
'Apa aku telah melahirkan seekor monster?'
Arin mematung di tempatnya. Tangan yang tadinya terulur untuk membantu Tia perlahan diturunkan. Gadis kecil di depannya ini istimewa, entah karena sengaja atau tidak. Normalnya, manusia baru bisa merasakan mana di usia tujuh tahun dan baru bisa membentuk circle di usia sepuluh tahun. Diawali dengan hitam dan tahap selanjutnya coklat. Namun di percobaan pertama gadis ini malah-mungkin karena bantuannya, langsung melompat menuju circle biru. 'Berkah atau bencana?'
"Kak Arin, apa aku berhasil?" Tia berusaha keras untuk duduk dan menatap wajah Arin yang terlihat seperti tanpa nyawa.
Arin terbangun dari lamunannya dan tertawa canggung. Dia menggendong Tia dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Yup! Kamu berhasil! Ternyata selain cantik, kamu juga hebat."
Pujian kecil dari Arin membuat Tia melambung tinggi. Dia tak mengerti perubahan ekspresi Arin yang aneh serta seberapa langkanya circle biru atau mengenai begitu tak masuk akalnya gadis seusianya bisa mencapai circle biru. Yang jelas bagi Tia, jika Arin memujinya itu berarti dia telah melakukan hal yang bagus.
Di dalam rumah, Mona dan Ricardo berada di dapur. Nyonya rumah sibuk mencuci piranti masak dan makannya sedangkan tuan rumah yang lelah setelah memotong kayu bakar menikmati kopinya di meja makan.
Tia turun dari gendongan Arin dan berlari menuju ayahnya. Gadis itu sedikit melompat-lompat dalam setiap langkahnya dan berakhir menghambur ke pelukan pria itu.
"Ada apa ini? Kenapa senang sekali?" Ricardo merapikan rambut Tia yang berantakan ke belakang telinga. Putri kecilnya terlihat sangat kelelahan dengan peluh dan wajahnya yang memerah.
"Kak Arin mengajariku sihir dan aku berhasil!" Tia berseru.
Ricardo tertegun di tempat dengan tangan yang masih menggantung di rambut purtrinya. Sedangkan Mona langsung berbalik dengan tangan penuh busa.
"Uh, jadi begini. Ayah dan ibu jangan marah dulu." Arin ingin menghilang saja begitu mendapat dua pasang mata menyasarnya untuk menuntut penjelasan. Dia berdeham untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering dan menjelaskan apa yang terjadi di bawah pohon tadi dari awal sampai akhir tanpa mengurangi satu poin pun.
"Apa?! Tia berhasil mendapatkan cricle?!" Piring di tangan Mona tergelincir dan jatuh menjadi kepingan-kepingan kecil.
Arin berjengit mendapat respon mengejutkan seperti itu. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Pikiran jika dia mungkin akan di usir setelah ini memenuhi kepalanya dengan sangat menyebalkan. "Tadinya karena kupikir Tia masih kecil, tak masalah jika sedikit berlatih. Aku tak tahu kalau, kalau..." Arin menjeda ucapannya untuk menalan ludah. "Kalau akan seperti ini."
Tia menyadari suasana di ruang makan keluarganya terasa tidak nyaman. Dia menatap wajah ibu, ayah, dan kakaknya dengan gelisah. Cengkramannya pada baju Ricardo mengencang.
Saat itulah tawa Ricardo pecah. Selain untuk menyingkirkan suasana aneh juga untuk menenangkan Tia dan membuat gadis itu berpikir kalau mendapat circle atau belajar sihir bukanlah hal buruk atau kesalahan.
"Bagus, bagus sekali!" Suara keras Ricardo tak membuat Tia takut. Gadis itu mengembangkan kembali senyumnya. "Tenang saja, setelah ini ayah yang akan mengajarimu. Lalu kita bisa sparring bersama, lalu setiap kakakkmu pulang, kamu juga bisa bertanding dengannya. Bagaimana?"
"Aku mau!" Tia balas berseru, tangannya terangkat tinggi untuk menunjukkan betapa dia bersamangat.
Suasana berubah ceria dan berisik. Terlebih ketika Ricardo menuturkan apa saja yang akan dia ajarkan, tak peduli gadis kecil di pangkuannya mengerti atau tidak.
