This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 56. Memulai Penyerangan



"Jadi begitu ya." Loman merenung setelah memikirkan apa yang Arin ceritakan. Di sisi lain, Loretta mengeluarkan jubah orang dewasa yang sudah ia sediakan sebelumnya untuk menutupi tubuh Arin. "Terimakasih." Ucap Arin sambil membelai rambut Loretta.


"Kalau begitu kita ambil salah satu penginapan terdekat dari sini. Dan kita pakai waktu itu untuk pemulihan mu, Arin." Loman menggendong Arin ala tuan putri dengan lembut dan perlahan. Kemudian mereka berdua bergegas keluar dari tempat itu.


Untungnya penjaga benteng saat itu belum kembali pada pos mereka masing-masing, jadi mereka bertiga bisa melewatinya kembali dengan mudah. Dari situ, Loretta sudah tidak perlu menggunakan sihir kamuflase lagi karena mereka sekarang berakting sebagai tiga anak yang sedang mencari penginapan.


"Mungkin disini." Ucap Loman sambil melirik salah satu penginapan yang tidak begitu mencolok dan terlihat paling sepi diantara lainnya. Mereka masuk ke dalam penginapan itu dan langsung memesan dia kamar, satu untuk Loman dan satu untuk Loretta dan Arin.


"Arin, kita sudah sampai."


"Beristirahat lah master."


Arin dibaringkan dalam kondisi tertidur. Wujudnya sudah kembali menjadi gadis kecil yang cantik, namun tangan kaki yang hilang tetap tidak berubah. Darah pada sekujur tubuhnya Loretta bersihkan dan ia basuh dengan air bersih. "Aku akan ke kamar sebelah. Jangan sungkan untuk berteriak kalau ada sesuatu yang terjadi, Loretta." Ucap Loman sambil melangkah keluar kamar.


 


"Tuan Requaza, kita sudah sampai." Salah satu bawahannya memberikan laporan langsung begitu sampai di lokasi kejadian. Sudah tidak ada apapun yang tersisa disana. Yang terlihat hanyalah jejak pertarungan dan bekunya pinggiran hutan yang cukup luas. 'Ini, mirip seperti monster yang kulawan. Apakah dia masih hidup?'


Requaza berfikir ulang dan memeriksa setiap inci area tersebut untuk mencari kecocokan dengan monster yang pernah ia lawan. Dimulai dari pepohonan yang membeku beberapa helai bulu terbakar yang masih tersisa, serta jejak mana yang masih tersebar. Semua itu memiliki kecocokan dengan monster Harpy itu.


'Itu berarti, monster itu sedang bertarung melawan Homunculus? Apa tujuannya?' untuk sekarang, itu bukanlah hal yang harus Requaza cari tahu. Karena hal yang mendesak sekarang adalah mencari jejak Homunculus yang bersembunyi. "Segera selidiki seluruh wilayah di sekitar area yang membeku ini. Pasti terdapat sebuah pintu, portal, atau apapun itu."


Pencarian pun dimulai hingga menjelang matahari terbit. Pecahan demi pecahan yang bisa mereka jadikan bukti terkumpul satu persatu, dan pencarian itu akhirnya telah mencapai puncaknya. "Tuan. Lokasinya sudah ditemukan." Ucap salah satu kesatria sambil menuntun Requaza menuju tempat itu.


Begitu pertama melihatnya, ia sudah menyadari apa yang menunggu di dalam sana. Setidaknya jika mereka semua masuk, hanya Requaza saja yang bisa bertahan hidup. "Aku ingin menyampaikan pesan pada beberapa orang. Segera sampaikan." Requaza memberikan perintah untuk meminta bala bantuan. Seorang pengirim pesan datang untuk menyampaikan hal tersebut. Pada siapa ini harus saya sampaikan tuan?"


"Count Raven, Duke Whites, Duke Lancelot, dan juga seorang pria di desa selatan kerajaan yang bernama Ricardo." Setelah menyebutkan ke empat nama itu, akhirnya pembawa pesan meninggalkan tempat itu dan bergegas menyampaikan pesan tersebut.


