
"Hei, Nona Arin, kamu baik-baik saja?" tanya Ricardo setelah gadis itu menoleh.
Arin tersenyum dan mengangguk. Apa yang dikatakan Ricardo setelah dia membuat identitas cukup menarik minatnya. Dikehidupan lamanya, sekolah adalah hal yang wajib ditempuh oleh siapapun. Mungkinkah sistem di dunia ini juga sama? Masalahnya ini bukan soal bertambah kuat atau tidak, tetapi kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya, tetapi Arin masih ragu.
"Tuan Ricardo," panggil Arin dengan nada sedikit gugup.
Setelah keluar dari Guild, Ricardo mengajak Arin menuju kedai langganannya. Ketika gadis kecil itu memanggil, pria itu pun berhenti dan menoleh padanya.
"A-apakah saya bisa bersekolah di ibukota?" Arin meremas bagian bawah kain kumalnya dengan erat.
Gadis itu gugup tetapi matanya yang memancarkan binar yang memberitahu Ricardo bahwa dia menginginkannya.
"Tentu saja bisa. Tidak perlu memikirkan soal biaya atau semacamnya, karena begitu kamu lolos dari kriteria yang sudah ditetapkan, kamu bisa langsung bersekolah. Disana juga ada asrama, jadi kamu tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang." Ricardo mengatakannya dengan perlahan.
Ricardo awalnya tak menyadari, tapi kemudian dia tersadar bahwa pakaian Arin sangat tidak layak. Semakin kasihanlah dia pada gadis malang ini. Tak ada uang, tak ada keluarga. Di dunia yang kejam ini, bisa bertahan sampai detik ini pasti berat untuknya. Pria itu pun memutuskan membawa Arin menuju toko pakaian.
Mereka memasuki toko pakaian sederhana karena ekonomi Ricardo hanya rata-rata. Arin tak mempermasalahkannya, dia sangat berterimakasih karena pria tua ini mau membelikannya pakaian. Pria berwajah garang, dengan rambut lebat yang dikuncir kuda, serta berotot tebal seperti penjaga kebanyakan ini memiliki hati yang sangat besar, gadis itu sungguh beruntung bisa bertemu dengannya.
Pemilik toko yang melihat ada pelanggan segera menghampiri mereka. Melihat dandanan kumal gadis kecil itu, awalnya dia merasa ragu. Namun dia mengenal Ricardo, penjaga ramah bermuka garang, dan karena gadis itu datang bersamanya, dia mencoba menolerir perasaan tak enaknya.
"Ada yang bisa ku bantu?" Nyonya Toko bertanya dengan ramah.
Ricardo tersenyum. "Nyonya, tolong pilihkan pakaian yang cocok untuknya."
Nyonya Toko tersenyum dan mengangguk, tetapi sebelum dia bergerak Arin sudah menunjuk baju yang paling dekat dengannya.
Setelah mendapat ijin, Arin segera berganti baju selagi Ricardo membayar. Selain baju, Ricardo juga menyuruh Nyonya Toko menambahkan aksesoris untuknya. Arin awalnya menolak tetapi segera mencomot ikat rambut karena terus dipaksa.
Baju terusan sampai lutut itu tidak terlihat mewah pun jika dipakai tak akan terlihat terlalu murah karena ada hiasan manik-manik mutiara di bagian dada. Arin memilihnya karena ketika hidup dulu dia sudah sangat ahli dalam hal pilah-pilih pakaian, dia tak mau Nyonya Toko memilihkan pakaian yang mahal.
Dia menatap dirinya di depan cermin ruang ganti. Wajahnya persis seperti ketika dia berada di usia yang sama dulu, hanya saja rambutnya berubah. Rambut perak panjangnya yang mencapai setengah paha memang agak merepotkan, tetapi terlalu indah untuk dipotong. Tangannya mengumpulkan helaian rambutnya dan menguncirnya tinggi dalam satu ikatan.
"Terimakasih sudah mampir," ucap pemilik toko baju begitu Arin dan Ricardo keluar dari toko.
"Terimakasih, Tuan. Anda begitu baik." Arin mengucapkannya setelah mereka melangkah agak jauh dari toko.
"Tak apa, jangan dipikirkan." Ricardo kembali melangkah menuju kedai yang sempat ditundanya.
