This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 05. Akademi Luxirous



"Uwaah!" Arin berteriak cukup keras dari kereta kuda yang ia naiki, kepalanya melongok keluar jendela.


Butuh waktu perjalanan yang cukup lama bagi mereka bisa sampai di ibukota, tempat dimana Kerajaan Luxirous yang terkenal akan lulusan akademi-nya. Karena hal itu, tak heran banyak orang asing datang untuk menimba ilmu.


"Jangan mengeluarkan kepala mu dari jendela seperti itu. Berbahaya." Ricardo tersenyum kecil.


Walaupun posisi Arin mengkhawatirkan, dia tak tega menghentikan wajah antusias gadis itu.


Arin menikmati perjalanan. Semua pemandangan yang memasuki mata tampak baru baginya. Bahkan keindahan desa pun masih kalah dengan ibukota.


Seakan-akan festival, banyak orang berkerumun membeli ini dan itu. Anak-anak bersenang-senang dengan orang tua mereka. Dan pemandangan itu mengingatkan Arin pada masa kecilnya ketika diajak ke festival oleh sang ayah. Kenangan itu adalah satu diantara beberapa hal membahagiakan yang pernah dimilikinya ketika di bumi, hal yang memberinya semangat ketika harus melewati hari-hari sendiri sepeninggalnya beliau.


Tanpa sadar wajah ceria Arin kini berubah sayu. Ricardo menatap apa yang Arin lihat dan sepertinya dia bisa menebak apa yang dipikirkan gadis kecil itu.


Di depan mereka, seorang gadis seumurannya sedang berjalan bersama orang tuanya. Keluarga kecil itu tersenyum, nampak bahagia. Si ayah menggenggam tangan putrinya sementara si ibu sibuk berbelanja sembari sesekali bertanya pada putrinya apa yang dia inginkan.


"Jika sudah lulus dari akademi atau ketika kamu tersesat dan tak tahu harus kemana, kamu selalu bisa kembali pulang ke rumah," ucap Ricardo sambil menyilangkan tangannya.


"Apa?" Arin yang tadi tidak terlalu memperhatikan menatap pria itu.


Dia terkejut dan bingung. Walaupun hanya satu kata tanya yang keluar dari mulutnya, otaknya bekerja keras untuk mencerna apa yang baru saja pria tua ini katakan. Arin memang mengatakan akan kembali kesana pada Tia, tapi itu hanya untuk menenangkan Tia saja. Bukan bermaksud untuk benar-benar kembali.


"Walau pertemuan kita sangat singkat, tapi aku sudah menganggap mu sebagai anakku sendiri. Jadi jangan ragu untuk meminta bantuanku atau kembali ke desa kapan pun kamu mau." Ricardo tersenyum.


"A-ayah?" tanya Arin dengan suara kecil sambil menundukkan kepala. "Benar. Mulai sekarang aku ayahmu.." Senyumnya membuat Arin berlinang air mata.


Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatinya, entah karena rasa malu atau sungkan, tapi Arin memang merindukan kehadiran seorang ayah. Seseorang yang akan melindunginya, orang yang akan berada disampingnya, dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar apabila dia salah jalan.


"Sekarang kamu tidak sendirian lagi," balas Ricardo sembari mengelus rambut Arin.


Padahal sejauh ini Arin sudah sangat bersyukur dengan apa yang pria itu berikan padanya. Ketulusan yang diterima hingga sekarang benar-benar menyentuh dengan hangat perasaan Arin. Air matanya secara tidak sadar mulai berjatuhan karena bahagia.


"Terimakasih ayah," angguk Arin sambil berusaha mengusap air matanya.


"Kalau begitu, ayah juga jangan memanggil saya- maksudku, jangan memanggilku Nona Arin lagi. Panggil Arin saja." Arin tersenyum bahagia dengan bekas air mata yang belum mengering, yang berkilau karena terkena cahaya mentari pagi.


"Hahaha, tentu saja, Arin." Ricardo tertawa kecil karena merasa puas telah berhasil menghibur Arin, ini benar-benar membuat hubungan keduanya lebih erat dari pada sebelumnya.


'Akademi Sihir Luxirous' begitulah nama akademi ini yang terpajang tepat diatas pintu masuk. Arin melihat banyak sekali anak yang berdatangan.


