This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 51. Ayah dan Anak



"Maaf Tia. Tapi tadi Tia bilang apa?"


"Ibu adalah mantan pemimpin menara!"


Entah berapa kali Arin berusaha memastikan, namun tampaknya jawaban dari Tia tidak akan berbeda. Wajah polos nya yang tampak riang seakan tidak tahu setinggi apa jabatan yang ibu mereka miliki dahulu.


'Apakah ini masih bisa dibilang normal? Kehidupan normal yang sudah aku dambakan?' Arin berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamarnya di lantai atas untuk beristirahat. Setidaknya ia ingin untuk sementara waktu ini tidak memikirkan apapun. Walaupun itu tidak sepenuhnya lancar karena Tia tetap menempel hingga Arin terbaring di kasurnya.


"Cup cup. Kakak bubuk, hehe." Sepanjang waktu Tia mengatakan itu tanpa kenal lelah. Hingga muncul corak hitam pada mata Arin, namun wajah ceria Tia tetap tidak menghilang sedikitpun.


---


Kini hari sudah mulai gelap. Entah bagaimana Arin bisa tertidur setelah semua itu, namun ia nampak sangat bersyukur. Tia juga terlihat tidur dengan lelap di sebelahnya. Dengan hati-hati, Arin keluar dari ranjang nya, menyelimuti Tia secara perlahan, lalu keluar dari kamarnya.


Begitu ia turun dari lantai atas, Arin menjumpai Mona yang tengah memasak makan malam dan Ricardo yang tengah duduk terdiam. "Anu, ayah? Mengapa wajah ayah-..." Saking banyaknya luka lebam di wajahnya, Arin sampai tidak tahu kata apa yang harus ia gunakan untuk menjelaskan apa yang ia lihat.


" Aawh Ayin. Kawu sudah hangun? Ayo hakan dulu." Ucap Ricardo sambil menyiapkan piring dan sepasang sendok garpu. 'sebelum melakukan itu, cepat obati dulu lukamu ayah bodoh!'


Arin hanya tersenyum dengan penuh khawatir. Melihat Mona yang santai saja dengan keadaan saat itu, artinya memang telah terjadi sesuatu dengan mereka. "Kalau begitu, ibu akan membangunkan Tia dulu. Arin silahkan untuk makan duluan." Ucap Mona menyusul Tia di lantai atas.


Arin menghela napas dan berjalan menuju Ricardo. Ia mendekatkan kedua tangannya pada wajah ayahnya yang terluka dan mulai melakukan sihir penyembuhan padanya. "Wah, ternyata Arin sudah bisa menggunakan sihir penyembuh ya. Hebat sekali." Puji Ricardo begitu lukanya perlahan sembuh.


Sihir penyembuh adalah sihir dasar yang harusnya dipelajari murid yang berada di tingkat kedua. Karena Arin masih tingkat pertama dan sudah bisa memakai sihir itu, tentu Ricardo merasa bangga. 'Padahal yang aku gunakan adalah Ultraspeed Regeneration. Tapi lebih baik tidak ketahuan sih.' Pikir Arin sambil menganggukkan kepalanya.


"Ah. Ngomong-ngomong, apa ada keperluan kenapa kamu pulang hari ini?"


"Tidak ada, ayah. Aku cuma rindu rumah saja." Arin tersenyum sambil mulai menyiapkan makanannya. Ricardo terdiam sambil memerhatikan mimik wajah Arin dengan seksama. "Kemarin ada kejadian yang menghancurkan ibukota ya. Ayah dengar kamu juga menjadi korban dalam kejadian itu."


Arin mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun. Ia berusaha untuk tidak membuat kegaduhan, ditambah Mona dan Tia mulai kembali dan bergabung di meja makan bersama mereka. "Hoaam. Ngantuk." Tia menguap dengan posisi masih di pangkuan Mona.


"Setelah makan, temui ayah sebentar di teras ya Arin." Tanpa mencari tahu alasan dibalik itu semua, Arin secara garis besar sudah tahu apa yang akan diucapkannya. Mona juga tampak diam seakan tidak mendengar apapun. Arin juga yakin dibalik diamnya Mona, ada rasa khawatir yang cukup besar pada Arin.