 


"Permisi. Aku membawa pesan penting untuk tuan Ricardo." Ucap seseorang yang sudah berdiri didepan rumah Ricardo sambil mengetuk pintu beberapa kali. Mona membuka pintu itu dengan kebingungan sambil menggendong Tia yang tampak masih mengantuk. "Suamiku sedang tidak ada di rumah. Baru saja dia pergi. Adap apa pagi-pagi begini?"


Melihat ekspresi Mona yang sepertinya memang tidak mengetahui dimana Ricardo sekarang. "Ini darurat. Begitu Ricardo pulang, tolong segera sampaikan." Prajurit itu langsung pergi begitu selesai memberikan pesan nya pada Mona. "Mama, ada apa?" Tia terbangun sambil mengucek matanya yang masih setengah mengantuk.


"Tidak apa. Ayo kita masuk kembali." Dengan perasaan sedikit khawatir, Mona langsung kembali menutup pintu.


Hanya pesan untuk Requaza yang belum sampai. Bahkan sampai menjelang siang, semua telah berkumpul tanpa dirinya. "Pria itu tidak datang ya. Mengapa ia lama sekali, Count Franz?" Salah seorang diantara mereka memulai pembicaraan sebelum menerjang masuk ke sarang Homunculus.


Pertanyaan itu tidak ditanggapi sedikit pun oleh Count Franz. Ia hanya memejamkan matanya sambil berharap kebisingan dari orang-orang bodoh ini segera berakhir. "Tenanglah, Duke Razzak. Aku yang memimpin dalam penyerangan ini, jadi jangan membuat keributan disini." Duke Whites berusaha meredam perselisihan diantara mereka.


Diantara para pemegang kekuasaan kerajaan Luxirous, Duke Lancelot memang yang paling mudah terbawa emosi. Ditambah ia merasa terbelakang karena pinggiran hutan Eleanor yang dulu adalah wilayahnya kini telah menjadi bagian dari Duke Whites. "Cih." Razzak mengalah pada pembicaraan ini dan memilih untuk mematuhi Duke Whites.


"Kita akan masuk hanya beranggotakan empat orang. Jadi bersiaplah." Mereka memulai memasuki markas para Homunculus begitu Duke Whites memulai aba-aba nya.


 


"Master, kamu sudah bangun?" Loretta langsung tersadar saat Arin membuka matanya. Arin hanya terdiam karena saat ini ia berfokus mengamati apa yang terjadi di luar dengan skill matanya. Melihat Arin diam saja, akhirnya Loretta memilih untuk memanggil Loman terlebih dahulu.


Suara langkah kaki mereka berdua terdengar mendekat dari balik pintu. Loman yang membukanya disusul oleh Loretta. "Arin." Ucapnya dengan nada penuh rasa khawatir. Arin menolehkan kepalanya untuk memeriksa keadaan mereka berdua. "Loman, Loretta. Pertempuran nya telah dimulai."


Arin menjelaskan dengan singkat bahwa saat ini ke-empat orang terkuat di kerajaan Luxirous baru saja menyerbu markas Homunculus itu. "Jadi ayahku juga ikut andil ya." Loman termenung kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan. "Master, jangan." Loretta terlihat ingin menangis kembali. Karena alasan Arin mengatakan hal ini adalah karena ia juga ingin segera pergi ke tempat itu. Tentu saja Loman dan Loretta tidak akan diizinkan ikut karena mereka hanya akan membebani saja.


"Aku akan lebih waspada, okee? Jadi kali ini aku akan segera kembali. Arin bangkit sambil menyingkirkan selimutnya. Setelah ia yakin seluruh tubuhnya sudah pulih dari luka, Arin bertransformasi kembali menjadi Harpy. "Apa mana mu sudah puluh semua?" Loman bertanya tepat sebelum Arin mengepakkan sayapnya.


"Masih separuhnya, tapi ini sudah cukup." Jawab Arin sambil tersenyum, lalu menghilang dalam sekejap.


"Ayo Loretta. Ada hal yang masih bisa kita lakukan." Ajak Loman sambil. Mulai mengemasi barang mereka.