Sebagian ada yang berpakaian sangat mewah dengan membawa beberapa pengawal serta pembantu dan beberapa lagi sekedar bersama wali mereka. Dari apa yang Arin dengar, akademi ini tidak memandang jabatan sama sekali. Semuanya murni ditentukan oleh skill. Jadi sehebat apapun jabatanmu, bahkan walau bergelar putra mahkota sekalipun, tidak akan memberikan pengaruh di akademi ini.


"Mari kita masuk, Arin," ucap Ricardo yang tampaknya baru saja selesai membayar kusir kereta kuda.


Ricardo menggandeng tangan Arin dan mulai berjalan melewati gerbang akademi Luxirous. Perasaan gugup dan jantung yang berdebar-debar keras mulai Arin rasakan kembali. Ia benar-benar tidak sabar akan kejutan yang menantinya.


Ketika memasuki ruang utama akademi, keduanya sama-sama agak terkejut karena ternyata bagian dalam ruangan ini sangatlah luas. Langit-langit bangunan yang tinggi akan cukup untuk bersenang-senang terbang kesana dan kemari saking luasnya.


Mereka menuju tempat pendaftaran, dimana sudah banyak anak yang berkumpul. Beberapa anak tampak sedih, apa mungkin mereka gagal dalam ujian masuk?


'Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana pendapat ayah nanti?' Semakin dekat mereka, Arin semakin ragu pada dirinya karena yang akan menerima dampaknya bukan dia, melainkan orang yang baru saja mengijinkannya masuk kedalam lingkup keluarga kecilnya.


"Baiklah, kita berpisah disini Arin. Mulai dari sekarang, para pembimbing akan memandumu. Dan begitu kamu dinyatakan lolos, kamu akan langsung diantarkan ke asrama untuk beristirahat sejenak." Ricardo menatap Arin yang tampak seperti mengkhawatirkan sesuatu, kemudian menambahkan, "Semua akan baik-baik saja. Tenanglah."


Ricardo mengelus kepala Arin. Rasa tegang dan khawatirnya sedikit terangkat karena apa yang baru saja ayahnya lakukan. Kemudian dia memeluk pria itu. "Baik. Sampai jumpa lagi Ayah!"


Arin pun mulai pergi memasuki ruang ujian dengan penuh semangat. Perhatian tulus dari ayah barunya membuat gadis itu merasa nyaman dan bertekad tak akan mengecewakan pria itu.


Seorang pendamping menghampiri Arin ketika dia memasuki ruang pendaftaran dan menyuruhnya untuk duduk di tempat yang kosong. Ruang ujian membuat gadis kecil itu agak terkejut akan bentuk dan tata ruangannya yang mirip seperti Coloseum. Tempat duduknya terbuat dari batu halus melingkar yang dipahat, dengan sebuah arena kecil ditengahnya.


'Mungkin diameternya sekitar lima meter? Ini benar-benar tampak seperti Coloseum mini,' pikir Arin sambil tertawa kecil di dalam hatinya dan bergegas duduk.


Arin mulai mengamati proses berlangsungnya ujian. Terdapat sebuah batu besar dan runcing. Calon murid yang hendak diuji terlihat mendekati batu itu.


"Pertama, tunjukan circle mu," ucap seorang pria berkacamata dengan pakaian merah terang yang indah.


Arin mengira itu adalah seragam seorang guru atau staff akademi. Karena Arin sempat melihat beberapa orang di akademi ini memiliki pakaian dengan motif yang sama tetapi dengan warna yang berbeda berlalu lalang atau mengatur siswa yang kebingungan.


Seseorang tiba-tiba duduk tepat disamping kanan Arin, yang membuat gadis itu sedikit terkejut. Sesosok anak laki-laki berambut hitam dengan wajah tampan dan aura bangsawan, duduk dengan menyilangkan tangan dan kakinya. Mata dengan bulu mata panjangnya terpejam seakan tidak tertarik melihat ujian ini. Terdapat sebuah lambang keluarga di lengan kirinya.


'Lambang itu, Raven? Jadi anak ini merupakan putra dari Count Raven?' Arin mengerutkan alisnya, sambil menatap tajam laki-laki itu.