap pantulan dirinya. 'Apakah akan baik-baik saja? Ya sudahlah, jalani saja.'
Arin meletakkan cangkir tehnya ketika Loretta berdiri. Dia mengikuti Loretta yang akan memandunya ke tempat latihan mereka.
---
"Maka dari itu, aku memukul Kak Lus karena dia seperti orang bodoh. Dia langsung menatapku seperti ingin menangis haha!" Loretta mengakhiri ceritanya dengan tawa paling kencang yang pernah Arin dengar.
Satu hari berlalu dalam kedamaian tanpa masalah dan kini keduanya berada di dalam kamar putri kedua marquis yang tertutup rapat. Mereka berbaring saling bersisian, di temani banyak buku yang berserakan di atas karpet tebal entah tertutup atau terbuka. Arin tersenyum kecil mendengar sedikit kisah dari masa kecil Loretta.
'Yah, siapa yang tahu aku sampai menginap disini? Suatu keajaiban gadis ini merubah sikap dan tidak mengusirku kemarin sore.' Arin mendengarkan semua ucapan Loretta, tetapi pikirannya agak melayang karena lelah dan bosan.
"Kamu mendengarku?" Loretta menolehkan kepalanya.
Arin gelagapan dan langsung memasang senyum. Sebelum dia bisa menjawab, ketukan di pintu mendahuluinya.
Loretta menaikkan sebelah alisnya sebelum menghela nafas. Dia mendudukkan diri dan merapikan asal-asalan rambut dan bajunya. "Masuk!"
Seorang pelayan masuk dan menundukkan badannya. "Nona Kedua, kereta kuda untuk Nona Arin sudah siap."
"Aku mengerti. Pergilah." Begitu melihat pelayan itu pergi dan menutup pintu. Loretta segera merapikan buku yang tak beraturan dan menatanya di kaki tempat tidur.
Walaupun gerakan Arin tak segesit Loretta, dia tetap berusaha mengikuti gadis itu menata buku.
"Aku akan mengantar Master. Lewat sini." Loretta membuka pintu dan menunggu Arin keluar melewatinya.
Senyum Arin agak dipaksakan. Dia melewati ambang pintu dan menunggu gadis itu menutup pintu kemudian berjalan bersamanya. 'Semoga saja di akademi dia tidak memanggilku master.' Pikir Arin dengan sedikit rasa khawatir akan hal itu.