
'Divine Beast? Jadi wanita ini adalah Divine Beast?' Untuk pertama kalinya Arin bertemu dengan salah satu dari mereka secara langsung. Entah kenapa hawa dan tekanannya juga sama seperti yang ia rasakan saat gadis kecil yang sedang bertarung itu muncul. 'Kalau begitu, apakah gadis itu juga?'
Melihat Arin yang begitu waspada, sedikit menghibur wanita itu. "Tenanglah. Niat ku bukan untuk bertarung denganmu sekarang. Kalau memang aku berniat, kamu sudah aku musnahkan sejak tadi." Ucapannya sedikit membuat Arin lega, namun juga cukup mengerikan. Itu berarti Olivia juga menyadari kalau perbedaan kekuatan mereka sangat jauh, membuat Olivia berani berkata demikian.
"Jadi, apa maksud kakak gadis itu mengalah?" Arin berusaha mengalihkan pembicaraan yang berbahaya itu. Nada bicaranya yang tiba-tiba sopan sebenarnya hampir membuat Olivia tertawa, hanya saja berhasil ia tahan.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka terdengar ledakan besar dari pertempuran itu. Arin yang sesaat sempat tak menyimak mereka langsung memalingkan wajahnya dari Olivia. Hanya berselang sekitar 3 menit dari saat ia melihat monster itu tengah memojokkan gadis kecil itu. Kini posisi mereka berbalik.
Dari dalam tanah muncul kelabang besar melilit erat monster itu. Setiap kakinya menjadi gerigi tajam yang mengoyak Homunculus itu hingga hancur. Ia sempat berusaha lepas dari lilitan nya dengan menggunakan kembali ledakan dahsyat yang ia gunakan untuk menghancurkan Ibukota. Namun sebelum meledak lilitan kelabang raksasa itu menyelimuti seluruh monster itu tanpa ada ruang terbuka sedikitpun, sehingga ledakan dahsyat itu hanya mengenai tubuh kelabang itu.
"Ledakan skala besar bahkan tidak bisa menggores luka sedikitpun. Itu yang baru saja kamu pikirkan bukan?" Olivia berjalan di sampi Arin, dan mengatakan hal itu begitu melihat ekspresi Arin yang seakan tak percaya. "Apa tujuan kalian datang ke sini adalah karena Homunculus itu?"
"Kami ini bagai dewa di dunia ini. Dan menjaga keseimbangan itu adalah tanggung jawab kami. Segala entitas yang mengganggu keseimbangan itu, akan kami musnahkan. Bahkan jika sosok itu adalah pahlawan yang manusia puja." Jelas Olivia sambil mengeluarkan aura nya.
Dengan wujud Arin saat ini, harusnya Olivia menyadari bahwa Arin bukanlah manusia. Namun Arin sendiri tidak tahu apakah Olivia menyadari jika ia menyamar menjadi manusia. "Apakah Homunculus adalah entitas yang disebutkan itu?"
Mendengar pertanyaan Arin, Olivia menyadari jika sepertinya Arin adalah makhluk yang belum lama terlahir. Karena semua yang ada di dunia pasti tidak asing dengan nama Homunculus, karena sosok itu pernah sekali menggemparkan dunia.
"Homunculus adalah ciptaan terhebat manusia. Bahkan beratus-ratus tahun yang lalu, manusia berhasil menciptakan Homunculus yang memiliki level kekuatan setara dengan Divine Beast. Mereka dibuat agar bisa membasmi dewa. Namun karena kekuatannya yang terlalu besar dan membahayakan, akhirnya pahlawan pada masa itu menghancurkan seluruh Homunculus yang ada serta seluruh data dan pengetahuan yang berkaitan tentang itu."
"Dan kalian saat ini sedang mengincar orang yang sedang membuat Homunculus itu kan?" Arin bertanya kembali kali ini ia mulai paham akan tujuan dari para Divine Beast ini dan mulai tidak merasa bahwa mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
"Kami ini tidak se-Dewa itu. Kalau memang kami tahu dimana keberadaannya sekarang ini, tentu itulah yang akan aku lakukan." Percakapan mereka terhenti disini, dan kembali terfokus pada pertarungan di depan mata mereka yang sudah menunjukkan akhirnya.