"Sayang, kamu pikir berapa usia Tia?" Mona menghela nafas dengan berat, kemudian tertawa dengan kepala digeleng-gelengkan.
Arin menebah dadanya dengan lega. Bahaya menjauh seribu kilometer darinya dan dia tak akan diusir dari rumah hangat ini. Dengan begini dia bisa pergi ke akademi dengan tenang.
---
Ketika Arin tiba di akademi, sebagian siswa sudah mengisi halaman depan. Begitu melewati gerbang utama, dilihatnya semua wajah-wajah itu terlihat bersemangat, sangat mencerminkan betapa panasnya darah kaum muda. Beberapa menyebar dan beberapa lagi duduk di tepi kolam air mancur.
Langkah Arin terhenti, kepalanya menoleh ke samping demi melihat si pelaku. Dari suara tengil serta berkat rambut merah nyentriknya, Arin tahu siapa pemilik lengan yang memeluknya. "Sangat menyenangkan karena tak bertemu denganmu. Beri jarak!"
Will tak bergerak ketika dahinya di dorong menjauh oleh Arin. Malahan, dia menampilkan senyum nakal dan masih ingin bermain-main lebih lama.
'Sialan, dia terlalu dekat!' Arin kewalahan ketika laki-laki itu melawan dengan memajukan wajahnya.
Sebuah botol minum melayang dari kejauhan, berkecepatan tinggi dengan tujuan kepala berambut merah. Ketika benturan terjadi Will jatuh ke samping saking kerasnya. Beruntung dia tak jadi mencium halaman depan akademi karena refleksnya yang cepat.
Arin menutup mulutnya karena terkejut. Dia merasa lega karena wajah menyebalkan itu menghilang darinya tetapi agak kasihan karena mungkin sebentar lagi akan muncul benjolan di sisi kepala pemuda itu.
"Siapa yang punya nyali, kemari!" Will berdiri dengan tegak. Mati-matian menahan tangannya untuk tidak mengelus sisi kepala yang berdenyut.
"Oh, maaf. Tanganku tergelincir." Loman muncul bersamaan dengan suaranya.
Arin menoleh pada pemuda itu dan tersenyum padanya.
"Tergelincir?!" Will mendengus. "Baik, lihat saja pembalasanku nanti."
Loman tak menanggapi si pemuda berambut merah. Dia tersenyum membalas senyuman gadis bersurai putih.
Pada akhirnya mereka duduk di bawah pohon rindang dan mulai bercerita tentang apa saja yang terjadi selama lima hari mereka tak bertemu. Pengalaman Loman penuh dengan membaca buku teori ini dan buku sihir itu. Tipikal pemuda rajin idaman seluruh ibu di dunia. Sedangkan Will mengatakan dia hanya bermalas-malasan dan pergi bermain ketika benar-benar bosan. Berbeda dengan Loman yang menampilkan citra siswa teladan, Will terkesan menjadi laki-laki bengal yang akan membuat semua ibu berdoa dijauhkan dari tipe anak seperti ini. Namun diantara mereka bertiga, cerita Arin lah yang membuat mereka tertarik.
"Kamu melihat monster baru itu secara langsung?" Will membelalakkan matanya.
Arin mengangguk untuk menanggapi.
Will mengangkat tangannya, berniat mengelus kepala Arin tapi langsung ditampar oleh Loman. Pada akhirnya tangan itu ditarik kembali karena memerah.
Arin tertawa melihat adegan itu. Dia menutupi beberapa hal dari para pendengarnya. Mana mungkin dia menceritakan kehadiran Cristya ketika Loman saja tak melihat senior itu di kediamannya.
Dua kali tepukan tangan memberi isyarat agar para siswa berkumpul. Will bangkit lebih dulu dan membantu Arin kemudian sama-sama mendekati panggung.
Will bertatapan dengan Loman ketika melihat Reinhard dan para guru sepertinya tengah berdebat. Arin yang menyadari keanehan ingin melihat juga. Dengan tinggi tubuhnya, terpaksa dia harus melompat-lompat, tetapi tetap saja tak tahu apa yang terjadi.
"Mereka bertengkar, ya?" Will yang pertama kali bicara.
Loman hanya mengangkat bahunya. Dia tak tahu dan juga tak tertarik akan apa yang sedang terjadi disana.
'Apa ada sesuatu yang terjadi?'