This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 35. Kemurkaan Requaza



Dengan berbekal pada harapan jika murid-muridnya serta para guru yang berada di Bukit Uranus masih hidup dan syukur-syukur kalau tak ada yang terluka, Requaza menyusul secepat yang dia bisa.


Rute yang dipilihnya dari kediaman Count Vallet membawa pria tua itu melihat sesuatu yang mengejutkan. Dia memang menemukan salah satu muridnya, tetapi dalam keadaan yang mengenaskan. Mungkin gadis itu tadinya berhasil melarikan diri, tetapi monster bengis telah mengoyak tubuhnya menjadi dua.


Requaza berhenti, hanya untuk membiarkan bau anyir menusuk hidungnya. Pupus sudah harapan. Bagaimana jika tak ada yang selamat?


Setelah menatap jasad yang tak utuh, Requaza mendongak untuk melihat si pelaku. Monster di depannya menyerupai burung, tetapi memiliki sedikit perwujudan manusia. Bulunya yang kelabu menebarkan rasa tak nyaman, terlebih cakar panjang nan tajam yang menyisakan sedikit darah.


Monster memanglah makhluk yang kejam. Entah kenapa dahulu Sang Pencipta menciptakan makhluk itu jika hanya membuat kerusakan di dunia, tak cukupkah hanya dengan manusia? Requaza menolak untuk menatap tubuh yang terpisah, dia tak tega. Gadis itu masih muda, laksana kuncup bunga yang perlahan akan mekar. Sekarang, jangankan mekar, bunga itu saja sudah dicabut dari batangnya.


Monster itu tak bergerak dan terkesan tenang. Dia tak panik atau buru-buru menyerang ketika mata mereka bersitatap. Dan Requaza langsung menyimpulkan kalau sosok di depannya ini memiliki kecerdasan.


Ketika Arin menyadari ada aura asing yang mendekat, dia bergerak cepat untuk menutupi wajahnya. Kini topeng berbentuk paruh dan mata burung Nepthys itu menyembunyikan seluruh wajahnya.  'Mengapa Kepala Akademi Luxirous bisa ada disini? Apakah kabar bahwa kami diserang sudah sampai? Tapi ini terlalu cepat.'


Requaza mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar ketika dirasanya monster di depan mengamati dirinya. Aura itu tak bisa dibandingkan dengan milik Reinhard ketika bertarung bersama Ancient Hellhound.


Reaksi Requaza disambut Arin dengan merentangkan tangannya. Mana dalam jumlah besar terkumpul pada kedua tangan dan mulai mengeluarkan kristal besar berwarna merah. Saking besarnya tekanan dari kemunculannya, beberapa pohon yang paling dekat dengan Arin tumbang satu-persatu. Namun Kepala Akademi tetap diam tak bergerak, hingga membuat Arin bingung mengapa dia tak mengeluarkan circlenya.


'Apa yang orang ini rencanakan?' Arin sedikit menimbang-nimbang, tetapi itu tak lama sebelum dia mengambil keputusan. 'Terserah. Dibunuh atau membunuh, hanya itu pilihannya.'


Arin memulai serangan dengan harapan besar. Sebuah desir angin menyapa telinga, tetapi itu bukan efek dari serangannya. Lalu, Arin tertegun karena tak bisa merasakan kedua tangan miliknya. Dia menunduk hanya untuk mendapati White Scythe pada masing masing lengannya yang membuat kedua lengan itu putus.


'Circle jingga? Cepat sekali. Bahkan tak bisa kurasakan!' Arin begitu panik karena circle milik Kepala Akademi terpasang tanpa sepengetahuannya.


White Scythe kembali menyerang, kali ini senjata itu berbalik dan mengincar tubuh Arin. Tetapi gadis burung itu bereaksi cepat dengan melompat dan memanfaatkan sayapnya untuk menjauh.


"Percuma." Requaza menggumam, merasa kasihan pada usaha si monster yang sia-sia.


Dua bilah sabit yang gagal menebas tubuh Arin mengejar dirinya ke udara. Arin tak menyangka akan bertemu senjata semenjengkelkan itu. Dia berniat kabur ketika boneka dengan rupa beruang yang lebih besar dari dirinya memeluk dari depan. Atau, sebut saja menangkapnya.