---


Terdengar langkah kaki berjalan diatas papan kayu yang membentang membentuk teras rumah itu. Ricardo sudah menunggu tepat pada anak tangga kecil dan duduk sambil menatap ke arah langit. "Ayah." Ucap Arin begitu ia tepat berada di sampingnya. Arin juga membungkukkan badannya dan duduk disamping Ricardo.


"Langitnya indah bukan?" Ricardo memecah kesunyian malam itu dengan pertanyaan itu. Dengan nada yang bersahabat serta rangkul nya di pundak Arin, mencairkan suasana diantara mereka berdua. "Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sekarang."


Arin akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang insiden itu. Mulai dari kemunculan nya yang menghancurkan ibukota, hingga turun tangannya para dewa. Dari diskusi yang Arin dan temannya lakukan, mereka berkesimpulan untuk mencari pahlawan yang pernah berhadapan dengan Homunculus itu.


"Aha. Jadi tentang itu ya. Orang yang kamu sebut itu adalah ayah." Ricardo menjawab santai seakan tidak ada beban sama sekali dengan ucapannya. "Ayah, pahlawan itu orang yang sangat kuat. Monster itu sanggup menghancurkan ibukota, maka harusnya pahlawan juga bisa melakukan itu. Sedangkan ayah kan tidak sekuat itu."


Arin sedikit cemberut karena merasa ceritanya hanya dianggap sebagai gurauan belaka. Sedangkan Ricardo terlihat seakan menahan tawa melihat tingkah konyol putrinya itu. "Yah ayah juga tidak begitu mengerti kenapa Arin ingin mencari siapa yang menciptakan Homunculus itu, tapi dia sudah mati."


Ricardo menjelaskan bahwa pencipta Homunculus itu juga ikut tewas dalam insiden penyerangan Homunculus. Dan dari informasi itu, Ricardo mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup. Namun dari cerita itu, sepertinya Arin mendapat petunjuk yang bisa menuntunnya.


"Tadi ayah bilang penyerangan itu terjadi dimana?" Melihat mata Arin yang mulai berbinar, sebenarnya Ricardo tidak ingin memberitahu tempat berbahaya seperti itu. "Lokasinya ada di timur laut ibukota. Tepatnya wilayah dibawah naungan duke Whites." Begitu mendengar nama itu, Arin langsung teringat dengan sosok pemuda yang sempat mengganggunya. Pemuda yang menghampirinya saat sedang menunggu Will dan Loman, serta tunangan dari Arista.


'Kenapa pada akhirnya kembali ke situ? Aku tidak mau cari gara-gara lagi dengan orang itu.' Pikir Arin yang mulai meragukan niatnya. Namun karena rasa penasaran nya jauh lebih besar, akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkan penyelidikannya. "Baiklah. Terimakasih atas informasinya ayah. Aku pergi tidur dulu."


Ketika Arin hendak meninggalkan Ricardo, Ricardo memanggilnya dengan pelan. "Sebenarnya ayah juga sedang mencari pelaku dari insiden ini. Dan ada yang ayah ketahui dari itu." Arin menghentikan langkahnya tanpa memalingkan tubuhnya sedikitpun.


Ricardo lalu bangkit berdiri dan menyusul nya. Ia membelai lembut rambut anaknya dengan ekspresi khawatir. "Diantara Homunculus itu, ada beberapa yang kemampuannya setara dengan Legendary Beast. Jadi Arin, berhati-hatilah."


Ricardo mengatakan Legendary Beast, itu artinya monster yang menduduki puncak rantai makanan dan selevel lebih tinggi dibanding Mother Nephthys dan Ancient Hellhound. Hal yang mengejutkan lagi adalah, bagaimana Ricardo bisa mengetahui informasi sepenting itu? Ricardo juga tidak terlihat kaget saat bercerita ibukota dihancurkan oleh satu monster saja, seakan Ricardo tahu akan keberadaannya.


Dan yang paling mengejutkan lagi, Legendary Beast bukanlah monster yang bisa dilawan oleh anak seusia nya. Tapi jangankan melarang, Ricardo malah mengatakan hati-hati. "Ayah. Sejak kapan, ayah tahu?" Arin menoleh dengan perlahan namun sambil menundukkan kepalanya.