Gadis kecil itu berjalan mendekati mereka berdua, dengan sebuah ekor di belakangnya yang membawa mayat Homunculus itu. "Bagaimana Olivia? Aku hebat kan?" Ucap gadis kecil itu sambil menggoyangkan ekornya seakan memamerkan mayat itu. 'Gadis itu punya ekor? Jadi kelabang raksasa itu tadi adalah ekornya yang membesar?' pikir Arin berusaha mengevaluasi semua itu.
"Nama saya Arin. Saya adalah harpy." Arin menundukkan kepalanya memberi hormat pada gadis kecil itu. 'Yah, mencari masalah pada mereka sama dengan cari mati. Untuk sekarang, aku tidak boleh memperlihatkan perlawanan.' Pikir Arin yang berusaha terlihat tenang di tengah situasi itu.
"Wah sopan sekali. Namaku Myria, sang ratu bawah tanah, Centimorph. Salam kenal." Ucapnya sambil bergerak kesana kemari seakan tidak bisa diam se detik pun. Di beberapa saat, gadis kecil itu sempat menyentuh sepasang sayap milik Arin. Ia membukanya, menggerakkannya, bahkan sampai mencoba menggigit pelan hanya untuk mengetahui rasanya.
"Weeekk. Pahit sekali." Olivia pun sepertinya mulai merasa keberatan dengan tingkahnya yang seperti itu. Karena urusan mereka juga sudah selesai, akhirnya Olivia pergi menuju area pertempuran dan menyelesaikan sisanya. "Senang berbicara denganmu, Arin. Sampai jumpa."
Olivia melompat dengan sangat tinggi, bahkan hanya membutuhkan satu kali lompatan untuk segera tiba di lokasi pertempuran itu. Sesaat sebelum mendarat, mana miliknya berhamburan keluar, menciptakan jutaan butiran air yang menghujani area itu. Arin sudah menyadari bahwa hujan itu bukanlah hujan biasa. Walau begitu, ia tetap berhasil dibuat takjub dengan banyaknya orang yang muncul di balik puing-puing itu dalam kondisi tanpa luka sedikitpun.
"Skill penyembuhan dalam area seluas itu, memangnya itu sesuatu yang bisa dilakukan?" Arin menghela nafas panjang karena apa yang ia lihat hari ini. Ia tidak sempat bereaksi ataupun turun tangan sedikitpun. Tentu saja karena besarnya jarak diantara Arin dan makhluk yang dianggap dewa itu.
Saat Arin menoleh ke belakang, ia juga sudah tidak menjumpai gadis kelabang itu. 'Lagi-lagi keberadaannya yang tiba-tiba hilang tidak bisa aku rasakan.' Arin pun memutuskan untuk kembali sebelum semuanya bangun.
Sehari setelahnya, berita mengenai hancurnya ibukota menjadi topik perbincangan utama di koran harian. Bahkan kabar ini sampai terdengar oleh negara tetangga, Avantheim, yang membuatnya juga ikut memberikan bantuan membangun kembali seluruh bangunan yang hancur.
"Jujur saja, level monster itu sangat tinggi." Terdengar suara Loman yang sepertinya menjelaskan rincian kejadian pada Loretta. Melihat mereka yang bersemangat menceritakan kejadian kemarin, sepertinya tidak ada luka serius yang mereka alami. Hanya saja, ini sudah kedua kalinya Arin melihat langsung para Homunculus itu.
'Siapa yang membuatnya? Dan apa tujuannya?' Arin terdiam memikirkan hal itu, mengabaikan kedua temannya yang tengah asyik berbicara. "Arin, ada apa?" Loman yang menyadari lamunan Arin pun melontarkan pertanyaan karena mulai khawatir.
"Tidak apa. Aku hanya-..." Belum sempat Arin menyelesaikan ucapannya terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sosok itu langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari Arin ataupun lainnya. Jika memang sampai seperti itu, kemungkinan yang datang adalah seseorang yang mereka kenal.
"Arin, ada yang mau aku ceritakan padamu." Ternyata suara itu berasal dari Cristya. Nadanya gugup dan seakan takut akan sesuatu. Sepertinya sesuatu yang akan ia bicarakan bukanlah sesuatu yang mudah. Dengan memahami hal tersebut, Arin pun mengizinkannya. "Silahkan."