Sabit itu bergerak semakin dekat dan dalam sekedipan mata memotong kedua sayap si burung dengan mudahnya. Dua sayap berbulu abu-abu itu jatuh tertarik oleh gravitasi, meninggalkan punggung pemiliknya dan membuat air terjun darah keluar dari luka yang menganga.


Rasa sakit akibat serangan itu menjalar dengan cepat, tetapi Arin bahkan tak bisa beregenarasi karena sabit itu mengincar tubuhnya. Dia menggertakkan gigi dan melancarkan serangan balasan. "Skill, Bulu Api Neraka!"


Bulu-bulu pada kedua sayap yang jatuh memisahkan diri dan berubah menjadi api hitam yang berterbangan bak benih dandelion yang tertiup angin. Mereka membakar apapun tanpa pandang bulu, pada boneka yang memeluk Arin, senjata menjengkelkan itu, dan pada pria tua yang begitu tenang di bawah sana.


Requaza bak petapa tua yang tak bergerak tak peduli bahaya apa yang sedang menuju kearahnya. Dia bertindak begitu alami, seakan dia tak perlu berpikir atau menggunakan taktik pada Nepthys muda yang menggunakan bulunya untuk melawan. Pria tua itu mengaktifkan Barrier ketika bulu-bulu api berada dalam jarak satu rentangan tangan darinya.


'Menggunakan circle jingga hanya untuk menciptakan barrier. Sepertinya Pak Tua ini serius.' Begitu berhasil bebas, Arin melancarkan satu serangan lagi. "Skill, Freeze Zone!"


Dengan Arin sebagai pusatnya, seluruh wilayah hutan utara membeku tanpa pandang bulu. Entah itu pohon, serangga, para binatang, atau bahkan monster kelas rendah membeku dalam satu kali kedipan mata. Melihat dua sabit menyebalkan, boneka beruang raksasa, dan pemiliknya dalam pengaruh mantra, Arin segera meregenerasikan sayap dan tangannya. Matanya terus mengawasi pria tua itu dengan waspada.


'Dia masih hidup, lebih baik lari sekarang.' Arin bergegas pergi dengan mengepakkan kedua sayapnya.


Begitu Arin berbalik, serangan lain datang untuk menembus dadanya dari belakang, langsung mencederai jantung. Peluru sihir itu bergerak dengan cepat, hingga Arin terlambat untuk mengelak. Itu hanya bola energi biasa tetapi mampu menembus tubuhnya yang lebih kuat dari besi dan baja.


Jawabannya tersaji ketika gadis burung itu menoleh kebelakang. Requaza mengeluarkan circle lanjutan berwarna kuning, melepaskan boneka dan dua sabit dari es yang melingkupi mereka.


Selagi berusaha menyeimbangkan diri di udara dan meregenerasi jantungnya, Arin membelalak ketika boneka beruang itu memunculkan taring dan cakar. Sekarang, boneka manis besar yang di idam-idamkan gadis seusia Tia menjelma menjadi mimpi buruk yang akan membangunkan mereka di tengah malam. Mulutnya terbuka lebar dan rantai besar keluar dari sana, meluncur cepat keluar. Arin terikat erat dan hanya bisa pasrah ketika boneka itu membantingnya ke tanah.


Arin tercengang. Dia membenci dirinya yang tak berdaya. Sementara itu passive skill regenerasinya pun bekerja jauh lebih lambat. Dia tak mampu bergerak ketika Requaza sudah berdiri di depannya.


"Bahkan kematianmu tak sebanding dengan kematian satu muridku. Tenang saja, aku akan membuatmu berharap bahwa kematian adalah kebebasan." Requaza membuat sekumpulan Wind Cutter kecil berputar di tangannya membentuk bola.


Senjata itu lambat laun membesar. Semakin besar hingga seukuran dua kali bentuk tubuh manusia. Benda-benda kecil itu bergerak untuk memotong Arin secara perlahan dimulai dari sayapnya yang langsung terpotong habis hingga menjadi debu. Benar-benar menyajikan kematian yang tak mudah.


"Bagaimana? Inilah yang muridku rasakan saat kamu membunuhnya." Ucapan dingin keluar dari mulut Requaza begitu mendengar jeritan monster itu.