Kedai langganan Ricardo sedikit masuk kedalam gang. Sekali lihat saja sudah bisa tahu kalau tempat ini bukan tempat yang mahal. Namun melihat banyaknya orang, Arin menebak jika mungkin saja masakannya sangat enak.
"Nona ingin pesan apa?" Tanya Ricardo setelah mereka duduk.
Arin melihat menu di atas meja. Tak ada yang pernah dia coba, jadi dia tak tahu ingin pesan apa. Lagipula ini pertama kali untuknya. Memesan makanan seperti burger, ayam krispi, atau pizza rasanya juga tidak mungkin. Walau bisa saja yang seperti itu ada di dunia ini, pasti namanya berbeda.
"Tuan Ricardo saja yang pesankan," ucap Arin sambil tersenyum menoleh kearah Ricardo.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita pesan makanan paling enak disini." Ricardo tersenyum. Kemudian memanggil dengan suara beratnya, "Pelayan! Pesan dua daging bakar menteganya."
"Segera disiapkan!" balas seorang pemuda kurus yang sepertinya merupakan pramusaji disana.
Tempat itu riuh oleh suara orang yang bicara saling bersahut-sahutan. Bau makanan yang super harum sangat menggoda Arin. Dia tak sabar menunggu makanannya, penasaran dan juga lapar.
"Silahkan dinikmati!" ucap pramusaji kurus dengan meletakkan dua piring dihadapan Arin dan Ricardo.
'Baunya harum! Mirip bau ayam bakar!' pikir Arin sembari meraih pisau dan garpu.
Ketika diiris, terlihatlah bagian dalamnya yang berwarna putih sedangkan bagian luarnya berwarna kecoklatan, sungguh kontras sekali. Setelah memasukkan satu suapan kedalam mulut, Arin bahkan tak bisa berhenti untuk terus memakannya. Benar-benar enak. Sudah lama sekali rasanya Arin tidak memakan masakan yang sudah dibumbui dan diolah dengan baik seperti ini.
"Bagaimana? Enak bukan? Kedai ini menyajikan daging burung Nephthys terenak di daerah ini. Makanlah sepuasnya!" ucap Ricardo begitu melihat Arin yang makan dengan lahap dan ikut menyantap daging itu.
Perkataan Ricardo itu membuat Arin terdiam sejenak hingga berhenti mengunyah makanannya. Tadi pria tua itu mengatakan daging burung Nephthys kan? Tunggu dulu. Berarti Nephthys itu merupakan salah satu makanan favorit manusia? Arin merasakan sesuatu bergelenyar di tengkuknya, merinding. Mengingat bahwa dirinya sebenarnya masih termasuk dari ras Nephthys itu sendiri.
'Apa jadinya kalau dulu tertangkap?' pikir Arin sambil kembali melanjutkan makannya.
Arin memang tidak mempermasalahkan bahwa dirinya sedang memakan daging dari ras nya sendiri. Bahkan sewaktu Arin masih berada di labirin, dia sempat bertengkar dengan ibunya sendiri, yaitu Mother Nephthys yang jauh lebih kuat dari Arin saat itu. Dan gadis itu pun berhasil membunuhnya karena tentu saja dia memiliki akal dan kecerdasan untuk membuat taktik agar bisa bertahan hidup.
"Hoi, kamu serius ingin pergi ke labirin bawah tanah di perbatasan selatan itu? Sudah dengar rumor kan kalau disana ada malapetaka?"
Sayup-sayup Arin mendengar orang di samping mejanya berbicara.
"Malapetaka itu sudah dikabarkan menghilang sejak beberapa hari ini. Jadi ada kemungkinan dia sudah mati," jawab pria itu setelah meneguk birnya.
"Malapetaka itu hampir setingkat dengan monster rank A, tidak, bahkan mungkin lebih kuat lagi. Serpihan bulunya saja bisa membakar orang hingga tewas. Aku tau karena aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku." Seseorang yang mendengarnya menimpali, sembari bergidik ketika mengingat kisahnya.
'Ah.. Kenapa aku digosipkan sampai seperti itu? Aku membunuh kalian karena kalianlah yang berusaha memburuku tahu.. Aku hanyalah gadis kecil yang polos.' Pikir Arin sambil menutupi raut wajahnya menggunakan gelas yang ia pegang dengan kedua tangannya.