This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 10. Pengguna Mana



Arin termenung diam begitu mengetahui persoalan tentang urutan circle ini. Fokusnya terpusat pada kedua warna itu, yakni hitam dan putih.


'Jika memang circle putih itu sekuat wujud harpie ku, ada berapa banyak orang yang telah berhasil mencapai tahap ini?' pikir Arin dengan gelisah. Karena jika memang orang yang memiliki circle putih ini cukup banyak dijumpai di kerajaan, maka cukup berbahaya pula bagi Arin berkeliaran seperti ini.


Namun untuk sekarang, Arin tidak ingin dipusingkan oleh hal itu. Karena selain circle putih, masih ada masalah pada circle hitam miliknya.


Masalah utama Arin saat ini bukanlah circle hitam yang lemah. Namun circle hitam ini membuat Arin tidak bisa memiliki teman.


'Ah, habislah. Semoga saja ada anak lain yang memiliki circle hitam. Eh? Jangan deh. Bukankah aku baru saja mendoakan sesuatu yang buruk?' Arin tertawa dalam hati, sambil memejamkan mata dan kemudian menutup buku teori circle itu.


"Sudah selesai membacanya?"


"Hah?" Padahal jam istirahat sudah cukup lama berlalu, tetapi ternyata Loman masih ada disebelahnya.


Semenjak Arin menjadi manusia, hampir semua skill miliknya tidak bisa dipakai, ditambah kemampuannya juga menurun. Skill Freeze Zone saja sebenarnya adalah skill membunuh dengan area yang luas yang bisa membekukan lawan dalam sekejap mata. Dalam wujud monsternya, dia bisa merasakan makhluk hidup dalam radius 10 km. Dan begitu menjadi manusia, rasanya laki-laki ini lah yang paling banyak mengejutkannya.


"Ayo kita makan," ucap Arin dengan senyum, merasa berterimakasih karena laki-laki ini mau menunggunya.


Sebenarnya Arin sudah menganggap Loman sebagai teman, jadi jangan sampai ia menjadi dingin kembali hanya karena Arin kesulitan mengetahui keberadaanya.


"Tentu. Makan yang banyak. Karena kelas siang nanti akan sangat melelahkan." Loman tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Ah, setelah ini adalah jawal untuk praktek beladiri. Mungkin akan ada banyak jenis beladiri seperti pencak silat atau karate. Arin menggapai tangan Loman dan mulai meninggalkan kelas.


 


Setelah istirahat siswa kelas 1-C segera berganti seragam dengan baju olahraga yang sama dengan seragam tingkat mereka karena pelajaran selanjutnya adalah praktik beladiri. Ternyata untuk pelajaran ini, dilakukan oleh dua kelas berbeda secara bergantian. Kelas Arin yang merupakan kelas C, kali ini berlatih bersama dengan kelas B.


"Harap berkumpul sesuai kelas masing-masing. Untuk memulai kelas ini, mari kita mulai dengan hal yang dasar dahulu. Aku sudah menyiapkan boneka kayu yang dilapisi sihir. Silahkan coba untuk menembak boneka itu dari jauh," ucap pelatih yang kali ini mengajar.


'Pelatihnya botak? Biksu kah?' Arin tertawa kecil dalam hatinya melihat pelatih itu.


"Ah.. Tapi aku akan menambahkan satu syarat baru. Untuk mereka yang memiliki bakat khusus untuk mengendalikan mana, dilarang menggunakan hal tersebut." Pelatih itu menatap Arin.


Arin hanya mengangguk saat mendapat larangan itu. Ia tahu bahwa sebenarnya itu memanglah curang. Lagipula Arin memang berniat untuk berusaha melalui masa akademinya ini hanya dengan menggunakan circlenya tanpa menggunakan kemampuan skillnya.


"Baik pelatih." Terdengar suara gadis lain tepat dibelakang Arin.


Arin menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis berambut pirang. 'Apa gadis ini juga bisa menggunakan mana?'


Warna mata dan rambutnya yang berbeda membuat gadis itu mudah dikenali. Tapi ini kali pertama Arin bertemu dengannya karena gadis itu berasal dari kelas B.


Sepertinya Arin salah paham. Pelatih itu berbicara pada gadis dibelakangnya, bukannya dirinya.


Arin tahu banyak yang tak menyukainya, termasuk gadis pirang itu, yang mendekat dengan wajah sombongnya.


"Ini bukan tempat untuk sampah sepertimu, dasar gadis desa," ucap Loretta sambil memberikan mana pada tangan kirinya.


Tangan Loretta melesat memukul perut Arin dengan sangat keras. Walau amat cepat hingga tidak bisa dilihat oleh anak lain, namun sebenarnya Arin dan pelatih botak itu bisa melihatnya. Pelatih itu sengaja pura-pura tidak mengetahui dan diam saja karena secara pribadi dia memang membenci Arin. Sedangkan Arin sendiri memang dengan sengaja tidak menghindarinya.


Rasa sakit akibat pukulan itu bisa Arin rasakan dengan jelas, tapi dia masih bisa menahannya. Gadis itu berpura-pura terjatuh dengan posisi berlutut di tanah agar Loretta dan pelatih merasa bahwa serangan tadi berhasil.


Skill passive Ultraspeed Regeneration membuat Arin bisa pulih dengan cepat terhadap segala luka yang ia terima. Itu sebabnya Arin sengaja tidak menghindar.


Saat itu, murid lain hanya bisa terkejut karena Arin yang tiba-tiba jatuh.


"Arin, kamu baik-baik saja?" Tanya Loretta yang berpura-pura mengkhawatirkan kondisi Arin.


Arin tak menjawab. Dia membuat raut wajahnya seperti orang yang kesakitan. Namun yang tak disangka olehnya, seseorang berjalan mendekat dengan cepat hingga menyenggol Loretta.


Wajah Loman tanpa senyum. Tangannya terulur. Arin meraihnya sembari menatap Loretta yang geram karena tidak dihiraukan.


"Halo Tuan Loman. Namaku Loretta Sterna putri dari Marquis Sterna." Gadis pirang itu menyapa dengan penuh hormat.


"Ya, senang bertemu denganmu," balas Loman sambil menoleh ke belakang untuk melihat gadis yang menyapanya. Kemudian dia kembali pada Arin. "Kamu baik-baik saja?"


"A-anu... Sebenarnya aku sudah mengagumimu dari dulu. Walau aku yang berasal dari keluarga marquis ini cukup hebat, tapi masih tidak bisa dibandingkan dengan keluarga count raven yang pernah berjasa dalam perang besar." Terlihat bahwa Loretta berusaha keras untuk menghentikan Loman mendekati Arin.


Melihat kejadian seperti itu, muncul ide jahil di kepala Arin. Melihat wajahnya yang bersemu merah dan mata berbinar ketika menatap Loman, mungkin dia menyukai laki-laki ini. Bagaimana jika dirinya berpura-pura menyukainya Loman, ekspresi apa yang akan ia dapatkan dari gadis menyebalkan itu?


Arin langsung melancarkan aksinya. Dia meraih lengan Loman dan memeluknya. Bibirnya melengkung cantik seperti bulan sabit, kemudian dia mengatakan, "Terimakasih, sekarang sudah tidak sakit."


Melihat wajah manis gadis itu yang dibingkai oleh rambut peraknya membuat Loman terpesona. Walau tidak terpampang jelas diwajahnya, hatinya tergerak dengan penuh debaran aneh.


Loretta melemparkan logo akademi yang terpasang di bajunya tepat dihadapan Arin. Arin pernah mendengar singkat akan hal itu, jadi Arin mengetahui apa tujuannya.


"Arin, aku ingin menantang duel denganmu."  Loretta tersenyum. "Sebagai sesama pengguna mana, aku ingin mengetahui seberapa besar pengaruh akan hal itu. Jadi aku mengajukan hal ini untuk bisa melakukan sparring."


Arin tahu itu hanya dalih. Arin juga memiliki hak untuk menolak. Namun terus-terusan ditindas membuatnya jengah. Sepertinya harapan Ricardo agar Arin bisa menemukan teman dan hidup bersekolah dengan bangga sangat sulit untuk diwujudkan.


"Baik. Ayo kita coba" ucap Arin dengan senyum membalas duel Loretta.